Di tengah kebahagiaan pasangan baru itu, seseorang gadis cantik duduk di taman samping rumahnya. Tak ada yang di lakukan selain duduk sambil menikmati hembusan angin mengenai rambutnya.
Kedua bola mata indah itu menunduk melihat buku yang ia pegang. Sedikit hela nafas terdengar. Lalu beralih kembali menatap banyaknya bunga begitu cantik. Daun berwarna hijau itu tampak begitu subur, kelopak bunga itu juga begitu indah. Tentu saja, karena mamanya sangat menyukai bunga. Seseorang ditugaskan merawat bunga - bunga indah itu.
Namanya pak mamang, pria paruh baya itu tampak berjalan ke arahnya.
"Saya pamit dulu non, terimakasih untuk makanannya. Istri dan anak saya pasti suka dengan masakan anda." Ucap pak mamang sedikit membungkuk sebagai tanda terimakasih. Lalu beralih menatap gadis itu.
"Iya pak. Semoga Celica suka dengan masakan saya."
"Kalau gitu, sayang pamit nona Tasya." Paruh baya itu pergi meninggalkan area taman, berjalan ke arah gerbang hingga tak terlihat lagi.
Tasya diam menatap lurus ke arah satu balkon di samping rumahnya. Tempat salah satu kamar pemilik rumah mewah itu. Ia yakin pemilik kamar tersebut tak di rumah.
Ya, gadis cantik dengan senyuman manis di temani senyuman indah itu mampu membuat orang terpesona. Memang tak perlu di ragukan lagi ketiga sahabat juga sangat cantik dan pintar. Membayangkan hal itu, Tasya merindukan sahabatnya.
Dari kemarin kepalanya terasa sakit. Dan semalam badannya terasa panas. Itulah mengapa ia tak masuk sekolah. Padahal hari ini ada ulangan harian. Sayang sekali.
.
.
Jam pelajaran berangsur berjalan lancar hingga terdengar suar bel istirahat kedua. Membuat semuanya lega dengan mata pelajaran yang satu ini selesai. Guru berwajah garang dan tegas itu adalah guru yang paling di takuti di kelas XA. Lebih tepatnya guru yang banyak ditakuti siswa dan siswi di sekolah ini.
"Baiklah, jam kita selesai. Tapi ingat!! Minggu depan kita ulangan." Tegas guru Indi pada muridnya.
"Baik buk," ucap serentak para murid. Dan setelah itu, guru wanita sekitaran berumur tiga puluh tahunan itu pergi meninggalkan kelas unggulan.
"Jantung gue mau copot, kalau ibu guru itu yang masuk."
"Iya, gue juga gitu. Padahal mata pelajaran kimia paling gue sukai."
"Iya, tapi lihat wajah galak buk indi gue jadi takut. Tiap kali guru itu masuk gue selalu berharap bisa mengendalikan kegugupan."
Begitulah kira - kira perasaan siswa yang berkumpul. karin dan kedua temannya juga merasa hal itu.
"Kita ke ruang OSIS yuk. Tadi di suruh rapat. Katanya untuk menggantikan ketua OSIS yang baru. Bentar lagi kan kelas tiga tamat." Jelas Karin pada kedua sahabatnya.
"O iya, gue hampir lupa!" Pekik Sisy menepuk pelan keningnya. Sekarang ia ingat semalam pengumuman rapat sudah diberi tahu lewat pesan dari grup anggota OSIS.
"Eh, btw Lo enggak sedih? Bentar lagi harus jauh - jauhan sama kekasih hati." Tanya sisy penasaran. Bisalah jiwa kepo nya menggebu - gebu karena penasaran.
Karin terdiam sesaat. "Dih, kepo benget. Mendingan sekarang kita pergi..! nanti jam istirahat habis, enggak sempat makan di kantin lagi." Kilah Karin segera bangkit mendahului kedua temannya.
"elo sih, Karin kan jadi sedih." Ella menatap sebal pada sahabatnya satu ini.
Sisy yang tak mengerti pun ikut-ikutan menatap sebal pada Ella. "Lah, kenapa jadi gue? padahal dari tadi gue enggak ada ngomong kasar." Tegas Sisy merasa tak salah sama sekali.
Ella semakin gemas pada Sisy kembali membalas, "tadi tuh, loh bilang bakal jauh - jauhan sama kekasihnya. Tentu saja dia jadi galau." jelas Ella mencubit pelan pipi sahabatnya ini.
Sementara itu, Karin dari tadi hanya diam mendengar ocehan kedua sahabat tiba - tiba berhenti.
Bruk.
"Aw..! rin..Lo ngapain berhenti mendadak sih?" protes Sisy mengusap pelan hidungnya.
"Iya nih, udah tau kita di belakang. Bukannya bilang kalau mau berhenti.." nimbrung Ella ikut menyalahkan Karin.
Karin hanya menghela nafas, kenapa jadi dia yang salah. Bukannya jelas - jelas kedua bola mata sahabatnya masih berfungsi. Lantas mengapa harus tidak di pergunakan malah menyalahkan orang lain.
Tak ingin berdebat, Karin menjawab seadanya . "Kalian lihatlah ke samping!"
Ella dan Sisy menoleh bersama, terlihat tulisan "Ruang OSIS." Keduanya hanya tersenyum kaku melihat Karin lebih dulu masuk.
"Kenapa kita selalu berdebat ya. Tiap kali bersama."
"Entahlah.." jawab Sisy mengedik kedua bahunya. Lalu keduanya berjalan masuk ke ruang khusus para OSIS.
Rapat pun berjalan dengan lancar. Banyak saran dan kritikan untuk acara pengganti baik dari ketua, wakil dan sekertaris. Sedangkan bendahara masih di pertahankan karena duduk di kelas XI (11).
"Baiklah, sekian dari rapat kali ini. Saya harap siapapun yang akan menjadi pengurus OSIS kedepannya, bisa bertanggung jawab atas tugasnya. Dan kami juga ingin minta maaf. Jika selama ini, banyak tutur kata yang tidak berkenan di dalam hati kalian. Mohon maafkan kami." Jelas pria muda berkacamata dengan waja serius. Bernama Ardino, yang tak lain adalah ketua OSIS. Diikuti lainnya yang akan selesai dengan jabatannya masing-masing.
Suasana ruangan mendadak sepi, semuanya merasa sedih karena sebentar lagi akan berpisah. Banyak kenangan selama ini yang di ukir bersama dalam menjalankan tugas. Dari mulai kekompakan, keseriusan mereka akan banyak kenangan yang mejadi memori bagi mereka semua.
****
"Jangan lupa beri dukungannya"
Terima kasih 🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments