Laila dan Andra benar-benar tidak habis pikir dengan ucapan Dita yang asal bicara. Dia ingin dimandikan, tentunya ini tak mungkin dibiarkan.
"Hmm, Dita. Kamu 'kan sudah dewasa, lebih baik mandi sendiri. Kami tidak boleh melihat beberapa anggota tubuhmu," jelas Andra.
"Aku takut, Andra!" mata Dita kembali berkaca-kaca.
"Apa yang kamu takuti?" tanya Laila kali ini dengan suara pelan.
"Aku takut dia akan menyiksaku," jawab Dita.
Laila dan Andra saling pandang.
"Dia jahat!" ucap Dita.
"Di sini tidak ada orang jahat, semua sangat baik. Kamu jangan khawatir, jika ada yang berani macam-macam bilang pada Bibi!" kata Laila penuh percaya diri.
"Apa yang dikatakan Ibuku benar. Kamu tidak perlu takut dan cemas, kami siap menolongmu," ucap Andra.
Dita sedikit lega mendengar penjelasan dari Andra dan Laila. Ia akhirnya bersedia mandi.
Andra dengan cepat mengambil baju dan celananya dari kamarnya lalu diberikannya kepada Dita. "Sementara pakai ini saja!"
Dita mengiyakan, ia lalu melangkah ke kamar mandi dan Andra berdiri di depan pintu.
"Kamu mau apa di situ?"
"Menunggu Dita mandi, Bu."
"Jangan cari alasan, cepat bantu Ibu bawakan makanan ini di meja!" perintah Laila.
Andra segera melaksanakan perintah ibunya.
"Apa kamu akan melamar pekerjaan hari ini?" tanya Laila.
"Jika aku pergi, Dita dengan siapa, Bu?" Andra balik bertanya.
"Tinggalkan saja sendiri di sini," jawab Laila.
"Aku tidak mau, Bu. Bagaimana jika dia keluar rumah tanpa sepengetahuan kita? Pasti para tetangga akan banyak bertanya," ujar Andra.
"Kalau begitu kapan kamu bekerja? Anggota di rumah ini bertambah satu orang, sedangkan Ibu hanya buruh kebun yang hanya cukup makan," jelas Laila.
"Jika Dita telah pulih seratus persen dan mengerti dengan tugas hari-harinya, aku akan melamar pekerjaan," janji Andra.
Laila akhirnya setuju.
-
Dita duduk bersama dengan ibu dan Andra di meja makan. Wanita itu langsung melahap makanan yang diberikannya kepadanya.
Lagi-lagi sikapnya membuat Laila geleng-geleng kepala.
"Mau tambah lagi?" tanya Andra.
Dita mengangguk mengiyakan.
Andra menyiduk nasi dan lauk lalu diisikannya di piring. "Habiskan!"
Dita kembali melahapnya penuh semangat.
Laila meneguk salivanya melihat cara makan Dita seperti orang kelaparan.
"An, sepertinya kamu harus segera mencari tahu asal usulnya. Jika tiap hari begini, kita makan apa," ujar Laila.
"Iya, Bu. Nanti aku akan mencari keluarganya," kata Andra.
"Ibu makan di kebun saja," Laila lantas berdiri.
"Bu...." ucap Andra.
"Ibu beli pecal sayur untuk makan siang nanti, jangan biarkan dia keluar!" Laila memberikan peringatan.
Andra mengangguk mengiyakan.
Laila berangkat ke kebun, ia bekerja di tanah milik tetangganya dengan upah harian. Untuk sayuran makan, ia dan Andra menanamnya di halaman rumah.
"Mau tambah lagi?" tawar Andra melihat porsi ke dua telah habis.
"Aku sudah kenyang."
"Ya sudah, kini giliran aku makan, ya!" kata Andra gegas menyantap hidangannya karena sedari tadi perutnya terasa keroncongan.
Selesai makan, Andra membawa piring kotor ke tempat cucian. Dita turut membantunya, Andra mulai mencucinya. Andra juga mengajari Dita untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Setelah itu lanjut menyapu rumah, meskipun lelah mengajarinya Andra berusaha sabar. Jika dirinya berbicara dengan nada tinggi pastinya Dita akan ketakutan.
Selesai beberes rumah, Andra mencuci pakaiannya sendiri. Dita hanya melihatnya saja.
"Kamu di dalam saja, aku mau memetik sayuran di halaman," kata Andra.
"Aku ikut!" ucap Dita.
"Tidak bisa, Dita."
"Aku takut di sini!"
"Jarak kita hanya beberapa meter," ucap Andra.
"Aku mau ikut!"
Andra yang tak tahu mencari alasan apa, akhirnya terpaksa mengajak Dita keluar.
-
Dita dilarang Andra melakukan apapun, wanita itu hanya disuruhnya duduk sambil memperhatikannya.
Andra memupuk tanaman cabai lalu memetik kangkung dan kacang panjang. Dua jenis sayuran tersebut akan dimasak buat makan malam.
Andra tidak berlama-lama di luar takut jika ada warga yang bertanya mengenai sosok Dita.
Di dalam rumah, Andra menyuruh Dita untuk beristirahat. Tanpa membantah, Dita masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
Jika siang hari, Dita berani sendirian berada di kamar karena pintu terbuka dan terang. Kalau malam dirinya begitu sangat ketakutan.
Selesai dengan rutinitasnya, Andra menikmati makan siangnya seorang diri. Lanjut, membuka ponselnya mencari informasi pekerjaan.
Andra membaca pesan dari temannya jika ada lowongan pekerjaan menjadi kuli bangunan di perusahaan ternama.
"Jika aku pergi bekerja, Dita dengan siapa? Ibu pasti menolak mengurusnya," gumamnya.
Andra membalas pesan temannya yang kini bekerja di kota, ia menolak tawaran untuknya. "Lebih baik aku tidak memberitahu ini kepada ibu, dia akan marah jika mengetahuinya," batinnya.
-
"Lepaskan aku!" rintih Dita dengan mata terpejam.
Andra yang mendengarnya lantas terbangun, ia memasang jelas telinganya yang ternyata dari kamarnya.
Andra segera bangkit dan berjalan menuju kamarnya, ia melihat Dita menangis namun matanya tertutup.
"Apa salahku? Aku mohon tolong lepaskan aku!" ucap Dita mengigau.
"Dita!" panggil Andra dengan pelan. Ia lalu menepuk-nepuk lembut pipinya.
Dita terperanjat, ia terbangun dan memundurkan tubuhnya. "Siapa kamu? Pergi!" sentaknya.
"Aku Andra, Dita. Kamu bermimpi, ya?" tanya Andra penuh kehati-hatian.
Dita terdiam ia berusaha mengingat apa dia bermimpi atau tidak. Seketika ia memegang kepalanya dan berteriak, "Aaarghh......"
Andra yang panik dan bingung, reflek memeluk Dita.
"Lepaskan aku!" Dita mendorong dan memukul dada pria yang memeluknya diiringi tangisan.
"Dita tenanglah!" Andra mengelus rambutnya tanpa melepaskan pelukannya.
Seketika tangis Dita mereda.
Andra melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Dita yang tampak pucat dan penuh keringat. "Apa kamu ingat sesuatu?"
"Dia-"
Andra tak sabar menunggu apa yang diucapkan Dita. "Dia kenapa?"
"Aku benci dia, dia sangat kasar dan kejam," jawab Dita.
"Dia siapa?"
Dita terdiam.
"Apa kamu kenal wajah atau namanya?" tanya Andra.
Dita menggelengkan kepalanya.
Andra menghela napas kecewa, ia tak dapat mengorek informasi.
"Jangan pernah tinggalkan aku!" Dita kembali memeluk Andra.
"Apa-apaan ini?" sergah Laila.
Andra yang terkejut lantas mendorong tubuh Dita walaupun tidak kasar, ia lantas berdiri dan membalikkan badannya. "Ibu!"
"Apa yang kalian lakukan di kamar?" tanya Laila mulai menunjukkan taringnya.
"Kami tidak melakukan apa-apa, Bu!" jawab Andra memberikan alasan.
"Kalian pelukan," ucap Laila.
"Aku bisa jelasin, Bu."
"Cepat jelaskan!" desak Laila.
Andra menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ia sampai memeluk Dita.
"Jadi dia sudah ingat?" tanya Laila.
"Belum, Bu. Aku rasa dia sangat trauma sehingga mengalami amnesia," jawab Andra.
"Kasihan sekali dia, siapa yang sudah tega melakukan ini kepadanya?" Laila bertanya lirih.
...----------------...
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak, Bahagia Selalu 🤗
Happy Weekend..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟเภє๓
Dita mengalami trauma berat keknya 🤔🤔
2024-05-23
1
HARTIN MARLIN
lanjut
2024-03-05
0
Murni Zain
lanjutkan Thor d tunggu update terbaru
2024-02-04
0