Di bus Andra bertemu dengan Tiko yang juga akan pulang. Tiko duduk di sebelah Andra.
"Hei, baru pulang juga?" tanya Tiko.
"Ya. Biasanya lembur, cuma setelah ada karyawan baru aku bisa pulang lebih awal," jawab Andra tersenyum tipis.
"Aku pikir pulang dengan kekasih amnesia kamu itu," singgung Tiko.
"Dia sudah pulang dari tadi," ucap Andra tanpa menatap.
"Oh pantas saja aku tadi melihatnya di kafe," ujar Tiko.
"Kafe? Di mana? Pukul berapa?" Bersama siapa?" Andra menoleh ke arah Tiko dan mencecarnya dengan begitu banyak pertanyaan.
"Kalau mau tanya satu-satu, jangan diborong semua," celetuk Tiko seraya tertawa kecil.
"Maaf!" lirih Andra. "Aku hanya ingin tahu saja," lanjutnya.
"Aku melihatnya sekitar jam tiga, dia bersama seorang pria tapi sepertinya mereka sedang berdebat," kata Tiko.
"Apa kamu tahu ciri-cirinya?" tanya Andra.
"Aku mempunyai videonya tapi tidak terlalu jelas karena sangat jauh," jawab Tiko mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
Tiko lalu menunjukkan video Cyra dan Franco kepada Andra yang sedang terlibat cekcok namun tak mendengar jelas isi pembicaraan mereka.
"Dia ini penjahat, Ko!" ucap Andra tampak khawatir.
Tiko mengernyitkan keningnya, ia tak paham dengan ucapan sahabatnya.
"Dia ini yang sudah membuat Cyra amnesia!" kata Andra geram.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Tiko.
"Aku mendengar percakapan dia dan ibu tirinya Cyra," jawab Andra.
"Ini tidak bisa dibiarkan, kamu harus menjaga dan melindungi Cyra," ujar Tiko.
Andra mengangguk mengiyakan.
-
Sesampainya di rumah, Andra segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Ia lalu menghubungi Cyra, tak menunggu lama wanita itu mengangkatnya.
"Halo!" ucap Cyra ketus.
"Nona Cyra di mana?" tanya Andra.
"Mengapa kamu ingin tahu?" Cyra balik bertanya.
"Nona, saya minta maaf karena tadi tidak mengantarkan makanan ke ruangan anda," ucap Andra.
"Aku sudah memaafkanmu!" Cyra menutup cepat ponselnya.
Andra menarik ponsel dari telinganya dan menatap, "Dia marah!" gumamnya.
Andra keluar dari kamarnya dan menemui ibunya, ia menyerahkan bekal makan siang yang tak jadi diberikan kepada Cyra.
"Kenapa masih penuh?" Laila curiga.
"Aku tidak makan siang bersamanya, Bu."
"Mengapa?" tanya Laila.
"Aku tidak mau terus dekat dengannya. Karyawan kantor menuduhku jika mendekati Cyra untuk mendapatkan jabatan dengan mudah," jawab Andra. Beberapa orang ditempatnya bekerja mengatakan hal begitu.
"Walaupun kamu tidak makan bersamanya, apa salahnya berikan ini kepadanya," kata Laila.
"Aku tidak mau, Bu. Aku ingin menghindarinya," ucap Andra membuat Laila terdiam.
***
Esok harinya, Cyra ke ruangannya. Andra baru saja selesai membersihkan tempat itu. Keduanya berpapasan di pintu dan saling melempar pandang. Andra mencoba tersenyum, sementara Cyra tampak ketus.
"Pagi, Nona!" sapa Andra.
Cyra tak menjawab dan segera masuk ke ruangannya.
Andra menarik napas lalu menghembuskannya. Ia kemudian melangkah ke ruang istirahatnya.
Selang 15 menit kemudian, pintu ruang kerjanya Cyra di ketuk. Wika muncul dengan membawa kantong bekal makanan.
"Ada apa, Wika?"
"Dari Andra untuk Nona."
"Letakkan saja di sana!" arah pandangan Cyra ke meja tamu.
Wika pun meletakkannya.
"Terima kasih," ucap Cyra.
"Sama-sama, Nona!" Wika pun berlalu.
Dua jam berkutat dengan pekerjaannya, perut Cyra terasa lapar Beranjak dari tempat duduknya ia melangkah menuju meja tamu. Cyra membuka bekal makanan dari ibunya Andra dan mulai memakannya.
Setelah kenyang, Cyra menelepon Wika, "Ke ruangan saya sekarang!"
Wika belum menjawab, Cyra sudah menutup panggilannya. Wika gegas ke ruangan Cyra.
Pintu terbuka, Wika pun masuk, "Ada apa, Nona?"
"Kembalikan bekal makan ini kepada Andra!" Cyra menyodorkan kantong plastik dan Wika menerimanya.
"Katakan pada Andra besok jangan membawa bekal untuk saya, karena mau ke luar kota," ucap Cyra.
"Baik, Nona. Saya akan katakan," ujar Wika.
Cyra tersenyum mengangguk mengiyakan.
-
-
Cyra baru keluar dari ruangannya ketika jarum jam menunjukkan pukul 4 sore. Ia menjinjing tasnya dan gegas memasuki mobil. Andra yang diam hanya melihatnya saja, pria itu tak berani menyapanya.
"Mas Andra, kenapa melamun?" sapa Lani dengan tersenyum
Andra melemparkan senyuman tipis kepada gadis disampingnya.
"Mas Andra tidak pulang?" tanya Lani.
"Ini mau pulang," jawab Andra kemudian melangkah.
Keakraban keduanya tak luput dari pandangan Cyra yang berada di mobil. Cyra tampak cemburu namun ia berusaha menepisnya karena dirinya bukan siapa-siapanya Andra.
Di dalam bus, Lani duduk di samping Andra. Gadis itu pun mengajak Andra untuk sekedar jalan-jalan ke sebuah mall.
"Malam ini katanya ada artis yang datang, Mas Tiko juga ikut," ucap Lani merupakan sepupunya Tiko.
"Hmm, baiklah aku akan pergi bersama kalian," janji Andra membuat Lani tersenyum senang.
-
Jam 7 lewat 10 menit, Andra bersama Tiko dan Lani telah berada di mall tak jauh dari perusahaan tempat mereka bekerja. Kebetulan hari ini kedatangan 2 artis yang membintangi salah satu drama. Karena itu makanya pusat perbelanjaan tersebut ramai dikunjungi.
Andra dan keduanya kini ada di tengah-tengah para pengunjung yang memadati lantai dasar. Mereka berteriak histeris memanggil sang artis.
Andra yang tak nyaman, berbisik pamit kepada Tiko untuk mencari minuman. Andra pun keluar dari kerumunan orang-orang.
Andra berjalan memasuki sebuah kedai minuman, ia memesan 1 cup ice lemon tea. Sambil menunggu, ia memperhatikan para pengunjung yang sedang melintas.
Matanya tanpa sengaja melihat Cyra seorang diri melangkah ke toko pakaian. Di sana ada 2 orang wanita yang telah menunggunya. Mereka saling bertegur sapa dan akrab.
Setelah pesanan minumannya selesai dibuat, Andra gegas mengikuti langkah Cyra. Ia sengaja membuat jarak agar tidak ketahuan oleh wanita itu.
Dari toko, Cyra dan temannya melangkah ke suatu tempat. Andra bersiap-siap mengikutinya namun suara ponselnya mengurungkan niatnya. Andra pun segera menjawab, "Halo!"
"Kamu di mana?" tanya Tiko.
"Aku lagi di toilet," jawab Andra.
"Ya sudah, kami tunggu di kedai es krim dekat panggung," ucap Tiko.
"Iya, aku nanti ke sana," kata Andra menutup panggilannya.
Andra memasukkan ponselnya ke saku celananya, ia kembali mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Cyra tetapi wanita itu sudah menghilang bersama teman-temannya. Andra lanjut berjalan sembari melihat ke kanan dan kirinya. "Kemana dia?" batinnya.
Andra mengarahkan matanya ke lantai atas, ternyata Cyra dan temannya sedang menuju ke sana. Andra dengan cepat menyusulnya, langkahnya terhenti ketika seorang pria menarik tangan Cyra menjauh dari yang lainnya.
Andra tak tinggal diam, ia pun menghampiri keduanya dan berkata, "Jangan pernah menyentuhnya!"
Cyra dan Franco menoleh ke arah Andra, keduanya cukup terkejut.
Andra mendekat dan menurunkan tangannya Franco dari pergelangan Cyra. "Jangan coba menyakitinya lagi!"
"Kamu siapa?" tanya Franco geram.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments