Andra memutuskan untuk tidak pulang ke rumah karena hari sudah gelap ditambah hujan yang cukup deras. Andra lalu menghubungi sahabatnya untuk meminta izin menumpang tidur di tempatnya.
Pukul 8 malam, Andra tiba di kos-kosan sederhana teman semasa kecilnya yang kini sudah bekerja sebagai cleaning service di salah satu perusahaan ternama.
Pemuda bernama Tiko membuka pintu setelah mendengar suara ketukan dari luar. "Astaga, Andra. Kenapa bajumu basah?"
"Aku kehujanan pas menunggu bus," jawab Andra.
"Ayo masuk, pakai bajuku saja!" ucap Tiko.
Andra mengiyakan, kemudian masuk dan bergegas ke kamar mandi setelah Tiko menyodorkan baju dan celana panjang.
Selesai mandi, Tiko menyuguhkan mie instan dalam mangkok yang di siram air panas. "Aku belum gajian, mau mengutang di warung depan tapi tidak punya payung. Kamu tidak masalah 'kan aku cuma beri ini."
"Tidak apa-apa, Ko. Ini saja aku sudah bersyukur," ucap Andra mengaduk mie yang masih panas.
"Apa kamu sudah menelepon ibumu?" tanya Tiko.
"Belum, Ko. Aku kehabisan pulsa," jawab Andra.
"Pakai ponselku saja!" Tiko menyodorkan telepon genggam yang memiliki kamera.
"Bagaimana cara pakainya?" Andra benar-benar bingung karena punyanya hanya bisa menelepon dan mengirimkan pesan.
Tiko mengajari cara penggunaannya, ia juga menekan nomor kontak telepon Bibi Laila. Tak lama kemudian, panggilannya pun tersambung.
"Halo, Bu!" ucap Andra.
"Halo, ini siapa?" tanya Laila.
"Aku Andra, Bu. Ini pakai nomornya Tiko, aku sekarang di tempatnya," jawabnya.
"Oh, syukurlah. Ibu benar-benar khawatir, karena kamu belum ada menelepon dari tadi," ucap Laila.
"Di sini hujan, pulsa aku juga habis dan baterai ponselku mati," kata Andra menjelaskan.
"Apa kamu sudah menemukan pekerjaan?" tanya Laila.
"Belum, Bu. Ada lowongan tapi harus memiliki ijazah perguruan tinggi," jawab Andra.
"Ya sudah, Nak. Besok lanjutkan lagi mencari pekerjaannya," ucap Laila.
"Iya, Bu. Bagaimana dengan keadaan Dita?" tanya Andra.
"Dia lagi tidur, tadi ia sempat memegangi kepalanya dan berteriak sakit," jawab Laila.
"Kenapa begitu, Bu?" tanya Andra begitu khawatir.
"Itu karena Ibu mengatakan penyakitnya," jawab Laila.
"Ya ampun, Bu. Kenapa harus bilang, sih? Bagaimana jika dia teriak-teriak dan kabur? Aku tidak mau dia pergi dan Ibu disakitinya," ucap Andra.
"Ibu keceplosan, Andra!" Laila membela diri.
Andra menghela napas.
"Jangan pancing Dita untuk mengingat tentang dirinya jika aku tidak ada di rumah," ucap Andra.
"Iya, Nak. Ibu janji," kata Laila.
"Aku tutup teleponnya, selamat malam, Bu!" ucap Andra kemudian mematikan panggilannya.
Andra mengembalikan ponsel Tiko dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Siapa Dita, An?" tanya Tiko.
"Aku tidak tahu siapa dia," jawab Andra.
Tiko mengernyitkan keningnya, "Tidak tahu, tapi menanyakan kabarnya."
"Ceritanya panjang, Ko."
"Kamu tidak mau menceritakan ini padaku," Tiko menatap serius. Dirinya sangat penasaran dengan nama perempuan yang disebut sahabatnya.
Andra lalu menceritakan bagaimana ia dan Dia bertemu.
Setelah mendengar semua penjelasan dari temannya, Tiko geleng-geleng kepala. "Jadi kamu merawat perempuan yang tak tahu asal usulnya dengan sukarela."
"Bagaimana lagi? Aku tidak tega membiarkan dia tergeletak di pinggir jalan kebun apalagi waktu itu seluruh tubuhnya penuh luka," ujar Andra mengingat dirinya menolong Dita.
"Jika kamu memang mendapatkan pekerjaan di sini. Lalu bagaimana dengan dia? Apa kamu akan membiarkan dia di kampung?" cecar Tiko.
"Aku akan membawanya ke sini, sekaligus mengobatinya," ucap Andra.
"Jika dia sudah mengingat semuanya, apa kamu tidak takut kalau ditinggalkannya atau keluarganya menuduhmu melakukan penculikan?"
"Tidak. Aku hanya berniat menolongnya dan dia harus sembuh."
"Kamu memang orang baik, semoga kebaikan menyertaimu teman!" Tiko menepuk bahu Andra, ia merasa bangga jika pria di depannya memiliki hati yang tulus.
Andra tersenyum.
"Buruan habiskan makananmu, jika dingin tidak enak," ucap Tiko.
***
Esok harinya, Andra mengerjapkan matanya. Ia lantas bangkit dan duduk. Dari atas karpet ia melihat Tiko hendak bersiap-siap berangkat kerja.
"Apa hari ini kamu akan mencari pekerjaan lagi?" tanya Tiko sembari menatap cermin menyisir rambut.
"Ya, mumpung masih di sini. Semoga saja keberuntungan berpihak padaku," jawab Andra.
"Aku baru dapat kabar dari temanku kalau perusahaan di samping gedung tempatku bekerja sedang membuka lowongan. Mereka baru memecat beberapa karyawannya, kamu tidak ingin melamar ke sana," Tiko membalikkan badannya.
"Aku hanya lulusan SMA, apa mereka mau menerimanya?" tanya Andra.
"Mungkin saja, karena mereka membutuhkan cleaning service, marketing, manager dan satpam," jawab Tiko.
"Aku mau melamar ke sana!" ucap Andra semangat.
-
Andra kini berdiri di depan gedung yang dikatakan Tiko. Sebelum memasuki tempat, ia berdoa. Berharap dirinya mendapatkan pekerjaan layak sehingga mampu membahagiakan ibunya dan memberikan pengobatan terbaik buat Dita.
Andra harus mengantri bersama beberapa pelamar kerja. Mereka berpakaian sangat rapi, sementara dirinya memakai kemeja yang kemarin malam sedikit basah.
Temannya Tiko tidak memiliki pakaian bagus untuk dipinjamkan kepadanya, beruntung kemeja yang sempat basah sedikit mengering jadi bisa dipakai lagi. Tiko juga tak mempunyai setrika.
Hampir 2 jam mengantri akhirnya Andra memasuki ruang wawancara, perutnya mulai terasa lapar. Tadi pagi ia hanya memakan roti yang dibeli Tiko.
Selama diwawancarai Andra menjawabnya secara jujur dan apa adanya. Ketika disebut mengenai nominal gaji yang akan diberikan kepadanya dengan ikhlas ia menerimanya.
"Kamu mulai bekerja hari Senin dan ini seragammu," pria berkacamata itu menyodorkannya.
"Terima kasih, Tuan!" Andra menerimanya dengan senyuman dan anggukan kecil.
Setelah dirinya diterima, Andra segera keluar dari ruangan itu. Diantara beberapa pelamar yang mengantri di belakangnya tak tampak batang hidungnya. Hanya tinggal 3 orang pria bertahan menunggu interview.
Dengan berjalan kaki, Andra kembali ke kos-kosan sahabatnya. Ia menelepon sang ibu kalau dirinya akan pulang nanti sore. Ia ingin menunggu Tiko untuk meminjam uang buat ongkos. Temannya itu mengatakan hari ini gajian dan sekaligus memberitahu jika ia diterima kerja.
-
Jam 5 lewat 30 menit, Tiko akhirnya pulang. Ia membawa 2 bungkus nasi dengan lauk ayam goreng dan 2 botol minuman teh. Ya, hari ini Tiko ingin mentraktir Andra. Begitu sampai, ia melihat Andra sudah memakai ransel di punggungnya. "Kamu mau pulang?"
"Iya, aku mau pulang."
"Apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan di sana?" tanya Tiko.
"Sudah. Mulai Senin aku sudah bekerja," jawab Andra.
"Wah, bagus dong!" ucap Tiko senang. "Berapa gajinya?" lanjutnya bertanya.
Andra menyebut nominal gaji yang akan diterimanya selama bekerja.
"Apa? Hanya segitu saja?" Tiko tampak terkejut dengan angka yang disebutkan Andra.
"Apa salah?" tanya Andra dengan polosnya.
...----------------...
Maaf, Hari Ini Hanya Satu Bab Saja ☺️
Selamat Membaca Dan Bahagia Selalu....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟเภє๓
gpp andra mau brp pun nominal gaji yg kamu Terima yg penting halal dan berkah 🤭
2024-05-23
1
Murni Zain
kecil enggak papa..mkn lama jd besar 😄
2024-02-05
1