Keduanya tiba di restoran selang 15 menit kemudian, duduk saling berhadapan dan memesan makanan.
"Saya pesan mi goreng seafood satu porsi dan es jeruk nipis," ucap Cyra.
"Mi goreng-nya jangan terlalu pedas!" sahut Andra.
"Pesanan kamu sama dengan saya?" tanya Cyra.
"Tidak, Nona. Saya hanya bilang kalau makanan yang Nona Cyra pesan jangan terlalu pedas," jawab Andra.
"Ya, saya lupa. Jangan terlalu pedas!" Cyra mengarahkan pandangannya kepada pelayan.
Pelayan pria itu mengangguk paham.
"Kamu pesan apa?" tanya Cyra tatapannya kini ke arah Andra.
"Nasi sop ayam saja dan es teh," jawab Andra.
Pelayan kembali menyebutkan pesanan keduanya setelah cocok, ia pun berlalu.
"Dari mana kamu mengetahui aku tidak boleh makan terlalu pedas?" Cyra begitu penasaran kalau pria yang 1 meja dengannya paham seleranya.
"Saya menebak saja, Nona." Andra beralasan, padahal ia mengetahuinya ketika Cyra tinggal di rumahnya. Waktu itu, ibunya sedang membuat rujak buah dan dimakan bersama beberapa orang tetangga. Cyra mencicipinya, baru 2 kali suapan perutnya terasa mules. Ia harus ke kamar mandi bolak-balik. Tentunya Andra sangat begitu cemas, ia pun segera membawa Cyra ke puskesmas.
Cyra manggut-manggut paham dan tersenyum.
Pesanan keduanya datang, Cyra mempersilakan Andra menikmati makanannya.
Andra yang sangat lapar melahapnya dengan semangat, membuat Cyra mengerutkan keningnya melihat sikap pria dihadapannya. Namun Cyra tak marah malah ia menarik kedua ujung bibirnya.
Karena diperhatikan, Andra mendongakkan wajahnya dan mengatur ritme suapannya. Ia tersenyum sungkan sudah menjadi tatapan atasannya.
"Tidak apa-apa, santai saja. Pasti pekerjaan hari ini sangat berat, sampai kamu makannya begitu lahap," ujar Cyra.
"Tadi pagi saya buru-buru ke kantor dan hanya makan satu roti saja. Ibu juga sudah menyiapkan bekal siang tapi lupa membawanya," ucap Andra.
"Siapa nama ibu kamu?" tanya Cyra.
"Laila," jawab Andra.
"Dari namanya seperti aku pernah mendengarnya dan mengenalnya," ucap Cyra.
"Nama Laila sangat banyak dipakai orang. Mungkin Nona punya teman, karyawan atau saudara," kata Andra.
"Mungkin saja, sih."
Hampir 40 menit berada di restoran, keduanya beranjak meninggalkan tempat. Cyra lalu mengajak Andra pergi mall.
"Mau apa ke sana kita, Nona?" tanya Andra.
"Belanja," jawab Cyra.
"Saya balik ke kantor saja, Nona. Banyak sekali pekerjaan yang belum selesai," tolak Andra.
"Kamu harus ikut saya!" kata Cyra.
Ketika hendak membuka pintu buat Cyra, terdengar seseorang memanggil nama Andra. Andra pun menoleh. Ternyata Tiko datang menghampirinya dengan napas ngos-ngosan.
"Andra, akhirnya kita bertemu di sini!" ucap Tiko tampak senang.
"Maaf, Tiko. Aku jarang mengabarimu," kata Andra.
Tiko mengalihkan pandangannya kepada Cyra dan berkata, " Bukankah dia Di---?"
Andra dengan cepat menutup mulut Tiko menggunakan telapak tangannya dan menjauhkannya dari Cyra.
Andra menurunkan tangannya dari mulut Tiko setelah sedikit menjauh. Ia lalu berkata, "Jangan menyebut nama Dita dihadapannya!"
"Kenapa?"
"Ceritanya panjang. Nanti aku jelaskan!"
"Ya sudah aku tunggu, di mana sekarang tempat tinggalmu?"
Andra menyebutkan alamat rumahnya.
"Aku akan telepon jika mau ke sana," ucap Tiko kemudian berlalu.
Andra kembali menghampiri Cyra dan berkata, "Maaf, Nona."
"Dia siapa?"
"Teman saya dari kampung."
"Oh," ucap Cyra singkat.
-
Cyra dan Andra sampai di mall terdekat. Keduanya berjalan memasuki gedung, sopir pribadinya juga turut serta menemani. Itu karena perintah dari Lucas.
Cyra melangkahkan kakinya ke toko pakaian pria, di ikuti kedua pria dibelakangnya. Cyra membalikkan badannya dan berucap, "Silahkan pilih yang kalian mau!"
Sopir yang sehari-hari mengantarkan Cyra tercengang. Selama 7 tahun bekerja di keluarga Daneen, ia tak pernah melihat Cyra begitu akrab dengan bawahannya. Biasanya Cyra akan bersikap cuek dan sedikit cerewet. Sekarang dirinya ditawari pakaian secara cuma-cuma.
"Kenapa diam? Ayo pilih!" ucap Cyra.
"Ini benar, Nona?" tanya sopir yang belum percaya.
"Benar dong. Kamu pikir aku berbohong?" Cyra balik bertanya.
"Bu.. bukan begitu, Non. Tapi..." ucapan sopir terjeda.
"Buruan pilih, papa mau bertemu aku!" kata Cyra tanpa menatap karena fokus membalas pesan Daneen.
"Iya, Nona!" ucap Andra dan sopir.
Keduanya pun memilih pakaian dan celana. Sambil menunggu, Cyra berdiri memainkan ponselnya.
Andra menghampiri Cyra lalu berkata, "Saya pilih ini saja, Nona." Menunjukkan satu celana panjang dan kemeja.
"Saya juga, Nona!" sahut sopir.
Cyra melangkah ke kasir begitu juga dengan Andra dan sopir. Kedua pria itu meletakkan pakaiannya di atas meja.
Setelah kasir menghitung dan menyebutkan nominalnya, Cyra mengeluarkan kartu debit dari tasnya. Ia membayar seluruh belanjaan karyawannya.
"Terima kasih, Nona!" ucap sopir dengan senyuman menerima kantong berisi pakaiannya.
"Sama-sama," Cyra memasukkan kartu debit ke dalam tas.
Andra belum mengucapkan terima kasih membuat Cyra mengarahkan pandangannya kepadanya.
"Kamu tidak mau mengucapkan sesuatu kepadaku?" singgung Cyra.
"Terima kasih, Nona Cyra." Andra sedikit menundukkan kepalanya.
Cyra tersenyum dan mengangguk.
-
Andra tiba di kantor, satu jam setelah waktu beristirahat selesai. Ia memasuki gedung sembari menenteng kantong belanjaan dan di sampingnya Cyra berjalan beriringan dengannya.
Andra hendak pamit ketika keduanya sudah sampai di depan pintu lift. Namun Cyra memintanya untuk menemaninya hingga ke lantai tempat ruang kerjanya. Andra pun mengikuti perintah atasannya itu.
Begitu sampai di lantai tujuan, Wika menghampiri Cyra yang akan menuju ruangannya. Wika mengatakan jika Daneen, Sonia dan Tissa sudah menunggunya.
Andra lalu turun menggunakan tangga karena lift dikhususkan buat para petinggi dan staf perusahaan.
Cyra masuk ke ruangan kerjanya, tampak Papa Daneen dan ibu tirinya beserta putrinya. "Kenapa kalian semua ke sini?" tanyanya.
"Kamu dari mana?" tanya Daneen.
"Dari restoran terus lanjut ke mall," jawab Cyra.
"Dengan siapa?" tanya Daneen lagi.
"Andra," jawab Cyra.
Mendengar nama pria yang menolong putrinya seketika Daneen terdiam. Sebenarnya dia sudah mengetahuinya dari Wika ketika ia menelepon sekretaris pribadi Cyra.
"Andra siapa? Pacar Cyra, Dan?" tanya Sonia menatap suaminya.
"Bukan. Dia hanya pekerja di sini," Cyra yang malah menjawabnya.
"Karyawan di sini? Apa jabatannya di perusahaan ini?" tanya Tissa sinis.
"Dia hanya cleaning service," jawab Cyra.
"Hah! Apa!" Sonia dan Tissa begitu terkejut.
"Kamu tidak salah?" tanya Sonia.
"Tidak," jawab Cyra.
"Sejak kapan Kak Cyra dekat dengan bawahan rendahan seperti itu?" tanya Tissa.
"Jangan memandang pekerjaannya, tapi jika tidak ada dia mungkin perusahaan ini akan kotor," jawab Cyra membuat Daneen begitu bangga dengan putrinya yang kini lebih dewasa.
"Memang sih', tapi tak pantas saja Kak Cyra dengan seorang cleaning service. Apa tidak ada pria lain yang lebih kaya bisa diajak makan bersama?" sindir Tissa.
"Aku merasa nyaman dengannya. Mengapa kamu yang protes?" Cyra melemparkan tatapan tajam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments