Seminggu sebelum Cyra kembali ke perusahaan Sonia dan putrinya mendengar kabar jika Cyra sudah sehat. Tentunya hal ini membuat keduanya ketakutan serta panik. Bagaimana tidak? Mereka adalah dalang penyebab Cyra mengalami amnesia.
"Bagaimana ini, Ma?" raut Tissa begitu khawatir.
"Mama pun juga bingung, kita harus merelakan perusahaan itu kembali kepada dia. Jujur Mama tidak ikhlas," ujar Sonia.
"Aku tidak bisa senang-senang lagi jika perusahaan di pegang Kak Cyra," kata Tissa.
"Satu-satunya cara adalah kita harus berpura-pura baik dihadapan Cyra," usul Sonia.
"Iya, Ma."
"Cepat ganti pakaianmu, kita akan berangkat ke rumah dia untuk menyambut kedatangannya!" titah Sonia. Selama Cyra menjalankan pengobatan dan perawatan di luar negeri, mereka tak pernah diizinkan menjenguk bahkan nama negaranya dirahasiakan juga.
-
Sonia dan Tissa berangkat ke rumah pribadi milik Cyra. Bangunan mewah dengan 2 lantai dan halaman begitu luas sudah ditempati Cyra selama 7 tahun belakangan ini. Sejak Daneen memutuskan menikah lagi.
Sesampainya di sana beberapa orang tampak hadir dan menyambutnya bahkan Sonia dan Tissa harus melalui pemeriksaan ketat.
"Kami ini adalah keluarganya Cyra, mengapa harus diperiksa?" protes Sonia karena pihak keamanan membongkar isi tas miliknya dan putrinya begitu juga dengan pakaian yang mereka pakai.
"Kami hanya menjalankan perintah Tuan Besar Daneen, Nyonya!" ucap pria kepala plontos.
"Ini sebuah penghinaan bagi kami!" sahut Tissa.
"Jika ingin protes, silahkan temui Tuan Besar!" ucap pria itu.
Tissa memanyunkan bibirnya mendengar ucapannya.
Selepas melewati proses pemeriksaan, keduanya di suruh duduk seperti tamu yang lainnya tampak beberapa keluarga Daneen dan istri pertamanya.
Selang 30 menit kemudian Cyra datang, wanita itu turun dari mobil di kanan kirinya pengawal pria. Cyra membuka kacamata hitamnya ketika melihat ke arah ibu dan anak yang sangat begitu dibencinya.
Sonia dan Tissa lantas berdiri, keduanya menghampiri Cyra lalu memasang wajah tersenyum senang.
"Apa kabar....." Sonia hendak memeluk namun gerakan tangan Cyra terangkat membuatnya mengurungkan niatnya.
"Aku tidak ingin dipeluk siapapun!" ucap Cyra.
"Ini Ibumu, Cyra." Kata Sonia.
"Aku ingin beristirahat, jangan berbicara omong kosong kepadaku!" Cyra menatap tajam.
Sonia tampak ketakutan ketika putri sambungnya menatap nyalang.
Cyra lalu melewati Sonia dan Tissa yang masih terbengong.
"Jangan mengganggu Nona Cyra, jika kalian ingin selamat!" Lucas berkata tanpa menatap ibu dan anak yang masih memandangi punggungnya Cyra.
Mendengar suara Lucas, Sonia menoleh ke arah pria itu dan bertanya, "Di mana suamiku?"
"Tuan masih di perjalanan," jawab Lucas lalu menyusul Cyra ke dalam.
-
Sonia dan Tissa bersama yang lainnya di kumpulkan di ruang tamu. Daneen sebagai kepala keluarga dan pemilik perusahaan membuka percakapan.
"Cyra akan kembali mengisi kursi Presdir di DC Group," ucap Daneen.
"Apa tidak salah?" Sonia angkat bicara.
"Tidak. Dia 'kan pernah menjadi pimpinan di sana, menurutku ini waktunya dia kembali," kata Daneen.
"Perusahaan sudah aku pegang, Pa. Omsetnya lumayan, mengapa sekarang dialihkan?" protes Sonia tak terima dirinya di singkirkan.
"Kamu pasti sudah mengetahui alasanku menjadikanmu pemimpin sementara. Karena menghilangnya Cyra dan kesehatan aku yang menurun," jelas Daneen.
"Lalu sekarang apa jabatan aku di perusahaan?" tanya Sonia.
"Kamu tinggal di rumah dan menjadi ibu rumah tangga," jawab Daneen.
"Tidak bisa, suamiku. Aku menjadi ibu rumah tangga yang hanya diam saja," protes Sonia.
"Harus bagaimana lagi? Ibu rumah tangga adalah pekerjaan mulia dan layak diperhitungkan," ucap Daneen.
"Aku tidak mau di rumah saja, berdiam diri begini. Kamu harus memberikan jabatan yang sesuai untukku!" kata Sonia.
"Aku sekarang adalah pemimpin perusahaan, jadi Ibu tidak boleh protes!" sahut Cyra sedari tadi hanya mendengar.
"Sayang, kamu 'kan baru saja pulih. Bagaimana mungkin seorang diri memimpin perusahaan?" Sonia mendekati putri sambungnya dan duduk di sebelahnya.
"Ada Papa dan para pekerja yang berkompeten di bidangnya. Ibu jangan khawatir. Paman Lucas juga pasti akan membantuku," ujar Cyra.
"Lucas adalah orang baru di perusahaan, sayang!" kata Sonia membujuk putrinya.
"Aku lebih dahulu mengenal Paman Lucas daripada Ibu!" Cyra menatap dingin istrinya Daneen itu.
Sonia menelan salivanya ketika Cyra memberikan tatapannya.
Sementara Lucas yang duduk tanpa mengeluarkan kata-kata, menarik ujung bibirnya. Ia merasa puas dengan pernyataan Cyra.
Sonia benar-benar kecewa dengan keputusan suami dan putri sambungnya. Ia akhirnya memilih pulang bersama Tissa.
Di perjalanan menuju rumah, Sonia berulang kali mengeluarkan kata-kata kecewanya. Tissa yang mendengarnya hanya diam saja. Percuma ikutan mengumpat, Cyra juga tidak ada di tempat.
"Mama tidak mau di rumah saja, Tissa. Kita harus bagaimana?"
"Aku juga tidak tahu, Ma. Minggu ini saja aku belum ada ke klub menemui teman-temanku."
"Pikiranmu itu jangan dugem terus!" omel Sonia.
"Aku harus apa, Ma? Aku malas sekali melanjutkan sekolah tinggi, aku juga tidak memiliki pekerjaan. Jadi, lebih baik senang-senang," ucap Tissa.
***
Seminggu berlalu...
Sonia dan Tissa benar-benar berada di rumah. Keduanya hanya duduk sembari menonton tayangan televisi. Daneen hanya menyediakan 2 ART yang sebelumnya berjumlah 5 orang. Daneen sengaja memangkas pegawainya agar Sonia dan Tissa memiliki kegiatan.
"Papa Daneen memang jahat. Dua hari lalu aku minta uang jajan sampai sekarang belum juga diberikannya," ucap Tissa. Biasanya tanpa dipinta ayah sambungnya mengirimkannya.
"Mama juga, Sa. Sejak putrinya itu kembali dan sehat, dia tak pernah datang kemari," ujar Sonia.
"Apa sebenarnya Papa Daneen sudah mengetahui semuanya, Ma?" tebak Tissa.
"Semoga saja belum," ucap Sonia.
Lagi-lagi mengobrol dengan putrinya, seorang pegawainya menghampiri keduanya dan berkata, "Maaf, Nyonya. Saya izin pulang."
"Kenapa? Bukankah kamu izin pulang hanya sebulan sekali?" tanya Sonia.
"Tapi Tuan Besar Daneen menyuruh saya untuk pulang setiap hari," jawabnya.
"Kenapa begitu?" Tissa turut bertanya.
"Tugas saya hanya mencuci pakaian, menyetrika dan mencuci piring sarapan saja," jawabnya lagi.
"Terus pekerjaan membersihkan rumah ini, siapa?" tanya Sonia.
"Saya tidak tahu, Nyonya."
"Ya, sudah sana pulang!" Sonia begitu kesal.
ART wanita itu pun berlalu.
"Telepon Papa saja, Ma?" saran Tissa.
Sonia lalu menelepon suaminya, ia menanyakan mengapa ART-nya disuruh pulang setiap hari. Semenit kemudian, Sonia menutup ponselnya kemudian menoleh ke arah putrinya.
"Bagaimana, Ma?" tanya Tissa.
"Kita yang harus membersihkan rumah ini," jawab Sonia.
"Hah! Apa!" Tissa tak percaya jika Papa Daneen menyerahkan tugas 3 ART sebelumnya kepada dirinya dan ibunya.
"Papa Daneen memang benar-benar keterlaluan," ucap Sonia.
Tissa memandang kukunya, "Aku tidak mau ini rusak!"
"Bagaimana mungkin istri Daneen Prawijaya kini menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, ini pasti salah?" Sonia geleng-geleng kepala.
"Kita harus temui Papa, Ma!" usul Tissa.
Sonia kembali menelepon suaminya, tak sampai 1 menit ia menutupnya. Ia kemudian berkata, "Papa Daneen ada di perusahaan. Kita ke sana sekarang!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟเภє๓
gk usah ngeluh bu itukan emng tugasnya ibu rumah tangga 🚶♀️🚶♀️🚶♀️
2024-05-24
0