Calon Istri

Setelah mengetahui fakta baru mengenai Bastian, Asyifa menjadi terlihat murung. Padahal, dari awal ia sama sekali tidak pernah menganggap serius ucapan pria itu padanya. Apalagi saat tahu kalau Bastian dekat dengan banyak wanita.

Kok sakit, ya?

Kalimat itu terus bergema di kepalanya setelah hari itu. Akan tetapi, Asyifa memantapkan hati untuk tidak memedulikannya.

"Memang kenapa kalau dia pernah punya anak? Itu bukan urusanku!"

Dengan berbekal keyakinan itu, Asyifa mencoba untuk melupakan Bastian.

Meski begitu, sikapnya masih tidak berubah, murung. Bahkan saat Rendi, pria yang dikaguminya, mendekati secara terang-terangan. Asyifa tidak menunjukkan ketertarikannya.

Jadwal kerja yang sudah diatur awalnya hanya akan berlangsung sekitar beberapa minggu saja berada di Jakarta, harus berubah hingga lebih dari satu bulan karena para investor tetap menginginkan kehadiran Bastian sebagai pimpinan dari  perusahaan, sedangkan pria itu belum bisa kembali ke Indonesia sampai masalahnya di Australia selesai.

Kemurungan Asyifa itu tentu saja disadari orang terdekatnya. Salah satunya adalah Adelia, yang notabene setiap hari bekerja bersama dengannya.

"Fa, apa kamu sakit?" tanya Adelia seraya membereskan barang-barangnya karena hari ini dia harus kembali ke Palembang lebih dulu.

"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Asyifa seraya membantu temannya membereskan barang yang masih berantakan. "Ah, aku ingin pulang bareng kamu," katanya dengan ekspresi sedih.

"Kamu, kan, harus menghadiri pernikahan teman kakakmu terlebih dahulu," ucap Adelia, "aku juga mau hadir sebenarnya, siapa tahu dapat jodoh di sana."

Asyifa akhirnya mau tidak mau harus tertawa dengan ucapan temannya yang tidak pernah berubah. Karena menurutnya, semua orang yang dikenal Asyifa adalah pria-pria tampan.

"Kau ini berlebihan."

"Bagaimana aku berlebihan? Bahkan kakak iparmu cantik banget."

"Del, kamu tahu, ga? Aku tersinggung, loh."

"Emang kenapa?"

"Kamu bilang teman-temanku semuanya tampan dan cantik. Padahal, temanmu lebih cantik."

Adelia mengerutkan keningnya bingung. "Siapa yang kau maksud?"

Asyifa dengan cepat menunjuk dirinya sendiri. "Aku."

Mendengar hal itu, Adelia terdiam dengan tatapan datar.

"Garing, ya?" tanya Asyifa yang merasa malu dengan candaannya sendiri.

"Sial, apa yang kau katakan benar."

Kedua wanita itu saling menatap lalu tawa mereka pecah setelahnya.

Setelah mereka tertawa cukup puas, keduanya meneruskan kegiatan berkemas karena Adelia harus segera pergi. Sebentar lagi, Hoshi akan menjemputnya untuk sama-sama berangkat ke Palembang.

Benar saja, usai berkemas, seseorang menjemput Adelia. Bukan Hoshi, melainkan sopir kantor yang biasa antar jemput keduanya jika harus bekerja di kuar kantor.

Setelah temannya meninggalkan rumah kakaknya, Asyifa juga harus bersiap untuk pergi ke hotel di mana teman kakaknya akan mengadakan pesta pernikahan.

"Dek, kamu juga sudah berkemas?" tanya Abimanyu, kakak Asyifa saat melihat adiknya keluar dari kamar.

"Udah, Bang, soalnya besok aku harus pulang ke Palembang juga karena masih ada pekerja."

Abimanyu mengangguk. "Baiklah, abang yang antar kamu besok."

Asyifa setuju, karena kedua orang tuanya yang kini juga sudah berada di Jakarta akan menetap cukup lama sampai kakak iparnya melahirkan.

"Oke!"

Tidak menunggu lama, Asyifa dan keluarganya bergegas menuju ke hotel tempat acara dilangsungkan.

***

Kini Asyifa sudah terlihat cantik dengan gaun yang sudah disiapkan oleh pihak pengantin untuknya dan juga keluarganya yang lain.

Kemeriahan acara sudah terlihat dari luar aula karena pesta diadakan di sebuah hotel bintang lima.

Asyifa berdiri di depan pintu masuk aula untuk menunggu kakak iparnya, karena dokter mengatakan kalau kelahirannya tidak akan lama lagi. Itu sebabnya, ia diminta oleh abangnya untuk menemani wanita itu.

Saat sedang menunggu kakaknya turun dari kamar hotelnya, tanpa sadar Asyifa terus melihat ke semua arah seperti sedang mencari keberadaan seseorang.

Ini adalah pernikahan Gerald, teman kakaknya sekaligus teman Bastian juga.

Keterlaluan, kan, kalau di pernikahan sahabatnya dia juga tidak datang?

Entah kenapa, padahal Asyifa sudah memantapkan hati untuk mengabaikannya tapi dorongan untuk mencari keberadaan pria itu terus mengganggu pikirannya.

Saat masih mencari, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dan berbisik, “Mencariku, eh?”

Asyifa seketika berbalik saat dan tatapannya langsung beradu dengan pria yang sedang dicarinya, pria yang lebih dari satu bulan tidak dilihatnya, tidak juga mendapat kabarnya.

Perempuan itu bahkan tidak tahu di mana Bastian berada selama ini. Hoshi, sebagai asistennya pun tidak pernah memberi tahu di mana bosnya berada.

Asyifa bertemu pria itu terakhir kali di rumah kakaknya, setelah pembahasan Cintya yang sampai saat ini belum mendapat jawaban, sebenarnya siapa.

“Kau... .” Asyifa terkejut karena ternyata orang yang dicarinya benar-benar hadir dan kini berada di hadapannya.

“Yes, Sayang, ini aku,” ucap Bastian dengan mengedipkan sebelah matanya.

“Apa kau ini jelangkung?” sungut Asyifa terlihat kesal tiba-tiba.

“Bukan, Sayang, aku pacarmu.”

“Pacar palamu! Mana ada pacar yang menghilang berbulan-bulan?”

Bastian tertawa melihat Asyifa yang terlihat merajuk. “Apa kamu merindukanku?”

“Si-siapa yang merindukanmu?”

“Terlihat jelas di matamu, Sayang!”

Asyifa memalingkan wajahnya, dia membenci wajahnya yang mudah merona. Beruntungnya, saat ini wajahnya tertutup oleh make up.

Menghela napas panjang, Asyifa membalas ucapan Bastian.

“Kalau kita memang sudah jadian, itu berarti saat ini kita sudah putus. Kau menghilang seperti jelangkung.”

“Yoksi, kamu pasti merindukanku, kan?” Bastian malah terlihat girang mendengar hal itu. “Tidak masalah, aku sudah bilang kalau kita bertemu, kita jadian lagi.”

Bastian tersenyum lebar dengan keputusan seenaknya yang ia buat, membuat Asyifa semakin kesal.

Namun, sebelum dapat menimpali ucapan pria itu. Seseorang memukul kepalanya terlebih dahulu.

“Bas, lo mau mati, ya?”

Bastian terkejut karena tiba-tiba seseorang memukul kepalanya dia menoleh dan meringis setelah mengetahui kalau Abimanyu yang melakukannya.

“Eh, Bi... .” Bastian masih mengusap kepalanya yang sakit karena sahabatnya itu sungguh memukulnya dengan menggunakan tenaga.

“Apa?” tanya Abimanyu dengan melotot ke arah Bastian.

Infiera, istri Abimanyu menahan senyumnya dan segera berkata pada suaminya. “Mas, ayo masuk. Sebentar lagi acaranya dimulai. Kita juga di sini menghalangi jalan.” Dia menoleh ke belakang, melihat para petugas WO berjalan cepat untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik.

Abimanyu mengalihkan pandangannya dan berubah lebih hangat menatap istrinya.

“Baiklah, kamu duduk sama Syifa aja, ya. Mas harus bersiap.”

“Iya, Mas,” jawabnya lalu melirik adiknya yang diam saja sejak tadi karena dimodusin oleh Bastian. “Ayo, Dek,” ajaknya dengan menggandeng tangan gadis itu.

Kedua wanita itu masuk ke dalam aula. Melihat Asyifa yang masuk, Bastian juga mengikuti tapi langkahnya terhenti saat Abimanyu menarik kerah baju bagian belakang.

“Lo mau ke mana, Bas?” tanya Abimanyu pada sahabatnya.

“Itu... gue mau antar mereka hingga mejanya.”

Bastian menggaruk tengkuknya saat melihat wajah garang Abimanyu.

Menakutkan sekali.

“Itu tidak perlu, lo ikut gue.”

Abimanyu menyeret Bastian untuk berjalan menuju ke kelompok yang mengenakan jas yang sama dengan mereka—anggota keluarga dekat Gerald, sang pengantin.

Ck!

Bastian terdengar berdecak saat Abimanyu menyeretnya seperti karung beras. Padahal, dirinya sudah mempersiapkan penampilannya dengan maksimal untuk acara pernikahan Gerald dan juga... bidadari cantiknya.

Di sisi lain, Asyifa duduk di salah satu meja ya g diperuntukkan padanya dengan sangat kakak ipar.

“De, kenapa kamu diam aja?” Infiera bertanya.

Asyifa langsung menoleh pada kakak iparnya.  Wajahnya terlihat merona, meski tertutup make up tapi hal itu masih nampak jelas.

“I-iya, Kak?” tanya Asyifa dengan terbata.

Infiera mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan adiknya. “Kamu baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja,” katanya, kali ini nada bicaranya kembali ke semula. “Apa kakak lapar?” tanyanya Asyifa pada kakak iparnya untuk berbasa-basi. Dia tidak mau Infiera menyadari perubahan di wajahnya.

“Belum, tadi sempat makan dulu.”

Asyifa mengangguk dengan jawaban kakak iparnya.

“Berarti tinggal Kak Bas yang belum menikah di antara Abang sama Kak Ge.”

Asyifa tiba-tiba berkata, ada hal yang ingin diketahuinya tapi terlalu malu untuk menanyakannya.

“Iya, tapi kayanya tidak akan lama lagi karena kata Pak Ge, Bastian sudah menemukan calon istrinya.”

Air muka Asyifa berubah tapi tidak disadari oleh Infiera.

“Ooohhh,” jawabnya dengan sedikit anggukkan.

Suasana hati yang memang sudah buruk belakangan terakhir semakin buruk dengan perkataan kakak iparnya. Kalau Gerald yang mengatakannya, itu berarti memang benar.

Padahal, beberapa menit lalu Bastian masih bilang kalau mereka jadian setiap kali bertemu.

Dasar, playboy!

Terpopuler

Comments

Heny Janitasari

Heny Janitasari

❤️

2024-02-18

2

Amidah Anhar

Amidah Anhar

Up beruntun donk min🤭🤭🤭🤭

2024-02-18

2

lihat semua
Episodes
1 Sang Don Juan
2 Tidak Tahu Terima Kasih
3 Jadilah Pacarku
4 Pertemuan Kembali
5 Playboy Gila!
6 Merasa Dijebak
7 Menjadi Selingkuhan
8 Dia Berbeda
9 Penerjemah Seenaknya
10 Seribu Akal
11 Bersembunyi
12 Apa Kamu Cemburu?
13 Karma Instan
14 Munculnya Saingan
15 Merasa Terancam
16 Informasi Mengejutkan
17 Calon Istri
18 Merasa Nyaman
19 Tidak Bisa Membiarkan
20 Digrebek?
21 Nikahkan Saja!
22 Keputusan Menikah
23 Sebuah Pukulan
24 Hari Pernikahan
25 Pagi Pertama
26 Gara-gara Baju
27 Tempat Tinggal Baru
28 Mendapat Ancaman
29 Dia Istriku!
30 Seperti Sampul Buku
31 Memohon
32 Bastian Punya Anak?
33 Cerita yang Sesungguhnya
34 Mengetahui Kebenaran Cincin
35 Pernyataan Cinta?
36 Bertemu Saingan
37 Meminta Aset
38 Memilih Rumah
39 Kenapa Ada Telur di Keningku?
40 Sentuhan Pertama
41 Pelukan Menenangkan
42 Mendaftarkan Pernikahan
43 Pacar Bastian
44 Bersikap Ambigu
45 Cemburu
46 Menghapus Jejak
47 Sebuah Pesan
48 Berhadapan Kembali
49 Rencana Jahat
50 Amukan Bastian
51 Tidak Bisa Membenci
52 Pria Sukses
53 Hanya Wanita Rapuh
54 Menantuku!
55 Memberikan Ganjaran
56 Tamparan Balasan
57 Merindukanmu
58 Perasaan Gundah
59 Tidak Bisa Membiarkan
60 Tuduhan Menyakitkan
61 Aku Juga Berharga
62 Tawaran Menggiurkan
63 Mengetahui
64 Jangan Menanggungnya Sendiri
65 Untuk Pertama Kalinya
66 Kegilaan di Atas Sofa
67 Noda di Leher
68 Ayo Kita Bahagia
69 Tidak Asing
70 Membutuhkan Asupan Energi
71 Cinta Segi Berapa?
72 Posesif
73 Anak Manja!
74 Balas Dendam
75 Pulang Terlambat
76 Membuang Semuanya
77 Pertengkaran
78 Pukulan yang Pantas
79 Menyadari Kesalahan
80 Panik
81 Asyifa Pingsan
82 Diusir
83 Membawa Pergi
84 Bantuan Kakak Ipar
85 Tingkah Tidak Masuk Akal
86 Menyita
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Sang Don Juan
2
Tidak Tahu Terima Kasih
3
Jadilah Pacarku
4
Pertemuan Kembali
5
Playboy Gila!
6
Merasa Dijebak
7
Menjadi Selingkuhan
8
Dia Berbeda
9
Penerjemah Seenaknya
10
Seribu Akal
11
Bersembunyi
12
Apa Kamu Cemburu?
13
Karma Instan
14
Munculnya Saingan
15
Merasa Terancam
16
Informasi Mengejutkan
17
Calon Istri
18
Merasa Nyaman
19
Tidak Bisa Membiarkan
20
Digrebek?
21
Nikahkan Saja!
22
Keputusan Menikah
23
Sebuah Pukulan
24
Hari Pernikahan
25
Pagi Pertama
26
Gara-gara Baju
27
Tempat Tinggal Baru
28
Mendapat Ancaman
29
Dia Istriku!
30
Seperti Sampul Buku
31
Memohon
32
Bastian Punya Anak?
33
Cerita yang Sesungguhnya
34
Mengetahui Kebenaran Cincin
35
Pernyataan Cinta?
36
Bertemu Saingan
37
Meminta Aset
38
Memilih Rumah
39
Kenapa Ada Telur di Keningku?
40
Sentuhan Pertama
41
Pelukan Menenangkan
42
Mendaftarkan Pernikahan
43
Pacar Bastian
44
Bersikap Ambigu
45
Cemburu
46
Menghapus Jejak
47
Sebuah Pesan
48
Berhadapan Kembali
49
Rencana Jahat
50
Amukan Bastian
51
Tidak Bisa Membenci
52
Pria Sukses
53
Hanya Wanita Rapuh
54
Menantuku!
55
Memberikan Ganjaran
56
Tamparan Balasan
57
Merindukanmu
58
Perasaan Gundah
59
Tidak Bisa Membiarkan
60
Tuduhan Menyakitkan
61
Aku Juga Berharga
62
Tawaran Menggiurkan
63
Mengetahui
64
Jangan Menanggungnya Sendiri
65
Untuk Pertama Kalinya
66
Kegilaan di Atas Sofa
67
Noda di Leher
68
Ayo Kita Bahagia
69
Tidak Asing
70
Membutuhkan Asupan Energi
71
Cinta Segi Berapa?
72
Posesif
73
Anak Manja!
74
Balas Dendam
75
Pulang Terlambat
76
Membuang Semuanya
77
Pertengkaran
78
Pukulan yang Pantas
79
Menyadari Kesalahan
80
Panik
81
Asyifa Pingsan
82
Diusir
83
Membawa Pergi
84
Bantuan Kakak Ipar
85
Tingkah Tidak Masuk Akal
86
Menyita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!