Andra pagi ini terbangun melihat ke kanan dan kirinya. Tak ada sosok Dita yang melemparkan senyuman kepadanya. Biasanya wanita itu sudah menyediakan teh hangat di atas meja kecil sebelum Andra pergi membeli sarapan.
Tadi malam Andra tak dapat tertidur pulas karena memikirkan keadaan Dita apakah baik-baik saja. Meskipun Pak Mun dan Lucas mengatakan Dita aman bersama keluarganya namun hatinya sangat khawatir. Untuk menghilangkan rasa rindunya, ia menatap foto masa remajanya Dita dengan kedua orang tuanya.
Bangkit dan melangkah ke kamar mandi membersihkan diri, bersiap berangkat kerja. Selain mencari uang, ia ingin mengetahui keadaan Dita dari Pak Mun. Hanya pria paruh baya itu yang dapat memberikan informasi mengenai Dita.
Selesai sarapan, Andra gegas pergi ke kantor. Dia datang memang lebih awal, jadi obrolan dirinya dan Pak Mun kemungkinan takkan di dengar oleh karyawan yang lain.
Andra tiba di perusahaan dan segera mencari Pak Mun. Ia tersenyum lega karena pria yang dicarinya ternyata sudah datang. Ia menghampirinya dan bertanya, "Pak Mun bagaimana dengan Dita?"
Pak Mun menoleh lalu menjawab, "Nona Cyra baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, namun semalam dia sempat pingsan dan ketakutan tapi bersama Tuan Besar semua aman."
"Dita pingsan karena apa, Pak?" tanya Andra.
"Mungkin karena kepalanya terlalu sakit mengingat semuanya," jawab Pak Mun.
"Apa aku bisa bertemu dengannya?" tanya Andra lagi.
"Belum, An. Sore ini Nona Cyra akan di bawa berobat ke luar negeri," jawab Pak Mun.
"Apa setelah sembuh Dita masih mau bertemu denganku?" tanya Andra, raut wajahnya tampak sendu.
Pak Mun mengangguk pelan, ia ingin pemuda dihadapannya tenang.
-
Andra kembali melakukan pekerjaannya, ia memasuki ruang Presdir seperti biasanya. Hampir 30 menit berada di sana dan Andra sedang membersihkan toilet, terdengar suara dari balik dinding membicarakan keberadaan Cyra.
"Apa Tante yakin jika Cyra ditemukan di jalan?" tanya Franco.
"Suamiku yang memberitahunya, tidak mungkin dia berbohong," jawab Sonia.
"Menurutku tidak masuk akal saja Cyra di temukan di jalan. Aku sudah membuangnya jauh dari pemukiman warga," ucap Franco.
"Apa ada seseorang yang sudah merawatnya kemudian dia kabur lalu lari ke jalan kota?" tebak Sonia.
"Kemungkinan iya, Tante. Cyra aku buang di jalanan hancur, jadi sangat jarang orang melewati tempat itu. Kemungkinan besar dia di tolong dan di rawat," ujar Franco.
"Tapi siapa orang itu?" tanya Sonia.
Franco mengendikkan bahunya.
Andra mendengarnya geleng-geleng kepala, ia tak menyangka jika ibu tirinya Cyra adalah dalangnya.
Pintu terbuka, Andra keluar dari toilet. Sonia dan Franco menoleh ke arahnya, keduanya tampak terkejut.
"Maaf, Nyonya, Tuan. Saya tidak tahu jika Nyonya Sonia datang lebih awal," ucap Andra.
"Cepat keluar!" Sonia memberikan titah.
Andra gegas pergi meninggalkan tempat.
"Apa dia tidak mendengar pembicaraan kita tadi Tante?" tanya Franco.
"Dia karyawan baru, dia tak mengenal Cyra, jadi Tante yakin dia bukan menjadi masalah buat kita," jawab Sonia.
-
Andra kini sudah berada di luar ruangan, ia tak habis pikir jika keluarga Cyra ingin melenyapkan wanita itu. "Benar juga apa yang dikatakan Pak Mun?" gumamnya.
"Mereka sangat licik, semoga Dita segera memberitahu sebenarnya dan menjebloskan mereka ke penjara," batin Andra.
Setelah meletakkan peralatan kebersihannya, Andra gegas mencari Pak Mun. Ternyata pria itu sedang berada di luar gedung membereskan tong-tong sampah. Maklum, di perusahaan besar hanya ada 2 petugas kebersihan saja.
"Pak Mun, sepulang kerja kita harus bicara," ucap Andra.
"Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Pak Mun.
"Ada, Pak. Ini sangat penting," jawab Andra.
"Baiklah, saya juga ada yang ingin disampaikan," ucap Pak Mun.
-
Sepulangnya kerja, Pak Mun mendatangi tempat kos-kosannya Andra. Di sana pria paruh baya itu duduk di kursi sembari mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya. Ia lalu menyodorkannya kepada Andra.
"Apa ini, Pak?" tanya Andra yang bingung.
"Ini uang dari Tuan Daneen sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah menolong dan merawat Nona Cyra," jawab Pak Mun.
Andra mendorong amplop dengan telapak tangannya dan berkata, "Maaf, Pak. Saya tidak bisa menerimanya!"
"Kenapa?" tanya Pak Mun.
"Saya menolong Dita ikhlas," jawab Andra.
"Saya mohon, tolong diterima," ucap Pak Mun.
"Tidak, Pak." Kata Andra.
Pak Mun menghela napas kecewa. Ia memasukkan amplop tersebut ke dalam tasnya lagi.
"Sekarang, apa yang ingin kamu bicarakan kepada saya?" tanya Pak Mun.
"Saya tak sengaja mendengar percakapan antara Nyonya Sonia dan seorang pria mengenai Dita. Mereka yang sudah membuatnya menderita dan mengalami amnesia," jawab Andra.
"Saya juga berpikiran sama namun Tuan Daneen waktu itu masih mempercayai istrinya itu," ucap Pak Mun.
"Saya takut jika Dita akan kembali mereka sakiti, Pak!" kata Andra yang khawatir.
"Tuan Lucas tidak mungkin kecolongan lagi, Tuan Besar hanya membutuhkan bukti untuk menjerat mereka. Semoga saja Nona Cyra segera pulih dan mengingat semuanya," harap Pak Mun.
Andra mengangguk setuju.
-
Sementara dikediaman Tuan Daneen, Tissa mendatangi rumah kakak sambungnya itu. Ia berpura-pura bahagia atas kepulangannya. Begitu hendak memegang kenop pintu, Lucas mencegahnya.
"Maaf, Nona. Anda dilarang masuk!" ucap Lucas dengan nada dingin.
"Aku ini adiknya. Kenapa dilarang masuk?" tanya Tissa tak senang.
"Tuan Daneen memerintahkan saya untuk tidak membiarkan orang-orang masuk," jawab Lucas.
"Tapi aku ini keluarganya, kenapa harus ada peraturan itu?" tanya Tissa lagi.
"Karena Tuan Daneen yang membuatnya," jawab Lucas.
"Ini tidak bisa dibiarkan, jangan-jangan semua adalah akal-akalan Paman Lucas!" tuding Tissa.
"Jika Nona tidak percaya, silahkan tanyakan kepada Tuan Daneen," ucap Lucas.
"Apa aku tidak boleh melihat wajahnya?" tanya Tissa.
"Tidak, Nona."
Tissa menghela napas.
"Baiklah, aku akan ke rumah Papa Daneen saja!" ucap Tissa kemudian berlalu.
Sejam kemudian, Tissa tiba di rumah ayah tirinya. Sesampainya di sana, ia melihat pria paruh baya itu hendak pergi.
"Papa...mau ke mana?"
"Papa ingin membawa kakakmu berobat."
"Apa mama juga ikut?" tanya Tissa.
"Tidak, hanya Papa saja dan Paman Lucas," jawab Daneen.
"Kenapa mama tidak ikut?" tanya Tissa yang terus mencecarnya karena dia butuh informasi negara mana Cyra akan berobat.
"Jika ikut, siapa yang akan menjalankan perusahaan. Apalagi ada rapat besar dalam minggu ini," jelas Daneen.
"Memangnya Kak Cyra mau dibawa berobat ke negara mana?" tanya Tissa.
"Papa tidak bisa memberitahukannya," jawab Daneen lagi.
"Kenapa? Apa karena aku bukan anak kandung Papa?" Tissa memasang mimik wajah sedih.
Daneen menghela napas.
"Bukan begitu, Tissa. Ini semua demi keselamatan kakak kamu," ucap Daneen.
"Apa ada orang yang ingin mencelakakan Kak Cyra?" tanya Tissa.
"Ya, makanya Papa harus berhati-hati," jawab Daneen membuat Tissa menelan salivanya.
"Papa berangkat, jangan terlalu sering pergi ke klub malam dan minum-minuman keras!" nasihat Daneen sebelum masuk ke mobil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments