Bastian menghela napas lega begitu melihat mobil milik sahabatnya meninggalkan bandara bersama dengan Asyifa.
“Gila, ya, kenapa gue jadi setegang ini saat bertemu Abimanyu? Bukannya gue hanya perlu berpura-pura ketemu Asyifa di sini? Lagian dia juga tahu kalau gue lagi di Palembang untuk urusan bisnis.”
Ia mengusap wajahnya kasar dengan memaki dirinya sendiri karena kebodohannya yang cape-cape bersembunyi. Harusnya dia bisa nebeng di mobil Abimanyu dan masih bisa bersama dengan Asyifa saat ini.
“Gue memang masih manusia bisa bego juga.”
Bastian memasukkan kedua tangannya ke saku celana lalu berjalan menuju ke sisi barat, di mana seseorang yang menjemputnya menunggu. Ia masuk ke dalam mobil setelah orang yang menjemputnya membukakan pintu untuknya.
“Shotaro, antarkan aku ke apartemenku,” pinta Bastian pada pria muda yang kini duduk di belakang kemudi.
“Baik, Bos!” jawabnya cepat.
“Kau bukan karyawanku, jangan ikuti kakakmu memanggilku bos.”
Pria yang dipanggil Shotaro melirik ke arah Bastian setelah menyalakan mesin mobilnya. “Kalau aku bukan karyawanmu, kenapa kau selalu memintaku untuk menjadi supirmu kalau kakakku sedang sibuk?”
Bastian berdecak karena pemuda sembilan belas tahun itu menimpali ucapannya dengan cukup menyebalkan.
“Ck! Kau ini banyak sekali bertanya!” gerutu Bastian. Sejujurnya, ia bukan kesal karena Shotaro banyak bertanya tapi ia kesal pada dirinya sendiri yang malah bersembunyi saat melihat kedatangan Abimanyu. Dirinya hanya butuh pelampiasan.
“Kau, kan, yang mulai,” gumam Shotaro yang tentu saja akan terdengar oleh Bastian yang duduk di sebelahnya.
“Kau bilang apa, Taro?”
“Ti-tidak,” balasnya langsung memundurkan mobilnya saat melihat Bastian semakin kesal.
Melihat Shotaro yang mulai menjalankan mobilnya, Bastian segera menyandarkan tubuhnya dua kursi mobil. “Aku masih heran kenapa kau dan juga kakakmu menggunakan nama Jepang? Padahal orang tua kalian dari Betawi.”
Shotaro yang sedang fokus mengemudi tersenyum cerah. Dia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya, “Itu karena orang tua kami pecinta Anime,” jawab Shotaro terlihat bangga. “Syukurnya aku juga suka namaku karena aku juga suka hal-hal berbau Jepang.”
Bastian tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. “Terserah kau sajalah. Mengemudi yang benar. Bangunkan aku jika sudah sampai di apartemen.”
“Siap, Bos.”
Bastian menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk pria itu tertidur dan mulai terdengar dengkuran halus.
Bastian adalah pria yang gila kerja. Di balik sikap jenakanya, dia adalah orang yang selalu mengerjakan sesuatu harus sempurna hingga membuat dirinya harus bekerja ekstra.
***
Di rumah kakaknya, Asyifa terlihat baru saja masuk ke dalam kamar untuk beristirahat setelah dia menyapa kakak iparnya dan berbicara cukup lama. Waktu menunjukkan pukul lima sore, saat Asyifa selesai membersihkan diri.
Wanita berusia 22 tahun itu berjalan ke meja yang ada di samping tempat tidur dan mengambil ponsel yang sedang diisi dayanya di sana. Tidak ada satu pun pesan yang masuk membuatnya kembali meletakkan ponsel itu lalu merebahkan tubuhnya.
“Bukannya dia bilang akan menghubungi,” gumam Asyifa , detik berikutnya ia segera menggelengkan kepalanya saat menyadari sesuatu. “Kenapa aku malah mikirin si Pengganggu?”
Merasa lelah, Asyifa juga tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa terlelap. Ia sudah menghubungi Adelia, ia mengatakan baru akan berangkat besok pagi.
Dering ponsel perlahan membuat Asyifa terjaga, ia mengerutkan kening saat membuka matanya dan cahaya lampu langsung menerjang ke dalam korneanya. Keningnya berkerut dalam karena suara ponsel yang cukup mengganggu.
Asyifa segera meraih ponselnya dan mengangkat panggilannya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
“Halo?”
Sunyi, tidak ada sahutan dari ujung panggilan itu. “Halo?”
Merasa tak kunjung ada jawaban dari orang yang meneleponnya, Asyifa benar-benar membuka matanya dan melihat siapa yang menghubunginya.
Si Pengganggu!
Ternyata Bastian yang meneleponnya.
“Halo? Apa kau hanya akan diam saja? Aku akan menutup teleponnya.”
“Jangan!” seru Bastian terdengar dari ujung sana. “Aku diam hanya ingin mendengar suaramu,” katanya, membuat Asyifa hanya bisa berdecak, sudah mulai terbiasa dengan ucapan manis pria itu.
“Ada apa?” tanyanya sedikit ketus karena matanya masih terasa berat, mengantuk.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukanmu.”
“Berlebihan! Padahal, tadi siang kita sudah bertemu bahkan kita duduk bersebelahan di pesawat.”
Tawa Bastian terdengar setelah Asyifa mengatakan hal itu. “Mau bagaimana lagi? Aku merindukanmu bahkan saat kau berada di hadapanku, aku akan tetap merindukanmu,” ucap Bastian yang berhasil membuat Asyifa merona dan wajahnya memanas dengan gombalan pria itu.
“Kamu bukan orang yang bisa menahan diri, kalau pun benar yang diucapkan seperti itu. Kamu pasti sudah datang ke sini.”
Asyifa hanya asal mengatakan hal itu tapi bagi Bastian itu malah terdengar sedang menatang untuk dirinya datang ke rumah Abimanyu.
“Kamu tidak percaya?”
“Bagaimana aku bisa percaya? Saat kamu mengatakan hal itu pada semua wanita.”
“Apa kamu mulai cemburu, Sayang.”
“Ti-tidak!” balas Asyifa yang menjadi gugup, ia menyadari kesalahannya.
Lagi-lagi tawa Bastian terdengar membuat Asyifa merasa jengkel karena selalu kalah jika bicara dengan sahabat dari kakaknya ini.
“Tidak lucu!” gerutu Asyifa yang kesal karena merasa ditertawakan.
“Kamu lucu, Sayang!”
“Kamu benar-benar tidak mau berhenti untuk tidak memanggilku seperti itu, ya?”
“Bukannya aku tidak mau tapi tidak bisa. Hati, pikiran, dan mulutku sudah tersinkron seperti itu. jadi sulit untuk menyetel ulang pengaturannya.”
Asyifa segera menjauhkan ponselnya dari telinga saat sulit sekali menahan tawanya saat mendengar ucapan Bastian. Bagaimana bisa ia terpikirkan hal-hal seperti itu?
“Halo?” Suara Bastian kembali terdengar memanggilnya karena Asyifa tak kunjung menyahuti ucapannya.
“Ya?”
“Ah, kamu masih di sana rupanya? Kupikir kamu langsung datang ke sini karena merindukanku.”
“Dalam mimpimu!”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Apa?”
“Kalau aku selalu memimpikanmu!”
Grrrr!
Saat masih asyik bertukar suara dengan Bastian, terdengar ketukan dari arah pintu kamarnya.
“Dek, kamu sudah bangun? Makan malam dulu!”
“Iya, Kak,” balasnya dengan berteriak, supaya kakak iparnya bisa mendengar suaranya. Setelah yakin kalau istri kakaknya sudah meninggalkan depan kamarnya, Asyifa berkata pada Bastian, “Sudah dulu. Kakakku sudah memanggil untuk makan malam.”
“Baiklah, Sayang. Sampai bertemu di meja makan,” ucap Bastian, langsung mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu.
Hah?
Asyifa tertegun dengan kalimat terakhir yang dikatakan Bastian. Apa maksudnya? Tidak mau terlalu memikirkannya, Asyifa memilih untuk bergegas keluar kamar dan menuju ke ruang makan.
Namun, sebelum ia mencapai ruang makan. Ia tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang masuk dari pintu samping, orang beberapa menit yang lalu bertelepon dengannya.
“Hai,” sapanya dengan melambaikan tangan.
Asyifa tertegun selama beberapa saat. “Ba-bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya Asyifa masih tidak percaya dengan penglihatannya.
Orang yang tak lain adalah Bastian melangkah ke hadapan Asyifa dan mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, “Bukannya kamu bilang kalau aku merindukanmu, aku harus datang ke sini?”
Asyifa semakin tercengang dengan jawaban Bastian. Apakah pria itu sejak tadi berada di sana? Bahkan saat meneleponnya? Bastian sudah berada di rumah kakaknya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Pendak Wah
hhh Bastian seperti hantu
Datang tak diundang......
2024-05-10
1
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
walahh /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ penggemar jugaa
2024-03-16
0
Anonymous
cakeppp kamu bas...
2024-03-05
0