KEDATANGAN BINTANG

"Rin! Mata lo sehat! Dari tadi nggak bisa diam." Cetus Sisy merasa heran.

Karin yang dari tadi menatap sekitar kini menoleh pada Sisy sedangkan Ella dan Tasya belum datang.

"Daripada duduk di depan kls mending kita ke kantin aja. Beli makanan gitu, yuk! Gue traktir deh!" Ajak Karin.

"Yehh! Lo mah, mentang - mentang gue lagi kere. " Oceh Sisy menatap sebal ke arah Karin, "Tapi ya udah, gue juga nggak bisa nolak kalau soal itu." Mendadak tersenyum lebar membuat Karin hanya geleng kepala.

Kedua gadis cantik itu berjalan melewati koridor sekolah dan sepanjang jalan ada yang menyapa keduanya. Begitupun dengan Sisy dan Karin menyapa para kakak kelas sebagai bentuk hormat dan peraturan sekolah.

"Wah!! Ada risol si. Keliatan enak banget deh. Beli yuk"

Karin sibuk memasukkan jajanan ke kantong plastik. Dia sangat suka sekali dengan risol, bahkan membeli semua varian. Terlebih lagi risol sayur yang di dalamnya ada kentang dan wortel, itu adalah risol terfavorit.

Sedangkan Sisy hanya melihat-lihat "si Lo nggak jajan?"

"Jajan, tapi tapi mau pilih yang rendah kalori aja. Kemarin BB gue naik 2 kilo Rin." Sedikit curhat namun Karin tak percaya.

Seketika gadis itu tertawa pelan melihat temannya yang katanya mengambil rendah kalori. "Katanya mau diet, tapi kok dua kantor kresek?" Sindir Karin dengan wajah julit. Entah kenapa ia malah ikut - ikutan sekarang, atau memang terpengaruh dengan si Sisy ini.

Sisy yang menyadari kesalahannya pun tak mau kalah "ish, ini buat stok satu Minggu. Kan gue udah nggak punya duit lagi Rin." Jawabnya dengan sedikit menahan malu. Keduanya pun berjalan ke arah tempat duduk kantin paling pinggir.

"Btw tadi Lo kenapa nggak bareng Ella." Karin membuka obrolan sembari menikmati risol kesukaannya.

"Tadi gue perginya naik taksi, soalnya tuh anak belum datang. Gue kira dia ninggalin, eh! Ternyata belum datang." Sahut Sisy memakan cemilannya.

Kedatangan seseorang membuat karin dan Sisy menoleh.

"Kak bintang" lirih Karin. Menatap seseorang yang mengelus kepalanya.

Bintang tersenyum menatap kekasihnya "nungguin aku ya!?" Bisiknya.

"E–enggak siapa juga yang nungguin. Aku memang cuma pengen jajan aja." Elak Karin menatap ke arah lain. Karena sudah di pastikan mukanya memerah menahan malu.

Ini untuk pertama kalinya ia sedekat ini dengan lawan jenis. Wajar saja ia belum terbiasa dengan situasi seperti ini, bahkan kalau di tanya ia juga bingung cara menyikapi.

"Bohong. Mata - mata aku banyak di sekolah ini. Nggak usah ngelak lagi deh. Tadi ada yang lapor, kalau kamu duduk di depan kelas, trus mata kedua indah ini mencari pangerannya." Jelas Bintang. Menatap kedua bola mata indah milik Karin dengan dalam.

"Lah, aku melihat - lihat sekitar emang salah?"

"Nggak salah. Tapi mata kamu melihat ke arah sebrang, tepat di tingkat dua dimana ruang kelas aku ada." Jelas Bintang apa adanya.

Kelasnya berada di sebrang kelas Karin. Tingkat dua, sedangkan Karin di seberangnya di lantai bawah. Bahkan kelas keduanya saling berhadapan, jadi tak heran Bintang dapat melihat dari arah jendela kelasnya.

"Karin! gue ke toilet dulu ya, bye." Sedikit berlari meninggalkan pasangan bucin itu.

"Si! Kok gue di tinggal?" Teriaknya. Apakah sahabatnya ini tidak tau dirinya sedang bingung menghadapi situasi seperti ini.

"Udah biarin aja. ya kali di tahan, nanti yang ada dia ngompol." Ujar Bintang di selangi sedikit candaan, mengerti dengan kegugupan kekasihnya.

"Dapat!!" Girang Sisy. Setelah berhasil meraih salah satu lengan kekar seorang pria.

Pria itu berbalik dan sedikit terkejut melihat gadis ini yang ternyata nekat juga ternyata.

"Hai kak Kenzo!! Gimana dengan janjinya?" Tanya dengan sedikit kesal. Pasalnya pria ini sudah berjanji, tapi malah ingkar jadi. Nggak nunjukin batang hidungnya sejak Karin dan bintang berhasil jadian.

Kenzo melihat sekitar, tadi niatnya ingin ke basecamp tempat anak Xander berkumpul tapi dia lupa satu hal. Jika tempat basecamp itu berada di atas tingkat kelas sepuluh dan sebelas.

"Tunggu aku nanti di dekat pohon parkiran kereta. Nanti aku jemput." Jelas Kenzo cuek. Melanjutkan berjalan ke arah basecamp. Untung saja keduanya berada di tingkat atas, hanya saja tepat di sebelah tangga. Belum ke dalam ruangan tempat basecamp Xander berada.

Walau sedikit kesal melihat kelakuan cuek pria itu, berbeda sekali dengan kemarin meminta dirinya berhasil membujuk Karin ke dalam lapangan. Tapi tak apa, yang penting dia mendapatkan bonus.

"Lihat aja, aku bakal kuras semua uang kamu sampai kamu kere sama kayak aku. Hahaha." Kata Sisy tertawa jahat dalam hati. Kemudian melangkah menuruni tangga dengan cepat. Menuju ruang kelas sembari memakan cemilan yang tadi ia bawa satu kantong kresek. Sedangkan yang satu lagi tadi ia lupa membawanya, karena terlalu buru - buru mengejar Kenzo. Tapi tak apa yang penting ia sudah mendapat yang lebih banyak.

Ella yang melihat Sisy dari luar segera menghampiri. "Lo dari mana? Terus Karin kemana?" Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri tak menemukan sahabatnya itu.

"Habis sama Karin dari kantin, aku balik duluan karena nggak mau liat kebucinan kak bintang sama Karin." Jelasnya apa adanya, salah satu kepergian meninggalkan sahabatnya itu tak mau melihat manusia bucin itu.

Ella mangut - mangut kini lirikan matanya menatap kantong kresek di tangan Sisy. "Bagi dong si! Gue malas ke kantin." Memasang wajar seimut mungkin dan langsung dapat toyoran dari sahabatnya.

"Gue aja nih, di traktir sama Karin. Lo tau kan, gue sekarang nggak punya duit." Cetusnya dengan wajah sebal, namun tetap membagi.

"Oh, makasih sayangku!! Nanti istirahat ke dua, gue yang traktir Lo deh."

Rayuan Ella mampu membuat Sisy tersenyum bahagia. Tentu saja sebagai sahabat sudah sangat hafal dengan sifat dan kelakuan Sisy.

"Tasya belum datang? Padahal bentar lagi masuk." Tanya Sissy menatap bangku perempuan itu.

"Iya, tumben banget. Eh, itu Tasya!" Tunjuk Ella menatap ke arah Tasya yang baru datang.

"Tumben banget lama sya?"

"I– iya telat bangun."

"Lo sakit? Kok pucat banget, mata Lo juga bengkak." ujar Sisy menghampiri bangku Tasya di belakang Ella.

Tasya di tatap seperti itu hanya tersenyum "i–itu, sebenarnya! semalam nonton Drakor favorite gue karena semalam episode terakhir. Tapi malah sad ending." Jawab Tasya. Kedua bola matanya mulai berkaca-kaca menahan tangisan.

"Ya ampun sya? Gue juga sama kayak elu!" Balas Sisy memeluk sahabatnya. Dirinya juga persis seperti Tasya, menangis seharian gara - gara nonton Drakor kesukaan, tapi malah sad ending.

Bahkan lebih parahnya lagi, bisa sampai malas bangun dari tempat tidur. Tak hanya itu saja, kepikiran berhari - hari berharap ada season baru yang Heppy ending. Emang separah itu kegalauan seorang Sisy Mahendra Winata.

Tasya hanya mengangguk namun berusaha agar tak sedih lagi. Sementara Ella hanya diam menatap kedua sahabatnya ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!