Wanita Adalah Makhluk Aneh

"Kamu kenapa? Ada masalah? Dari tadi diam aja." Bintang bertanya pada kekasihnya, yang hanya diam dengan wajah murung.

Gadis berambut panjang di gerai itu menoleh sebentar. Tak ada sepatah kata pun yang ia ucapkan. Ada sesuatu ketidak relaan dalam hati yang ia sendiri masih bimbang dengan perasaannya.

Bintang sadar sesuatu terjadi hanya diam. Tak ingin memaksa kekasihnya untuk bercerita. Bukan tidak peduli, tetapi ia tak ingin membuat Karin tidak nyaman. Terlebih lagi hubungan keduanya belum genap satu Minggu.

Karin mengkerut kening saat jalur rumahnya di lewati. Karin hendak bertanya seketika mengurungkan niat. Ia tahu jalur arah tujuan Bintang.

Dan benar saja tebakannya benar. Bintang membawanya ke pantai, tempat favorit pria itu.

"Ayo jalan, aku sudah pesan tempat buat Kita." Ajak Bintang mengandeng tangan kekasihnya. Genggaman jari panjang, lembut membuat ia nyaman.

Karin sesekali melirik. Wajah tampan dan tubuh ideal di miliki Bintang membuat ia salting sendiri.

Kenapa baru sadar, wajah Bintang memang begitu mempesona apalagi untuk kaum hawa. Pasti sudah ketar ketir melihat prianya. Membantahnya imajinasi mengerikan itu Karin segera menepis pikiran buruk itu.

Namun sayang seribu sayang. Raut wajahnya berubah menahan kekesalan. Tampa kata Karin menghempaskan tangan Bintang membuat si empunya bingung.

"Senang! banget... tebar pesona!" Ketus Karin, melangkah lebar mendahului tanpa mempedulikan wajah kebingungan pria itu.

"Tebar pesona gimana? Perasaan gue bisa aja." Bintang yang tak mengerti dengan mood wanita itu.

Sedangkan di posisi Karin, gadis itu duduk di salah satu bangku kosong yang tersedia. Hati sedang kesal dan panas. Melihat banyak para anak remaja menatap kagum ke arah Bintang. Seharusnya ia bangga banyak orang menatap iri kepadanya, tapi entahlah. Ada rasa tidak rela yang tak bisa di jabarkan.

"Apa mungkin aku cemburu. Tapi masa iya?! Bukannya aku enggak ada perasaan sama kak Bintang? Haisss, udahlah.. bodoh amat."

Di tengah kebingungan dan keresahan gadis itu, Bintang datang menghampiri. Lalu duduk tanpa di persilahkan.

"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu marah. Kalau aku ada salah bicaralah, jangan di pendam." Ujar Bintang dengan lembut. Tangan kanannya bergerak untuk mengelus pelan rambut hitam dan wangi milik Karin. Hal yang akan menjadi kebiasaan favoritnya.

"Tau, ah!" Karin mode ngambek.

Bintang semakin bingung. Ia teringat dengan mommy Safira persis sekali jika sedang marah pada dad Anton. Bisa di bilangan mode ngambek. Dirinya sangat ingat sekali hal kebiasaan kedua orangtuanya. Tanpa sadar tawa pelan menghias wajahnya.

Sementara Karin mendengar suara terkekeh Bintang semakin kesal. Apa pria ini bahagia dilihatin para rombongan anak - anak remaja itu. Lihatlah sekarang, banyak dari mereka mengambil ponsel lalu mengarahkan ke Bintang. Ia yakin para cewek-cewek memotret ke arah prianya.

Ya dong.., enggak salah. Kan pancarnya. Walaupun tidak ada rasa cinta di hatinya tetap saja Bintang adalah kekasihnya dan perlu di catat, hanya miliknya seorang.

"Pangeran ku... Aku lapar! Beli makan yuk.. kasihan nih, cacing aku udah demo minta di isi." Ucap Karin bergelut manja di lengan kekar milik kekasihnya. Dan jangan lupa nada suaranya sengaja di manja.

Reaksi Bintang!! Tentu saja shock. Mimpi apa dia semalam? Kenapa mood gadis ini berubah-ubah. Tadi marah lalu pergi meninggalkannya, sekarang berubah lagi jadi manja. Sungguh!! Benar yang dikatakan Daddy Anton, wanita adalah makhluk aneh yang tak bisa di prediksi dengan segala sikap dan tingkah lakunya.

Lihatlah lirikan mengerikan dari gadis itu, seperti hendak melahapnya hidup - hidup. Sungguh menyeramkan bukan? Padahal Karin sedang bergelut manja. Tapi, tatapnya sangat berbeda.

"Kamu enggak peduli sama aku?" Desis Karin semakin kesal, bukan sekarang ia marah. Tidak tahukah pria di sampingnya ini, ia sedang marah.

"Eeh, i–iya. Tadi aku udah pesan tempat dan makan, ayo kita ke sana." Ucap Bintang dengan kikuk.

Secerah lega hati dan senyuman tercetak di wajah Karin, membuat Bintang merinding melihatnya.

"Ayo! Aku udah lapar banget..! pangeran ku." Semakin bergelut manja di lengan prianya.

Keduanya berjalan menuju tempat pesanan Bintang. Karin menoleh ke belakang sebentar, senyuman sinis yang di berikan kepada para gadis remaja itu. Seolah mengatakan mereka kalah dan dirinyalah pemenang.

"Hahaha," tawa Karin dengan pelan. Rasa sangat puas melihatnya.

"Kenapa Karin jadi mirip seperti kak Salma? Kadang lembut, kadang cegil (cewek gila)." Kata Bintang dalam hati. Ya dong! Masa iya ngomong secara langsung, yang ada makin mengerikan lagi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!