Mogi dan Reihan telah menyelesaikan misi memburu Monster Beruang maut di hutan Raung untuk diambil kulitnya sebagai pakaian musim dingin mendatang.
Kali ini mereka ditemani Roy karena dia cocok bertarung di garis depan, berkat itu mereka memperoleh banyak sekali kulit Beruang maut.
Mereka bertiga menyerahkan bahan tersebut kepada Staf serikat untuk ditukar menjadi uang.
Suasana kedai yang ramai seketika menjadi hening saat kedatangan Kepala Serikat dan Rina yang memberikan misi khusus kepada para petualang.
Misi itu adalah memburu para Bandit dan menyelamatkan seorang Sandera petualang yaitu Mona si Penyihir.
Banyak Para petualang menolak karena tidak ingin berurusan dengan Bandit yang licik apalagi Petualang kelas emas saja bisa ditaklukkan oleh mereka.
Reihan yang sedari tadi diam saja langsung ditegur oleh Roy.
"Hei! Bukannya kepala Serikat tadi menyebutkan nama Mona, dia orang yang dulunya menyelamatkanmu kan. Mengapa diam saja." tegur Roy
Reihan tengah berpikir keras karena yang akan dia hadapi kali ini bukanlah Monster, ia takut karena untuk pertama kalinya melawan sesama manusia.
Mogi menepuk bahu Reihan dan memberikan pendapat kepadanya.
"Sebaiknya kita menyelamatkannya Rei, kamu tak ingin penolongmu di apa-apakan mereka bukan." ajak Mogi
"Kalau kau takut kotor biar aku yang melakukannya, Mereka memang berwujud manusia tapi sifatnya sudah tidak manusiawi lagi." Sambung Roy akan pergi mencari Mona.
"Aku ikut! Tadi aku hanya mempersiapkan diri untuk ini." jawab Reihan masih terlihat bimbang.
Setelah menerima bayaran, mereka bertiga mempersiapkan kelengkapan dan pergi bersama Rina sebagai petunjuk arah tempat Mona di tahan.
Di perjalanan mereka berempat mengatur strategi untuk menyelamatkan Mona dan para Budak juga mengatasi serangan Bandit terutama si Badut misterius itu.
Namun mereka sudah terlambat karena para Budak sudah di bawa para Bandit dan menyisakan beberapa Bandit untuk menjaga Mona tidak terlepas.
"Sial! Kalau begitu kita selamatkan Mona lalu pergi dari tempat ini." ucap Roy mengintip dibalik semak.
"Tapi kemana Badut itu berada, dari tadi aku tidak melihatnya." tanya Rina tengah mencari.
"Kau mencari ku Nona." ucap si Badut dari belakang mereka.
Spontan mereka menghindari si Badut yang tidak bisa Dirasakan keberadaannya.
"Dengan mudahnya dia menggagalkan rencana kita." sahut Mogi bersiaga.
Keberadaan mereka berempat kini telah diketahui Bandit lainnya, Mogi dan Roy menghadapi si Badut lalu Reihan dan Rina menghadapi para Bandit.
"Darimana kamu membuat desain pakaian itu." tanya si Badut kepada Mogi.
"Tetap fokus Mogi, kau tidak perlu menjawab pertanyaan orang itu." sahut Roy bersiaga.
"Haha, sepertinya aku harus membuat pertunjukan sebelum kalian membayar." kata si Badut mengeluarkan kartu remi miliknya.
Beralih kepada Reihan dan Rina tengah dikepung para Bandit yang menggunakan pedang beracun.
Reihan yang sudah membidik salah satunya tidak sanggup menarik pelatuk, jarinya bergetar karena selama ini dia tidak pernah mencoba membunuh manusia.
Reihan yang berdiam diri memberikan kesempatan para Bandit untuk menyerang duluan.
"Ada apa denganmu Rei, ayo serang mereka sebelum kita yang celaka." bentak Rina membuat sihir kubah pelindung.
Jenis pelindung milik Rina hanya bisa ditembus dari dalam, sangat cocok untuk rekan pengguna panah atau serangan jarak jauh lainnya.
"Apakah ada cara lain Rin?" tanya Reihan kebingungan.
Pertahanan yang Rina buat telah retak akibat ditusuk pedang terkutuk milik salah satu para Bandit dari luar pelindung.
"Kau mempertanyakan hal bodoh disaat nyawa kita sedang terancam, cepatlah aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi." hardik Rina tengah panik.
Reihan langsung menembak Bandit didepannya namun telah di tangkis si Bandit menggunakan perisai.
Sudah saatnya Reihan mengeluarkan benda buatan Roberto didalam ransel yang dibawanya yaitu granat Jagung murka yang terinspirasi dari cerita Reihan di dunianya.
Karena meledak dalam waktu singkat dan menghasilkan serangan area, Roberto memperingatkan untuk berhati-hati dalam menggunakannya.
"Sepertinya benda aneh itu akan menyelamatkan kita, jadi apa yang harus kulakukan?" balas Rina bertanya.
"Bisakah kau membuat pelindung ini menjadi berlapis dengan sisa daya sihirmu." pinta Reihan yang mengingat kemampuan pelindung Daimax.
"Benar juga! Mengapa tidak terpikirkan olehku." jawab Rina membuat kubah pelindung berlapis lapis.
Sambil berteriak, Reihan menarik pemicunya lalu melempari para Bandit itu secara membabi buta.
Ledakan ledakan itu menghancurkan tubuh para Bandit dan menarik perhatian semua orang.
"Sepertinya pertunjukan disana lebih meriah daripada di sini, itu tidak bisa dibiarkan." ungkap si Badut melihat rekannya dibantai.
Mogi juga memiliki beberapa granat seperti Reihan dan dengan senyap dia melemparkan benda itu mengarah si Badut yang sedang lengah.
Beralih ke hutan didekat kota Savara terdapat para Bandit yang membawa Budak Kurcaci tengah dipergoki Regu pahlawan yaitu Daimax dan Arthur.
"Ternyata berita yang diberikan kepala Serikat Savana melalui burung pengantar pesan benar-benar akurat." ungkap Arthur yang pergi menghadang para Bandit.
"Mengapa kamu tidak pernah menggunakan pedangmu itu Arthur, bukankan tak masalah mereka tahu." tanya Daimax sambil membuat tameng penghalang mengelilingi para Bandit.
"Tidak, ini adalah aib bagi Pahlawan pedang." jelas Arthur tengah baku hantam menggunakan tinju kebenarannya.
"Aku penasaran apa kamu pernah mencabut pedangmu selain melawan Panglima Iblis?"sambung Daimax bertanya.
"Ya, saat itu aku terpaksa menggunakannya untuk menghadapi pria berpakaian Badut yang benar-benar merepotkan." jawab Arthur mengingat kejadian itu.
"Dan dia mengatakan pedangku adalah sebuah lawakan terbaik abad ini."
Para pahlawan telah mengalahkan para Bandit bersama Ketua barunya dan Mereka akan di tahan dalam penjara Kerajaan.
Ras Kurcaci yang dijadikan Budak akan diberikan tempat berlindung sementara k benteng Kukura.
Kembali ke lokasi Mona di tahan para bandit.
Mona yang tengah terikat berusaha melepaskan diri namun ia kehilangan tongkat sihirnya.
Tak lama seorang Bandit berlari membawa senjata tajam menghampiri Mona untuk di jadikan sandera agar bisa meloloskan diri dari para Petualang.
Belum sampai menyentuh Mona, si Bandit sudah terjatuh dengan peluru yang menancap di kepalanya.
Reihan muncul dibalik pintu dengan gagahnya itu sungguh memikat hati Mona yang kini menganggap Reihan sebagai pahlawannya sekarang.
Reihan melepaskan tali yang mengikat Mona lalu mengajaknya pergi meninggalkan ruangan tersebut namun Mona sempat-sempatnya mencari perhatian dari Reihan.
"Uh Rei, aku tidak sanggup berdiri untuk saat ini." ucap Mona meminta tolong.
"Baiklah kita harus cepat keluar dari tempat ini." jawab Reihan merangkul Mona keluar dari markas Bandit.
Rina melihat Mona keluar dalam keadaan dirangkul Reihan, kini ia sedang memberikan kode mengedipkan mata kearah Rina.
"Wanita itu, dalam situasi seperti ini sempat-sempatnya!" batin Rina merasa dongkol.
"Rei, tubuhmu bau rumput." keluh Mona.
"Maafkan aku, kuharap kamu lekas pulih karena kamu berat sekali." balas Reihan dengan polosnya.
Mona yang mendengar itu langsung cemberut dan mencubit pinggang Reihan.
"Aduh!"
Granat yang dilempar Mogi langsung meledak kearah si Badut tapi anehnya daya ledakan itu sulit mengenainya.
Dibalik ledakan yang menghalangi pandangan si Badut, Roy tengah melancarkan Tebasan pedangnya yang begitu kuat.
Setelah mendekati leher si Badut, Pedang Roy bergerak melambat seolah melawan tekanan yang sangat berat.
"Apa-apaan kemampuan orang ini." ucap Roy terheran.
"Sepertinya aku harus menutup pertunjukan ini, karena penonton sudah tidak ada lagi." tegas si Badut serius.
Ia menghindar kebelakang dan tebasan Roy kembali menjadi normal.
Namun si Badut lanjut menyerang dengan melemparkan kartu kartunya yang melesat begitu cepat mengenai tubuh Roy.
Kini Roy terbaring tak sadarkan diri.
Dalam jarak tertentu tiba-tiba tubuh Mogi tertarik ke depan seolah seperti mau jatuh dan lehernya sudah berada di cengkraman tangan si Badut.
Reihan, Mona, dan Rina yang melihat itu tidak tinggal diam.
Mona turun dari rangkulan Reihan dan meminjam tongkat Rina untuk menyerang.
Kali ini ia menggunakan sihir Jerat penghakiman seperti milik Berry untuk menghentikan si Badut.
Tapi sihir itu tidak kuat menjeratnya seakan ada tekanan yang menghalanginya.
Reihan yang telah mengisi pelurunya langsung menembak mengarah si Badut namun laju peluru itu melambat dan terjatuh.
Mona mencoba mengacaukan konsentrasi sihir si Badut Menggunakan rapalannya untuk memastikan sesuatu.
"Sudah kuduga, itu bukan sihir." kejut Mona mengetahui sesuatu.
Si Badut akan menghabisi Mogi namun niat itu di hentikannya ketika burung pipit datang menghampiri.
"Hmm... Kalau begitu kontrak ini ku anggap selesai." ucap si Badut melepaskan Mogi.
Mogi akhirnya bisa kembali bernafas.
"Sudah tidak ada lagi alasanku menghadapi kalian, kalau begitu saya pamit undur diri." ucap si Badut membungkuk memberikan salam.
Ia melompat-lompat ke udara lalu berbaring di atas awan dan menjauh melalui tiupan angin.
Mereka yang sadar akan perbedaan kemampuan memilih untuk tidak mengejarnya, dan membangunkan Roy menggunakan sihir Rina lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
Terdapat sebuah Kastil yang mengapung di langit, disana si Badut menemui sosok misterius.
"Apakah kau menemukan lagi orang yang di dunia mu?" tanya sosok itu.
"Ya, mungkin dia belum mengetahui kemampuannya, walupun payah aku yakin dia pasti memberikan hiburan yang tak terduga." jelas si Badut.
"Menarik!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Robiansyah
nice 🔥
2024-02-25
0