Mobil yang mereka tumpangi berhenti di bangunan hunian tipe 45, Cyra melihatnya sambil bertanya, "Ini rumah kamu?"
"Iya, Nona. Saya dan ibu tinggal di sini," jawab Andra sebelum keluar dari mobil.
"Apa aku boleh bertemu dengan ibumu?" tatapan Cyra kembali ke arah Andra.
"Lain waktu saja, ibu tidak lagi di rumah," Andra memberikan alasan berbohong.
Setelah mendengar ucapan Andra, Cyra manggut-manggut paham dan tersenyum kecewa. Padahal hatinya ingin sekali bertemu dengan wanita yang melahirkan Andra, entah kenapa dia begitu penasaran.
Ketika Andra hendak membuka pintu, Laila keluar dari rumah dan kebetulan terlihat oleh Cyra sehingga ia menarik ujung bibirnya lalu bertanya, "Itu ibu kamu?"
Andra seketika menghela. Ibunya muncul di saat dirinya berusaha memberikan alasan kepada Cyra.
"Kamu membohongi aku?" Cyra menatap tajam Andra.
"Bu... bukan begitu, Nona. Tadi pagi memang ibu izin pulang kampung, saya tidak tahu jika memang sudah berada di rumah," lagi-lagi Andra harus berbohong.
"Aku ingin menyapanya!" Cyra membuka pintu lalu keluar.
Andra menepuk keningnya, ia pun buru-buru menyusul Cyra. Ia mempercepat langkahnya agar sang ibu tak membuat Cyra semakin bingung dengan pertanyaannya.
Laila tercengang melihat sosok wanita yang kini berdiri dihadapannya melemparkan senyuman kepadanya, "Dita!" lirihnya.
"Saya Cyra, Bibi!" Cyra meraih tangan Laila lalu mengecup punggungnya.
Hal itu membuat Andra sekaligus sopir yang menunggu di mobil melihat dari jauh terperangah. Mereka tak percaya Cyra mampu bersikap manis dan sopan.
Laila tersenyum canggung.
"Saya pimpinan di tempat Andra bekerja," ucap Cyra memperkenalkan diri.
Laila mengangguk mengiyakan.
"Maaf, Bibi. Apa sebelumya kita pernah bertemu?" tanya Cyra.
Laila mengarahkan pandangannya kepada putranya, Andra pernah mengatakan jika dirinya dilarang papanya Cyra memberitahu masa lalu ketika Cyra mengalami amnesia.
Laila yang bingung tampak gugup, ia berharap putranya membantu dirinya menjawab pertanyaan dari Cyra.
"Baru hari ini Ibu saya bertemu dengan Nona Cyra," sahut Andra.
"Wajah kalian berdua seperti tidak asing. Saya merasa pernah dekat dan akrab," ujar Cyra.
"Mungkin kita pernah berpapasan di jalan," kata Andra menjelaskan.
"Mungkin juga, sih!" Cyra manggut-manggut paham.
"Hari sudah mulai gelap, Nona tidak pulang," ucap Andra.
"Kamu mengusirku?" tanya Cyra menatap karyawannya itu.
"Bukan begitu, Nona. Takutnya Tuan Daneen mencari Nona," jawab Andra terbata.
"Aku bukan anak kecil lagi, Andra. Jadi tak mungkin papa mencariku. Bukankah sekarang zaman canggih?" kata Cyra.
Andra yang tak mampu menyanggah lagi ucapan Cyra tersenyum kaku.
"Perut saya lapar, apa Bibi hari ini masak banyak?" tanya Cyra kini pandangannya beralih ke arah Laila.
Wanita paruh baya itu kembali kebingungan, dia menatap putranya.
Cyra melangkah masuk ke rumah meskipun belum diizinkan. Laila menarik tangan putranya dan berkata, "Lebih baik jujur saja!"
"Tidak bisa, Ma. Nanti Tuan Daneen marah besar pada kita," ucap Andra pelan.
Laila pun diam.Dia dan putranya menyusul Cyra yang sudah lebih dahulu masuk.
Wanita berusia 26 tahun itu ke dapur, membuka tudung saji dan melihat beberapa piring telah berisi makanan. Ia lalu duduk menatap hidangan tersebut.
Laila mengambil piring di rak kecil yang berada di dekat wastafel cucian lalu diletakkannya di depan Cyra kemudian berkata, "Nona mau makan?"
Cyra mengangguk mengiyakan.
"Biar Bibi ambilkan!" ucap Laila tangannya hendak memegang centong nasi namun dipegang Cyra.
"Biar saya saja!" kata Cyra membuat Laila tertegun.
Cyra menyiduk nasi lanjut mengambil sayuran dan lauk pauk. Ia letakkan ke dalam wadah piringnya dan ia mulai menyantapnya.
Andra dan ibunya berdiri menatap punggung Cyra yang asyik menikmati makanan.
"Sepertinya dia mengingat kehidupannya sebagai Dita," bisik Laila.
Cyra menoleh ke belakang, "Kenapa berdiri saja? Ayo makan sama-sama!" ajaknya.
"Iya, Nona!" ucap Andra dan ibunya serentak. Keduanya duduk di kanan kirinya Cyra.
"Masakan Bibi sangat enak, aku sangat rindu!" puji Cyra membuat Andra dan Laila saling pandang.
"Besok pagi, Andra harus membawakan makanan masakan dari Bibi," ucap Cyra.
"Tapi Nona, masakan Bibi sangat jauh dari layak," kata Laila merendah.
"Ini sangat enak, Bibi. Aku jarang sekali memakannya," ucap Cyra yang kini mengganti panggilan aku menjadi saya karena menurutnya dirinya sudah begitu akrab dan dekat dengan keluarganya Andra.
"Nanti Nona sakit perut jika sering memakan masakan Bibi," kata Laila.
Cyra tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, Bi. Ini makanan sederhana tapi sangat lezat."
"Nona yakin mau makanan seperti ini?" tanya Laila memperhatikan masakannya berupa oseng tempe, cah kangkung dan semur tahu.
Cyra mengangguk.
"Besok Bibi akan buatkan untuk Nona," janji Laila dengan semangat.
Cyra tersenyum senang sembari mengunyah makanannya.
-
Selesai menikmati masakan ibunya Andra, sebelum pulang Cyra berbicara kepada wanita paruh baya itu. "Bibi, terima kasih sudah mengizinkan aku mampir!"
"Iya, sama-sama. Bibi juga senang Nona Cyra mau berkunjung ke rumah kami," ucap Laila tersenyum.
"Bibi, mulai sekarang panggil aku Cyra saja," kata Cyra.
"Kenapa begitu? Tidak sopan jika Bibi memanggil Nona Cyra hanya nama saja," ujar Laila.
"Anggap saja aku putrimu," ucap Cyra tersenyum.
Laila terpaku.
"Aku sangat merindukan mama, masakan yang Bibi buatkan mengingatkan aku dengan seseorang dan mama kandung," ungkap Cyra.
Laila lalu memeluk Cyra dan wanita itu tak menolaknya. "Bibi akan menjadi ibu untukmu!"
"Terima kasih, Bi!" ucap Cyra. Keduanya pun saling melepaskan pelukannya.
Cyra mengarahkan pandangannya kepada Andra dan tersenyum. "Jangan lupa besok bawakan bekal makan siang untukku!"
Andra mengangguk mengiyakan.
Cyra pun bergegas memasuki mobilnya yang di mana pintunya telah dibuka oleh sopir kantornya.
"Dia Dita, An!" lirih Laila setelah mobil yang ditumpangi Cyra berlalu.
"Dia Nona Cyra, Bu. Dita hanya wanita amnesia yang pernah kita tolong," ucap Andra.
"Separuh jiwanya adalah Dita kita, An. Dia menyukai masakan ibu," ujar Laila.
"Meskipun begitu aku dan dia tidak boleh terlalu dekat," ucap Andra.
"Kenapa?" tanya Laila.
"Aku dan dia bagaikan bumi dan langit, Nona Cyra adalah putri konglomerat. Aku hanya karyawan bagian kebersihan dan itu tidak masuk akal jika kami bersatu, Nona Cyra lebih pantas bersama pria tampan dan kaya raya," jawab Andra.
"Kenapa tidak mungkin, An? Bagaimana jika kalian berjodoh?" tanya Laila lagi.
"Tidak mungkin, Bu. Jangan banyak berharap lebih, walaupun aku sangat mencintainya," jawab Andra.
"Seandainya dulu sebelum dia sembuh, Ibu menikahkan kalian pasti hidupmu akan bahagia bersamanya," ucap Laila.
"Pernikahan aku dan dia tak mungkin terjadi, Cyra memiliki ayah kandung. Jika Ibu memberikan restu belum tentu keluarganya mengizinkannya. Kalau aku memaksakan kehendak waktu itu, saat ini kita sudah berada dibalik jeruji karena memperalat orang yang sedang sakit," ujar Andra.
Laila mengangguk paham, benar apa yang dikatakan putranya seandainya mereka mengikuti ego belum tentu ayah kandungnya Cyra terima putrinya menikah dengan pria bukan dari kalangan konglomerat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟเภє๓
jangan patah semangat an
2024-05-24
0