Kok Bisa Ya?

__________________&&&&__________________

• "Aku berusaha menjadi yang terbaik, •

Seperti papa minta. Setidaknya suatu

saat nanti, papa bangga kepadaku.

• •

___by_Anatasya___________________________

Tekad Tasya menyemangati diri sendiri. Sampai pak Joko yang bertugas mengantar khusus nona Tasya ikut tersenyum, melihat senyuman manis yang jarang diperlihatkan.

"Non, kita sudah sampai." Lalu bergegas membuka pintu dengan sedikit nunduk memberi tanda hormat.

Tasya turun sedikit cemberut, "pak Joko. kan! Udah berapa kali aku bilang, biar aku sendiri saja yang buka pintunya. Nanti enggak mandiri lagi."

Pak Joko tersenyum menanggapinya, ia tau itu sebagai alasan saja karena sejatinya anak majikannya ini sangat mandiri dan bahkan sangat jarang merepotkan orang di sekitarnya. Kalau bisa dia sendiri, maka jangan harap meminta bantuan kepada siapapun.

"Saya pamit nona, semangat belajarnya." Sambil mengepalkan kedua tangan di udara sebagai bentuk menyemangati.

Tasya ikut tersenyum. "Siap, perintah di laksanakan." Balasnya memberi hormat, keduanya tersenyum layaknya ayah dan anak.

Hari ini cuacanya mendukung. Matanya tak sengaja melihat area parkiran sekolah, sepasang kekasih tampak bahagia. Ia ikut tersenyum melihatnya, sahabat selalu menolak pria bernama Bintang kini malah terlihat romantis. Sedikit terkekeh lucu pada pasangan itu, Karin terlihat seperti bocil di samping Bintang. Padahal wanita itu tidak pedek amat, tinggi badannya sekitaran 165 sedangkan Bintang 189.

Dari arah parkiran Karin begitu bahagia melihat sahabat ia rindukan. Dengan penuh semangat Karin berlarian ke arah Tasya.

Sedangkan Bintang menggeleng kepala, berasa pacaran sama bocil. Selama perjalanan menuju ke sekolah, Karin bercerita banyak tentang para sahabat baiknya.

"Aaa..! I missing you...my bestie.." girang Karin tersenyum lebar, keduanya saling berpelukan.

Dari arah parkiran teryata Sisy dan Ella juga baru datang, melihat Tasya dan Karin berpelukan keduanya tak mau kalah. Dengan berlomba berlarian keduanya menghampiri.

"Hahhh! Hahh! Gila cepak banget!"

"Iya nih, hahh.. siapa sih yang bangun sekolah ini. Luas amat!"

Keduanya menggerutu kesal dengan nafas ngos-ngosan, malah menyalahkan pemilik sekolah. Karin dan Tasya terkekeh melihat kekompakan keduanya menguliti pemilik sekolah.

"Ayo berpelukan! Nanti kalau di dengar kak Bintang kalian di bakal di laporin, gimana?" Cetus Karin membuat Ella dan Sissy kincep.

Tasya tersenyum, lihat keduanya bisa sekompak ini di saat tertentu. Biasanya saling mengejek satu sama lain.

Dengan segala drama akhirnya keempat sahabat itu saling berpelukan erat.

"Kangen.. banget deh..!" Ucap Sisy dengan suara manja.

"Baru juga satu hari, kayak udah satu satu aja." Celetuk Tasya Menaik turun alisnya.

Karin dan Ella juga tak mau kalah, ikut mengompori. "Iya nih!!" Keduanya kompak mengucapkan secara bersamaan.

Sisy jadi cemberut kembali, bisa - bisanya para sahabatnya ikut- ikutan.

"Tau ah,!" Sisy ngambek melangkah pergi, ketiganya pun mengikuti sahabat paling hobi banget ngambek nggak jelas.

Dari ujung sana, atau lebih tepatnya di tingkat dua dimana kelas 12 berada. Para anggota Xander ikut menggeleng kepala dengan kelakuan kekasih geng boss mereka. Terlebih lagi Kenzo ikut tersenyum, melihat kelakuan Sisy.

"Kok bisa ya?! Ketua kita suka sama geng aneh."

"Eh, Lo jangan salah. Justru gitu kelebihan dari kekasih ketua, punya sahabat kompak no jaim."

"Iya betul tuh," sahut lainnya. Zico yang tadi niatnya mengatakan apa yang di rasa malah dirunding sama para teman - temannya.

Hal sudah biasa bagi para anggota Xander, tapi sekedar becanda tak sampai di luar batas.

"Lah si ketua baru sampai."

"Tapi iya sih, semalam aku juga lihat dia fokus banget sama kelas XA."

"Aku juga semalam enggak sengaja lihat dia ke pantai, dan ternyata ketua kita di sana lagi kencan." Goda pria tak kalah tampan bernama Adam. Si tukang lawak di anggota Xander.

"Wah! Wah!!"

Anggota Xander kompak menggoda Bintang.

"Pertanyaan apa? Jawabannya apa?" decak Bintang antara kesal dan bahagia kekompakan para anggotanya.

"Eh tapi Lo ngapain kesana?" Tanya Allon si anggota OSIS.

"ngedate dong, barang keluarga gue dan keluarganya langsung di kasih lampu hijau." balas Adam penuh bangga.

"sialan Lo, ngeledek kita - kita si jomblo." kesal pria bernama Rey.

Ya... kira - kira begitulah suasana di kelas XIIA , selalu ramai sebelum kelas dimulai. belum lagi dari kelas lain, bisa - bisa tempat basecamp penuh dengan cerita yang tiada habisnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!