PERBEDAAN WANITA DAN PRIA

Karin menatap langit - langit kamarnya. Senyuman tercetak di bibir merah jambu alami itu.

"Aku harap ini awal yang baik." Karin sangat berharap hubungan awal keduanya tidak membawa ke arah buruk.

Ya, Karin dan bintang sepakat untuk saling mengenal lebih dalam dan menjalin asmara.

"Karin! Ayo makan nak, udah malam yuk. Belajarnya di lanjut nanti lagi."

"Iya mah!"

Karin pun segera menuruni anak tangga dengan tergesa - gesa. Terlebih lagi aroma masakan yang mengunggah selera.

"Malam papa! mama."

"Malam nak" jawab ke-dua orang tua Keyla secara bersamaan.

"Kak Erina sama bang Iqbal kemana? Kok nggak keliatan." Tanya Karin dengan bingung.

"Kak Erina masih ada kerja kelompok di rumah sahabatnya. Kalau Abang kamu belum pulang les. Semalam Abang kamu izin hari lesnya di ganti, jadi Selasa, Jumat dan Sabtu." Jelas Sinta.

Karin hanya manggut-manggut mendengar ucapan mamanya. Makan malam di selangi dengan sesekali bercerita.

"Tadi pak Ujang bilang kalau kamu minta nggak usah di jemput. Trus siapa yang antar kamu?" Tanya ridho memicing mata. Tadi dirinya tak sengaja melihat anaknya di antar seorang pria. Tentu saja sebagai orang tua merasa was - was, mengingat zaman sekarang ini tidak seperti zamannya dahulu.

Karin sejenak terdiam, "pa, ma sebenarnya Karin udah punya pacar." Karin akhirnya menjelaskan yang sebenarnya. Enggak tau di beri izin atau tidak, tapi dirinya tidak ingin berbohong atau menutupi tentang dirinya menjalin hubungan.

Mama Sinta hanya diam menyimak karena ia tau jika suaminya ini sangat posesif pada anak-anaknya dan ingin yang terbaik.

Ridho menatap putri bungsunya. Tak tau harus senang melihat anaknya sudah bertumbuh dewasa. Dan sekarang sudah memilik kekasih. "Papa setuju aja kalau kamu punya pacar. Asal sekolah kamu tidak terganggu. Dan satu lagi!" menjeda ucapan. Membuat Karin menatap serius ke arah papanya.

"Papa tidak ingin dengar kalau hubungan kamu akan merusak masa depan kamu. Ingat nak, sebagai seorang perempuan harus menjaga diri." Jelas ridho. Akhirnya memberi izin anaknya berpacaran dengan memberi nasihat dan masukan.

"Papa nggak ingin kelakuan jahat dulu pada mama mu terulang kembali. Karena dosa yang papa buat nak." Kata ridho. Hanya dalam hati, menatap putrinya dengan wajah sedikit sedikit. Namun sebisa mungkin tidak menunjukkan wajah sedihnya.

Sinta melirik ke arah suaminya lalu tersenyum, ia tau apa yang di pikirkan suaminya. Namun itu sudah lama berlalu.

Sedangkan Karin tersenyum mendengar jawaban dari papanya. Dan kini pandangannya beralih pada mama tercinta. Perempuan yang mempertaruhkan nyawanya agar ia lahir ke dunia ini.

"Boleh. Tapi ingat pesan papa kamu ya sayang." Ucap Sinta. Membuat Karin terharu mendengarnya.

"Widihhhh!! Adek gua udah punya pacar aja. Gue aja belum punya." Seru Iqbal. Menghampiri keluarganya yang sedang duduk di ruang keluarga.

"Ih!! Abang mah, rambutnya Karin berantakan tau." Ucap Karin sebal dengan kebiasaan saudaranya, yang hobi sekali mengacak - acak rambutnya.

Tak lama kemudian seorang anak gadis datang menyalami mama Sinta dan papa sinta.

"Lah! Pulangnya kok bareng. Tadi Jumpa di jalan." Tanya Sinta. Melihat kedua anaknya yang datang hampir berbarengan.

"Iya ma! Tadi ketemu di jalan. Cuman tadi aku mampir ke minimarket beli sabun cuci muka. Karena udah habis tadi pagi." Jelas Erina. Mengangkat kantong plastik yang ia bawa.

"Wah!! Bagi satu Snack chitatonya kak er." Pinta Karin dengan mata berbinar-binar. Melihat jajan ringan favorit ketiga saudara itu.

Erina memberi satu kantong kresek yang paling penuh pada Karin."nih, bagi untuk mama papa dan Iqbal. Dan ini punya aku." Setelah mengatakan hal itu Erina melangkah menaiki tangga dimana kamarnya berada.

"Er!! Bal!! Siap mandi, makan ya nak." Seru Sinta. Ikut mencomot makanan yang di buka Karin.

"Iya ma!!" Teriak keduanya secara bersamaan.

Lima menit berlalu Iqbal datang dengan rambut basahnya. Kemudian hendak duduk Karena ingin mengambil Snack pemberian Kakak tertuanya.

"Ehh!! Cepat banget mandinya!!" Omel Sinta. Melihat putranya yang cepat sekali selesai mandi

"Iya dong ma, kan beda kalau perempuan mandi bisa satu jam belum siap." Sindir Iqbal.

Dengan kebiasaan para wanita di rumah ini, yang hobi sekali mandi lama. Belum lagi dandan, huh! Capek nungguin. Kecuali!! Waktunya mepet banget, baru tuh cepat selesainya.

Mama Sinta dan karin melirik satu sama lain. "Udah sana makan dulu baru makan jajan." Ucap Sinta. Mengalihkan perhatian putranya yang sangat tau kelemahan para wanita di rumah ini.

Iqbal cemberut, namun walau begitu ia tetap mengikuti perintah mamanya. Dengan langkah terpaksa ia merelakan Snack favoritnya, yang sudah pasti habis di makan kedua wanita beda generasi itu. Sedangkan papa ridho menggeleng kepala sembari sibuk mengunyah roti yang di bawa Erina tadi.

Kedua wanita itu hanya cekikikan melihat wajah masam iqbal.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!