Asyifa benar-benar tidak menyangka kalau Bastian kini berada di rumah kakaknya, meski pria itu berpura-pura tidak terjadi apa-apa tapi sikap menyebalkannya sama sekali tidak menghilang. Pria itu bahkan dengan sengaja terus memancing emosinya.
Beruntung, Asyifa bisa mengendalikan dirinya dan tidak terpancing godaan pria itu.
Bastian bahkan bergabung untuk makan malam bersama dengan kakak dan juga kakak iparnya, membuatnya hanya bisa mendelik tajam yang dibalas senyum menyebalkannya.
“Bas, bukannya lo lagi ada proyek di Palembang?” tanya kakak Asyifa yang bernama Abimanyu.
Bastian yang sedang menyendokkan nasi ke dalam mulutnya mengangguk membenarkan. “Iya, gue lagi sibuk melobi investor,” jawabnya. “Gue juga masih sibuk merekrut karyawan khusus di Indonesia.”
Abimanyu mengangguk meski pria itu kurang mengerti dengan bisnis real estate yang dijalankan oleh sahabatnya karena bisnis yang dirinya jalankan berbeda dengan Bastian.
“Sayang banget, ya, ade gue udah dapat kerja. Coba saja kalau belum, mungkin dia bisa gabung di perusahaan lo,” ucap Abimanyu menunjuk Asyifa yang duduk di sebelah istrinya.
Dia serius mengatakan itu. Meski Bastian terkenal playboy. Tentu saja, mengetahui adiknya bekerja di tempat orang yang Abimanyu kenal akan membuatnya tenang.
Namun, karena adiknya sudah mendapatkan pekerjaan, Abimanyu akan menghargainya dan mendukungnya.
Asyifa yang sejak tadi hanya diam dan menikmati makanannya seketika tersedak dengan perkataan kakaknya hingga terbatuk-batuk.
Istri Abimanyu yang duduk tepat di samping Asyifa sigap mengambilkan air mineral dan menyerahkannya pada sang adik ipar. “Hati-hati, Dek,” ucapnya, seraya menepuk pundak Asyifa dengan pelan.
Asyifa meminum air yang diberikan kakak iparnya seraya menepuk-nepuk dadanya yang sedikit terasa sakit.
“Kamu kenapa, sih, Dek? Kok bisa tersedak?” tanya Abimanyu pada adik satu-satunya itu.
Asyifa yang masih mencoba meredakan batuknya tidak menjawab dan hanya bisa menggeleng pelan.
Bastian yang kebetulan duduk di samping Abimanyu menatap Asyifa dengan menahan senyumnya. Ia tahu alasannya kenapa gadis di hadapannya ini sampai tersedak mendengar ucapan sang kakak.
Andai Abimanyu tahu kalau adiknya memang sudah menjadi karyawannya saat ini.
Dan juga calon istri.
Kalimat itu hanya dia ucapkan di dalam hati oleh Bastian, karena jika Abimanyu mendengarnya secara langsung, takut kalau pria yang akan menjadi ayah itu menyambitnya dengan piring yang ada di hadapan mereka saat ini.
“Dia terpesona karena ketampanan gue, Bi,” ucap Bastian untuk menjawab pertanyaan sahabatnya sebelumnya, sekaligus kakak dari wanita yang ada di hadapannya.
“Haha ... apa hubungannya, Kak Bas?” timpal Infiera, istri Abimanyu. Wanita itu tertawa dan menggeleng tidak habis pikir dengan ucapan Bastian.
Bastian hanya tersenyum untuk menanggapi ucapan istri dari sahabatnya, matanya sesekali melirik ke arah Asyifa yang sejak tadi tidak menatap ke arahnya. Ia menyendokkan kembali makanannya ke dalam mulut dengan masih menahan senyum.
“Bas, pacar lo masih yang waktu itu, kan? Yang akan ikut kita ke Bali waktu itu?” tanya Abimanyu tiba-tiba.
Kini, bukan Asyifa yang tersedak sama makanannya melainkan Bastian karena ucapan Abimanyu yang tak terduga.
“Lo lagi,” gerutu Abimanyu yang menggeser gelas berisi air putih ke hadapan Bastian.
Istri Abimanyu tertawa saat melihat Bastian tersedak, dia berkata, “Kak Bas, sekarang tersedak karena apa? Jangan bilang karena terpesona kecantikan Syifa,” katanya, meniru ucapan Bastian sebelumnya.
“Bukan, dia terpesona pada ceweknya, Cintya,” balas Abimanyu pada istrinya.
“Haha ... benar juga. Semoga kalian tetap baik saja ya setelah kejadian waktu itu. Aku sudah ga permasalahkan, kok.”
Bastian yang masih berusaha meredakan batuknya melirik ke arah Asyifa yang langsung menghentikan gerakan makannya ketika mendengar ucapan kakak laki-lakinya. Apa lagi saat nama Cintya disebut. Dia sama sekali tidak memedulikan ucapan sahabatnya yang sebenarnya lagi meledeknya.
Setelah mereka kembali dari liburan bersama waktu itu, Abimanyu sering kali meledeknya saat Bastian menghubungi.
Bunuh teman boleh, ga, sih?
Bastian memaki Abimanyu di dalam hatinya karena mengungkit prihal Cintya di hadapan Asyifa.
“Bang, aku udah selesai. Aku ke kamar dulu, ya,” ucap Asyifa tiba-tiba setelah menyelesaikan makannya dan berdiri dari kursinya.
“Masuklah,” ucap Abimanyu pada adiknya. “Kamu pasti lelah,” lanjutnya lagi.
Setelah meredakan batuknya, Bastian menghela napas berat saat melihat Asyifa masuk ke dalam kamarnya begitu saja. Ia tidak tahu apakah adik Abimanyu ini marah atau tidak karena ekspresi wajahnya sama sekali tidak bisa ditebak.
Struktur wajah Asyifa dan bentuk matanya memang terlihat gadis yang judes, membuatnya tidak bisa ditebak suasana hatinya.
“Karma instan lo, Bas,” ucap Abimanyu setelah Bastian berhenti batuk. “Tadi saja ledekin adek gue, sekarang malah lo yang tersedak.” Abimanyu tertawa dengan ucapannya sendiri.
Ini gara-gara lo, Sialan!
Bastian mengumpat tapi hanya bisa berteriak dalam hati. Kalau tidak, dia bakal dicoret dari daftar pria yang bisa mendekati adiknya.
Sebelum Bastian bisa menjawab apa pun perkataan sahabatnya, terlebih dahulu ia menerima sebuah panggilan masuk di ponselnya. Ia melirik siapa yang menghubunginya.
“Bi, gue angkat telepon dulu,” ucap Bastian saat mengetahui kalau yang menghubunginya adalah salah satu orang kepercayaannya di perusahaan.
“Angkatlah.”
Bastian mengangguk, lalu meninggalkan meja makan untuk menerima panggilan itu. Cukup lama ia menerima panggilan itu dan sepertinya terjadi sedikit masalah karena ekspresi wajahnya terlihat berubah.
Hampir lima belas menit, Bastian menerima panggilan dari orang kepercayaannya, ia kembali menghampiri meja makan di mana sahabatnya berada saat ini. “Bi, gue pergi dulu, ya. Terima kasih untuk makan malamnya.”
Pria bernama Abimanyu itu merasa heran ketika melihat ekspresi wajah Bastian saat ini. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanyanya dengan kening yang berkerut.
Bastian menghela napas berat mendengar pertanyaan Abimanyu. “Gue harus balik ke Ausie, ada masalah dengan proyek yang sedang berjalan di sana.”
“Apakah masalahnya besar?”
Sebagai sahabat, Abimanyu tentu tahu kalau Bastian tidak akan terlihat panik jika hanya masalah kecil. Apa lagi ia sudah lama berkecimpung di bisnis itu.
“Proyek yang sedang berjalan ternyata lahannya adalah lahan sengketa. Sekarang, pemiliknya menggugat perusahaan untuk hal itu,” tutur Bastian.
Abimanyu tidak tahu serumit apa masalahnya dia hanya bisa berkata, “Gue yakin lo bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik. Gue tahu lo bakal sibuk banget tapi lo tetap harus jaga kondisi.”
Sebagai seorang pria yang gila kerja, Abimanyu tahu betul bagaimana watak Bastian. Sebelum masalah itu selesai, dia tidak akan berhenti bahkan pria itu akan menyalahkan dirinya sendiri.
Apa lagi, masalahnya berpotensi memberikan kerugian yang besar untuk perusahaan. Kerugian atas pembelian lahan yang bisa disebut ilegal karena masih dalam sengketa, belum lagi kerugian perusahaan untuk proyek yang sedang berjalan.
“Terima kasih, Bi,” ucap Bastian. “Gue pergi dulu, ya.”
Bastian bergegas meninggalkan rumah sahabatnya. Ia tidak bisa mewakilkan masalah itu pada orang kepercayaannya karena proyeknya ditangani oleh dirinya sendiri sejak awal.
Di dalam kamar yang ditempatinya saat ini, Asyifa terlihat begitu kesal. “Risma? Mona? Sekarang Cintya? Lalu siapa lagi nanti?” gerutu Asyifa. Kenapa banyak sekali nama wanita di sekeliling Bastian? “Kata Abang, wanita itu bahkan ikut ke Bali bersama mereka.”
Cih!
Asyifa semakin kesal mengingat hal itu. “Untung aku nolak buat ikut,” katanya. Tiba-tiba Asyifa mendengar suara pria yang membuatnya kesal berbicara dengan seseorang di halaman rumah kakaknya. Dia bergegas untuk mengintip dari jendela kamarnya.
Ternyata benar, Bastian sedang berbicara dengan seorang pria yang entah siapa karena setelah itu keduanya masuk ke dalam mobil yang sama.
“Dia bahkan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun mengenai Cintya,” Asyifa semakin kesal karena ternyata Bastian pergi tanpa memberikan penjelasan apa pun. Lalu, detik berikutnya ia tersadar dengan tingkahnya. “Kenapa aku jadi kesal? Terserah dia, kan, mau dia punya pacar Cintya kek, Mona kek, atau Risma. Apa urusannya denganku?”
Asyifa masih menolak untuk mengakui kalau Bastian sudah berhasil membuat perasaannya campur aduk dengan sikap yang menyebalkannya selama ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
sharvik
lumayan mudh syifa jtuh hati
2024-12-09
0
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰🥰
2024-11-20
0
Amidah Anhar
up lagi donk
2024-02-16
2