Playboy In Marriage
Kaca mata hitam membingkai wajah tampan Bastian Eka Indrajaya, kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantong celananya dan pandangan mata di balik kaca mata menatap lurus, memperhatikan lalu-lalang orang-orang yang sedang bekerja.
Terdengar suara ponsel berdering, Bastian mengangkat sedikit tangannya dari kantong saku celana untuk melihat siapa yang menghubungi.
Mona.
Nama yang tertulis di layarnya. Bastian tidak berniat mengangkat panggilan itu dan membiarkannya. Setelah beberapa saat, dering ponselnya berhenti. Hanya selang dua menit, panggilan itu kembali terdengar tapi kali ini pria berusia 32 tahun itu tidak berniat untuk sekedar melihat siapa yang menghubunginya.
“Pastikan mereka menyelesaikan pekerjaan sebelum tenggat waktunya,” perintah Bastian pada pria di belakangnya yang tak lain adalah asistennya.
“Baik, Bos!”
Bastian melangkah untuk memeriksa bagian yang lainnya hingga dering ponsel yang tadi ia abaikan kembali terdengar, dia mendengkus kesal, melihat siapa lagi yang menghubunginya.
Izumi.
Bukannya mengangkat panggilan itu, ia malah berbalik menghadap pria di belakangnya. “Hoshi, persiapkan semuanya. Kita akan berangkat ke Palembang besok. Aku menginginkan semua lahannya.”
“Baik, Bos,” jawab Hoshi, tapi sebelum majikannya melangkah pergi dia kembali berkata, “Bos, bisakah mengangkat teleponnya?”
Bastian menaikkan sebelas alisnya mendengar permintaan asistennya itu. “Kau berani memerintahku?”
Hoshi mendesah lelah. “Bu-bukan seperti itu, Bos!” Dia mengangkat ponselnya dan menunjukkan layarnya pada Bastian.
Arisa Fukuyama.
Bastian meliriknya, ia menarik sudut bibir, dan menepuk bahu Hoshi. “Kau urus saja mereka. Mungkin kau membutuhkannya untuk berkencan.”
“Ck! Aku tidak berniat mengoleksi pacar sepertimu!”
Terdengar tawa pelan dari Bastian saat melangkah meninggalkan Hoshi, ia tidak peduli sama sekali dengan gerutuan asistennya. “Ayo, kita pergi,” ajak Bastian pada wanita yang sejak tadi berdiri beberapa meter darinya, menunggu Bastian. Ia merangkul pinggang wanita itu menuju mobilnya, lalu melambaikan tangan sebelum pergi, membuat Hoshi amat jengkel pada majikannya.
Lagi-lagi dia mengacaukan jadwal kerjanya hanya untuk wanita-wanita itu.
Hoshi menggerutu seraya mencoret jadwal kerja majikannya karena ia harus mengatur ulang jadwalnya.
Hanya berselang beberapa menit setelah kepergian Bastian, seorang wanita berambut pirang datang menghampiri Hoshi.
“Hoshi, di mana Bastian?” tanyanya dengan ekspresi menahan kesal, wajahnya terlihat merah seperti sudah terlalu lama terpapar sinar matahari.
“Bos baru saja pergi,” ucap Hoshi terlihat malas meladeni wanita di hadapannya.
“Kurang ajar! Aku sudah menunggunya sangat lama di depan perusahaan, padahal aku sudah mengirimkan pesan padanya akan datang ke kantor. Kau tahu kalau aku tidak bisa masuk jika Bastian tidak ada di sana,” geram wanita itu, membuat wajahnya semakin memerah.
Hoshi hanya diam karena dia tahu alasannya kenapa Bastian tidak datang.
“Dia tidak pernah menghargaiku sebagai kekasihnya. Kurang apa aku, sudah berkorban banyak hal untuknya dan selalu mengerti kesibukannya tapi sikapnya selalu saja seperti itu. Padahal, aku benar-benar mencintainya.” Wanita itu menundukkan kepala dan air mata menetes di pipinya.
Hoshi memutar matanya jengah, dia tahu kalau wanita ini hanya pura-pura. “Yakin kau mencintainya?” tanya Hoshi tiba-tiba.
Wanita yang tak lain adalah salah satu kekasih Bastian ini mengangkat wajahnya dengan tatapan bingung. “Apa maksudmu mengatakan itu? Tentu saja aku mencintainya.”
Hoshi tersenyum sinis. “Mencintainya atau mencintai uangnya?” Hoshi melangkah ke hadapan gadis itu hingga jarak mereka hanya dua meter. “Alice, kau pikir aku tidak tahu kalau kau hanya memanfaatkan bos supaya bisa pamer ke semua temanmu kalau kau mampu membeli barang-barang branded ini.” Hoshi menunjuk tas yang ditenteng oleh Alice. “Jadi Alice, jangan keluarkan air mata buayamu itu di depanku karena itu tidak berguna.”
Setelah mengatakannya, Hoshi melangkah pergi meninggalkan Alice, membuat wanita itu amat murka dibuatnya. “Hoshi, sial*n! Kurang ajar!”
Semua pekerja yang mendengar teriakan Alice menatapnya hingga gadis itu merasa malu dan pergi dari sana.
***
Sesuai jadwal, hari ini Bastian dan asistennya bertolak menuju Palembang untuk urusan pekerjaan. Merangkul seorang wanita di sampingnya, Bastian terlihat seperti laki-laki posesif di mata orang yang melihatnya.
Keluar dari bandara, Bastian berpisah dengan asistennya dan langsung menuju ke suatu tempat bersama dengan wanita yang menemaninya. Tempat pertama yang ia kunjungi adalah sebuah galeri seni milik temannya yang sedang melakukan pameran saat ini.
“Gue sudah sampai Palembang, nanti gue hubungi lagi kalau mau pergi ke rumah lo,” katanya, bicara pada seseorang melalui sambungan telepon. “Oke, Hoshi akan mengatur semuanya.”
Setelah itu Bastian menyelesaikan panggilannya dan kembali merangkul pinggang wanita di sebelahnya untuk meneruskan langkahnya menuju ke galeri seni.
Ia hendak memasukkan ponsel ke dalam saku celananya tapi tiba-tiba seorang wanita dari arah kanannya berlari dengan kencang dan menabraknya.
Bug!
Prak!
Ponselnya terpental cukup jauh dan orang yang menabraknya tersungkur di lantai.
“Awww!” ringis orang yang menabraknya saat merasakan sakit di tangannya.
“Hei, kau tidak punya mata, ya!” seru wanita yang berada dalam rangkulan Bastian. “Kampungan, lari-lari di tempat seperti ini.”
Wanita yang tadi menabrak Bastian buru-buru berdiri dan membungkukkan badannya 90 derajat. “Maaf, maafkan saya tidak sengaja. Tadi, tadi saya buru-buru.”
“Persetan kau buru-buru, lihatlah ponselnya pecah.” Wanita dalam rangkulan Bastian membentak dan menunjuk ponsel pria itu.
Orang yang menabrak Bastian melirik arah tunjuk wanita itu dan menyadari kalau ponsel itu memang pecah, sepertinya juga langsung mati.
“Maaf, Mbak, Mas, saya benar-benar tidak sengaja.” Suaranya terdengar bergetar. “Saya, saya akan tanggung jawab.”
“Tanggung jawab, heh? Dasar bodoh! Kau pikir mampu membelinya.”
Bastian yang sejak tadi hanya diam dan merangkul wanita di sampingnya, menatap datar orang yang baru saja menabraknya.
Sama sekali tidak memiliki ketertarikan untuk ikut memarahi. Selain harga, tidak ada yang penting di dalam ponselnya.
“Saya, saya akan menyicilnya.”
“Haha cicil? Dasar kampungan, makanya kalau miskin jangan berulah. Ambil aja rongsokan itu.”
Wanita itu menoleh pada Bastian, “Ayo, Bas.”
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Bastian melangkah meninggalkan wanita yang menabraknya, tapi gerakannya terhenti saat sebuah teriakan terdengar.
“Hei, kau, apa masalahmu? Aku jelas-jelas sudah meminta maaf dan akan bertanggungjawab tapi masih saja kau menghina seenaknya!” seru wanita itu dengan ekspresi kesal, berbeda dengan beberapa saat lalu tang terlihat menyesal dan juga merasa bersalah.
Bastian dan juga wanita di sampingnya menoleh dan melihat orang yang menabraknya berkecak pinggang dengan marah.
“Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun? Aku meminta maaf baik-baik dan akan bertanggung jawab. Tapi yang keluar dari mulutmu semuanya hanya sampah.”
Orang itu melangkah menghampiri Bastian, lalu mengeluarkan barang dalam tasnya. Ternyata buku catatan dan juga pena. Ia menulis sesuatu di sana dan menyerahkannya pada tangan Bastian.
“Itu nomor ponselku.” Dia kembali mengambil sesuatu dalam tasnya. “Uang ini memang tidak akan cukup mengganti ponsel itu, jadi kirim nomor rekeningnya. Aku akan mentransfer sisanya.”
Tanpa menunggu tanggapan Bastian, wanita itu berbalik dan pergi begitu saja.
Heh?
Bastian menaikkan sebelah alisnya melihat kertas berisi tulisan nomor telepon dan juga beberapa lembar uang yang disteples.
Ada sesuatu yang menggelitik rasa penasarannya setelah melihat tanggapan wanita itu. Awalnya, dia berpikir orang yang menabraknya adalah orang yang mudah ditindas dan Bastian tidak suka itu. Rupanya, Bastian salah.
Dia tahu caranya pergi dengan gaya.
“Kurang ajar! Songong sekali dia! Biar kuberi pelajaran!”
“Hentikan! Kenapa kau malah membuat keributan?”
“Aku tidak—dialah yang memulainya.”
“Kubilang cukup, kalau kau masih mau membuat keributan. Pergi dari sini,” usir Bastian acuh tak acuh seraya melangkah pergi meneruskan niatnya untuk masuk galeri seni.
Bastian tersenyum tanpa sadar saat membaca nama yang tertulis di secarik kertas itu.
Asyifa.
Ya, benar, kau harus bertanggungjawab. Makanya kita harus bertemu lagi. Bastian bergumam dengan penuh maksud. Ia memasukkan kertas itu ke dalam kantong celananya, tidak lagi memedulikan wanita yang di sampingnya yang merengek dan merangkul tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰🥰
2024-11-20
0
Wulan Bahrain
maaf bas di hati asyfa masih tertera nama pak gerald😀😀
2024-02-23
1
Uthie
Ohh.. ternyata awal mula si Bastian suka melihat Asyifa tuhhh mungkin ini yaaa 👍😁
2024-02-07
1