Sang Pelahap Kebahagiaan

Suara langkah kaki mendekati ruang perawatan, Roy yang menyadari itu langsung bergegas menghampiri orang yang ingin masuk.

"Kau ingin menjenguk Reihan? Kurasa ia sudah pergi dari ruangan ini." sahut Roy yang menghalangi pintu ruangan.

Mona yang melirik ke dalam tidak melihat Reihan di kasurnya dan Mogi tengah tertidur pulas.

"Kemana dia pergi?" tanya Mona.

"Entahlah, terakhir dia mengatakan untuk pergi berlatih sampai musim dingin berakhir dan tidak ingin diganggu termasuk dirimu." jawab Roy mencurigakan.

"Aku tidak percaya! pasti dia pergi ke Gua itu kan! Kenapa kamu tidak menghentikannya." bentak Mona marah.

"Dengan kondisinya yang seperti itu? Lalu pergi melewati badai sendirian untuk menghadapi monster yang mampu menghancurkan kota? dia tak akan kesana!" tegas Roy meyakinkan Mona.

"Aku harap begitu." jawabnya sedih.

Satu bulan telah berlalu, musim dingin berganti musim semi.

Reihan sudah mempersiapkan semuanya dan bertaruh nyawa akan keberhasilan rencana buatannya.

Reihan mencoba membuat suara keributan yang mengganggu Naga itu dengan memberikan teriakan kuat yang menggema masuk ke dalam Gua.

Monster Rotan pengait yang mendengar teriakan Reihan pun ikut bereaksi, makhluk itu ikut menjerit dan melambai lambai sampai pengait mereka saling sangkut.

Suara berisik itu membangunkan kembali Naga yang sedang berhibernasi, ia bangun dalam keadaan sangat lapar dan itu membuatnya menjadi semakin ganas.

Tanpa pikir panjang makhluk terbang itu meluncur dengan cepat melewati satu titik jalan keluar, Ia tidak tahu apa yang akan menghadangnya didepan sana.

"Kena kau!"

Naga itu keluar dengan tubuh yang terkoyak koyak dan sayap yang rusak akibat tersangkut pengait dan duri Monster Rotan yang tumbuh di sekeliling mulut Gua, kini makhluk besar itu meraung kesakitan.

Seketika Monster-monster disekitarnya menjauhi wilayah itu setelah mendengar auman sang Naga Api Vulkano.

Sang Naga ingin melepaskan dirinya dengan menghanguskan Monster tanaman itu dengan napas apinya.

Api panas membakar sekeliling mulut Gua yang ditumbuhi monster Rotan pengait hingga memicu ledakan inti monster Jagung murka yang tertempel di langit langit.

Mulut Gua yang rubuh langsung menimpa Naga api vulkano, sekarang makhluk itu terjepit oleh bongkahan bebatuan besar diatasnya.

dan ia terjebak untuk kedua kalinya, matanya menatap tajam ke arah Reihan yang didepannya dengan penuh amarah dan dendam.

"Kau tidak pantas menatap ku seperti itu!" teriak Reihan tak gentar menghadapi Makhluk besar didepannya.

Sang Naga benar-benar tidak bisa bergerak dengan tubuh penuh luka tertancap duri dan terjepit tumpukan bongkahan batu Gua.

Sekarang Makhluk itu berniat menghabisi Reihan dengan semburan api terkuatnya.

Mulutnya menganga dengan lebar untuk mengeluarkan volume api yang sangat besar dan hal itu yang ditunggu-tunggu Reihan selama ini.

Dengan cepat Reihan mengeluarkan granat didalam tasnya dan mempersiapkan tameng untuk berlindung.

"Rasa sakit mu tidak ada apa apanya dengan yang aku alami!" teriak Reihan melempari banyak granat ke mulut Naga itu.

Naga vulkano yang tertelan beberapa granat memicu ledakan hebat di dalam lehernya sampai ke rahang sehingga kepalanya hancur tak bersisa.

Reihan yang berlindung di balik tameng hasil menang hadiah langsung terlempar jauh akibat efek dari ledakan tersebut.

"Ini sudah berakhir." ucapnya membuang tameng yang telah rusak.

Kini ia terbaring puas akan kerja kerasnya selama ini dan kembali menangis setelah mengingat kematian Roberto.

"Tapi ini tidak bisa mengembalikan ayah Robert." batin Reihan mengusap air matanya yang terus keluar.

"Marvelous!" ucap salah satu sosok yang turun dari langit tengah bertepuk tangan.

"Tak kusangka peliharaanku jadi semenyedih kan ini." lanjut sosok satunya yang berpakaian hitam memiliki sayap dan dua tanduk di kepalanya.

"Kau Badut yang waktu itu!" kejut Reihan menjaga jarak aman.

"Ini pertunjukan yang sangat luar biasa antara seorang difabel melawan sang Naga api vulkano!" sambut si Badut mengangkat kedua tangan.

"Untuk kali ini tolong lepaskan aku." pinta Reihan yang sudah lelah.

"Tidak! Aku menyukaimu, kau akan membuat pertunjukan hebat lainnya dan dunia akan mengagumi bakatmu." balas si Badut dengan tangan yang meremas dari jauh ke arah mayat Naga api vulkano.

Mayat Naga yang tertimbun itu terkompresi sampai mengecil dan meledak menyisakan satu kristal berwarna merah dan si Badut datang mengambil benda itu.

"Ini bayaran untuk pertunjukan mu, jadilah bertambah kuat demi menciptakan hiburan spektakuler lainnya dan aku tidak akan segan melibatkan orang terdekatmu untuk hal ini." tegas si Badut lalu melemparkan kristal merah Naga api vulkano ke arah Reihan.

Reihan yang menerima kristal itu di persilahkan untuk pulang tanpa menerima serangan dari mereka namun mendapat ancaman dimasa yang mendatang.

"Prediksi tuanku memang sangat hebat, dia pasti tidak sabar untuk bangun dari tidur panjangnya." ucap sosok itu menyeringai.

"Kalau begitu tugasku sudah selesai." balas si Badut.

"Masih belum! Kekuatannya masih belum muncul dan kau berhutang artefak gelang pengubah roti awan milikku." tegas sosok itu.

"Haha, Baiklah kau bosnya."

"Panglima raja iblis Raimoz sang penggelap langit." ucap si Badut menyebut namanya.

Lelehan salju menampakkan jalan pulang untuk dilalui seorang remaja yang tengah membawa masalah baru, ia berpikir keras untuk bisa hidup damai bersama keluarga, kekasih dan teman temannya.

Reihan yang terus berpikir akhirnya sampai di kota Savana tempatnya berasal.

"Bagaimana ini, aku tidak menemukan solusi apapun." batin Reihan begitu kesal.

Tak lama ia melewati pria Bangsawan yang membawa seorang Budak Kurcaci wanita dengan menggunakan rantai hewan.

Tatapan kosong yang begitu suram seolah memberitahukan Reihan bahwa yang di alami wanita itu lebih menyedihkan darinya.

"Cepat jalan!" bentak pria itu menarik kejut rantai belenggu di leher si Budak.

Luka yang dihasilkan belenggu di lehernya begitu miris untuk dilihat hingga menggerakkan hati Reihan yang tak sanggup melihat perlakuan itu.

"Berhenti!" teriak Reihan.

"Apa mau mu hah! Aku sudah muak mengurusi Budak yang tidak berguna ini." hardik Pria Bangsawan begitu kesal.

"Aku akan membelinya!" jawab Reihan dengan tegas.

"Dengan penampilan dan fisik yang seperti itu Kau tidak akan sanggup membayar budak pembangkang ini." sarkas pria itu menghina Reihan.

"Bagaimana kalau ku tukar dengan ini!" sahut Reihan menunjukkan kristal merah ditangannya.

"Mustahil! Darimana kamu mendapatkan itu." kejutnya terbelalak.

Mata yang suram itu kembali hidup setelah melihat kristal merah Naga Api Vulkano di tangan Reihan.

"Apa kamu yang telah membunuhnya?" tanya wanita Budak yang melihat kearah Reihan.

"Tenanglah kamu sudah bebas sekarang!" jawab Reihan tengah membungkuk ke arah wanita itu.

Kristal merah itupun telah di tukar dengan Budak wanita yang ada di hadapannya.

Kenangan buruk yang sudah membatu dalam jiwanya kini telah di hancurkan oleh lelaki di hadapannya.

"Pahlawan!" ucap wanita itu menangis haru.

Terpopuler

Comments

meleecreep

meleecreep

/Scowl/

2024-02-17

2

TAHU KOTAK ID

TAHU KOTAK ID

/Slight/

2024-02-17

2

meleecreep

meleecreep

/Smug/

2024-02-17

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!