Cyra duduk di sofa bersama dengan Papa Daneen, ibu tirinya beserta putrinya. Ia mendengar alasan ketiganya mendatangi kantornya. Setelah semuanya berbicara, Cyra mengeluarkan pendapatnya.
"Perusahaan ini tetap aku yang jalani sesuai perintah Papa Daneen. Tissa lebih baik sekolah, jika menolaknya suruh saja menikah," kata Cyra. Karena wanita tua licik itu menginginkan kembali jabatan di perusahaan, begitu juga dengan Tissa mau bekerja tapi harus mendapatkan posisi nyaman.
"Aku belum mau menikah, Kak!" Tissa protes.
"Jadi para pria yang selalu bersamamu ketika mabuk tidak ada satupun menjadi kekasihmu," singgung Cyra mengarahkan pandangannya ke arah adiknya tepat dihadapannya.
Tissa terdiam.
"Ibu memang pantas di rumah saja, tiap bulan Papa memberikan nafkah. Kurang enak apa?" sindir Cyra.
"Tapi bosan selalu di rumah saja, tidak ada pekerjaan, Cyra!" Sonia memberikan alasan.
"Bukankah Papa sudah menarik tiga orang karyawan dari rumah Mama?" tanya Cyra.
"Karena itu Mama sangat capek, tak ada waktu pergi ke salon dan arisan," jawab Sonia.
"Mama tadi bilang menginginkan pekerjaan, di rumah begitu banyak kegiatan. Mungkin itu mampu mengusir rasa kebosanan," lagi-lagi Cyra menyindir.
"Tapi bukan menjadi babu, Cyra." Sonia memberikan alasan.
"Mana ada babu memiliki gaji bulanan yang begitu besar," celetuk Cyra.
"Uang bulanan yang kamu terima dari aku dapat membeli sepeda motor baru. Bukankah itu besar?" sahut Daneen menyindir istrinya.
"Tapi, Pa..." ucap Sonia seketika berhenti ketika suaminya mengangkat telapak tangan.
"Kalian pulanglah, aku ingin bicara dengan putriku," kata Daneen.
"Mama ini istrinya Papa, apa tidak boleh mendengarkan pembicaraan kalian?" tanya Sonia.
Daneen menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Sonia memanyunkan wajahnya.
"Sudah sana pulang, Bu. Pekerjaan rumah telah menumpuk dan menunggu," ledek Cyra.
Sonia bangkit lalu dengan wajah kesal ia melangkah ke luar ruangan di susul putrinya. Cyra yang melihatnya mengulum senyum.
Daneen mengarahkan pandangannya kepada putrinya. "Cyra... kenapa kamu begitu baik kepada Andra?"
Cyra menoleh ke arah papanya, "Dia karyawan kita."
"Baru kali ini Papa melihatmu begitu akrab dengan karyawan rendahan seperti Andra, kalian semeja bersama," ucap Daneen.
"Aku merasa pernah kenal dan dekat dengan dia, padahal kami baru bertemu hari ini," ujar Cyra.
"Kamu sudah banyak berubah, Cyra. Papa sangat senang," kata Daneen.
"Benarkah, Pa? Aku merasa seperti biasanya," ucap Cyra.
"Jika Papa memberitahu sebenarnya, apa kamu masih mau bertemu dengan Andra," batin Daneen.
"Pa, aku minta menambahkan karyawan baru di bagian kebersihan. Kasihan Pak Mun dan Andra harus bekerja berdua membersihkan kantor ini," ucap Cyra.
"Kantor ini sekarang ada dalam pengawasan kamu, jadi semua keputusan adalah milikmu. Papa hanya ingin perusahaan semakin berkembang dan maju," kata Daneen.
"Iya, Pa. Perusahaan ini adalah usaha milik keluarga kita. Jadi sebagai anak, aku takkan membiarkannya jatuh kepada siapapun," ujar Cyra tersenyum kepada sang papa yang kelihatan sendu.
"Maafkan Papa, Nak. Seharusnya Papa tidak menikah dengan Sonia," Daneen merasa bersalah. Apalagi setelah apa yang terjadi kepada putrinya karena ulah istrinya.
"Semua sudah terjadi, kita hanya perlu menyingkirkan mereka secara perlahan. Menyiksanya dengan lembut dan jangan lengah," kata Cyra menyeringai.
"Papa ingin kamu berhati-hati, Nak. Jangan sampai mereka menyakitimu. Jika bukan kamu yang meminta menunda hukuman, Papa sudah menjebloskan mereka ke penjara," ucap Daneen geram mengingat perlakuan istri dan anak sambungnya kepada Cyra tentunya semua hasil penyelidikannya serta pengakuan Cyra.
-
Sore harinya, Cyra keluar dari ruangannya. Papa Daneen 2 jam lalu telah pulang. Cyra menuruni lift bersama Wika. Begitu sampai di lantai paling bawah, Cyra tak segera melangkah ke pintu masuk melainkan memutar arah ke kanan.
"Nona mau ke mana?" tanya Wika.
"Aku ingin ke ruangan Andra," jawab Cyra.
"Andra si cleaning service?" tanya Wika lagi.
"Ya, aku ingin bertemu dengannya," jawab Cyra terus melangkah.
Andra keluar dari ruangan dengan memegang gagang sapu dan pengki. Ia tampak terkejut melihat kemunculan Cyra yang tiba-tiba. "Nona!"
Cyra tersenyum.
"Ada apa, ya?" Andra bertanya dengan nada gugup seraya melirik Wika.
"Ayo pulang!" ajak Cyra.
"Hah!" Andra dan Wika seketika terpelongo mendengar ajakan Cyra.
"Bukankah waktu kerjamu sudah selesai?" tanya Cyra.
"Saya pulang lima belas menit lagi, mau membersihkan ruangan manajer," jawab Andra.
"Besok saja, sekarang ayo pulang!" ucap Cyra.
"Saya naik bus, Nona." Kata Andra.
"Saya yang akan mengantarkanmu pulang," Cyra menawarkan diri.
"Tidak usah, Nona. Saya naik bus saja," Andra menolaknya dengan sopan.
"Kamu harus pulang bersama saya, kalau tidak saya akan memecatmu!" Cyra memberikan ancaman.
Andra meneguk salivanya, dia bingung apakah menerima tawaran Cyra atau memilih dipecat. Ia tak mau dekat dengan Cyra takutnya tak mampu menghilangkan rasa cintanya kepada wanita itu.
"Bagaimana?" tanya Cyra menatap Andra yang kelihatan ragu.
"Baiklah, Nona. Saya akan pulang," jawab Andra.
Cyra tersenyum mendengarnya.
Andra masuk ke dalam ruangannya meletakkan peralatan kebersihan, mengambil tas dan buru-buru keluar menemui Cyra.
Setelah melihat Andra sudah memakai tasnya, Cyra membalikkan badannya dan melangkah.
"Nona, apa saya boleh menumpang juga?" tanya Wika yang berjalan di samping Cyra.
"Kamu ke sini naik motor," jawab Cyra tanpa menatap.
Wika menepuk jidatnya, "Astaga, kenapa aku lupa, ya?"
"Aku tidak mau kamu lupa juga dengan jadwalku," sindir Cyra.
"Nona tenang saja, kalau itu semua aman!" ucap Wika.
Sopir pribadi Cyra membukakan pintu dan ia masuk, sementara Andra masih berdiri.
"Ayo masuk!" titah Cyra.
"Saya duduk di depan saja, Nona!" kata Andra.
"Kamu di sini dekat saya!" ucap Cyra.
"Sudah masuk saja!" bisik sopir.
Andra pun masuk, sopir menutup kembali pintu mobil.
Wika beranjak pergi setelah mobil yang ditumpangi Cyra dan Andra berlalu.
Di dalam mobil Andra yang grogi, hanya tertunduk sesekali memperhatikan jalanan.
"Kamu tidak ingin mengajakku berbicara?" tanya Cyra.
Andra menoleh ke arah Cyra kemudian menjawab, "Saya bingung mau memulai obrolan."
"Tanya saja apa yang ingin kamu ketahui dariku," kata Cyra.
"Sangat lancang jika saya bertanya hal pribadi kepada Nona," ucap Andra.
Cyra tertawa kecil.
Andra memperhatikan tawa wanita yang beberapa bulan ini selalu dirindukannya. Begitu sangat indah.
Merasa diperhatikan, Cyra menghentikan tawanya. "Kenapa?"
Andra dengan cepat memalingkan wajahnya.
"Apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Cyra.
Andra menggelengkan kepalanya.
"Andra, entah kenapa kita sepertinya sudah pernah bertemu dan sangat dekat padahal baru hari ini aku melihatmu. Apa sebelumya diantara kita memiliki suatu hubungan spesial?" tanya Cyra.
Andra mendengar pertanyaan keluar dari bibir Cyra membuatnya terdiam. Ya, dia ingin menjawab kalau diantara mereka memang sangat dekat bahkan Cyra menginginkan pernikahan.
"Andra...."
Andra tertawa getir lalu berkata, "Mungkin Nona lagi bermimpi, tidak mungkin kita memiliki hubungan spesial. Pasti Nona salah orang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟเภє๓
knp gak jujur sih
2024-05-24
0