Andra pulang pukul 7 malam, seluruh tubuhnya terasa pegal karena ini adalah pekerjaan pertamanya di kota. Namun, ia tak mengeluh semua demi kebahagiaan ibu dan kesembuhan Dita. Begitu sampai kos-kosan, ia membersihkan diri dan memakai pakaiannya di dalam ruangan yang hanya cukup seorang saja. Setelah itu, ia keluar lalu membaringkan tubuhnya di atas tikar tepat samping kasur busa tempat tidurnya Dita.
"Kamu capek, ya? Aku pijit mau?" Dita menyentuh kaki Andra yang reflek menghindar.
Andra lantas bangkit dan duduk, "Tidak usah, Dita!" larangnya dengan lembut.
"Kenapa? Apa aku salah?" Dita menunjukkan wajah sendunya.
"Bukan begitu. Tapi kamu tidak boleh melakukannya karena kita belum menikah," jelas Andra. Ia mencoba menjaga wanita yang ada dihadapannya. Jika dia mengingat semuanya dan sesuatu hal buruk terjadi pada Dita tentunya ia akan mendapatkan hukuman.
"Bibi Laila bilang begitu, kamu juga. Kenapa kita tidak menikah saja? Aku menyukaimu!" Dita berkata secara terang-terangan membuat jantung Andra berdegup kencang.
"Ingat Andra, dia sedang amnesia!" batin Andra.
"Andra, apa kamu mendengar aku?" sergah Dita.
"Ya, aku mendengarmu!" Andra tersenyum dengan terpaksa.
"Kamu harus segera menemukan keluarga aku, biar kita menikah!" desak Dita.
"Jika aku menemukan keluargamu, belum tentu kita bakal bertemu lagi," batin Andra.
"Kamu janji 'kan akan membawaku berobat dan aku mengingat semuanya?" tanya Dita menatap Andra yang tatapannya selalu menghindar.
"Aku janji, cuma hari ini aku sangat lelah. Jadi besok kita pergi ke dokter," jawab Andra.
"Ya sudah, kalau begitu kamu tidurlah. Aku akan menjagamu," ucap Dita tersenyum.
"Buat apa kamu menjagaku tidur?" Andra was-was, takut Dita pergi.
"Seharian ini aku tidur," kata Dita.
"Oh," ucap Andra lega.
-
Andra terbangun pukul 12 malam, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Dita namun tak menemukannya. Dengan cepat, Andra bangkit dan duduk lalu memanggil nama Dita.
Tetapi, balasan dari wanita itu sama sekali tidak terdengar di telinganya. Panik. Andra bangkit dan berdiri, ia melangkah ke kamar mandi dengan pintu sedikit terbuka. Andra semakin khawatir, ia lantas keluar kamar bergegas mencarinya. Baru saja di ujung pagar, Dita muncul dengan menenteng kantong plastik berisi makanan. Dita melemparkan senyuman kepada Andra yang pucat.
Andra menarik napas panjang lalu dihembuskannya, dirinya benar-benar cemas.
"Dari mana saja kamu?" tanya Andra dengan suara lembut mencoba tenang.
"Aku membeli nasi goreng!" jawab Dita polos sembari mengangkat kantong belanjaannya.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Andra lagi, ia memegang tangan Dita dan membawanya masuk.
"Aku tidak mau mengganggu tidur kamu, jadi aku pergi sendiri," jawab Dita.
Andra mengunci pintu kamar, lalu mendudukkan Dita di kasur busa. "Kamu tahu tidak? Tadi aku benar-benar khawatir."
"Kamu khawatir karena mencintai aku?" Dita menatap Andra.
Andra mengangguk, ia hanya ingin Dita tenang jadi terpaksa mengiyakannya.
Dita memeluk Andra dan berkata dengan hati senang, "Aku juga!"
Andra melonggarkan pelukannya, ia takut khilaf. Apalagi Dita sangat cantik dan mempesona.
"Sekarang kamu makan nasi gorengnya!" ucap Andra mempersilakan Dita mencicipinya.
"Aku mau makan bersama kamu!" Dita menunjukkan sikap manjanya.
"Baiklah, kita makan sama-sama." Andra mengeluarkan 1 bungkus nasi goreng dari dalam plastik.
Dita mengambil sendok lalu berkata, "Aku akan menyuapi kamu!"
Andra pun tak menolaknya.
***
Esok paginya, sebelum berangkat kerja Andra menuliskan pesan di secarik kertas lalu ia tempelkan di pintu. Berharap Dita yang sedang tidur ketika terbangun kemudian membacanya dan menuruti permintaannya. Ya, dia tidak mau kecolongan lagi seperti tadi malam.
Andra pergi bekerja menggunakan bus, hanya itu kendaraan yang dapat mengantarkannya ke perusahaan dengan harga murah meskipun harus berdesakan.
Sesampainya di sana, Andra gegas mengambil peralatan kerjanya. Ia mulai melakukan aktivitasnya seorang diri karena teman yang sebelumnya menemaninya mengundurkan diri. Beruntung, kepala kebersihan masih bertahan dan bersedia membantunya. Andra diminta untuk membereskan barang-barang yang ada di salah satu ruangan. Tanpa membantah, Andra segera melaksanakannya.
Andra membuka ruangan yang tampak gelap dan sedikit berdebu, lalu menyalakan lampu tampak beberapa figura di selimuti kain putih. Andra menyusunnya menjadi satu tumpukan. Ia sangat penasaran dengan gambar dibalik benda itu. Andra memberanikan diri membuka penutupnya, pupil matanya melebar ketika melihat wajah seorang wanita terpampang. "Dita!" lirihnya.
Andra mengamati foto wanita yang mirip dengan Dita secara seksama. "Ini pasti kebetulan saja!" gumamnya.
Andra menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia menutup figura itu kembali. Lalu menumpukkannya bersama lainnya. Andra mengangkatnya dan membawanya keluar dari ruangan pengap tersebut.
Kepala kebersihan berkata kepada Andra, "Kita naik lift saja karena itu sangat berat!"
Andra mengiyakan.
Di dalam lift, Andra memberanikan diri bertanya kepada pria yang usianya hampir sebaya dengan ibunya. "Pak, kenapa foto ini harus dibuang?"
"Biar Tuan Besar mampu melupakan kesedihannya," jawabnya.
"Apa foto wanita muda itu adalah putrinya?" tanya Andra.
"Ya, dia Nona Muda Cyra. Sebulan ini beliau menghilang entah kemana, sehingga membuat Tuan Besar bersedih," jawabnya lagi.
"Apa keluarganya tidak mencarinya?" lagi-lagi Andra bertanya, ia sangat penasaran karena wajah putri pemilik tempatnya bekerja mirip dengan Dita.
"Mereka sudah mencarinya namun hasilnya nihil," jawab pria tua itu menahan kesedihannya.
Andra tak melanjutkan pertanyaannya, padahal di kepalanya banyak sekali yang ingin ia utarakan.
Pintu lift terbuka, Andra dibantu kepala kebersihan bernama Pak Mun membawa tumpukan figura itu ke salah satu mobil.
Tanpa sadar, selembar foto berukuran kecil terjatuh tepat di bawah kaki Andra. Setelah mobil berlalu dan Pak Mun masuk ke gedung, Andra melangkah namun secepatnya berhenti dan melihatnya ke bawah.
Andra setengah berjongkok dan mengambilnya, ia membalikkan lembaran foto tersebut. Tampak seorang gadis muda ditaksir berusia 17 tahun sedang duduk di kanan kirinya berdiri sepasang suami istri melemparkan senyuman ke arah kamera. Dengan cepat, Andra memasukkan ke dalam saku celananya. Andra kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah para karyawan sudah memulai pekerjaannya, Andra ke ruangannya untuk beristirahat sejenak. Ia mengeluarkan lembar foto lalu memasukkannya ke dalam tas. Dia sangat penasaran dengan wanita yang mirip Dita itu.
Di ruang khusus karyawan bagian kebersihan, Andra menyempatkan waktu untuk tidur sejenak. Semalaman ia tak dapat terlelap dengan tenang.
Baru 10 menit memejamkan matanya, pintu ruangan terbuka. Pak Mun membangunkannya, "Andra!"
Andra tersentak dan mengucek matanya, "Iya, Pak!"
"Pergilah ke ruangan Presdir sekarang juga, jangan lupa bawa peralatan kebersihan!"
"Baik, Pak!" Andra lantas berdiri. Sebelum ke ruangan Presdir, ia merapikan pakaiannya dan berjalan ke wastafel untuk mencuci wajahnya agar tidak kelihatan mengantuk.
Andra melangkah ke ruangan orang nomor satu di perusahaan itu sembari membawa alat kerjanya. Andra mengetuk pintu, tampak 2 wanita beda usia dan seorang pria dewasa menoleh ke arahnya.
"Saya diperintahkan Pak Mun ke sini!" ucap Andra.
"Masuklah!" perintah seorang wanita paruh baya yang masih kelihatan fresh dan seksi.
"Iya, Nyonya!" Andra mendorong alat kerjanya.
"Bersihkan!" titah wanita itu lagi ke arah lantai yang dipenuhi serpihan kecil kertas putih berisi tulisan.
Ketiganya lanjut kembali mengobrol.
"Apa dia benar-benar sudah menghilang dari pulau ini?" tanya wanita paruh baya itu yang kini menjadi Presdir kepada pria dihadapannya.
"Saya sangat yakin Tante, dia tidak akan pernah menampakkan batang hidungnya lagi di sini," jawab pria tersebut dengan yakin.
Andra yang mendengarnya, tampak ketakutan ia merasa jika ketiga orang saat ini bersama dirinya adalah orang-orang licik dan kejam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟเภє๓
🤔🤔🤔
2024-05-23
0
Murni Zain
mungkin itu ibu tirinya Dita,🤔🤔
2024-02-07
0