Tidak Tahu Terima Kasih

Sesuai tujuan kedatangannya ke Palembang, Bastian hari ini langsung bertolak ke lahan yang akan dijadikan proyek barunya. Berdiri seraya berkacak pinggang, ia memperhatikan keseluruhan lahan yang masih ditutupi oleh ilalang.

Sebagai seorang pebisnis, Bastian sudah memiliki banyak rencana di kepalanya akan dijadikan apa lahan tersebut nantinya.

“Bos, yang ditandai ini semuanya sudah deal. Semua berkasnya sedang diurus oleh tim legal.”

Bastian mengangguk puas dengan laporan asistennya ini. Hoshi melanjutkan laporannya mengenai lahan yang belum bisa mereka dapatkan karena terkendala pemiliknya yang terus menaikkan harga.

Namun, di sela-sela pembicaraan keduanya tiba-tiba terdengar keributan tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.

Bastian dan juga Hoshi serempak menoleh ke arah samping kanan mereka, di mana keributan itu terdengar.

“Hei, Pak, kenapa aku tidak boleh melukis di sini? Bukankah ini hanya lahan kosong?”

“Tidak boleh, Mbak, area ini selalu dilalui oleh alat berat yang mengangkut material bahan untuk proyek di depan sana.”

“Pak, apa Anda tidak melihat kalau aku berdiri di luar area proyek. Bagaimana bisa disebut berbahaya.” Gadis yang sedang ditegur oleh pekerja proyek yang tidak jauh dari Bastian berdiri masih keras kepala mempertahankan diri.

Awalnya, Bastian sama sekali tidak ingin memedulikan keributan itu sampai akhirnya tiga orang pria dengan pakaian kumal dan tato hampir di seluruh bagian tangannya datang menghampiri keduanya.

Mereka bertiga berdiri mengelilingi wanita itu hingga ia ketakutan.

“Hei, kalian mau apa?” Gadis yang tadi terlihat galak saat menghadapi pria yang mengusirnya kini terlihat ketakutan karena pria-pria yang baru datang terlihat seperti preman.

“Kau tadi menolak untuk pergi, kalau begitu bagaimana kalau kami temani.”

Gadis itu terlihat semakin ketakutan dan tubuhnya terlihat gemetar.

“Ti-tidak! Aku akan pergi sekarang dan tidak akan lagi mengganggu.”

“Kenapa pergi? Bukannya kau masih mau melukis?”

Salah satu dari preman itu terlihat berjalan mendekati gadis itu yang semakin ketakutan.

“Ka-kau mau apa? Jangan mendekat!”

“Haha ... Mbak, jangan takut, kami tidak jahat kok. Kami hanya gigit sedikit.”

Gadis muda berusia sekitar 20 tahunan itu mundur beberapa langkah untuk melarikan diri tapi kakinya terasa lemas dia ingin berteriak sekencang mungkin saat ini. Akan tetapi, sebelum niatnya terlaksana seseorang sudah berteriak dengan keras.

“Bagaimana mungkin empat orang pria mengganggu seorang perempuan? Apa kalian ayam sayur?”

Keempat orang yang berdiri mengelilingi wanita itu segera menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria yang memiliki tinggi sekitar 180 cm berdiri beberapa meter dari mereka.

“Hei, kau, berani sekali mengatakan itu? Kau cari mati, ya?”

“Kenapa tidak berani? Aku bukan ayam sayur seperti kalian yang beraninya keroyokan pada wanita.” Bastian tersenyum sinis mengejek mereka semua.

Melihat ada seseorang yang membelanya, gadis yang tadi sempat terpojok berlari ke arah Bastian untuk mendapatkan perlindungan. Dia sangat ketakutan saat ini.

“Kurang ajar! Kemari kau jika berani melawanku!” Salah seorang dari keempat pria itu berseru menantang Bastian. Namun, sebelum itu terjadi seorang pria berbadan besar dan hampir seluruh tubuhnya dipenuhi tato mendekat, wajahnya terlihat garang.

“Ada apa ini? Beraninya ribut-ribut di tempatku!”

Bastian masih terlihat tenang, menatap keempat pria yang tadi mengganggu seorang wanita. Sedangkan yang lainnya terlihat terkejut.

“Bang Jek? I-itu, kami hanya—“

“Hanya apa? Kau mau mengganggu bosku?”

“Bos?”

Yang dipanggil Bang Jek itu mengangguk. “Dia adalah pemilik lahan yang ada di sana.” Ia menoleh dan menunjuk lahan yang masih kosong milik Bastian.

Keempat orang itu semakin terkejut, dia tidak berani pada Bang Jek karena dia adalah pemegang wilayah itu.

“Maaf, Bang, kami tidak tahu.”

“Sekarang, kalian sudah tahu. Pergilah!”

“Baik, Bang.”

Keempatnya langsung pergi dan Bastian tersenyum sinis melihat mereka yang tunggang-langgang ketakutan.

Pria berwajah garang itu menghadap pada Bastian dan berkata, “Bos, maafkan mereka yang sudah mengganggu kenyamananmu di sini. Saya akan pastikan kalau mereka tidak membuat ulah lagi di sini.”

“Baiklah, tidak masalah. Terima kasih karena sudah membantu.”

“Jangan sungkan, kalau memerlukan bantuan tinggal panggil saya saja.”

Bastian mengangguk dan membiarkan pria bernama Bang Jek itu pergi lagi. Dia berbalik untuk memastikan keadaan gadis yang tadi diganggu oleh para preman itu.

Namun, Bastian terkejut karena ternyata gadis itu sudah tidak ada dan hanya Hoshi di belakangnya. “Heh? Di mana wanita itu?”

“Dia sudah pergi sejak tadi,” ucap Hoshi.

“Ck, tidak tahu terima kasih. Padahal, aku sudah membantunya mengusir mereka.”

Terdengar Hoshi mendengkus atas ucapan bosnya. “Kalau bos lupa, yang mengusir para preman itu adalah Bang Jek. Kalau tidak ada dia, bukan hanya jadi ayam sayur tapi mungkin bos sudah jadi opor ayam.” Hoshi menyindir ucapan Bastian sebelumnya.

Bagaimana mungkin Bastian akan berani melawan empat preman jika tidak ada seseorang yang bisa dijadikan tameng?

“Kurang ajar kau ini.”

Hoshi tidak memedulikan kekesalan Bastian, dia berbicara lagi.

“Ayo, Bos, tidak perlu dicari wanita itu. Anda sudah punya selusin wanita.”

“Hei, kau pikir aku kolektor wanita?”

“Bukan, tapi Anda penampungan akhir,” ucap Hoshi dengan wajah datarnya dan pergi meninggalkan bos yang tercengang dan kehilangan kata-kata.

“Wah, benar-benar minta dipecat dia,” sungut Bastian kesal. Matanya masih melirik ke sana kemari, mencari keberadaan wanita yang tadi dibantunya. “Wanita itu benar-benar pergi? Ck! Sungguh tidak tahu terima kasih.”

Namun, senyum tipis terbit di wajah tampannya karena dia menyadari sesuatu.

I got you! Sudah kubilang kita akan bertemu lagi.

Bastian akhirnya melangkah mengikuti asistennya yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan lahan kosong yang akan dijadikan lahan proyek.

Di tempat yang berbeda, wanita yang tadi melarikan diri yang tak lain adalah Asyifa terengah setelah berlari cukup jauh. Dia sungguh ketakutan karena preman-preman itu.

“Gila, bagaimana mungkin aku berhadapan dengan mereka.” Asyifa menyeka keringat yang membasahi keningnya. “Sial, kenapa juga harus bertemu pria brengsek itu.”

Awalnya Asyifa tidak menyadari siapa pria yang menolongnya sampai dia bisa bebas menghindari preman-preman dan berdiri di belakang pria itu.

“Bagaimana kalau dia menagih sisa uang ponselnya.” Asyifa meringis karena menyadari kesalahannya yang sok mau bertanggung jawab, padahal dirinya tak memiliki uang sebanyak itu. “Semoga saja dia tidak langsung menagihnya.”

Menghela napas panjang dan mengembuskannya. Asyifa melanjutkan langkahnya setelah merasa lebih tenang.

Namun, tiba-tiba sebuah klakson panjang terdengar, membuatnya terlonjak kaget.

Asyifa memegangi dadanya yang berdebar keras. Ia menoleh ke arah belakangnya dengan ekspresi kesal. “Hei, dasar tidak sopan!” teriak Asyifa pada pengemudi mobil hitam yang berhenti di belakangnya.

Orang yang mengemudikan mobilnya keluar, membuat Asyifa mundur satu langkah saat mengetahui siapa orang yang menekan klakson begitu keras barusan.

“Kau!” 

 

 

Terpopuler

Comments

🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘

🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘

🥰🥰🥰🥰

2024-11-20

0

ᥫᩣ 🕳️ Chusna

ᥫᩣ 🕳️ Chusna

basss ternytaa 🤭🤭🤭🤭🤭

2024-03-16

1

Uthie

Uthie

ternyata si Bastian narsis nya parah bet... 🤣🤣🤣

2024-02-07

1

lihat semua
Episodes
1 Sang Don Juan
2 Tidak Tahu Terima Kasih
3 Jadilah Pacarku
4 Pertemuan Kembali
5 Playboy Gila!
6 Merasa Dijebak
7 Menjadi Selingkuhan
8 Dia Berbeda
9 Penerjemah Seenaknya
10 Seribu Akal
11 Bersembunyi
12 Apa Kamu Cemburu?
13 Karma Instan
14 Munculnya Saingan
15 Merasa Terancam
16 Informasi Mengejutkan
17 Calon Istri
18 Merasa Nyaman
19 Tidak Bisa Membiarkan
20 Digrebek?
21 Nikahkan Saja!
22 Keputusan Menikah
23 Sebuah Pukulan
24 Hari Pernikahan
25 Pagi Pertama
26 Gara-gara Baju
27 Tempat Tinggal Baru
28 Mendapat Ancaman
29 Dia Istriku!
30 Seperti Sampul Buku
31 Memohon
32 Bastian Punya Anak?
33 Cerita yang Sesungguhnya
34 Mengetahui Kebenaran Cincin
35 Pernyataan Cinta?
36 Bertemu Saingan
37 Meminta Aset
38 Memilih Rumah
39 Kenapa Ada Telur di Keningku?
40 Sentuhan Pertama
41 Pelukan Menenangkan
42 Mendaftarkan Pernikahan
43 Pacar Bastian
44 Bersikap Ambigu
45 Cemburu
46 Menghapus Jejak
47 Sebuah Pesan
48 Berhadapan Kembali
49 Rencana Jahat
50 Amukan Bastian
51 Tidak Bisa Membenci
52 Pria Sukses
53 Hanya Wanita Rapuh
54 Menantuku!
55 Memberikan Ganjaran
56 Tamparan Balasan
57 Merindukanmu
58 Perasaan Gundah
59 Tidak Bisa Membiarkan
60 Tuduhan Menyakitkan
61 Aku Juga Berharga
62 Tawaran Menggiurkan
63 Mengetahui
64 Jangan Menanggungnya Sendiri
65 Untuk Pertama Kalinya
66 Kegilaan di Atas Sofa
67 Noda di Leher
68 Ayo Kita Bahagia
69 Tidak Asing
70 Membutuhkan Asupan Energi
71 Cinta Segi Berapa?
72 Posesif
73 Anak Manja!
74 Balas Dendam
75 Pulang Terlambat
76 Membuang Semuanya
77 Pertengkaran
78 Pukulan yang Pantas
79 Menyadari Kesalahan
80 Panik
81 Asyifa Pingsan
82 Diusir
83 Membawa Pergi
84 Bantuan Kakak Ipar
85 Tingkah Tidak Masuk Akal
86 Menyita
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Sang Don Juan
2
Tidak Tahu Terima Kasih
3
Jadilah Pacarku
4
Pertemuan Kembali
5
Playboy Gila!
6
Merasa Dijebak
7
Menjadi Selingkuhan
8
Dia Berbeda
9
Penerjemah Seenaknya
10
Seribu Akal
11
Bersembunyi
12
Apa Kamu Cemburu?
13
Karma Instan
14
Munculnya Saingan
15
Merasa Terancam
16
Informasi Mengejutkan
17
Calon Istri
18
Merasa Nyaman
19
Tidak Bisa Membiarkan
20
Digrebek?
21
Nikahkan Saja!
22
Keputusan Menikah
23
Sebuah Pukulan
24
Hari Pernikahan
25
Pagi Pertama
26
Gara-gara Baju
27
Tempat Tinggal Baru
28
Mendapat Ancaman
29
Dia Istriku!
30
Seperti Sampul Buku
31
Memohon
32
Bastian Punya Anak?
33
Cerita yang Sesungguhnya
34
Mengetahui Kebenaran Cincin
35
Pernyataan Cinta?
36
Bertemu Saingan
37
Meminta Aset
38
Memilih Rumah
39
Kenapa Ada Telur di Keningku?
40
Sentuhan Pertama
41
Pelukan Menenangkan
42
Mendaftarkan Pernikahan
43
Pacar Bastian
44
Bersikap Ambigu
45
Cemburu
46
Menghapus Jejak
47
Sebuah Pesan
48
Berhadapan Kembali
49
Rencana Jahat
50
Amukan Bastian
51
Tidak Bisa Membenci
52
Pria Sukses
53
Hanya Wanita Rapuh
54
Menantuku!
55
Memberikan Ganjaran
56
Tamparan Balasan
57
Merindukanmu
58
Perasaan Gundah
59
Tidak Bisa Membiarkan
60
Tuduhan Menyakitkan
61
Aku Juga Berharga
62
Tawaran Menggiurkan
63
Mengetahui
64
Jangan Menanggungnya Sendiri
65
Untuk Pertama Kalinya
66
Kegilaan di Atas Sofa
67
Noda di Leher
68
Ayo Kita Bahagia
69
Tidak Asing
70
Membutuhkan Asupan Energi
71
Cinta Segi Berapa?
72
Posesif
73
Anak Manja!
74
Balas Dendam
75
Pulang Terlambat
76
Membuang Semuanya
77
Pertengkaran
78
Pukulan yang Pantas
79
Menyadari Kesalahan
80
Panik
81
Asyifa Pingsan
82
Diusir
83
Membawa Pergi
84
Bantuan Kakak Ipar
85
Tingkah Tidak Masuk Akal
86
Menyita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!