Merasa Terancam

Ternyata, bukan hanya Adelia yang semangat mengawali hari pertamanya bekerja tapi juga Asyifa merasakan hal yang sama.

Bagaimana tidak, yang menjadi salah satu rekannya adalah seseorang yang dikaguminya beberapa bulan terakhir. Ia mengenal Rendi saat bergabung dengan komunitas Mahasiswa Charity, di mana Rendi juga terlibat aktif di dalamnya.

Asyifa semakin dekat dengan Rendi karena mereka memiliki banyak kesamaan dan hobi.

Namun, dua bulan belakangan ini keduanya memang jarang bertemu dikarenakan Rendi sibuk dengan bisnisnya dan Asyifa juga sibuk dengan tugas akhirnya. Seminggu yang lalu, keduanya sempat berkirim kabar, membuat janji untuk bertemu di acara tahunan yang biasa diadakan oleh komunitas mereka.

Siapa yang menyangka kalau mereka akan bertemu lebih cepat. Rendi bahkan menjadi atasannya saat ini.

“Saya juga menginginkan seluruh area ramah disabilitas.”

Rendi kini berdiri di depan, memberikan arahan dan juga menjelaskan tujuan proyek ini dibangun. “Jadi, selain fokus pada segi bisnisnya, kita juga harus memikirkan semua kalangan, salah satunya adalah disabilitas dan juga orang tua.”

Asyifa yang duduk di bagian tengah, di samping Hoshi, menatap Rendi dengan penuh kekaguman. Ini pertama kalinya ia melihat pria itu dalam mode bekerja tidak seperti biasanya saat kegiatan sosial bersama dengan komunitasnya.

“Sejauh ini, apakah ada yang ingin ditanyakan?” tanya Rendi ketika menyelesaikan presentasinya. Ia melirik semua orang ada di hadapannya tanpa terkecuali, lalu tatapannya jatuh pada Asyifa yang sedang menatapnya. Dia tersenyum pada gadis itu dan segera berpaling pada yang lain.

“Kalau tidak ada yang ditanyakan, kita akan istirahat untuk makan siang. Untuk rapatnya, kita akan lanjutkan besok.”

Semua orang meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karena rapat sudah berlangsung kurang lebih tiga jam. Satu persatu dari mereka meninggalkan ruang rapat. Rendi menutup laptopnya dan berjalan menghampiri Asyifa yang sedang membereskan barang-barangnya.

“Syifa, kamu mau makan siang bareng saya?” tanya Rendi dengan suara khasnya yang lembut dan senyum menawannya.

Baru saja Asyifa akan membuka mulutnya untuk menjawab ajakan Rendi, Hoshi yang duduk di sebelahnya terlebih dahulu menyela, “Saya sudah menyiapkan makan siang untuk mereka,” jelasnya. “Soalnya, setelah ini masih ada beberapa hal yang harus kami bahas.”

Asyifa segera menoleh pada pria yang ada di sampingnya dengan ekspresi bingung. Kenapa begitu mendadak? Padahal, sebelumnya Hoshi mengatakan kalau selesai rapat dirinya dan juga Adelia sudah bisa memulai proyek mereka dan itu bisa dikerjakan di rumah karena mereka memang belum terikat kontrak sepenuhnya.

Asyifa hanya akan hadir di perusahaan jika memang ada evaluasi. Tapi kenapa sekarang Hoshi mengatakan masih ada yang harus dibahas?

“Ah, begitu, ya,” ucap Rendi terlihat kecewa tapi itu hanya sesaat. “Baiklah, lain kali kita akan makan siang bersama.”

Asyifa memaksakan senyumnya karena dia juga menyesal karena harus menolak ajakan Rendi. “Baik, Kak—Pak Rendi.”

Rendi tertawa mendengar kebingungan Asyifa saat memanggilnya. “Haha ... kamu boleh memanggil saya seperti biasa. Lagi pula, saya di sini juga sebagai rekanan dan juga kamu belum jadi karyawan tetap.”   

Asyifa mengembangkan senyumnya dengan hal itu dan mengangguk. “Baiklah, Kak, nanti kalau ada waktu kita akan makan siang bersama.”

Rendi mengangguk, ia berpamitan untuk meninggalkan ruangan rapat itu.

Adelia yang sejak tadi duduk di antara staf Rendi menghampiri Asyifa. “Ah, curang, kenapa semua pria tampan adalah temanmu?” tanyanya dengan sedikit menggerutu.

Asyifa tertawa dengan perkataan Adelia. “Kau ini berlebihan sekali. Sebaiknya kita segera makan siang, aku sudah lapar.” Asyifa menoleh pada Hoshi yang sejak tadi sibuk dengan membereskan berkas di hadapannya. “Pak, maaf, kalau boleh tahu kita akan makan siang di mana?”

“Ah, itu... kalian bisa tunggu di ruangan sementara kalian, nanti akan ada yang mengantar makanannya.”

Asyifa dan juga Adelia mengangguk lalu pergi terlebih dahulu ke ruangan sementara selama mereka bekerja di Jakarta.

Setelah dua wanita itu meninggalkan ruang rapat, Hoshi bergegas menghubungi seseorang, ia menunggu hingga dering panggilan ketiga. “Taro, apakah kau sudah mengantarkan makan siang ke apartemen?” tanya Hoshi, yang ternyata menghubungi adiknya.

“Aku lagi di jalan untuk mengantarnya.”

Mendengar hal itu, Hoshi terlihat bernapas lega. “Bisakah kau datang ke perusahaan tempat kau mengantar bos waktu itu?”

“Kenapa aku harus ke sana? Aku harus membawa pesanan makanan untuk orang-orang dari Australia itu.”

Tentu saja Hoshi tahu siapa yang dimaksud adiknya—beberapa orang yang sengaja dibawa oleh Bastian dari Australia untuk terlibat menangani proyek kali ini. Mereka ditempatkan di sebuah apartemen yang tidak jauh dari perusahaan.

“Kau jangan banyak bertanya, bawa saja semua makanannya. Biarkan mereka menunggu.”

“Tapi—“

“Kau mau uang jajanmu aku stop?” ancam Hoshi pada adiknya.

“Tidak mau!”

“Ya sudah, bawalah semua makanan itu.”

“Baiklah.”

Setelahnya panggilan berakhir, Hoshi menyandarkan punggungnya di kursi dan menghela napas lega. “Bos, hanya itu yang bisa kulakukan untuk membuat Pak Rendi tidak berduaan dengan Asyifa, sisanya itu adalah urusanmu,” gumam Hoshi. Dia mengetikkan sesuatu di ponselnya yang entah apa, yang jelas pesan untuk Bastian yang kini sedang sangat sibuk di Australia.

Hoshi menggelengkan kepalanya. Andai saja tidak ada masalah dengan proyek yang ada Australia, mungkin saat ini dirinya tidak akan ikut repot-repot dalam urusan percintaan Bastian. Bosnya jauh lebih pintar menangani hal itu.

Hampir sepuluh menit menunggu, Asyifa akhirnya menerima kiriman makanan yang dipesan oleh Hoshi. Ia menikmatinya berdua dengan Adelia, temannya.

“Fa, bagaimana kamu bisa kenal Pak Rendi?” tanya Adelia di sela-sela makannya.

“Kak Rendi salah satu anggota komunitas Mahasiswa Charity. Dia juga menjadi donatur terbesar kami saat ini.”

“Hebat banget. Sudah ganteng, mapan, baik hati pula,” puji Adelia, sorot matanya menyiratkan kekaguman. “Ah, berasa makin jauh saja buat digapai.”

Asyifa hanya bisa tertawa untuk menanggapinya tapi dia setuju dengan yang dikatakan temannya itu. Di matanya, Rendi adalah laki-laki sempurna yang tidak bisa ditolak pesonanya. Selain tampan dan mapan, ia juga berhati malaikat. Tutur katanya yang lemah lembut, sudah membuat Asyifa terpesona sejak pertemuan pertama mereka beberapa bulan yang lalu.

Usai makan siang, Asyifa kembali menghampiri Hoshi di ruangannya, untuk menanyakan hal apa yang akan disampaikan asisten Bastian itu. Namun, jawabannya di luar dugaan.

“Kalian sudah selesai makan siang, ya?” tanyanya Hoshi yang dijawab dengan anggukan oleh Asyifa. “Kalau begitu, kalian sudah boleh pulang. Besok saja kita akan membahasnya.” Hoshi mengembangkan senyumnya begitu lebar seolah tidak terjadi apa-apa.

“Hah? Ma-maksudnya pulang?”

“Ya, kalian boleh pulang. Saya lupa, kalau semuanya sudah disampaikan dan juga semua bahannya sudah dikirim via email.”

Asyifa tercengang dengan jawabannya. Bagaimana Hoshi mengatakan itu dengan entengnya? Padahal, ia sudah menolak ajakan makan siang dari Rendi. Tahu begitu, kan mereka bisa menerima ajakannya.

“Kalian boleh pergi,” ucap Hoshi sekali lagi.

Asyifa langsung memasang wajah kecut tanpa bisa ditutupi, ia berbalik dan melangkah pergi dari sana. Ternyata, selain bosnya asistennya juga sangat menyebalkan!

Maaf, ya, Syifa, saya lebih takut digantung bos daripada melihat kamu marah.

 

Epilog

Bastian tengah sibuk mengurus masalah perusahaan. Kerugian yang sangat besar, tentu saja tidak dapat dihindari. Wajahnya bahkan sudah terlihat sangat kusut karena kurang tidur selama dua hari.

Namun, bukannya mendapatkan kabar baik, Bastian justru menerima pesan dari asistennya.

“Bos, ternyata Asyifa mengenal Pak Rendi.”

“Bagaimana bisa?”

“Aku juga tidak tahu. Sepertinya mereka cukup dekat.”

Hoshi bahkan mengirimkan beberapa foto yang menunjukkan kedekatan Rendi dan juga Asyifa. Bastian seketika merasa kesal dengan hal itu, ia ingin sekali langsung terbang ke Jakarta tapi itu tidak mungkin. Masalahnya masih banyak yang harus diselesaikan.

“Jangan buat mereka berduaan. Kalau sampai terjadi, kau yang aku gantung. Paham?”

“Paham, Bos,” jawab Hoshi dengan emot menghela napas yang berderet panjang.

.

.

.

***

Update masih siangan hehe. Ada yang mau nambah? Kalau mau, like dan komen dulu. Jangan lupa juga vote-nya. Kalian juga bisa kirim hadian dari poin baca yang didapatkan.

Terima kasih.

Terpopuler

Comments

Ayu Toini

Ayu Toini

teringat perkataan pak Bastian astga kenapa nama kalian jepang banget padahal orgtua kalian berasal dari Betawi astga kocak tpi unik bikin buyar deh pas baca bagian ini lupa kalo lgi baca cerita novel percintaan bukan anime 😂

2024-05-05

1

Bungamatahari

Bungamatahari

hiih kalo aku jadi Bastian udh langsung ngambil hatinya Abimanyu ya mungkin awalnya akan babak belur tapi demi ketenangan hati ya harus dilakukan

2024-04-07

1

BCuan

BCuan

asal jangan kayak Abi (IDG) yang langsung jotos Rendy kalau nanti dekat sama Shifa wkwkwk

2024-02-18

0

lihat semua
Episodes
1 Sang Don Juan
2 Tidak Tahu Terima Kasih
3 Jadilah Pacarku
4 Pertemuan Kembali
5 Playboy Gila!
6 Merasa Dijebak
7 Menjadi Selingkuhan
8 Dia Berbeda
9 Penerjemah Seenaknya
10 Seribu Akal
11 Bersembunyi
12 Apa Kamu Cemburu?
13 Karma Instan
14 Munculnya Saingan
15 Merasa Terancam
16 Informasi Mengejutkan
17 Calon Istri
18 Merasa Nyaman
19 Tidak Bisa Membiarkan
20 Digrebek?
21 Nikahkan Saja!
22 Keputusan Menikah
23 Sebuah Pukulan
24 Hari Pernikahan
25 Pagi Pertama
26 Gara-gara Baju
27 Tempat Tinggal Baru
28 Mendapat Ancaman
29 Dia Istriku!
30 Seperti Sampul Buku
31 Memohon
32 Bastian Punya Anak?
33 Cerita yang Sesungguhnya
34 Mengetahui Kebenaran Cincin
35 Pernyataan Cinta?
36 Bertemu Saingan
37 Meminta Aset
38 Memilih Rumah
39 Kenapa Ada Telur di Keningku?
40 Sentuhan Pertama
41 Pelukan Menenangkan
42 Mendaftarkan Pernikahan
43 Pacar Bastian
44 Bersikap Ambigu
45 Cemburu
46 Menghapus Jejak
47 Sebuah Pesan
48 Berhadapan Kembali
49 Rencana Jahat
50 Amukan Bastian
51 Tidak Bisa Membenci
52 Pria Sukses
53 Hanya Wanita Rapuh
54 Menantuku!
55 Memberikan Ganjaran
56 Tamparan Balasan
57 Merindukanmu
58 Perasaan Gundah
59 Tidak Bisa Membiarkan
60 Tuduhan Menyakitkan
61 Aku Juga Berharga
62 Tawaran Menggiurkan
63 Mengetahui
64 Jangan Menanggungnya Sendiri
65 Untuk Pertama Kalinya
66 Kegilaan di Atas Sofa
67 Noda di Leher
68 Ayo Kita Bahagia
69 Tidak Asing
70 Membutuhkan Asupan Energi
71 Cinta Segi Berapa?
72 Posesif
73 Anak Manja!
74 Balas Dendam
75 Pulang Terlambat
76 Membuang Semuanya
77 Pertengkaran
78 Pukulan yang Pantas
79 Menyadari Kesalahan
80 Panik
81 Asyifa Pingsan
82 Diusir
83 Membawa Pergi
84 Bantuan Kakak Ipar
85 Tingkah Tidak Masuk Akal
86 Menyita
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Sang Don Juan
2
Tidak Tahu Terima Kasih
3
Jadilah Pacarku
4
Pertemuan Kembali
5
Playboy Gila!
6
Merasa Dijebak
7
Menjadi Selingkuhan
8
Dia Berbeda
9
Penerjemah Seenaknya
10
Seribu Akal
11
Bersembunyi
12
Apa Kamu Cemburu?
13
Karma Instan
14
Munculnya Saingan
15
Merasa Terancam
16
Informasi Mengejutkan
17
Calon Istri
18
Merasa Nyaman
19
Tidak Bisa Membiarkan
20
Digrebek?
21
Nikahkan Saja!
22
Keputusan Menikah
23
Sebuah Pukulan
24
Hari Pernikahan
25
Pagi Pertama
26
Gara-gara Baju
27
Tempat Tinggal Baru
28
Mendapat Ancaman
29
Dia Istriku!
30
Seperti Sampul Buku
31
Memohon
32
Bastian Punya Anak?
33
Cerita yang Sesungguhnya
34
Mengetahui Kebenaran Cincin
35
Pernyataan Cinta?
36
Bertemu Saingan
37
Meminta Aset
38
Memilih Rumah
39
Kenapa Ada Telur di Keningku?
40
Sentuhan Pertama
41
Pelukan Menenangkan
42
Mendaftarkan Pernikahan
43
Pacar Bastian
44
Bersikap Ambigu
45
Cemburu
46
Menghapus Jejak
47
Sebuah Pesan
48
Berhadapan Kembali
49
Rencana Jahat
50
Amukan Bastian
51
Tidak Bisa Membenci
52
Pria Sukses
53
Hanya Wanita Rapuh
54
Menantuku!
55
Memberikan Ganjaran
56
Tamparan Balasan
57
Merindukanmu
58
Perasaan Gundah
59
Tidak Bisa Membiarkan
60
Tuduhan Menyakitkan
61
Aku Juga Berharga
62
Tawaran Menggiurkan
63
Mengetahui
64
Jangan Menanggungnya Sendiri
65
Untuk Pertama Kalinya
66
Kegilaan di Atas Sofa
67
Noda di Leher
68
Ayo Kita Bahagia
69
Tidak Asing
70
Membutuhkan Asupan Energi
71
Cinta Segi Berapa?
72
Posesif
73
Anak Manja!
74
Balas Dendam
75
Pulang Terlambat
76
Membuang Semuanya
77
Pertengkaran
78
Pukulan yang Pantas
79
Menyadari Kesalahan
80
Panik
81
Asyifa Pingsan
82
Diusir
83
Membawa Pergi
84
Bantuan Kakak Ipar
85
Tingkah Tidak Masuk Akal
86
Menyita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!