Pagi hari pun menyambut, tampak keluarga Oswald sibuk mengisi perut sambil sesekali bertanya pada cucu kesayangan bernama saka Irawan Oswald.
"Tumben udah rapi jam segini?" Tanya Herwan melihat adik bungsunya ini sudah ikut sarapan pagi di meja makan.
"Iya, biasanya jarang sarapan di rumah juga." Salam ikut nimbrung, anak kedua dari pasangan Safira dan Anton.
Bintang menatap kedua kakaknya yang begitu penasaran dengan sikapnya hari ini, yang bisa di bilang memang. Karena biasanya ia berangkat jam tujuh pagi dan jarang sarapan di rumah. Lah, sekarang masih jam enam lebih. Tentu saja menjadi pertanyaan bagi keluarganya terlebih lagi Kakak keduanya yang sangat kepo dengan urusannya.
"Biasalah! Anak muda mabuk asmara." Sela Daddy Anton, membuat ketiganya menoleh.
Bintang tentu saja kaget, melihat Daddy yang mengetahui dirinya memiliki kekasih. Padahal ia hanya bercerita pada mommy kemarin. Ah! Iya, mommy dan Daddy itu adalah orang yang sangat terbuka dalam masalah apapun pada pasangan. Jadi sudah tak perlu di tanyakan lagi, sang Daddy mengetahui informasi tersebut darimana.
"Wah! Wah! Kenalin dong. Jangan diumpetin, nanti dikira kamu nggak seriusan suka sama dia." Saran Salma sambil menyuapi sarapannya ke dalam mulutnya. Namun percayalah ucapan tadi adalah sebuah godaan memancing adik bungsunya itu.
Bintang hendak menjawab langsung di tegur mom Safira. Karena seperti yang sudah-sudah, kedua kakak beradik itu hobi sekali ribut dimana saja, kapan saja dan tak kenal tempat.
"Iya aku kenalin kesini, tapi nggak sekarang." Sahut Bintang mengalah. Lalu bergegas meminum susu untuk melengkapi gizinya.
"Aku berangkat dulu, menjemput calon menantu dan calon adik ipar keluarga Oswald." Guraunya, sembari menyalami satu - persatu keluarganya. Dengan segera melangkah ke arah mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah.
Sedangkan di meja makan, semua orang hanya menggeleng kepala melihat seorang bintang begitu bucin pada kekasihnya.
"Bawa ini juga nak, ini bagus buat memperlancar asi istri kamu." Jelas Safira melihat anak pertamanya hendak membawa nampan berisi nasi, lauk-Pauknya, segelas susu dan air putih.
"Makasih mom." setelah itu, pria bertubuh tegap sekaligus pewaris pertama dari keluarga Oswald itu pun menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
Salma yang melihat hampir tiap hari melihat keromantisan kakak tertuanya menjadi iri.
"Mom, aku pengen cepat-cepat lulus kuliah deh. Lalu menikah dan punya anak seperti bang Herman selalu meratukan istrinya." Ucap salam secara tiba-tiba, membuat kedua manusia paruh baya itu telagak dengan penuturannya anaknya yang satu ini.
"Sal, disini masaih ada saka loh. Sekarang! Mending kamu pergi ke kampus, sekalian anterin saka. Takutnya nanti dia telat, mom akan ngobrol sama kakak kamu." Sahut Safira. Tanpa berniat menyahuti penuturan anak perempuan satu - satunya ini, yang kadang - kadang di luar nalar.
Gadis cantik itu langsung cemberut, melihat kedua orangtuanya tak menjawab pertanyaannya. Dengan segera melangkah dan tak lupa menyalami mommy dan Daddy-nya.
"Ayo saka! Kita berangkat."
Bocah tampan itu langsung mengikuti langkah aunty- Nya tanpa drama. Safira dan Anton saling pandang lalu terkekeh pelan melihat wajah cemberut dari anak keduanya itu.
. . . . .
Bintang mengendarai mobil pribadinya dengan kecepatan sedang sesekali bersiul ria menatap lalang kendaraan sekitar.
Senyuman khas bintang langsung mengembang ketika melihat pujaan hati sedang menunggunya di luar gerbang rumah perempuan itu.
Begitu pun dengan Karin tersenyum sambil melambaikan kedua tangannya.
"Pangeran udah sarapan?" Tanya Karin setelah mobil itu melaju menuju sekolah keduanya.
"Udah, kamu??"
"Belum"
Seketika Bintang menoleh. "Kenapa belum?"
"Semalam begadang ngerjain tugas biologi dan hari ini juga ada ulangan harian." Jelas Karin, kemudian menutup mulutnya ketika menguap menyerang dirinya.
Bintang merasa bersalah pada kekasihnya. "Lain kali, kalau kamu ada tugas banyak atau UH bilang sama aku. Biar jalannya di tunda dulu." Terang bintang pada Karin. Dirinya tak ingin kekasihnya sakit atau kecapean.
Karin nampak mengulum senyum. Sungguh pria ini membuat hatinya menghangat dengan sikap perhatian yang ditujukan.
"Aku udah kebiasaan seperti ini, nanti di kelas tinggal makan bekal deh." Balas Karin mengangkat bekal di tangannya.
Bintang diam namun tangannya mengelus pelan rambut gadis itu membuat wajah empunya merah menahan salting.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments