Semua proses interview dilakukan dengan baik. Meski awalnya Bastian terlihat main-main dan hanya ingin mengerjai Asyifa.
Tetapi, saat proses interview benar-benar dilakukan, Bastian melakukannya dengan sangat serius.
Bastian bahkan menanyakan banyak hal mengenai kesiapan dua wanita yang ada di hadapannya untuk bekerja.
Asyifa sempat terpaku dengan keseriusan pria itu. Jauh berbeda dari Bastian yang dikenalnya sejak awal, playboy gila dan menyebalkan karena selalu mengganggunya dan membuat kepalanya sakit.
“Ah, akhirnya selesai juga,” ucap Adelia ketika sudah menyelesaikan wawancara kerja bersama dengan Bastian.
Tiba-tiba ia mengingat sesuatu yang tadi sempat membuatnya terkejut. Wanita berusia sekitar 22 tahun itu mendelik tajam pada sahabatnya.
“Jelaskan!”
“Apanya?”
“Kau mengenal bos, kan?”
“Ya, dia laki-laki pengganggu yang kuceritakan waktu itu.”
“Apa?”
Adelia tercengang dengan perkataan temannya. “Kau tidak bercanda, kan?”
Bagaimana Adelia bisa mempercayai hal itu? Ah, tentu Asyifa tidak mungkin bohong. Bastian saja langsung memanggilnya sayang. Itu berarti tidak mungkin mereka baru bertemu.
“Apakah aku yang memanggilnya sayang duluan?”
“Ah, iya iya aku sudah percaya sekarang.”
Adelia menggandeng erat tangan sahabatnya dengan antusias.
“Gila, bagaimana kamu bisa mengenal orang seperti dia. Harusnya kau tidak perlu melamar kerja. Langsung aja jadi Nyonya Indrajaya.”
“Omong kosong!”
Adelia terkikik geli dengan ucapannya barusan. Tapi sungguh ia tidak bercanda dengan hal itu.
Namun, Adelia merasa bergidik saat mengingat bagaimana Bastian bersikap layaknya bos yang sedang menguji calon karyawannya.
“Fa, kamu lihat Pak Bastian tadi? Gila, ya, dia berbeda banget. Padahal saat pertama kali kita datang dia ramah banget, selalu tersenyum.” Adelia menerawang, mengingat hal itu. “Tapi begitu wawancaranya dimulai, wajahnya langsung berubah.” Adellia bergidik. “Aku sampai tidak berani menatapnya langsung. Padahal, dia tampan banget, membuat siapa pun susah berpaling dari wajahnya.”
Adelia sampai tidak sadar berulang kali mengatakan ‘gila' untuk menunjukkan keterkejutan dan kekagumannya.
Asyifa setuju dengan ucapan sahabatnya. Benar, Bastian sangat berbeda ketika sedang bekerja. Pria itu terlihat berwibawa dan juga berkarisma. Akan tetapi... , “Tampan apanya?” kesal Asyifa untuk pujian sahabatnya pada Bastian. “Sudah, berhenti memujinya. Bukannya kau harus pergi menjemput adikmu?”
“Ah, iya.” Meski bingung dengan alasan Asyifa yang tiba-tiba marah, Adelia tetap pergi untuk mencari kendaraan umum.
Asyifa hanya bisa menggerutu dengan ucapan sahabatnya yang mengatakan kalau Bastian terlihat tampan. “Hanya orang gila yang mengatakan dia tampan!” sungut Asyifa tidak terima ada yang memuji Bastian.
“Ya, ketampananku memang sering membuat semua orang tergila-gila,” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang Asyifa.
“Kyaaaaa!” jerit Asyifa terkejut, ia memegangi dadanya karena denyut jantung yang berpacu sangat cepat. “Kau—“
Bastian yang kini berdiri di belakang Asyifa tersenyum lebar. “Tapi tenang saja, Sayang. Aku hanya tergila-gila padamu.”
Asyifa berusaha menenangkan debar jantungnya yang berdetak cepat karena dikejutkan oleh pria di hadapannya. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggang. “Kau sengaja, kan, membuatku datang ke sini? Entah apa yang kau lakukan!”
Bastian tertawa mendengar hal itu. “Sudah kubilang, tidak ada yang disengaja, Sayang. Kita memang berjodoh,” katanya dengan enteng.
Asyifa hanya bisa memutar bola matanya. Dia berbalik hendak meninggalkan Bastian. Walaupun hanya beberapa jam bersama dengan pria ini, Asyifa merasa sangat lelah.
Melihat adik dari sahabatnya itu hendak pergi, Bastian segera meraih tangannya untuk menghentikan. “Kamu mau ke mana?”
“Lepaskan!”
“Tidak, sebelum kamu menjawab pertanyaanku.”
Asyifa menghela napas berat, sadar betul menghadapi Bastian harus dengan kepala dingin. “Aku harus pulang.”
“Kamu tidak boleh pulang dulu. Ayo, kita berkencan.” Bastian menarik tangan Asyifa, membawanya menuju ke tempat di mana ia memarkirkan mobilnya. “Ayo, masuk.”
“Hei—“
Asyifa tidak memiliki kesempatan untuk protes karena Bastian sudah mendorongnya untuk masuk ke dalam mobil lalu menutup pintunya. Setelah itu, ia masuk ke bagian pengemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan ruko yang difungsikan sebagai kantor sementara.
“Turunkan aku sekarang juga!” teriak Asyifa pada Bastian yang mengemudikan mobilnya. “Kau tidak bisa melakukan ini padaku!”
Bastian menyeringai.
“Tentu saja aku bisa melakukannya. Bukankah kita sudah berpacaran?”
Asyifa seketika kehilangan kata-kata untuk membalas Bastian. Bagaimana dia lupa dengan hal itu? Hubungan yang terjalin karena tiga puluh juta yang tidak bisa ia ganti.
Selama beberapa saat, tidak ada percakapan di dalam mobil tersebut sampai Bastian kembali memperhatikan cincin di jari manis gadis di sebelahnya.
"Cincinnya cantik seperti yang memakainya," ucap Bastian, kembali melihat ke arah depan.
Asyifa memalingkan wajahnya ke arah tangan yang tersemat cincin di jari manisnya. Ia terdiam, menatap lekat cincin tersebut yang memiliki ukiran indah khas Bali. Cincin itu adalah kiriman kakaknya.
Tiba-tiba, Asyifa menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. Seperti ada lampu keluar dari kepalanya, ketika sebuah pemikiran merasukinya otaknya.
"Ya, cincinnya memang cantik, pacarku yang memberikannya." Lalu dia kembali memasang ekspresi jengkel. "Itu sebabnya, berhenti menggangguku sebelum kami salah paham karena perbuatanmu!" serunya untuk menyadarkan Bastian.
Bastian tertegun untuk beberapa saat, pikirannya sedikit blank. Tetapi hanya sebentar, senyumnya kembali muncul di wajah tampannya.
"Oh, benarkah?"
"Tentu saja. Kau pikir, bagaimana perasaanmu jika pacarmu diganggu oleh pria lain."
"Tentu saja, aku akan sangat marah. Kalau perlu, aku akan menghabisi pria itu," ucap Bastian tanpa pikir panjang.
Asyifa menjentikkan jarinya ke arah Bastian. "Makanya itu, berhenti menggangguku! Pacarku juga tidak akan suka melihatku diganggu olehmu."
Senyum Bastian semakin lebar. Dia sama sekali tidak terganggu dengan peringatan gadis itu maupun dengan informasi bahwa dia memiliki seorang kekasih.
Kamu bisa berbohong tapi tidak dengan kakak-kakakmu. ‘Kalau cari pacar jangan kaya dia, ya, Dek.’ Bastian teringat ucapan Gerald di hari pertunangannya saat itu, menunjukkan kalau Asyifa belum memiliki kekasih.
Awalnya dia ingin marah pada Abimanyu karena tidak memberitahukan jika cincin yang dikenakan oleh Asyifa dibelikan olehnya tapi melihat gadis itu yang berbohong telah memiliki kekasih dengan menggunakan cincinnya Bastian merasa lucu.
"Bagaimana ini? Tapi saat aku melihat matamu, terlihat jelas kalau kamu jodohku.”
Asyifa tercengang dengan jawaban Bastian. Bagaimana dia masih bisa santai mengatakan hal itu, saat dirinya jelas-jelas berkata sudah memiliki kekasih.
"Dasar tidak tahu malu! Memangnya, kau mau dijadikan selingkuhan?" gerutu Asyifa kembali memalingkan wajahnya kesal.
"Ya, jika dengan begitu aku bisa memilikimu. Maka, aku akan tetap menjadi tidak tahu malu. Aku rela menjadi selingkuhanmu."
Asyifa tercengang dengan jawaban Bastian yang tidak tahu malu itu. Bagaimana mungkin ada manusia seperti ini?
“Terserah kau sajalah!”
Bastian tertawa dengan jawaban gadisnya. Asyifa tidak tahu kalau yang memberikan cincin itu adalah dirinya. Jadi artinya Bastian adalah selingkuhan sekaligus pacar Asyifa?
Ia menahan tawa gelinya memikirkan hal itu. Bagaimana kalau Asyifa tahu yang sebenarnya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰
2024-11-20
0
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
tubkan 🤣🤣🤣🤣🤣
2024-03-16
1
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
makanha Del Jagan sumbar dlh
2024-03-16
0