Cyra sudah berada di mobil dengan sabar ia menunggu Andra selesai bekerja. Selang 15 menit kemudian, Andra akhirnya keluar dari gedung perusahaan.
Sopir kantor segera mendekati Andra dan berkata, "Nona Cyra sudah menunggu di dalam, Tuan."
"Maaf, Mas. Saya bukan majikan anda, jangan panggil tuan," ucap Andra.
"Tuan Andra adalah temannya Nona Cyra dan orang yang sudah menolongnya," kata sopir lagi.
Andra meletakkan jemarinya di bibir lalu berucap, "Jangan bicarakan itu lagi, Mas!"
"Maaf, Tuan." Pria berusia 35 tahun itu sedikit menundukkan kepalanya.
Andra lalu pamit menuju mobil, namun langkahnya dihalangi sopir Cyra dengan cepat pria itu membukakan pintu bagian depan.
Andra mengerutkan keningnya karena ia duduk berada paling depan. "Ini tidak salah?"
"Nona Cyra yang akan membawa mobilnya, Tuan." Kata sopir mempersilakan Andra masuk.
Cyra yang kini duduk dibalik kemudi melemparkan senyumnya kepada Andra. "Ayo!"
Andra lalu masuk dan duduk.
Cyra segera memasangkan sabuk pengaman kepada Andra membuat pria itu terpaku. Bagaimana tidak? Wajah Cyra dapat terlihat jelas di depan matanya, bibirnya bahkan hampir mengecup pipinya Cyra. Namun dengan cepat menarik kepalanya sedikit menjauh.
Selepas memakaikan sabuk pengaman Andra, Cyra kembali ke posisi semula. Ia mulai menyalakan mesin mobilnya. Sementara Andra masih bergeming, detak jantung berdegup lebih kencang.
"Sebelum mengantarkanmu pulang, kita singgah ke supermarket," ucap Cyra sembari menoleh sekilas ke arah Andra yang mengangguk kecil.
Sepanjang perjalanan menuju supermarket, Andra memilih diam. Denyut jantungnya belum sepenuhnya normal. Ia masih merasa gugup dan grogi walaupun beberapa bulan lalu sempat sangat dekat.
Selang 20 menit kemudian, mobil yang dikendarai Cyra memasuki kawasan supermarket paling lengkap dan ramai pengunjung.
Cyra mematikan mesin mobil ketika sudah berada di parkiran. Sebelum keluar ia melihat ke arah Andra yang tidak bergerak. "Kamu mau tetap di sini?"
"Kalau Nona mengizinkannya," ucap Andra.
"Kamu harus ikut, kita akan berbelanja hari ini," ujar Cyra membuka sabuk pengamannya.
"Saya menunggu di sini saja, Nona." Andra malas harus ikut belanja, pastinya dirinya akan menjadi tatapan para pengunjung supermarket.
"Kamu tetap ikut saya belanja!" Cyra menegaskan ucapannya. "Atau kamu mau aku potong gajinya," lanjutnya.
Andra menggelengkan kepalanya, ia dengan cepat membuka sabuk pengamannya. Cyra melihatnya menarik ujung bibirnya lalu bergegas keluar.
Andra dan Cyra berjalan beriringan memasuki bangunan supermarket, Cyra lalu meminta Andra mendorong troli belanjaan. Cyra kemudian mulai mencari barang-barang yang diinginkannya.
Hampir 30 menit mengelilingi lorong supermarket, keduanya menuju meja kasir untuk menghitung seluruh belanjaannya.
Setelah membayar tagihan belanja, Cyra mengantarkan Andra pulang ke rumah. Selang 15 menit kemudian, mereka tiba di kediaman Andra.
Cyra keluar bersamaan dengan Andra, ia lalu berkata, "Belanjaan tadi semua untuk ibumu."
"Semuanya, Nona?" Andra masih belum percaya.
"Iya, buatnya karena sudah memasak makanan yang enak untukku," Cyra tersenyum.
"Nona, tidak salah?" tanya Andra.
"Tidak, Andra," jawab Cyra berjalan ke arah bagasi mobil lalu membukanya. Cyra mengambil 2 kantong plastik berukuran besar kemudian diserahkannya kepada Andra.
"Ini aku saja yang membawanya," ucap Cyra menunjuk ke arah 2 kantong berukuran sedang.
"Biar saya saja, Nona Cyra tunggu di sini," Andra segera membawa kantong berukuran besar ke dalam rumah.
Tak sampai 3 menit, Andra keluar bersama dengan Laila menghampiri Cyra yang menunggu di mobil. Ia mengambil lagi kantong dari dalam bagasi kemudian membawanya ke rumah.
"Nona Cyra, belanjaan sebanyak itu buat Bibi?" tanya Laila.
"Iya, Bi. Itu semua buat Bibi karena sudah membuat makan siang untukku," jawab Cyra.
"Terima kasih, Nona." Laila tersenyum senang karena mendapatkan sembako gratis, aneka daging, sayuran serta ikan.
"Sama-sama, Bibi." Cyra balas memberikan senyuman.
Andra kembali menemui Cyra dan mengucapkan terima kasih.
"Aku pamit, besok jangan lupa bawakan bekal makan siang untukku," ucap Cyra menatap Andra yang mengangguk mengiyakan.
Cyra kemudian masuk ke mobil dan berlalu.
Laila memutar balik tubuhnya menyusul putranya yang terlebih dahulu melangkah. "Pasti Dita mengeluarkan banyak uang untuk belanja sebanyak itu," tebaknya.
"Benar, Bu. Seperempat gajiku yang diberikan Tuan Besar Daneen," ucap Andra.
"Itu 'kan sangat besar sekali," kata Laila tak percaya.
"Kalau tahu semua belanjaan ini untuk kita, aku sudah melarangnya," ujar Andra.
"Kenapa kamu larang? Biarkan Dita memberikannya," ucap Laila.
"Aku tidak mau memanfaatkan kebaikannya, Bu." Kata Andra menarik kursi, menuangkan air ke dalam gelas lalu meneguknya.
Laila pun setuju dengan ucapan putranya.
"Bu, malam ini Tiko akan datang. Tolong masakan makanan untuk kita," ucap Andra.
Laila tersenyum, "Iya, An. Nanti Ibu masakan, sudah lama tidak bertemu dengannya."
-
Tepat jam 7 malam, Toko datang ke rumah Andra. Ibu dan anak itu menyambutnya, apalagi Laila sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri. Ketiganya saling bertukar kabar.
"Aku ingin penjelasan dari Andra tentang Dita," tagih Tiko.
"Wanita yang kamu temui di restoran memang Dita. Dia adalah bos tempatku bekerja," jelas Andra.
"Jadi kamu anak buahnya Dita?" tanya Tiko belum yakin.
"Iya, dia Cyra bukan Dita," jawab Andra.
"Apa dia tahu kalau kamu yang sudah menolongnya?" tanya Tiko lagi.
"Belum," Andra menjawab sembari menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu tidak memberitahunya saja?" tanya Tiko.
"Biarkan saja Cyra mengetahuinya sendiri," jawab Andra lagi.
-
Andra, ibunya dan Tiko kini menikmati makan malam bersama setelah 30 menit mengobrol. Di tengah-tengah aktivitas mereka, ponselnya Andra berdering ia gegas mengangkatnya.
"Halo!" ucap Andra.
"Halo, Andra!"
"Nona Cyra?" Andra mencoba menebak sosok peneleponnya.
"Kamu ternyata mengenal suaraku," kata Cyra tertawa kecil, ia merasa sangat senang.
"Ada apa, Nona?" tanya Andra.
"Kamu sedang apa?" Cyra balik bertanya.
"Saya lagi makan bersama ibu dan Tiko," jawab Andra.
"Tiko teman kamu dari kampung?" tanya Cyra.
"Iya, Nona."
"Lain waktu aja aku makan malam bersama kalian," ucap Cyra.
"Iya, Nona. Saya nanti akan mengajak Nona makan malam bersama," janji Andra.
"Andra, terima kasih buat hari ini," kata Cyra.
Andra mengerutkan keningnya, apalagi terdengar suara tawa kecil dari ujung teleponnya.
"Hari ini aku begitu senang, kita makan siang dan belanja bersama. Aku merasa sebelumnya pernah melakukannya," ucap Cyra.
"Kemarin siang kita 'kan makan bersama di restoran," ungkap Andra.
"Iya, sih. Tapi aku merasa kita pernah melakukannya, aku lupa entah di mana dan kapan," ujar Cyra.
"Mungkin Nona pernah melakukannya dengan orang lain," ucap Andra.
"Tidak, Andra. Aku yakin bersamamu," kata Cyra.
Andra tak tahu harus berkata apa lagi.
-
Selesai mengobrol dengan Cyra di telepon selama 10 menit. Andra kembali melanjutkan makannya.
"Dita yang telepon, ya?" tanya Laila.
"Iya, Bu. Dia hanya bilang terima kasih dan mengatakan jika mengingat sesuatu," jawab Andra.
"Ingat jika kalian pernah bersama!" sahut Tiko yang mendengar percakapan antara Andra dan Cyra.
Andra mengangguk mengiyakan.
"Beritahu saja, An. Sepertinya bos kamu itu menyukaimu," ujar Tiko.
"Tidak mungkin, dia cantik dan kaya raya. Cyra hanya cocok dengan pria setingkat keluarganya," ucap Andra merendah. Ia tak mau berharap lebih takutnya semakin sakit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments