Hai.
Hai.
Hey!
Asyifa!
Kamu masih hidup, kan?
Kamu sudah tergila-gila sama aku?
Asyifa!
Okelah, sampai bertemu nanti...
Pesan terakhir yang Asyifa baca membuatnya memutar bola mata. Lelah sekali. Dia berdecak.
“Dasar gila!”
Setelah memberikan nomor teleponnya dengan terpaksa pada Bastian, Asyifa mendapatkan banyak chat dari pria itu. Hidupnya benar-benar tidak tenang tapi tidak mungkin ia mengganti nomornya yang sudah lama digunakan itu.
Dia benar-benar diteror.
Setelah pesan terakhir itu Asyifa segera mematikan ponselnya karena harus segera naik pesawat karena hari ini ia harus berangkat ke Jakarta karena kakak iparnya akan mengadakan syukuran atas kehamilannya.
Begitu sampai di Jakarta, ada hal yang sangat mengejutkan. Yakni kabar pertunangan pria yang disukainya sejak lama. Dia adalah salah satu sahabat baik kakaknya.
Bagaimana mungkin ia tidak tahu kalau teman kakaknya memiliki kekasih? Padahal, selama ini pria itu mengatakan kalau dirinyalah yang akan pertama diberi tahu jika memiliki pacar.
Sulit baginya untuk bersikap biasa saja setelah mengetahui kabar itu. Ia menangis semalaman karena cintanya harus ia kubur sebelum menyatakan perasaan.
Pagi-pagi sekali Asyifa bersiap untuk pergi ke acara pertunangan pria yang disukainya. Ingin sekali dia menolak untuk hadir tapi pasti itu akan membuat semua orang curiga.
Baru saja dirinya hendak merebahkan tubuh di kasur, sebuah ketukan terdengar dari luar kamarnya.
“Masuk!” Syifa menjawab seraya duduk di ujung tempat tidur. Dia memastikan wajahnya tidak sembab supaya siapa saja yang datang tidak tahu kalau ia menangis semalaman.
Pintu terbuka, ternyata kakaknya yang datang, Abimanyu.
Syifa menatap kakaknya dan terlihat ragu. “Abang, kok aku malas pergi, ya,” katanya dengan lesu. “Aku sedikit tidak enak badan. Mungkin karena kecapean,” lanjutnya lagi.
Ia benar-benar enggan untuk pergi ke acara pertunangan itu dan menyaksikan pria yang ia sukai bersanding dengan wanita lain.
“Kamu sakit? Apa kita harus ke dokter?” tanya kakaknya yang bernama Abimanyu.
“Tidak, tidak, aku hanya perlu istirahat saja sebentar.”
Asyifa mengibaskan tangannya. “Aku tidak perlu ke dokter,” katanya. Aku hanya perlu Kak Ge, kalimat itu hanya terucap dalam hati.
Abimanyu terlihat melirik jam tangannya, untuk memastikan kalau mereka memiliki cukup waktu sebelum pergi.
“Dek, boleh abang bertanya?” tanyanya, menatap sang adik dengan lembut.
Asyifa menoleh pada kakaknya yang kini duduk di sampingnya. “Tanya apa, Bang?”
“Bagaimana perasaan kamu saat pertama kali tahu abang akan menikah?”
Syifa sedikit bingung dengan pertanyaan kakaknya tapi dia tetap menjawab.
“Sebenarnya, saat itu aku sedikit khawatir karena tahu Abang belum bisa merelakan Kak Almira. Bukan berarti aku tidak setuju, lebih tepatnya aku takut Abang tidak bisa memperlakukan Kak Infiera dengan baik. Banyak kekhawatiran yang aku rasakan saat itu tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang itu urusan Abang yang sudah mengambil keputusan.”
Abimanyu mengangguk, tangan kanannya terulur mengelus kepala adiknya dengan penuh sayang. “Lalu bagaimana dengan Gerald? Apa yang kamu rasakan saat tahu dia akan menikah? Bukankah dia juga seperti kakak bagimu? Gerald juga memperlakukan kamu seperti adiknya sendiri. Bahkan dia lebih perhatian dibandingkan abang.”
Syifa membeku mendengar pertanyaan kakaknya. Dia mulai menerka ke mana arah pembicaraan mereka saat ini?
“Apakah... Abang tahu kalau aku—“ Asyifa menggantung ucapannya, dia takut kalau kakaknya akan marah. Bagaimanapun Gerald adalah sahabat pria itu.
Akan tetapi, dugaannya salah. Abimanyu justru tersenyum dengan hal itu dan lagi-lagi dia mengusap kepala sang adik penuh kasih sayang. “Dek, kamu tahu? Orang tua itu sebenarnya mengetahui segala hal yang tidak dikatakan. Tapi mereka memilih diam. Bukan tidak peduli tapi karena mereka percaya, bisa menyelesaikan apa pun masalah yang dihadapi.” Abimanyu tidak melepaskan tangannya dari kepala Asyifa dan terus mengelusnya, untuk menenangkannya.
“Begitu pun abang. Abang selalu tahu kabar kamu meski lebih jarang menghubungi dibandingkan Gerald. Abang lebih mengetahui apa pun yang kamu lakukan dibanding dia karena abang adalah kakak kandungmu.” Ada penekanan pada kalimat terakhir Abimanyu.
Abimanyu menurunkan tangannya dan beralih menggenggam tangan sang adik. “Dek, abang mengerti apa yang kamu rasakan. Di usiamu sekarang mudah sekali merasa tersentuh karena sebuah perhatian. Tapi hal yang harus kamu ingat, kamu harus bisa membedakan perasaan yang kamu miliki. Abang tahu kamu sempat berpikir kalau abang akan direbut oleh kakak iparmu tapi akhirnya kamu bisa mengatasi hal itu.”
Sekali lagi, Asyifa terkejut dengan ucapan kakaknya. “Bagaimana Abang tahu mengenai hal itu? Ah, ibu pasti yang mengatakannya.”
“Tidak,” jawab Abimanyu.
“Lalu?”
“Ayah.” Abimanyu tersenyum setelahnya, “kamu pasti terkejut, kan, bagaimana ayah tahu hal itu? Tidak, jika kamu berpikir ayah tahu dari ibu itu salah. Ayah tahu hanya dari melihat bagaimana sikap kamu setelah tahu abang akan menikah. Jadi, Dek, menurut kamu apa yang kamu rasakan sekarang sama dengan apa yang kamu rasakan saat abang akan menikah?”
Asyifa mengunci rapat bibirnya dengan pertanyaan itu. Apakah sama dengan saat itu?
Ya, yang dikatakan kakaknya benar. Dia pernah berpikir akan ada seseorang yang merebut Abimanyu darinya, dia terbiasa mendapatkan banyak perhatian dari pria itu. Tapi itu hanya sesaat, pada akhirnya dia bisa mengatasi perasaan itu.
Tiba-tiba Asyifa tersenyum dan menoleh pada kakaknya. “Abang benar, apa yang aku rasakan sekarang sama persis dengan yang aku rasakan waktu itu. Aku tidak berpikir hal lain karena Abang adalah kakak kandungku, sedangkan Kak Ge adalah orang lain yang tidak ada hubungannya denganku. Itu sebabnya aku tidak dapat membedakan perasaan yang aku rasakan. Aku menyadari sesuatu, aku sama sekali tidak membenci Kak Rianti. Sama seperti aku tidak membenci Kak Infiera saat pertama kali meski memiliki sedikit kekhawatiran.”
Senyum bangga Abimanyu terbit. “Wah, adik abang sudah dewasa rupanya,” ucap Abimanyu. “Kamu akan segera menemukan pria yang akan mengejarmu suatu saat nanti,” lanjut Abimanyu.
Asyifa terdiam, tiba-tiba sosok Bastian melintas di pikirannya. Playboy itu masih terus mengirimi pesan meski tidak dibalas.
Aku sudah dikejar sama herder gila!
“Ah, Bang!” Asyifa merapikan rambutnya lagi. “Aku sudah merapikan rambutku,” sungutnya saat sang kakak mengacak rambutnya.
“Jadi, bagaimana, Dek? Sudah siap untuk memberikan selamat pada kakakmu yang lain? Dia pasti senang lihat adiknya juga hadir di acara pentingnya.”
Asyifa mengangguk cepat. “Tentu saja. Sepuluh menit. Aku mau merapikan make up-ku dulu.”
“Baiklah, Abang tunggu di depan, ya.”
Abimanyu mengacak rambut adiknya untuk terakhir kali lalu keluar dari ruangan itu.
***
Saat ini, Asyifa berada di perjalanan menuju lokasi acara pertunangan Gerald. Sepanjang jalan dia hanya memainkan ponselnya untuk bertukar pesan dengan temannya, sedangkan kakaknya sedang mengobrol, membicarakan rencana mereka untuk membeli rumah.
Begitu sampai di lokasi, mereka langsung mencari keberadaan ibunya.
“Dek, hubungi ibu,” kata Abimanyu memerintahkan dirinya.
Syifa segera menurut tapi gerakannya terhenti saat suara tidak asing terdengar.
“Hei!”
Dia...
Syifa menoleh dan terkesiap karena ternyata orang itu adalah Bastian, pria yang mengajaknya berpacaran—bukan tapi memaksanya untuk berpacaran dengannya. Bagaimana mungkin dia kembali bertemu dia ada di sini?
Sepertinya, Bastian juga menyadari kehadirannya. Mereka sama-sama terkejut dan membeku di tempat mereka berdiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰
2024-11-20
0
Khairul Azam
lnjut yuk😁
2024-04-24
0
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
SDH ada 🤭
2024-03-16
1