Enam bulan berlalu.......
Cyra keluar dari mobil merah mewahnya, menggunakan kacamata hitam, dress selutut dengan lengan tangan panjang. Berjalan angkuh memasuki gedung perusahaan.
Mendengar bos perusahaan kembali, para karyawannya menyambutnya dengan senyuman dan sambutan hangat. Diantara mereka yang berdiri berjajar rapi ada Andra tampak gugup serta grogi. Bagaimana tidak? Dirinya sangat begitu merindukan sosok Dita kini menjadi Cyra. Ketika melangkah tepat di depan Andra, wanita itu berhenti lalu menoleh ke samping menatap Andra sedikit menundukkan kepalanya.
"Angkat wajahmu!" titah Cyra.
Andra mengikuti perintah atasannya.
"Siapa nama kamu?" tanya Cyra tanpa membuka kacamatanya.
"Saya Andra, Dit--" hampir saja Andra mengucapkannya. "Saya Andra, Nona."
"Oh," Cyra manggut-manggut paham. "Aku merasa tidak asing melihat wajahmu," lanjutnya.
"Kita pernah serumah bahkan sekamar, Nona." Andra membatin.
"Sejak kapan kamu bekerja di sini?" tanya Cyra lagi.
"Tujuh bulan lalu, Nona," jawab Andra.
Cyra manggut-manggut paham, ia kemudian lanjut melangkah ke ruangan kerjanya.
Sesampainya di sana Cyra mengedarkan pandangannya, ia merasa ruangan tempatnya bekerja mengalami perubahan dan ia mengendus aroma orang lain.
"Apa sebelumya ada orang yang mengisi tempatku?" tanya Cyra kepada wanita di belakangnya.
Wanita itu maju ke depan dan menjawab, "Ada, Nona."
"Siapa?"
"Nyonya Sonia, Nona."
Mendengar nama ibu tirinya, Cyra mengepalkan tangannya. Ia sangat geram kepada wanita itu, rasanya ingin mencampakkannya ke jalanan bersama putrinya namun diurungkannya. Cyra akan membalas mereka dengan cara halus.
"Untuk hari ini aku minta tolong dibersihkan lagi dan mulai besok seluruh perabotan serta warna dinding harus sudah berganti," titah Cyra.
"Baik, Nona. Saya akan panggilkan cleaning service," ucap sekretaris pribadi bernama Wika.
"Ya, cepatlah!" kata Cyra.
Wika gegas keluar ruangan dan mencari keberadaan Andra. Biasanya dirinya akan tinggal telepon, namun petugas kebersihan di perusahaan hanya ada 2 orang. Kemungkinan di ruang istirahat itu tak ada yang menjaga.
Wika bernapas lega, ia bertemu Andra ketika berpapasan di ruang karyawan bagian marketing. "Kebetulan sekali, An."
"Kenapa Mba Wika?"
"Kamu dipanggil Nona Cyra ke ruangannya."
"Apa salah saya, Mba?"
"Tidak ada salah. Kamu diminta untuk membersihkan ulang ruangannya."
"Tapi tadi sudah saya bersihkan dan berikan pengharum ruangan kesukaan Nona Cyra," jelas Andra, ia sangat capek jika harus dilakukan ulang. Apalagi sejak dikabarkan kembalinya Cyra ke perusahaan, ia terpaksa lembur hingga jam 9 malam selama 2 hari ini.
"Ini perintah, An. Kamu harus laksanakan, mau dipecat?"
Andra menggelengkan kepalanya.
"Makanya cepat ke ruangannya!" ucap Wika.
"Baik, Mba. Sebentar saya ambil peralatannya!" kata Andra.
Beberapa menit kemudian, keduanya memasuki ruangan kerja Cyra.
"Kenapa lama-- ?" tanya Cyra yang ingin marah, namun mendadak menghentikan suaranya ketika melihat pria dibelakangnya Wika muncul dihadapannya.
"Maaf, Nona. Andra harus melayani karyawan di sini juga," jawab Wika menjelaskan.
"Karyawan? Memangnya tidak ada office boy?" tanya Cyra.
"Tidak ada, Nona. Hanya ada Andra dan Pak Mun," jawab Wika.
"Besok buka lowongan pekerjaan mencari office boy dan cleaning service!" perintah Cyra.
"Berapa banyak, Nona?" tanya Wika.
"Empat orang," jawab Cyra.
"Baik, Nona!" kata Wika.
"Keluarlah!" ucap Cyra.
Andra masih berdiri, ia sangat bingung karena Cyra tetap di ruangan sedangkan dirinya harus membersihkan ulang tempat meskipun tidak kotor.
"Kenapa masih di situ? Cepat kerjakan tugasmu!"
"Maaf, apa Nona mau di sini saja?" tanya Andra.
"Jadi aku harus di mana?" Cyra balik bertanya.
"Nona bisa keluar sebentar, sementara saya harus bersih-bersih," jawab Andra.
"Mengapa kamu jadi mengatur aku?"
"Bukan begitu...."
"Sudah cepat kerjakan! Jangan membantah!" hardik Cyra.
Andra mengangguk mengiyakan.
Andra mulai membersihkan ulang ruangan, sementara Cyra membaca beberapa berkas yang ada di atas meja kerjanya.
Andra yang sangat grogi tak sengaja menjatuhkan benda berukuran kecil sebagai pajangan pecah. Hal itu membuat Cyra menoleh ke arahnya.
"Maaf, Nona." Andra menggelengkan pelan kepalanya lalu berjongkok.
Cyra tak marah, ia lanjut mengerjakan pekerjaannya.
Andra memungut pecahan keramik dan memasukkannya ke tong sampah. Setelah bersih, ia berdiri kemudian menyapu lantai yang dekat meja kerjanya Cyra.
Sambil bersih-bersih Andra sesekali melirik Cyra yang menurutnya semakin cantik dan mempesona. Jauh berbeda dengan Dita meskipun sama.
Cyra mengetahui Andra mencuri pandang ke arahnya menoleh dan bertanya, "Ada apa?"
"Tidak ada, Nona." Andra menghentikan aktifitas menyapunya dan menatap atasannya.
"Fokuslah bekerja. Tolong jaga pandanganmu!" sindir Cyra.
"Maaf, Nona!" Andra mengaku salah karena sudah berani meliriknya.
Lanjut menyapu lantai lagi. Selepas itu mulai mengepel. Hampir 15 menit berada di ruangan Cyra, Andra pamit meninggalkan ruangan.
"Andra, tunggu!" panggil Cyra ketika pemuda itu hendak pergi.
Andra membalikkan badannya, "Iya, Nona. Ada apa?"
"Di mana rumah kamu?"
Andra menyebut nama sebuah jalan tak jauh dari gedung perusahaan dan kos-kosan lamanya.
"Mengapa aku merasa pernah mengenal kamu dan kita sangat dekat," ungkap Cyra.
"Saya baru sekali bertemu dengan Nona," jawab Andra berbohong.
"Tidak, An. Aku merasa kamu itu....."
"Mungkin Nona salah orang, saya belum pernah bertemu dengan Nona," Andra cepat-cepat membantah.
"Apa kamu punya kekasih?" tanya Cyra. Entah kenapa dirinya harus mengeluarkan kata-kata begitu.
"Belum, Nona," jawab Andra.
"Nanti siang kita makan bersama!" ajak Cyra.
Andra terdiam.
"Keluarlah dan temui aku jam dua belas," ucap Cyra.
"Baik, Nona!" Andra gegas keluar ruangan.
-
Tepat pukul 12 malam, Cyra keluar ruangan. Ia berdiri sambil melihat arloji di tangannya lalu bertanya kepada Wika. "Panggilkan Andra dan siapkan mobil! Saya ingin makan siang diluar bersamanya!" titahnya.
Wika yang mendengar Cyra mengajak Andra makan siang tampak tak percaya. Ia masih berdiri dan diam.
"Wika, kamu tidak mendengar apa yang aku ucapkan?" tegur Cyra.
"Maaf, Nona. Baiklah, tunggu sebentar. Saya akan panggilkan!" ucap Wika dengan cepat mencari Andra.
Tak sampai 3 menit, keduanya muncul dengan langkah tergopoh-gopoh. Cyra tanpa sadar melemparkan senyuman.
"Ayo gerak sekarang!" ucap Cyra.
Andra mengangguk mengiyakan.
"Wika, jika papa mencari aku. Katakan padanya aku sedang diluar," kata Cyra memberikan perintah.
"Baik, Nona!" ucap Wika.
"Ayo Andra!" ajak Cyra berjalan lebih dahulu.
"Ini mimpi atau bagaimana? Mengapa Nona Cyra semanis itu dengan cleaning service? Mantra apa yang digunakan Andra," gumam Wika.
Bukan hanya Wika yang tercengang dengan sikap Cyra kepada Andra. Karyawan lainnya juga terheran-heran, bagaimana bisa petugas kebersihan jalan beriringan dengan putri Presdir. Bukankah ini tak masuk akal. Sulit dipercaya gumam mereka.
Cyra lebih dahulu masuk ke mobil lalu di susul Andra. Sopir memperhatikan keduanya dari kaca spion juga bingung.
"Apa Nona Cyra ingat jika Tuan Andra adalah orang yang sudah menolongnya beberapa bulan lalu?" pikir sopir pribadi Cyra. Ya, dia memang mengetahui kisah antara putri atasannya dengan cleaning service perusahaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟเภє๓
makan siang jam 12 malam 🤔🤔😂
2024-05-23
1
Keho
ngopi dulu thor
2024-02-12
1