Kaca mata hitam membingkai wajah tampan Bastian Eka Indrajaya, kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantong celananya dan pandangan mata di balik kaca mata menatap lurus, memperhatikan lalu-lalang orang-orang yang sedang bekerja.
Terdengar suara ponsel berdering, Bastian mengangkat sedikit tangannya dari kantong saku celana untuk melihat siapa yang menghubungi.
Mona.
Nama yang tertulis di layarnya. Bastian tidak berniat mengangkat panggilan itu dan membiarkannya. Setelah beberapa saat, dering ponselnya berhenti. Hanya selang dua menit, panggilan itu kembali terdengar tapi kali ini pria berusia 32 tahun itu tidak berniat untuk sekedar melihat siapa yang menghubunginya.
“Pastikan mereka menyelesaikan pekerjaan sebelum tenggat waktunya,” perintah Bastian pada pria di belakangnya yang tak lain adalah asistennya.
“Baik, Bos!”
Bastian melangkah untuk memeriksa bagian yang lainnya hingga dering ponsel yang tadi ia abaikan kembali terdengar, dia mendengkus kesal, melihat siapa lagi yang menghubunginya.
Izumi.
Bukannya mengangkat panggilan itu, ia malah berbalik menghadap pria di belakangnya. “Hoshi, persiapkan semuanya. Kita akan berangkat ke Palembang besok. Aku menginginkan semua lahannya.”
“Baik, Bos,” jawab Hoshi, tapi sebelum majikannya melangkah pergi dia kembali berkata, “Bos, bisakah mengangkat teleponnya?”
Bastian menaikkan sebelas alisnya mendengar permintaan asistennya itu. “Kau berani memerintahku?”
Hoshi mendesah lelah. “Bu-bukan seperti itu, Bos!” Dia mengangkat ponselnya dan menunjukkan layarnya pada Bastian.
Arisa Fukuyama.
Bastian meliriknya, ia menarik sudut bibir, dan menepuk bahu Hoshi. “Kau urus saja mereka. Mungkin kau membutuhkannya untuk berkencan.”
“Ck! Aku tidak berniat mengoleksi pacar sepertimu!”
Terdengar tawa pelan dari Bastian saat melangkah meninggalkan Hoshi, ia tidak peduli sama sekali dengan gerutuan asistennya. “Ayo, kita pergi,” ajak Bastian pada wanita yang sejak tadi berdiri beberapa meter darinya, menunggu Bastian. Ia merangkul pinggang wanita itu menuju mobilnya, lalu melambaikan tangan sebelum pergi, membuat Hoshi amat jengkel pada majikannya.
Lagi-lagi dia mengacaukan jadwal kerjanya hanya untuk wanita-wanita itu.
Hoshi menggerutu seraya mencoret jadwal kerja majikannya karena ia harus mengatur ulang jadwalnya.
Hanya berselang beberapa menit setelah kepergian Bastian, seorang wanita berambut pirang datang menghampiri Hoshi.
“Hoshi, di mana Bastian?” tanyanya dengan ekspresi menahan kesal, wajahnya terlihat merah seperti sudah terlalu lama terpapar sinar matahari.
“Bos baru saja pergi,” ucap Hoshi terlihat malas meladeni wanita di hadapannya.
“Kurang ajar! Aku sudah menunggunya sangat lama di depan perusahaan, padahal aku sudah mengirimkan pesan padanya akan datang ke kantor. Kau tahu kalau aku tidak bisa masuk jika Bastian tidak ada di sana,” geram wanita itu, membuat wajahnya semakin memerah.
Hoshi hanya diam karena dia tahu alasannya kenapa Bastian tidak datang.
“Dia tidak pernah menghargaiku sebagai kekasihnya. Kurang apa aku, sudah berkorban banyak hal untuknya dan selalu mengerti kesibukannya tapi sikapnya selalu saja seperti itu. Padahal, aku benar-benar mencintainya.” Wanita itu menundukkan kepala dan air mata menetes di pipinya.
Hoshi memutar matanya jengah, dia tahu kalau wanita ini hanya pura-pura. “Yakin kau mencintainya?” tanya Hoshi tiba-tiba.
Wanita yang tak lain adalah salah satu kekasih Bastian ini mengangkat wajahnya dengan tatapan bingung. “Apa maksudmu mengatakan itu? Tentu saja aku mencintainya.”
Hoshi tersenyum sinis. “Mencintainya atau mencintai uangnya?” Hoshi melangkah ke hadapan gadis itu hingga jarak mereka hanya dua meter. “Alice, kau pikir aku tidak tahu kalau kau hanya memanfaatkan bos supaya bisa pamer ke semua temanmu kalau kau mampu membeli barang-barang branded ini.” Hoshi menunjuk tas yang ditenteng oleh Alice. “Jadi Alice, jangan keluarkan air mata buayamu itu di depanku karena itu tidak berguna.”
Setelah mengatakannya, Hoshi melangkah pergi meninggalkan Alice, membuat wanita itu amat murka dibuatnya. “Hoshi, sial*n! Kurang ajar!”
Semua pekerja yang mendengar teriakan Alice menatapnya hingga gadis itu merasa malu dan pergi dari sana.
***
Sesuai jadwal, hari ini Bastian dan asistennya bertolak menuju Palembang untuk urusan pekerjaan. Merangkul seorang wanita di sampingnya, Bastian terlihat seperti laki-laki posesif di mata orang yang melihatnya.
Keluar dari bandara, Bastian berpisah dengan asistennya dan langsung menuju ke suatu tempat bersama dengan wanita yang menemaninya. Tempat pertama yang ia kunjungi adalah sebuah galeri seni milik temannya yang sedang melakukan pameran saat ini.
“Gue sudah sampai Palembang, nanti gue hubungi lagi kalau mau pergi ke rumah lo,” katanya, bicara pada seseorang melalui sambungan telepon. “Oke, Hoshi akan mengatur semuanya.”
Setelah itu Bastian menyelesaikan panggilannya dan kembali merangkul pinggang wanita di sebelahnya untuk meneruskan langkahnya menuju ke galeri seni.
Ia hendak memasukkan ponsel ke dalam saku celananya tapi tiba-tiba seorang wanita dari arah kanannya berlari dengan kencang dan menabraknya.
Bug!
Prak!
Ponselnya terpental cukup jauh dan orang yang menabraknya tersungkur di lantai.
“Awww!” ringis orang yang menabraknya saat merasakan sakit di tangannya.
“Hei, kau tidak punya mata, ya!” seru wanita yang berada dalam rangkulan Bastian. “Kampungan, lari-lari di tempat seperti ini.”
Wanita yang tadi menabrak Bastian buru-buru berdiri dan membungkukkan badannya 90 derajat. “Maaf, maafkan saya tidak sengaja. Tadi, tadi saya buru-buru.”
“Persetan kau buru-buru, lihatlah ponselnya pecah.” Wanita dalam rangkulan Bastian membentak dan menunjuk ponsel pria itu.
Orang yang menabrak Bastian melirik arah tunjuk wanita itu dan menyadari kalau ponsel itu memang pecah, sepertinya juga langsung mati.
“Maaf, Mbak, Mas, saya benar-benar tidak sengaja.” Suaranya terdengar bergetar. “Saya, saya akan tanggung jawab.”
“Tanggung jawab, heh? Dasar bodoh! Kau pikir mampu membelinya.”
Bastian yang sejak tadi hanya diam dan merangkul wanita di sampingnya, menatap datar orang yang baru saja menabraknya.
Sama sekali tidak memiliki ketertarikan untuk ikut memarahi. Selain harga, tidak ada yang penting di dalam ponselnya.
“Saya, saya akan menyicilnya.”
“Haha cicil? Dasar kampungan, makanya kalau miskin jangan berulah. Ambil aja rongsokan itu.”
Wanita itu menoleh pada Bastian, “Ayo, Bas.”
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Bastian melangkah meninggalkan wanita yang menabraknya, tapi gerakannya terhenti saat sebuah teriakan terdengar.
“Hei, kau, apa masalahmu? Aku jelas-jelas sudah meminta maaf dan akan bertanggungjawab tapi masih saja kau menghina seenaknya!” seru wanita itu dengan ekspresi kesal, berbeda dengan beberapa saat lalu tang terlihat menyesal dan juga merasa bersalah.
Bastian dan juga wanita di sampingnya menoleh dan melihat orang yang menabraknya berkecak pinggang dengan marah.
“Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun? Aku meminta maaf baik-baik dan akan bertanggung jawab. Tapi yang keluar dari mulutmu semuanya hanya sampah.”
Orang itu melangkah menghampiri Bastian, lalu mengeluarkan barang dalam tasnya. Ternyata buku catatan dan juga pena. Ia menulis sesuatu di sana dan menyerahkannya pada tangan Bastian.
“Itu nomor ponselku.” Dia kembali mengambil sesuatu dalam tasnya. “Uang ini memang tidak akan cukup mengganti ponsel itu, jadi kirim nomor rekeningnya. Aku akan mentransfer sisanya.”
Tanpa menunggu tanggapan Bastian, wanita itu berbalik dan pergi begitu saja.
Heh?
Bastian menaikkan sebelah alisnya melihat kertas berisi tulisan nomor telepon dan juga beberapa lembar uang yang disteples.
Ada sesuatu yang menggelitik rasa penasarannya setelah melihat tanggapan wanita itu. Awalnya, dia berpikir orang yang menabraknya adalah orang yang mudah ditindas dan Bastian tidak suka itu. Rupanya, Bastian salah.
Dia tahu caranya pergi dengan gaya.
“Kurang ajar! Songong sekali dia! Biar kuberi pelajaran!”
“Hentikan! Kenapa kau malah membuat keributan?”
“Aku tidak—dialah yang memulainya.”
“Kubilang cukup, kalau kau masih mau membuat keributan. Pergi dari sini,” usir Bastian acuh tak acuh seraya melangkah pergi meneruskan niatnya untuk masuk galeri seni.
Bastian tersenyum tanpa sadar saat membaca nama yang tertulis di secarik kertas itu.
Asyifa.
Ya, benar, kau harus bertanggungjawab. Makanya kita harus bertemu lagi. Bastian bergumam dengan penuh maksud. Ia memasukkan kertas itu ke dalam kantong celananya, tidak lagi memedulikan wanita yang di sampingnya yang merengek dan merangkul tangannya.
Sesuai tujuan kedatangannya ke Palembang, Bastian hari ini langsung bertolak ke lahan yang akan dijadikan proyek barunya. Berdiri seraya berkacak pinggang, ia memperhatikan keseluruhan lahan yang masih ditutupi oleh ilalang.
Sebagai seorang pebisnis, Bastian sudah memiliki banyak rencana di kepalanya akan dijadikan apa lahan tersebut nantinya.
“Bos, yang ditandai ini semuanya sudah deal. Semua berkasnya sedang diurus oleh tim legal.”
Bastian mengangguk puas dengan laporan asistennya ini. Hoshi melanjutkan laporannya mengenai lahan yang belum bisa mereka dapatkan karena terkendala pemiliknya yang terus menaikkan harga.
Namun, di sela-sela pembicaraan keduanya tiba-tiba terdengar keributan tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
Bastian dan juga Hoshi serempak menoleh ke arah samping kanan mereka, di mana keributan itu terdengar.
“Hei, Pak, kenapa aku tidak boleh melukis di sini? Bukankah ini hanya lahan kosong?”
“Tidak boleh, Mbak, area ini selalu dilalui oleh alat berat yang mengangkut material bahan untuk proyek di depan sana.”
“Pak, apa Anda tidak melihat kalau aku berdiri di luar area proyek. Bagaimana bisa disebut berbahaya.” Gadis yang sedang ditegur oleh pekerja proyek yang tidak jauh dari Bastian berdiri masih keras kepala mempertahankan diri.
Awalnya, Bastian sama sekali tidak ingin memedulikan keributan itu sampai akhirnya tiga orang pria dengan pakaian kumal dan tato hampir di seluruh bagian tangannya datang menghampiri keduanya.
Mereka bertiga berdiri mengelilingi wanita itu hingga ia ketakutan.
“Hei, kalian mau apa?” Gadis yang tadi terlihat galak saat menghadapi pria yang mengusirnya kini terlihat ketakutan karena pria-pria yang baru datang terlihat seperti preman.
“Kau tadi menolak untuk pergi, kalau begitu bagaimana kalau kami temani.”
Gadis itu terlihat semakin ketakutan dan tubuhnya terlihat gemetar.
“Ti-tidak! Aku akan pergi sekarang dan tidak akan lagi mengganggu.”
“Kenapa pergi? Bukannya kau masih mau melukis?”
Salah satu dari preman itu terlihat berjalan mendekati gadis itu yang semakin ketakutan.
“Ka-kau mau apa? Jangan mendekat!”
“Haha ... Mbak, jangan takut, kami tidak jahat kok. Kami hanya gigit sedikit.”
Gadis muda berusia sekitar 20 tahunan itu mundur beberapa langkah untuk melarikan diri tapi kakinya terasa lemas dia ingin berteriak sekencang mungkin saat ini. Akan tetapi, sebelum niatnya terlaksana seseorang sudah berteriak dengan keras.
“Bagaimana mungkin empat orang pria mengganggu seorang perempuan? Apa kalian ayam sayur?”
Keempat orang yang berdiri mengelilingi wanita itu segera menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria yang memiliki tinggi sekitar 180 cm berdiri beberapa meter dari mereka.
“Hei, kau, berani sekali mengatakan itu? Kau cari mati, ya?”
“Kenapa tidak berani? Aku bukan ayam sayur seperti kalian yang beraninya keroyokan pada wanita.” Bastian tersenyum sinis mengejek mereka semua.
Melihat ada seseorang yang membelanya, gadis yang tadi sempat terpojok berlari ke arah Bastian untuk mendapatkan perlindungan. Dia sangat ketakutan saat ini.
“Kurang ajar! Kemari kau jika berani melawanku!” Salah seorang dari keempat pria itu berseru menantang Bastian. Namun, sebelum itu terjadi seorang pria berbadan besar dan hampir seluruh tubuhnya dipenuhi tato mendekat, wajahnya terlihat garang.
“Ada apa ini? Beraninya ribut-ribut di tempatku!”
Bastian masih terlihat tenang, menatap keempat pria yang tadi mengganggu seorang wanita. Sedangkan yang lainnya terlihat terkejut.
“Bang Jek? I-itu, kami hanya—“
“Hanya apa? Kau mau mengganggu bosku?”
“Bos?”
Yang dipanggil Bang Jek itu mengangguk. “Dia adalah pemilik lahan yang ada di sana.” Ia menoleh dan menunjuk lahan yang masih kosong milik Bastian.
Keempat orang itu semakin terkejut, dia tidak berani pada Bang Jek karena dia adalah pemegang wilayah itu.
“Maaf, Bang, kami tidak tahu.”
“Sekarang, kalian sudah tahu. Pergilah!”
“Baik, Bang.”
Keempatnya langsung pergi dan Bastian tersenyum sinis melihat mereka yang tunggang-langgang ketakutan.
Pria berwajah garang itu menghadap pada Bastian dan berkata, “Bos, maafkan mereka yang sudah mengganggu kenyamananmu di sini. Saya akan pastikan kalau mereka tidak membuat ulah lagi di sini.”
“Baiklah, tidak masalah. Terima kasih karena sudah membantu.”
“Jangan sungkan, kalau memerlukan bantuan tinggal panggil saya saja.”
Bastian mengangguk dan membiarkan pria bernama Bang Jek itu pergi lagi. Dia berbalik untuk memastikan keadaan gadis yang tadi diganggu oleh para preman itu.
Namun, Bastian terkejut karena ternyata gadis itu sudah tidak ada dan hanya Hoshi di belakangnya. “Heh? Di mana wanita itu?”
“Dia sudah pergi sejak tadi,” ucap Hoshi.
“Ck, tidak tahu terima kasih. Padahal, aku sudah membantunya mengusir mereka.”
Terdengar Hoshi mendengkus atas ucapan bosnya. “Kalau bos lupa, yang mengusir para preman itu adalah Bang Jek. Kalau tidak ada dia, bukan hanya jadi ayam sayur tapi mungkin bos sudah jadi opor ayam.” Hoshi menyindir ucapan Bastian sebelumnya.
Bagaimana mungkin Bastian akan berani melawan empat preman jika tidak ada seseorang yang bisa dijadikan tameng?
“Kurang ajar kau ini.”
Hoshi tidak memedulikan kekesalan Bastian, dia berbicara lagi.
“Ayo, Bos, tidak perlu dicari wanita itu. Anda sudah punya selusin wanita.”
“Hei, kau pikir aku kolektor wanita?”
“Bukan, tapi Anda penampungan akhir,” ucap Hoshi dengan wajah datarnya dan pergi meninggalkan bos yang tercengang dan kehilangan kata-kata.
“Wah, benar-benar minta dipecat dia,” sungut Bastian kesal. Matanya masih melirik ke sana kemari, mencari keberadaan wanita yang tadi dibantunya. “Wanita itu benar-benar pergi? Ck! Sungguh tidak tahu terima kasih.”
Namun, senyum tipis terbit di wajah tampannya karena dia menyadari sesuatu.
I got you! Sudah kubilang kita akan bertemu lagi.
Bastian akhirnya melangkah mengikuti asistennya yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan lahan kosong yang akan dijadikan lahan proyek.
Di tempat yang berbeda, wanita yang tadi melarikan diri yang tak lain adalah Asyifa terengah setelah berlari cukup jauh. Dia sungguh ketakutan karena preman-preman itu.
“Gila, bagaimana mungkin aku berhadapan dengan mereka.” Asyifa menyeka keringat yang membasahi keningnya. “Sial, kenapa juga harus bertemu pria brengsek itu.”
Awalnya Asyifa tidak menyadari siapa pria yang menolongnya sampai dia bisa bebas menghindari preman-preman dan berdiri di belakang pria itu.
“Bagaimana kalau dia menagih sisa uang ponselnya.” Asyifa meringis karena menyadari kesalahannya yang sok mau bertanggung jawab, padahal dirinya tak memiliki uang sebanyak itu. “Semoga saja dia tidak langsung menagihnya.”
Menghela napas panjang dan mengembuskannya. Asyifa melanjutkan langkahnya setelah merasa lebih tenang.
Namun, tiba-tiba sebuah klakson panjang terdengar, membuatnya terlonjak kaget.
Asyifa memegangi dadanya yang berdebar keras. Ia menoleh ke arah belakangnya dengan ekspresi kesal. “Hei, dasar tidak sopan!” teriak Asyifa pada pengemudi mobil hitam yang berhenti di belakangnya.
Orang yang mengemudikan mobilnya keluar, membuat Asyifa mundur satu langkah saat mengetahui siapa orang yang menekan klakson begitu keras barusan.
“Kau!”
“Kau!”
Asyifa tercengang saat melihat pria yang sedang dihindarinya kini berada di hadapannya.
Pria itu tersenyum dan berjalan menghampiri. Ia mundur tapi Bastian melangkah semakin dekat padanya.
“Awalnya kupikir, kau memang wanita yang bertanggung jawab,” sinis Bastian menggelengkan kepalanya. Dia merogoh kantong saku celananya, mengeluarkan sesuatu, dan melemparkannya ke hadapan Asyifa. “Memberikan nomor yang tidak aktif dan lari saat melihatku.”
Awalnya Bastian sama sekali tidak menyadari kalau wanita yang dibantu olehnya beberapa waktu yang lalu adalah wanita yang sama yang membuat ponselnya rusak. Akan tetapi, setelah memeriksa kamera yang terpasang di mobilnya untuk mencari ke mana wanita itu lari, dia baru menyadarinya.
Asyifa menunduk melihat secarik kertas yang baru saja dilemparkan oleh Bastian. Ia menggigit bibirnya saat menyadari kesalahannya. Ya, kesalahan karena dirinya tahu kemarin sengaja memberikan nomor palsu untuk lari dari tanggung jawab.
Bastian melipat kedua tangannya di dada dan berkata dengan suara pelan. “Kau juga punya cara berterima kasih yang luar biasa,” katanya. “Aku benar-benar tersanjung,” sindir Bastian pada Syifa yang malah lari setelah ia membantunya lepas dari para preman itu.
“Aku—“
“Sekarang, bayar ganti rugi ponselku yang rusak.” Bastian mengulurkan tangannya ke depan. “Tiga puluh juta,” katanya seraya berpikir. “Ponselnya memang hanya dua puluh juta, tapi karena kau berniat lari dari tanggung jawab, maka aku minta dua kali lipat. Ah, aku masih berbaik hati, kasih diskon lima puluh persen. Itu sebabnya, totalnya hanya tiga puluh juta.”
Asyifa melotot mendengar nominal yang Bastian sebutkan. Diskon katanya? Yang benar saja. Segitupun baginya masih sangat besar.
“Cepatlah, keluarkan uangnya. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk menunggumu!” seru Bastian berpura-pura jengkel dengan sikap Asyifa yang hanya diam saja sejak tadi. “Kalau kau tidak mau bertanggung jawab, maka aku akan melaporkanmu ke polisi.”
“Jangan!” seru Asyifa dengan cepat menyahut. Ia menautkan kedua tangannya di depan dada. “Aku mohon jangan lakukan itu. Aku, aku akan bertanggung jawab tapi aku minta waktu,” ucap Asyifa dengan suara rendah di ujung kalimatnya.
Sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, Asyifa tidak memiliki uang sebanyak itu. Tidak mungkin ia meminta pada kedua orang tuanya. Tidak mungkin juga meminta pada kakaknya.
Dirinya memang sudah mendapatkan penghasilan dari pekerjaan sampingan tapi itu tidak seberapa. Hanya cukup untuk kebutuhannya sendiri.
“Aku tidak mau, aku mau kau membayarnya tunai saat ini juga.” Bastian menggerakkan tangannya supaya Asyifa bergegas memberikan uang padanya senilai 30 juta.
“Aku tidak punya uang sebanyak itu.” Asyifa bergerak membuka tasnya dan mengambil dompet lalu mengeluarkan kartunya. “Aku hanya punya tiga setengah juta di dalam kartu ini, kau bisa mengambilnya. Sisanya, aku akan mencicilnya.”
Asyifa tertunduk seraya mengulurkan kartu di tangannya pada Bastian dengan perasaan berat. Bagaimanapun, itu adalah uang jajan dan uang ongkosnya selama sebulan yang diberikan oleh orang tuanya sebagian dan kakaknya sebagian.
Bastian melirik kartu yang terulur padanya.
“Sudah kubilang, aku tidak mau!” Tegas Bastian menolak kartu yang diberikan sekaligus rencana wanita itu untuk mencicilnya. “Kalau kau tidak bisa membayar uangnya, kau bisa bayar dengan cara lain,” ucap Bastian, sudut bibirnya menyeringai dengan tatapan penuh rencana.
Asyifa yang sedang menunduk segera mengangkat kepalanya. “Ba-bagaimana caranya.” Merasakan ada angin segar mendengar perkataan Bastian.
Uangku aman.
“Bagaimana kalau kau jadi pacarku saja!”
“Apa!” Asyifa tercengang dengan perkataan pria yang belum ia ketahui namanya. “Apa kau gila?”
“Tidak!” sahut Bastian enteng, mengabaikan ekspresi terkejut Asyifa. “Bagaimana? Lebih baik bayar sekarang uang atau aku melaporkanmu ke polisi? Atau... kau jadi pacarku?”
Asyifa merasakan lidahnya kelu dengan pilihan yang pria di hadapannya tawarkan. Tak ada satu pun yang bisa dipilihnya. Uang? Jelas dirinya tidak punya. Kantor polisi? Oh, tidak, dirinya bisa digantung oleh ayahnya. Pacar? Yang benar saja, ini pertemuan kedua mereka itu pun bukan dengan cara baik-baik. Bagaimana bisa pacaran.
“Baiklah, kalau kau tidak mau. Aku akan melaporkanmu ke polisi.”
Bastian bergerak mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Melihat hal itu, Asyifa segera melangkah dan menarik tangan Bastian. “Jangan!”
Bastian berhenti, ia menaikkan sebelah alisnya dan melirik tangan Asyifa yang mencengkeram tangannya. Membuat wanita itu tersadar dan segera melepaskannya.
“Ba-bagaimana mungkin kita pacaran? Kau saja sudah memiliki kekasih.”
Ya, kan? Ini bisa kujadikan senjata untuk menolaknya.
“Haha... memangnya kenapa? Aku bisa berlaku adil pada kalian. Tenang saja, aku akan memberikan empat hariku untukmu,” ucap Bastian enteng, membuat Asyifa semakin tercengang.
Playboy gila!
“Kau—“ Ucapannya terhenti karena Bastian lebih dulu mengulurkan ponsel ke hadapannya. “Tuliskan nomormu di sini dan setelahnya kita pacaran.”
“Kau pikir aku wanita apa? Gila juga harus ada batasnya, kan?”
“Kau? Kau adalah wanita yang berhutang 30 juta padaku dan malah melarikan diri.” Bastian tersenyum dan mengedipkan matanya membuat Syifa semakin geram dengan tingkah pria di hadapannya.
Ingin sekali Asyifa melemparkan tas selempangnya ke wajah pria ini tapi ia menahan diri atau situasinya akan semakin kacau.
“Cepatlah, aku bukan orang yang sabar menunggumu.”
Asyifa masih diam, enggan mengambil ponsel di hadapannya dan memberikan nomornya yang asli. Karena itu sama saja ia menyerahkan diri dengan sukarela pada playboy gila di hadapannya.
“Baiklah, kalau kau tidak mau. Aku akan segera melaporkanmu.”
Bastian menarik kembali tangannya dan mengetik sesuatu. Asyifa terkejut dan dengan cepat merebut ponsel pria itu.
“Aku akan melakukannya.” Asyifa segera menuliskan nomornya dengan cepat.
Bastian tersenyum penuh kemenangan seraya memperhatikan wanita yang sedang menuliskan nomornya.
Asyifa ingin melemparkan ponselnya ke wajah Bastian tapi hanya bisa menahan diri dan mengulurkannya kembali.
Tidak mau kecolongan seperti sebelumnya, Bastian memanggil nomor yang baru saja diberikan oleh Asyifa dan tidak lama kemudian sebuah nada dering terdengar. Bastian mematikan teleponnya dan tersenyum lebar. “Pintar,” katanya dengan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya. “Simpan namaku, Bastian. Mulai hari ini kita pacaran.”
Asyifa mencengkeram tali selempang tasnya, menahan geram. Mimpi apa dirinya bisa bertemu dengan playboy gila di hadapannya? Lebih gila lagi dirinya berpacaran dengannya.
Bastian? Cih, kau pantasnya dipanggil playboy gila!
Namun, Asyifa hanya mampu memaki Bastian di dalam hatinya. Pria itu mendekat dan tanpa peringatan mengusap kepalanya. “Oke, Sayang, hutangmu lunas dan mulai saat ini aku adalah pacarmu. Jadi, jangan coba-coba selingkuh dariku,” katanya mengacak rambut Syifa yang membuat wanita itu menatap jengkel dan menepis tangan Bastian.
Bastian berbalik dan melangkah menuju ke mobilnya lalu masuk. Pria itu membuka kaca jendela mobilnya dan melambaikan tangan pada Asyifa pada saat melajukan mobil meninggalkan wanita yang katanya sudah menjadi kekasihnya beberapa detik yang lalu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!