Andra dan Pak Mun pagi ini mendatangi sebuah restoran tentunya karena undangan dari Lucas yang ingin bertemu dengan Andra.
"Silahkan duduk!" ucap Lucas.
Andra mengangguk mengiyakan.
"Silahkan pesan makan dan minum!" kata Lucas.
Seorang pelayan wanita datang mendekat dan menanyakan pesanan pelanggan restoran. Setelah menyebutkan nama menu, pelayan tersebut berlalu.
"Apa benar Dita sudah berangkat ke luar negeri?" tanya Andra.
"Sudah, kemarin sore," jawab Lucas. "Saya juga akan menyusul mereka hari ini," lanjutnya.
"Apa Dita sering mengalami sakit kepala?" tanya Andra.
"Hampir sering tapi tim medis yang berada di sekitarnya," jawab Lucas.
Andra dapat bernapas lega.
"Mengapa kamu tidak mau menerima pemberian dari Tuan Besar?" tanya Lucas.
"Saya menolong dan mengurus Dita secara cuma-cuma," jawab Andra.
"Andra, ini uang dapat membantu sedikit perekonomian kamu dan ibumu," ucap Lucas. Anak buahnya sudah mencari informasi tentang keluarganya Andra.
"Tapi saya dan ibu merawat Dita ikhlas, Tuan." Kata Andra.
"Saya tahu kamu memang ikhlas, tapi anggap ini sebagai biaya perawatannya," ucap Lucas.
"Saya tidak bisa menerimanya," tolak Andra secara lembut.
"Ambil, An. Tuan Besar akan marah jika kami tidak berhasil menyerahkan uang ini," ujar Lucas.
"Iya, An. Tuan Besar akan memecat kami jika berani menolaknya," sahut Pak Mun.
"Tapi jumlah uangnya sangat terlalu besar," ucap Andra.
"Ini sangat kecil bagi Tuan Besar dibandingkan kembalinya Nona Cyra," kata Lucas.
"Saya tetap tidak akan menerimanya!" ucap Andra.
"Bagaimana jika kamu pindah ke rumah yang lebih besar bersama ibumu di kota ini?" Lucas memberikan penawaran.
"Lalu ibu saya akan bekerja apa?" tanya Andra.
"Ibumu tidak perlu bekerja. Kamu yang bertanggung jawab atas dirinya," jawab Lucas. "Bagaimana?" lanjut bertanya.
Andra tampak berpikir.
"Terima saja, An!" kata Pak Mun.
"Saya akan memberikan gaji tambahan tanpa sepengetahuan perusahaan," ujar Lucas.
"Baiklah, saya setuju!" ucap Andra.
-
Di lain tempat, di kediaman Sonia...
Tissa menikmati sarapan bersama ibunya. Dia mengatakan bahwa kemarin sore pergi ke rumah Cyra dan Papa Daneen.
"Aku tidak diizinkan Paman Lucas melihat Kak Cyra dan Papa Daneen akan berangkat membawa putri kesayangan itu berobat tanpa memberitahuku," ucap Tissa. Sepulangnya dari rumah ayah tirinya, ia lanjut menikmati waktu di kafe bersama teman-temannya. Jadi informasi yang ia dapatkan mengenai Cyra belum sempat diberikan kepada ibunya karena pulang larut malam.
"Jadi sedikit pun kamu tidak tahu ke negara mana dia di bawa?" tanya Sonia.
"Papa Daneen sangat tertutup," jawab Cyra sambil memotong roti isi selai stroberi.
"Apa mereka tahu rencana kita?" tanya Sonia lagi.
"Kalau perbuatan kita sudah diketahui, pasti sudah di penjara," jawab Tissa.
"Bagaimana kalau Cyra ingatannya pulih dan dia memberitahu bahwa kita selama ini yang telah membuatnya begitu?" tanya Sonia.
"Sebelum Kak Cyra ingatannya kembali, maka kita harus menguras seluruh harta Papa Daneen, memindahkan beberapa aset atas nama," jawab Tissa memberikan saran.
Sonia manggut-manggut paham.
-
Masih di hari yang sama tapi berbeda waktu. Lucas telah tiba di negara tujuan. Pria paruh baya itu segera melesat ke hotel tempat di mana Daneen dan putrinya menginap.
"Apa dia mau menerima uangnya?" tanya Daneen ketika asisten pribadinya memasuki kamar.
"Dia tidak mau menerima uang secara kontan. Tetapi, ketika saya bujuk dengan tawaran tempat tinggal di pinggir kota dan ibunya tak perlu bekerja baru dia bersedia," jawab Lucas yang duduk di hadapan atasannya.
"Cihh, sama saja. Apa bedanya? Dia menolak uang tapi menerima rumah," singgung Daneen.
"Tuan, sepertinya pemuda itu memang tulus. Dia begitu mengkhawatirkan Nona Cyra."
"Dia mengenal putriku dengan nama Dita bukan Cyra. Dia hanya mengkhawatirkan Dita, jadi setelah Cyra sudah pulih dan mengingat semua. Maka mereka tidak boleh bertemu," ucap Daneen.
"Kenapa Tuan tidak mengizinkan mereka bertemu?" tanya Lucas.
"Kamu tahu 'kan jika Cyra tak sembarangan berteman. Pemuda itu hanya petugas kebersihan di perusahaan kita, aku takut Cyra akan menghina dan mencacinya," jawab Daneen.
"Apa kita suruh saja dia keluar dari perusahaan dan membelikan toko untuk dirinya membuka usaha?" Lucas memberikan ide.
"Tidak, biarkan saja. Aku ingin melihat seberapa besar nyali pemuda itu untuk berbicara dan menatap putriku," ucap Daneen.
-
Malam harinya, di salah satu kota di benua Eropa. Cyra yang sudah tertidur lebih dari 4 jam karena pengaruh obat akhirnya terbangun. Ia mengedarkan pandangannya sekelilingnya. Menyibak selimut lalu turun dari ranjang.
"Mau ke mana, Nona?" tanya seorang wanita yang bertugas menjaga Cyra. Dia tak seorang diri melainkan ada temannya juga. Keduanya tidur 1 kamar dengan Cyra.
"Aku mau ke kamar mandi," jawab Cyra.
"Mari saya antar, Nona!" pengawal wanita itu menawarkan diri.
"Tidak, saya bisa sendiri!" tolak Cyra dengan ramah.
"Baiklah, Nona. Saya akan menjaga di depan pintu," ucapnya dengan sopan.
"Baiklah, terserah kamu saja!" kata Cyra.
Hampir 10 menit di kamar mandi, Cyra keluar lalu menyatakan jika dirinya sangat lapar. Dengan cepat, pengawal wanita segera memesankan makanan.
Cyra duduk bersama kedua pengawal wanitanya tanpa berbicara sepatah katapun dan memperhatikan mereka yang juga diam.
"Jika kalian ingin mengobrol, silahkan!" ucap Cyra.
Kedua wanita itu saling pandang, biasanya Cyra tak pernah sabar jika menunggu sesuatu. Dirinya akan terus mengoceh, makanya para anak buah Lucas tampak heran dengan perubahan Cyra.
"Mungkin karena amnesia makanya sikap Nona Cyra sangat begitu aneh. Dia benar-benar begitu ramah dan sopan," pikir salah satu pengawal wanita.
"Saya tidak marah kalau kalian ingin berbincang," ucap Cyra.
Keduanya hanya tersenyum singkat.
"Saya boleh 'kan mendengar kalian bercerita," kata Cyra.
"Maaf, Nona. Kami dilarang berbicara dengan anda," ucap wanita dengan rambut pendek bernama Yuki.
"Kenapa dilarang?" tanya Cyra.
"Bukankah Nona sendiri yang membuat peraturan itu?" wanita bernama Nuni dengan rambut panjang sebahu menyahut.
"Saya--" Cyra menunjuk dirinya.
Keduanya mengangguk mengiyakan.
"Aku melarang mereka berbicara," Cyra membatin. Hal itu membuat kepalanya kembali mendadak sakit. Ia memegang keningnya.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Nuni mendekat.
"Tolong ambilkan obat saya!" pinta Cyra.
Yuki gegas mengambil di atas meja nakas dan segelas air putih lalu di berikan kepada Cyra.
Mengambil sebutir obat dan memasukkannya ke dalam mulut. Ia meraih gelas lalu meneguknya hingga kandas. Cyra mulai merasa tenang.
"Lebih baik Nona rebahan saja!" ucap Yuki.
Cyra mengangguk mengiyakan.
Dibantu Nuni, Cyra berdiri dan dituntun ke arah ranjang. Di sana ia dibaringkan.
"Terima kasih," lirih Cyra.
"Tidurlah, Nona. Kami akan bangunkan jika makanan sudah datang," ucap Nuni.
Cyra mengangguk pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments