“Kau!”
Asyifa tercengang saat melihat pria yang sedang dihindarinya kini berada di hadapannya.
Pria itu tersenyum dan berjalan menghampiri. Ia mundur tapi Bastian melangkah semakin dekat padanya.
“Awalnya kupikir, kau memang wanita yang bertanggung jawab,” sinis Bastian menggelengkan kepalanya. Dia merogoh kantong saku celananya, mengeluarkan sesuatu, dan melemparkannya ke hadapan Asyifa. “Memberikan nomor yang tidak aktif dan lari saat melihatku.”
Awalnya Bastian sama sekali tidak menyadari kalau wanita yang dibantu olehnya beberapa waktu yang lalu adalah wanita yang sama yang membuat ponselnya rusak. Akan tetapi, setelah memeriksa kamera yang terpasang di mobilnya untuk mencari ke mana wanita itu lari, dia baru menyadarinya.
Asyifa menunduk melihat secarik kertas yang baru saja dilemparkan oleh Bastian. Ia menggigit bibirnya saat menyadari kesalahannya. Ya, kesalahan karena dirinya tahu kemarin sengaja memberikan nomor palsu untuk lari dari tanggung jawab.
Bastian melipat kedua tangannya di dada dan berkata dengan suara pelan. “Kau juga punya cara berterima kasih yang luar biasa,” katanya. “Aku benar-benar tersanjung,” sindir Bastian pada Syifa yang malah lari setelah ia membantunya lepas dari para preman itu.
“Aku—“
“Sekarang, bayar ganti rugi ponselku yang rusak.” Bastian mengulurkan tangannya ke depan. “Tiga puluh juta,” katanya seraya berpikir. “Ponselnya memang hanya dua puluh juta, tapi karena kau berniat lari dari tanggung jawab, maka aku minta dua kali lipat. Ah, aku masih berbaik hati, kasih diskon lima puluh persen. Itu sebabnya, totalnya hanya tiga puluh juta.”
Asyifa melotot mendengar nominal yang Bastian sebutkan. Diskon katanya? Yang benar saja. Segitupun baginya masih sangat besar.
“Cepatlah, keluarkan uangnya. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk menunggumu!” seru Bastian berpura-pura jengkel dengan sikap Asyifa yang hanya diam saja sejak tadi. “Kalau kau tidak mau bertanggung jawab, maka aku akan melaporkanmu ke polisi.”
“Jangan!” seru Asyifa dengan cepat menyahut. Ia menautkan kedua tangannya di depan dada. “Aku mohon jangan lakukan itu. Aku, aku akan bertanggung jawab tapi aku minta waktu,” ucap Asyifa dengan suara rendah di ujung kalimatnya.
Sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, Asyifa tidak memiliki uang sebanyak itu. Tidak mungkin ia meminta pada kedua orang tuanya. Tidak mungkin juga meminta pada kakaknya.
Dirinya memang sudah mendapatkan penghasilan dari pekerjaan sampingan tapi itu tidak seberapa. Hanya cukup untuk kebutuhannya sendiri.
“Aku tidak mau, aku mau kau membayarnya tunai saat ini juga.” Bastian menggerakkan tangannya supaya Asyifa bergegas memberikan uang padanya senilai 30 juta.
“Aku tidak punya uang sebanyak itu.” Asyifa bergerak membuka tasnya dan mengambil dompet lalu mengeluarkan kartunya. “Aku hanya punya tiga setengah juta di dalam kartu ini, kau bisa mengambilnya. Sisanya, aku akan mencicilnya.”
Asyifa tertunduk seraya mengulurkan kartu di tangannya pada Bastian dengan perasaan berat. Bagaimanapun, itu adalah uang jajan dan uang ongkosnya selama sebulan yang diberikan oleh orang tuanya sebagian dan kakaknya sebagian.
Bastian melirik kartu yang terulur padanya.
“Sudah kubilang, aku tidak mau!” Tegas Bastian menolak kartu yang diberikan sekaligus rencana wanita itu untuk mencicilnya. “Kalau kau tidak bisa membayar uangnya, kau bisa bayar dengan cara lain,” ucap Bastian, sudut bibirnya menyeringai dengan tatapan penuh rencana.
Asyifa yang sedang menunduk segera mengangkat kepalanya. “Ba-bagaimana caranya.” Merasakan ada angin segar mendengar perkataan Bastian.
Uangku aman.
“Bagaimana kalau kau jadi pacarku saja!”
“Apa!” Asyifa tercengang dengan perkataan pria yang belum ia ketahui namanya. “Apa kau gila?”
“Tidak!” sahut Bastian enteng, mengabaikan ekspresi terkejut Asyifa. “Bagaimana? Lebih baik bayar sekarang uang atau aku melaporkanmu ke polisi? Atau... kau jadi pacarku?”
Asyifa merasakan lidahnya kelu dengan pilihan yang pria di hadapannya tawarkan. Tak ada satu pun yang bisa dipilihnya. Uang? Jelas dirinya tidak punya. Kantor polisi? Oh, tidak, dirinya bisa digantung oleh ayahnya. Pacar? Yang benar saja, ini pertemuan kedua mereka itu pun bukan dengan cara baik-baik. Bagaimana bisa pacaran.
“Baiklah, kalau kau tidak mau. Aku akan melaporkanmu ke polisi.”
Bastian bergerak mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Melihat hal itu, Asyifa segera melangkah dan menarik tangan Bastian. “Jangan!”
Bastian berhenti, ia menaikkan sebelah alisnya dan melirik tangan Asyifa yang mencengkeram tangannya. Membuat wanita itu tersadar dan segera melepaskannya.
“Ba-bagaimana mungkin kita pacaran? Kau saja sudah memiliki kekasih.”
Ya, kan? Ini bisa kujadikan senjata untuk menolaknya.
“Haha... memangnya kenapa? Aku bisa berlaku adil pada kalian. Tenang saja, aku akan memberikan empat hariku untukmu,” ucap Bastian enteng, membuat Asyifa semakin tercengang.
Playboy gila!
“Kau—“ Ucapannya terhenti karena Bastian lebih dulu mengulurkan ponsel ke hadapannya. “Tuliskan nomormu di sini dan setelahnya kita pacaran.”
“Kau pikir aku wanita apa? Gila juga harus ada batasnya, kan?”
“Kau? Kau adalah wanita yang berhutang 30 juta padaku dan malah melarikan diri.” Bastian tersenyum dan mengedipkan matanya membuat Syifa semakin geram dengan tingkah pria di hadapannya.
Ingin sekali Asyifa melemparkan tas selempangnya ke wajah pria ini tapi ia menahan diri atau situasinya akan semakin kacau.
“Cepatlah, aku bukan orang yang sabar menunggumu.”
Asyifa masih diam, enggan mengambil ponsel di hadapannya dan memberikan nomornya yang asli. Karena itu sama saja ia menyerahkan diri dengan sukarela pada playboy gila di hadapannya.
“Baiklah, kalau kau tidak mau. Aku akan segera melaporkanmu.”
Bastian menarik kembali tangannya dan mengetik sesuatu. Asyifa terkejut dan dengan cepat merebut ponsel pria itu.
“Aku akan melakukannya.” Asyifa segera menuliskan nomornya dengan cepat.
Bastian tersenyum penuh kemenangan seraya memperhatikan wanita yang sedang menuliskan nomornya.
Asyifa ingin melemparkan ponselnya ke wajah Bastian tapi hanya bisa menahan diri dan mengulurkannya kembali.
Tidak mau kecolongan seperti sebelumnya, Bastian memanggil nomor yang baru saja diberikan oleh Asyifa dan tidak lama kemudian sebuah nada dering terdengar. Bastian mematikan teleponnya dan tersenyum lebar. “Pintar,” katanya dengan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya. “Simpan namaku, Bastian. Mulai hari ini kita pacaran.”
Asyifa mencengkeram tali selempang tasnya, menahan geram. Mimpi apa dirinya bisa bertemu dengan playboy gila di hadapannya? Lebih gila lagi dirinya berpacaran dengannya.
Bastian? Cih, kau pantasnya dipanggil playboy gila!
Namun, Asyifa hanya mampu memaki Bastian di dalam hatinya. Pria itu mendekat dan tanpa peringatan mengusap kepalanya. “Oke, Sayang, hutangmu lunas dan mulai saat ini aku adalah pacarmu. Jadi, jangan coba-coba selingkuh dariku,” katanya mengacak rambut Syifa yang membuat wanita itu menatap jengkel dan menepis tangan Bastian.
Bastian berbalik dan melangkah menuju ke mobilnya lalu masuk. Pria itu membuka kaca jendela mobilnya dan melambaikan tangan pada Asyifa pada saat melajukan mobil meninggalkan wanita yang katanya sudah menjadi kekasihnya beberapa detik yang lalu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰🥰
2024-11-20
0
Khairul Azam
rada2 nih bastian🤔😂
2024-04-24
1
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
asistennya GG ngasih tempee 🤣
2024-03-16
0