Cyra tiba di kantor pukul 9 pagi, begitu sampai ia meminta Wika memanggil Andra ke ruangannya. Tentunya membuat Wika kewalahan harus mencarinya, apalagi hanya ada Andra dan Pak Mun sedangkan penerimaan karyawan baru hari ini dimulai.
Wika harus naik turun lift karena dia tidak memiliki kontak telepon Andra jikapun ada belum tentu Andra selalu membawa ponselnya selama bekerja.
Wika berhenti ketika melihat Andra hendak mengantarkan minuman ke ruangan manajer. Ia mengatur napasnya agar dapat berbicara lancar.
"Nona Wika, ada apa?" tanya Andra.
"Kamu dipanggil Nona Cyra ke ruangannya," jawab Wika.
"Saya akan ke sana, tapi mengantarkan minuman ini dulu," ucap Andra, tatapannya ke arah cangkir berisi teh.
"Biar saya saja yang mengantarkannya, kamu cepat ke ruangan Nona Cyra!" titah Wika.
"Tapi..."
Wika mengambil nampan, "Sudah sana cepat!"
Andra mengangguk kemudian gegas menuju ruangan kerjanya Cyra. Ia mengetuk pintu dengan perlahan. Setelah mendengar suara Cyra mengizinkan, ia pun masuk dan menutup kembali secara hati-hati.
Andra melangkah ke arah meja kerja Cyra, sedari tadi wanita itu sudah melemparkan senyuman, ia lalu bertanya, "Apa Nona butuh sesuatu?"
"Apa kamu tidak lupa bekal makan siang untuk saya?" Cyra balik tanya.
"Tidak, Nona. Bekal makan ada di ruangan saya, apa perlu saya bawakan ke sini," jawab Andra.
"Biarkan saja di sana, nanti siang saya ambil," ucap Cyra.
Andra mengangguk mengiyakan.
"Andra, jika karyawan baru sudah diterima hari ini mulai besok kamu hanya boleh melayani saya," kata Cyra.
"Melayani?" Andra tampak bingung.
"Maksud saya, kamu saja membersihkan ruangan ini. Menemani saya makan, membuatkan minuman," jelas Cyra.
Andra manggut-manggut paham.
"Saya tidak tahu nomor ponselmu, apa saya boleh memintanya?"
"Buat apa, Nona?" tanya Andra.
"Agar komunikasi diantara kita lancar dan mudah," jawab Cyra.
"Tapi Nona, saya bukan pejabat di perusahaan ini. Pekerjaan saya tidak berhubungan dengan bisnis," ucap Andra.
"Memang tidak berhubungan, tapi saya ingin lebih dekat dengan kamu!" kata Cyra tersenyum membuat jantung Andra berdegup kencang.
"Cepat berikan nomor ponsel kamu!" Cyra mengambil secarik kertas dan pulpen lalu diletakkannya di ujung meja kerjanya agar mudah Andra meraihnya.
Andra dengan gugup mengambil kertas lalu menulis nomor kontak telepon pribadinya.
Cyra mengambil kertas yang telah berisi angka-angka dengan tersenyum. "Terima kasih!"
Andra tersenyum tipis dan mengangguk.
"Kamu boleh melanjutkan pekerjaan, tapi ingat mulai besok tugasmu berubah. Aku akan meminta Pak Mun mengaturnya," ucap Cyra.
"Iya, Nona." Andra pun meninggalkan ruangan atasannya.
-
Jam 12 siang Cyra keluar dari ruangannya, ia berjalan seorang diri menemui Andra. Begitu sampai di lantai bawah, menoleh ke kanan dan kiri lalu bertanya kepada karyawan yang kebetulan melintas serta menyapanya, "Apa kamu melihat Andra?"
"Andra si cleaning service, Nona?" tanya karyawan wanita itu dijawab dengan anggukan kecil Cyra.
"Dia baru keluar membeli makanan dan obat Pak Mun, Nona."
Cyra manggut-manggut, ia lalu berucap, "Ya sudah, saya ke ruangannya saja. Terima kasih!" Cyra tersenyum singkat.
Cyra berjalan menuju ruang istirahat karyawan OB dan kebersihan, mengetuk pintu lalu membukanya perlahan.
Pak Mun mendongakkan kepalanya melihat sosok yang mendatangi ruangannya, ia lantas berdiri dan bertanya, "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Tidak, Pak." Cyra menarik kursi lalu duduk.
Pak Mun masih berdiri.
"Duduk saja, Pak!" titah Cyra. "Pak Mun sakit apa?" lanjutnya bertanya.
Pak Mun duduk dihadapannya Cyra, "Pegal-pegal, Nona. Maklum sudah tua."
Cyra mengangguk paham.
"Kenapa tidak telepon atau suruh Sekretaris Wika saja, Nona?" tanya Pak Mun.
"Wika masih sibuk, saya ingin langsung menemui Andra," jawab Cyra.
"Maaf, Nona. Saya sedang menyuruhnya ke apotik," ucap Pak Mun.
"Iya, saya sudah tahu," ujar Cyra.
Tak berselang lama, Andra muncul memegang kantong plastik berukuran kecil berwarna putih. Ia melangkah mendekati Pak Mun dan menyerahkan obat-obatan yang dipesan oleh pria paruh baya itu.
"Terima kasih!" ucap Pak Mun.
"Ayo kita makan siang!" Cyra bergegas berdiri.
"Makan di mana, Nona?" tanya Andra terbata.
"Di kantin karyawan," jawab Cyra.
"Bekal makanannya sudah dipisahkan ibu, saya di sini saja," ucap Andra.
"Saya mau makan siang dengan kamu," kata Cyra menatap Andra yang selalu menolaknya menggunakan berbagai alasan.
Andra terdiam, ia benar-benar bingung harus berkata apa lagi.
"Ayo, Andra!" ajak Cyra.
"Tunggu sebentar, Nona silahkan jalan lebih dulu," ucap Andra.
"Baiklah, saya tunggu kamu di meja kantin," kata Cyra.
Pak Mun mendekati Andra, ia mengingatkan pemuda itu agar tak memakai hati karena Dita dan Cyra berbeda.
Andra hanya mengangguk mengiyakan, dirinya sangat senang dekat dengan Cyra namun ia tak berharap menjadi kekasih sungguhan apalagi menjadi pasangan hidup Cyra.
Andra melangkah lebar menuju kantin kantor, ia menghampiri Cyra yang sudah duduk dan melambaikan tangan ke arahnya.
Andra duduk saling berhadapan, ia gegas membuka wadah makanan lalu disodorkannya kepada Cyra. Dengan semangat Cyra mulai menyantap masakan ibunya Andra.
Karyawan dan pegawai kantin tampak keheranan dengan Cyra yang tak biasanya berada di tempat itu.
Andra membuka wadah makanan miliknya lalu menyantapnya, Cyra melihat menu dirinya dan Andra berbeda.
"Kenapa lauk kamu hanya itu saja?" tanya Cyra.
Andra melihat ke arah kotak makannya hanya berisi nasi dan balado telur serta tumis kubis namun tak menjawab.
"Mengapa punyaku lebih banyak?" Cyra menatap kotak makannya tampak nasi, tumis kubis, balado telur, kerupuk emping dan semur bakso.
Lagi-lagi Andra hanya diam, alasannya mengapa bekal lauknya sedikit karena menu hidangan yang di santap Cyra untuk makan malam dirinya dan ibunya.
Cyra meletakkan 2 keping kerupuk emping dan 2 butir semur bakso ke dalam kotak makanan Andra.
"Nona..."
Cyra tersenyum, "Ayo makan!" ia melanjutkan suapannya.
Tak lama kemudian, seorang pegawai kantin datang membawa 2 gelas es jeruk dan menghidangkannya di meja Cyra.
"Buatmu!" Cyra meletakkan segelas di samping tangan kanan Andra.
"Terima kasih, Nona!" lirihnya.
"Aku mau begini setiap hari," ucap Cyra. "Masakan ibumu sangat enak," tambahnya.
"Saya takut, Nona."
"Takut kenapa?" tanya Cyra.
"Bagaimana jika Tuan Besar Daneen tahu kalau Nona Cyra makan bersama dengan saya," jawab Andra.
"Papa tidak mungkin marah, dia membebaskan saya berteman dengan siapa saja," ucap Cyra sembari menyeruput es jeruknya.
Andra tersenyum tipis dan mengangguk.
"Sepulang kerja, saya akan mengantarkanmu," kata Cyra.
"Saya segan jika tiap hari diantar Nona," ucap Andra.
"Tak perlu segan atau sungkan," ujar Cyra.
"Saya naik...."
"Saya tidak suka ada penolakan, kita harus pulang bersama!" Cyra memotong ucapan Andra dengan cepat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Hary Nengsih
lanjut
2024-02-21
1