Andra mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya ketika Dita sedang ke kamar mandi. Ia memandangi wajah gadis yang begitu mirip dengan Dita. Isi kepalanya terus menerka-nerka apakah Dita adalah Nona Muda Cyra.
Dalam lamunannya, Dita tiba-tiba menepuk pundaknya sehingga ia tersentak kaget dan lekas menoleh. Dengan cepat ia menyembunyikan foto ke belakang tubuhnya.
Ternyata sikap gugup Andra mengundang kecurigaan Dita, ia memiringkan tubuhnya melihat sesuatu yang di sembunyikan Andra dari dirinya. "Apa itu?"
"Bukan apa-apa!"
"Kenapa tanganmu di belakang?" Dita semakin curiga yang segera merampas benda tersebut.
"Dita..."
"Siapa mereka?" tanya Dita sembari memandang foto.
"Mereka...."
Seketika wajah Dita pucat, ia melemparkan lembaran foto dan memegang kepalanya. Keringatnya bercucuran dan mulai berteriak kesakitan.
Andra dengan cepat memeluknya. "Dita, apa yang terjadi denganmu?"
"Foto itu..."
"Kenapa? Apa kamu mengenalnya?" tanya Andra.
"Aku seperti mengenal mereka," jawab Dita dengan tubuh gemetaran.
"Tarik napas dalam-dalam lalu buang pelan-pelan!"
Dita mengikuti perintah Andra.
"Sekarang duduklah!" Andra mengarahkan Dita ke kasur busa, dengan cepat mengambil air putih lalu diminumkan kepada Dita.
"Mereka seperti tidak asing bagiku, An. Aku merasa sangat mengenal dekat," ucap Dita setelah meneguk setengah gelas air putih.
"Itu foto tak sengaja aku dapatkan di perusahaan," jelas Andra. "Wajah gadis ini begitu mirip sekali denganmu, makanya aku bawa pulang," lanjutnya.
"Di mana tempat kamu bekerja?" tanya Dita.
"DC Group," jawab Andra.
Mendengar nama perusahaan tempat Andra bekerja sontak kepala Dita kembali berdenyut.
Andra memegang kedua lengan Dita, "Jangan memikirkannya!"
"Aku merasa pernah ke sana, An."
"Kamu yakin?" tanya Andra.
"Bawa aku ke sana!" pinta Dita.
"Tidak, Dita!" tolak Andra.
"Kenapa?" tanya Dita.
"Aku belum membawa kamu ke dokter," jawab Andra menjadi alasannya.
Dita akhirnya diam.
"Sekarang kita pergi ke dokter untuk memeriksa kondisi kamu!" ajak Andra. Karena memang dia sudah berjanji sepulang kerja akan membawa Dita berobat.
Dita mengangguk mengiyakan.
-
Keduanya berangkat ke rumah sakit untuk berkonsultasi mengenai penyakit Dita. Namun, ditengah perjalanan mereka bertemu dengan Pak Mun. Pria paruh baya itu sejenak tercengang melihat sosok Dita.
"Pak Mun!" sapa Andra.
"Nona Cyra!" Lirih Pak Mun, tatapannya tertuju pada Dita.
Andra mengikuti arah pandangan Pak Mun.
"Saya Dita!"
"Ini teman saya namanya Dita, Pak!" timpal Andra menjelaskan.
"Dia mirip sekali dengan Nona Cyra," ucap Pak Mun.
"Kenapa Pak Mun berpikir yang sama? Apa benar jika Dita adalah Nona Cyra? Jadi obrolan Presdir tadi ......" batin Andra.
"Mungkin saya salah orang," Pak Mun segera menggelengkan kepalanya.
Andra masih diam dan berpikir sementara Dita mengangguk mengiyakan.
"Kalian mau ke mana?" tanya Pak Mun yang menenteng 1 kantong makanan.
"Kami mau ke dokter," jawab Andra.
"Memangnya siapa yang sakit?" tanya Pak Mun.
"Saya, Pak." Jawab Andra lagi.
"Kamu sakit apa?" tanya Pak Mun.
"Kepala saya sering sakit," jawab Andra.
"Oh," ucap Pak Mun.
"Kami duluan, Pak!" pamit Andra menggenggam tangan Dita dan menariknya. Keduanya meninggalkan Pak Mun yang masih berdiri dengan berbagai pertanyaan.
Andra dan Dita memilih berjalan kaki ke rumah sakit karena tidak memiliki uang buat ongkos bus.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau aku yang sakit?" tanya Dita.
"Lebih cepat jalannya, Dit!" ucap Andra tanpa menjawab pertanyaan wanita di sampingnya.
Selang 20 menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Namun, Dokter yang dibutuhkan malah sudah selesai jadwal kerjanya. Andra tampak kecewa.
"Jadi bagaimana, An?"
"Besok lagi kita kemari!"
***
Esok paginya, Andra berangkat bekerja seperti biasa. Setibanya di sana, Pak Mun datang menghampirinya dan berkata, "Andra, saya ingin bicara denganmu. Ini sangat penting."
"Silahkan, Pak!" ucap Andra dengan sopan.
"Kamu kenal dengan teman wanitamu itu sudah berapa lama?"
Andra tak segera menjawab, ia seperti sedang berpikir.
"Andra, saya mohon berkatalah jujur," ucap Pak Mun.
"Kenapa saya harus berkata jujur? Apa yang sebenarnya Pak Mun ingin ketahui?" tanya Andra.
"Begini, An. Wajah temanmu itu sangat mirip sekali dengan Nona Muda Cyra. Tuan Besar sangat merindukannya, kondisi kesehatannya semakin hari semakin menurun. Jika perusahaan ini diberikan kepada anggota keluarga yang lainnya, cepat atau lambat pasti akan bangkrut," jawab Pak Mun.
"Hanya dengan kehadiran Nona Muda kesehatan Tuan Besar akan kembali pulih. Kami membutuhkannya, hampir tiap hari satu persatu karyawan dipecat dan mengundurkan diri," tambahnya.
Andra mendengar penjelasan Pak Mun merasa sedih. Memang seharusnya Dita kembali kepada keluarganya.
"Andra, saya mohon jelaskan siapa temanmu itu!" pinta Pak Mun penuh harap.
Andra melihat ke arah pintu apakah sudah terkunci atau belum. Ia takut ada orang yang mendengarnya dan mencoba mengambil kesempatan.
"Kamu tenang saja, karyawan akan datang setengah jam lagi. Tidak ada yang mendengar pembicaraan kita," ucap Pak Mun agar Andra merasa nyaman.
"Seberapa dekatnya Pak Mun dengan keluarga Nona Muda?" tanya Andra sebelum menjelaskan.
"Saya bekerja di sini hampir dua puluh tahun. Sejak perusahaan ini di pimpin Nyonya Sonia semua berantakan, mereka memperlakukan kami semena-mena," jawab Pak Mun.
Andra manggut-manggut paham.
"Nona Muda Cyra adalah penerus perusahaan ini, saya yakin mereka yang sudah menyingkirkannya," tuding Pak Mun.
"Kenapa Pak Mun begitu yakin jika Nyonya Sonia adalah orang dibalik hilangnya Nona Muda?" tanya Andra.
"Nyonya Sonia menjadi bagian keluarga Tuan Besar Daneen setelah Nyonya Thalia meninggal dunia tujuh tahun lalu," jawab Pak Mun. "Jadi saya yakin wanita itu ada hubungannya dengan hilangnya Nona Muda Cyra," lanjutnya.
Andra mengangguk paham
"Andra, saya ingin mengetahui siapa sebenarnya teman kamu itu," ucap Pak Mun.
Andra menarik napas lalu dihembuskannya. Perlahan ia mulai menjelaskan bagaimana dirinya bertemu Dita dan merawatnya.
"Jadi kamu menemukannya dalam keadaan terluka parah?" tanya Pak Mun.
"Iya, Pak. Sepertinya dia mengalami amnesia," jawab Andra.
"Pantas saja dia tidak mengenal saya," ucap Pak Mun.
"Malam pertemuan itu sebenarnya saya ingin membawa Dita berobat tapi dokter sudah pulang," kata Andra.
"Apa boleh saya mempertemukan Tuan Besar kepadanya?" tanya Pak Mun.
Andra mengiyakan.
Pak Mun tersenyum senang.
-
Sore harinya, Pak Mun pergi ke kediaman Tuan Besar di sana segera menemui asisten pribadinya Tuan Daneen bernama Lucas. Pria paruh baya berusia 45 tahun itu sudah menjadi kaki tangan selama 10 tahun menggantikan ayahnya.
Pak Mun menceritakan tentang sosok Dita yang kini hidup bersama Andra.
"Apa kamu yakin jika dia adalah Nona Cyra?" tanya Lucas.
"Saya sangat yakin, Tuan. Wajahnya benar-benar begitu mirip," jawab Pak Mun.
"Saya akan memberitahu hal ini kepada Tuan Besar. Tapi ingat! Jangan sampai Nyonya Sonia dan Nona Tissa mengetahui pertemuan ini!" ucap Lucas.
"Tenang saja, Tuan. Saya yakin mereka tidak mengetahuinya," kata Pak Mun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟเภє๓
alhamdulillah identitas dita sudah mulai sedikit terbuka
2024-05-23
1
Nur Adam
lnjut
2024-02-08
1
Murni Zain
semoga tdk ada pengkhianat jd mereka bs ketemu
2024-02-08
1