"Lo, apa - apaan sih!! Gue udah pernah bilang gue nggak suka sama Lo!! Gue udah pernah bilang!! Sama Lo kalau gue pengen sekolah nggak ada yang namanya pacaran" bentak Karin dengan penuh emosi. Dengan sangat terpaksa Karin menerima pria yang selama tiga bulan ini selalu berusaha mendekati dirinya.
Karin tak habis pikir dengan pria yang bernama bintang Zulio Oswald berusaha mengejar dirinya. Karin aku bintang berserta Geng Xander sangat di akui dan di hormati oleh seluruh sekolah. Selain itu juga, papa Bintang adalah pemilik sekolah swasta mewah ini. Namun tak ada terbesit di kepala Karin untuk berpacaran untuk sekarang. Karena ia ingin fokus mengejar impiannya.
Bintang terdiam mendengar semua ucapan gadis yang baru saja menjadi kekasihnya. Ia pikir Karin menerima karena sudah memiliki perasaan untuk dirinya namun ternyata ia salah besar. Bintang mengerti sekarang mengapa Karin menerima dirinya sebagai kekasih karena tak mau membuat ia malu di depan semua orang.
"Oke kalau itu yang kamu minta. Maaf sudah mengganggu dirimu selama ini." Ucap Bintang dingin. Kemudian ia pergi dari tempat base camp tempat dimana Geng Xander berkumpul. Tadinya Karin ingin berbicara berdua jadi ia memutuskan untuk ke tempat base camp Xander.
Brak.
"Astaghfirullah, untung gue nggak punya penyakit jantung." Gumam Karin mengusap dadanya. Ada rasa sesal bagi Karin mengucapkan kata seperti tadi. Seolah dirinya paling cantik, yang membuat orang menyukai dirinya. Tak ada maksud, hanya saja murni dalam hati ingin tetap fokus sekolah tanpa melibatkan pacaran.
Saat hendak keluar Karin berpapasan dengan seseorang membuat ia mendongak lalu menunduk.
"Permisi kak" ucap Karin ramah.
"Jangan dipaksa kalau tidak suka," ucap pria itu dengan dingin.
Mesti tak mengerti namun Karin hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan tanpa berani menatap pria tampan beraura dingin itu.
"Huft... kenapa wajahnya datar begitu? Pantas saja semua siswa - siswi di sini menunjuk jika pria itu lewat." Gumam Karin berjalan ke arah kelasnya.
Tok
Tok
"Permisi pak, maaf sa–"
"Silahkan masuk dan selamat atas jadiannya" ucap pak David memotong ucapan Karin. Guru yang mengajar matematika itu tidak ingin bermasalah dengan anak pemilik sekolah ini.
Karin tersenyum kaku lalu melangkah ke tempat duduknya.
Pelajaran pun di lanjutkan, hingga akhirnya bel berbunyi untuk jam istirahat pertama. Semua bernafas lega karena baru saja selesai ujian tes yang dia adakan tiap seminggu sekali dengan mata pelajaran masing-masing. Inilah salah satu keunggulan dari sekolah lainnya. Jika nilai pelajar menurun maka akan di pindahkan ke kelas lain. Terlebih lagi kelas unggulan akan bersaing secara ketat untuk tetap mempertahankan nilai yang bagus. Jika tidak maka mereka akan di pindahkan ke kelas lebih bawa, otomatis uang sekolah akan semakin malah lagi. Itulah salah satu persaingan ketat bagi semua pelajar.
Seperti biasa Jam istirahat akan di gunakan untuk makan pagi dan siang, yang telah di sediakan oleh pihak sekolah. Semua menu makan sudah di sesuaikan dengan kebutuhan gizi. Semua siswa dan siswi berbaris rapi mengisi makanan.
"Selamat ya! Udah jadian sama cowok paling populer di sekolah kita." Ucap Sisy dengan penuh girang.
Membuat ketiga sahabatnya mengkerut kening, "kenapa malah dia paling senang" batin mereka bertanya.
"Lo harus traktir kita, sesuai dengan janji kesempatan kita dulu," lanjutnya mengingatkan kembali. "Ingatkan apa itu?"
Keempatnya saling pandang lalu berkata "siapa di antara kita duluan punya pasangan harus janji traktir sampai sepuasnya!!" Ucap keempatnya serentak lalu tersenyum mengingat perjanjian awal persahabatan mereka.
"Yeh, Sisy yang paling senang karena kartu dia di blokir sapa papanya" cibir Ella mengingat sahabatnya ini datang ke rumahnya yang tak jauh jaraknya dengan kompleks Sisy.
Sissy hanya tersenyum lebar mengingat kejadian memalukan itu. Namun ya bagaimana lagi? Saat itu ia sedang kesal dan frustrasi dengan papanya memblokir semua fasilitas yang di berikan. Untung saja Ella baik memberi tumpangan untuknya.
Flashback on
"El...hiks...hiks....Lo tau apa aja barusan ya g terjadi? Sama gue." Ucap Sisy sambil menangis sesenggukan.
Ella yang khawatir pun mengambil minum di atas nakas tempat tidurnya lalu memberikan ke Sisy.
"Bokap gue blokir semua fasilitas gue!!! Hua...hiks...t–tadi aja gue k–es–ini minta pak Santo bayar ongkos taksi gue. Hiks....hiks..." Sisy semakin terisak mengingat kejadian beberapa saat tadi. Hal yang belum pernah ia lakukan seumur hidup. Dan tadi!! Ah, sudahlah! memalukan sekali.
"Alasannya apa? Kenapa tiba-tiba?" Tanya Ella kembali. Karena seingatnya Sisy satu - satunya perempuan di antara tiga bersaudara. Jadi tak heran sangat di manja.
"Karena kamari itu gue beli tas keluaran terbaru dan hanya 10 orang saja dapat. Jadi geu beli!" Jawab Sisy sedikit bersemangat sambil sesekali mengusap air matanya.
Ella mulai paham permasalahannya hanya bisa menghela nafas. Lalu menuangkan minuman ke gelasnya. "Harganya berapa?" Ella kembali bertanya penasaran.
Sisy melirik "1,2 M"
Pruf.
"Ih Ella!!! Muka gue kena tau?!" Protes Sisy sambil sibuk mengelap wajahnya dengan tissue.
Sementara Ella masih syok mendengar harga tas brand yang di maksud sahabatnya. Demi apa!! Dirinya saja tidak pernah membeli tas atau barang semahal itu.
Ella melotot ke arah Sisy, "Lo tuh kalau belanja jangan sampai sebegitu -nya! Bokap lo wajarlah marah, seharusnya kita tuh bersyukur masih bisa makan, sekolah, punya tempat tinggal dan fasilitas juga di kasih. Nggak semua orang seberuntung kita, jangankan untuk sekolah, makan saja mereka sudah sangat bersyukur. Kita nggak tau gimana perjuangan kakek atau bokap kita membangun perusahaan sampai jaya seperti sekarang. Mereka juga dulu harus berjuang keras! Lo mau bokap Lo bangkrut trus stres?" Jelas Ella memberi nasihat pada sahabatnya ini yang suka sekali berbelanja barang yang tak penting menurutnya.
Sisy mencerna ucapan sahabatnya lalu menggeleng cepat "Nggak!! Gue nggak mau" Sisy membayangkan papi-nya yang tak pernah mengeluh sema sekali. Rasanya sangat menyesal sudah menyusahkan papi yang sudah berjuang keras selama ini.
"Sisy minta maaf Pi," gumam dalam hati. Menyesal apa telah di perbuat padahal ia sangat di manjakan oleh papi-nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments