Asyifa berpikir semuanya akan berjalan mudah, mengingat selama di Jakarta ia akan tinggal di rumah kakak laki-lakinya.
Namun ternyata, semua tidak semudah itu. Ibunya menentang saat ia memberitahu harus melakukan perjalanan dinas ke Jakarta selama beberapa minggu.
Beruntung, ia memiliki ayah yang mendukungnya. Ayah membantu menjelaskan untuk tidak khawatir karena ada Abimanyu dan istrinya yang akan menjaga dan mengawasi anak bungsu mereka.
Bukan hanya mereka berdua, tapi juga ada Gerald yang sudah menganggap Asyifa adiknya sendiri.
Barulah, ibu setuju meski dengan banyak wejangan.
Hari ini adalah hari keberangkatan Asyifa ke Jakarta. Hanya selang dua hari setelah pemberitahuan mereka diterima bekerja.
Asyifa pergi ke bandara dengan diantar oleh sopir ayahnya karena orang tuanya harus menghadiri sebuah pertemuan.
Begitu sampai di bandara, Asyifa mencoba menghubungi Adelia berulang kali tapi temannya itu tidak mengangkat panggilannya.
“Ke mana dia?” gumamnya sedikit kesal. Penerbangan mereka tidak lama lagi, tapi Adelia tidak muncul juga. Padahal, semalam mereka sudah janjian.
“Hei.” Seseorang tiba-tiba mengejutkannya dari arah belakang. Ia segera berbalik dan melihat Bastian berdiri dengan senyum jenaka... Tidak, bagi Asyifa itu senyum menjengkelkan.
Karena, saat Asyifa melihat senyum itu di wajah Bastian. Pasti akan ada hal yang dilakukannya, yang membuat tensi darahnya naik.
“Kau ... bagaimana kau ada di sini?” tanyanya dengan bingung.
“Ya, tentu saja untuk menemani pacarku ke Jakarta.”
Asyifa mengelilingkan pandangannya. “Di mana Adelia?”
“Ah, temanmu itu? Asistenku melakukan kesalahan booking. Dia akan berangkat dengan jadwal penerbangan selanjutnya. Jadi, sekarang hanya kita berdua yang pergi.”
“Apa?” Asyifa terkejut. “Bagaimana mungkin bisa begitu?”
Bastian mengangkat kedua bahunya acuh seolah tidak tahu apa-apa.
“Ya bisa saja, Hoshi manusia biasa yang melakukan kesalahan juga.”
Asyifa tercengang. Entah kenapa, ia tidak percaya dengan perkara Bastian. Pria itu pasti sengaja melakukannya.
“Sudah jangan hanya berpikir. Ayo, kita harus bergegas karena penerbangannya sebentar lagi.”
***
Asyifa dan Bastian kini duduk bersebelahan di dalam pesawat. Gadis itu hanya diam saja dan terlihat kesal pada Bastian. Mungkin, ia curiga jika Bastian sengaja mengatur semuanya agar mereka bisa berangkat hanya berdua saja.
“Ini untukmu,” ucap Bastian, menyerahkan sebuah kantong yang sejak tadi dibawanya.
Asyifa menoleh pada kantong berwarna coklat yang diberikan oleh Bastian, ia menatap pria itu.
“Apa ini?”
“Ambil saja,” katanya, menggoyangkan tangan yang memegang kantong berwarna coklat supaya Asyifa menerimanya.
Tahu betul Bastian tidak akan menyerah jika dirinya menolak. Asyifa akhirnya menerima itu dan melihat apa yang diberikannya.
“Ini... ,” ucap Asyifa menggantung ucapannya.
“Ya, itu, tablet untuk penunjang pekerjaanmu.”
Asyifa tercengang karena tidak menyangka. Baru kemarin dia merengek pada kakaknya untuk membelikan yang baru tapi ditolak. Sekarang, Bastian sudah memberinya yang baru.
Apa dia cenayang?
“Penunjang kerja? Apa Adelia juga dapat? Aku tidak bisa menerima jika—“
“Ya, dia juga dapat,” jawab Bastian, dia sangat tahu kalau Asyifa akan menanyakan hal itu. Mau tidak mau dia juga menyiapkannya juga untuk Adelia.
Mendengar hal itu, Asyifa tersenyum dan langsung mengangguk mengerti. “Baiklah, terima kasih, ya.”
Bastian tersenyum dan mengangguk. “Sama-sama.”
Asyifa terlihat berbinar membuka tablet barunya. Apalagi, itu adalah model keluaran terbaru yang bahkan belum ada di bayangannya untuk bisa dimiliki.
Harganya lumayan mahal, hampir setara uang sakunya selama setahun penuh bahkan lebih.
Asyifa memasukkan kembali semuanya ke dalam kantong.
“Ngomong-ngomong, boleh aku meminta sesuatu?”
“Jangankan sesuatu, kamu mintaku saja aku bersedia memberikannya.”
Langsung terdengar decakan karena yang keluar dari mulut Bastian selalu saja gombalan garing.
“Oke, oke, maaf. Apa yang ingin kamu minta?” tanyanya Bastian.
“Emm ... bisakah kamu untuk tidak memberitahu abangku kalau aku bekerja denganmu? Ya, aku hanya tidak mau merasa tidak nyaman saja. Perlakukan aku seperti karyawan lainnya, bukan adik dari temanmu.”
Bastian mengangkat sebelah alisnya. “Aku tidak pernah memperlakukanmu sebagai adik dari sahabatku.”
“Tapi selama ini kamu selalu saja—“
“Aku memperlakukanmu sebagai pacarku, tentu saja,” ucap Bastian, lalu senyum menyebalkannya kembali terbit di wajahnya membuat Asyifa ingin memukul kepala pria itu.
Grrrr!
“Itu tidak lucu!”
“Aku bukan pelawak, jadi bagaimana mungkin aku bisa melucu.”
“Hmm, baiklah jika itu yang kau inginkan,” ucap Bastian. Ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti perkataan gadis itu.
Padahal, awalnya Bastian berharap kalau Asyifa sudah bisa menerima keberadaannya tapi dugaannya salah.
Gadis itu bahkan masih berpikir kalau perlakuannya selama ini karena dirinya adalah adik Abimanyu, sahabatnya.
Baiklah, tidak masalah. Itu artinya, ia membutuhkan usaha yang lebih keras untuk mendapatkan wanita ini. Ya, hambatan satu-satunya adalah Abimanyu sahabatnya yang terang-terangan pernah melarang dirinya mendekati Asyifa.
Begitu pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Jakarta. Keduanya segera bergegas keluar. Bastian membantu Asyifa membawa kopernya karena ia sendiri tidak membawa apa-apa. Semuanya sudah diurus Hoshi, asistennya.
“Sayang, kita mau makan siang dulu?” tanya Bastian.
Asyifa tidak menjawab, dia mengelilingkan pandangannya, mencari seseorang.
“Kamu cari siapa?” tanya Bastian pada gadis itu.
“Abang, katanya dia mau jemput.”
“Apa? A-Abimanyu mau jemput?”
Asyifa mengangguk pasti.
Dia benar-benar.
Bastian merasa tidak habis pikir. Padahal, Asyifa tadi mengatakan jangan mengatakan apa pun pada Abimanyu kalau dirinya adalah bosnya. Tapi sekarang malah minta kakaknya yang jemput.
Baru saja, Bastian akan mengatakan hal lain. Dari kejauhan ia melihat Abimanyu yang juga sedang mencari keberadaan adiknya.
Sial!
Bastian segera berjalan cepat meninggalkan Asyifa, sebelum Abimanyu melihat keberadaannya.
“Bang!”
Asyifa melambaikan tangannya saat melihat keberadaan kakaknya.
“Hai, Dek.”
Abimanyu menoleh dan balas melambai saat melihat adiknya. Ia segera mendekat.
“Kamu udah dari tadi?”
“Baru keluar.”
Abimanyu melihat ke sana kemari.
“Mana temanmu? Bukannya kamu berdua?”
“Temanku beda penerbangan, tapi aku—“
Asyifa menghentikan ucapannya saat menyadari kalau Bastian menghilang dari sampingnya.
Ke mana dia?
“Cari siapa, Dek?”
“Aku nyari—eh, tidak, tidak. Aku tidak cari siapa pun. Ayo, bang, kita pergi.”
Abimanyu mengiyakan adiknya dan mengambil alih koper gadis itu.
Saat berjalan keluar, ponsel Asyifa berdering, menandakan sebuah pesan masuk. Ia segera membacanya.
“Sampai bertemu besok, Sayang. Aku akan menelpon kamu nanti malam.”
Asyifa menghela napas lega membaca pesan itu. Ia benar-benar lupa dengan ucapannya saat di pesawat. Lupa kalau Abimanyu akan menjemput hari ini. Untung saja pria itu bergerak cepat untuk bersembunyi.
Saat Asyifa masuk ke dalam mobil kakaknya, ia tidak sengaja melihat Bastian dari kejauhan yang melambaikan tangan ke arahnya. Ia tersenyum pada pria itu untuk pertama kalinya tanpa membalas lambaian tangannya atau kakaknya akan curiga.
.
.
.
***
Hai, hai, sesuai janjiku. Up lebih banyak. Jangan lupa tinggalkan like dan komen tiap babnya jangan dilewatin biar tidak saling iri. Hehe
Happy reading semuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Pendak Wah
Hhhhh aku sebagai pembaca pun merasa termakan oleh Rayuan Bastian, Ah rayuan Lelaki memang menghanyutkan 😁🙈🙈
2024-05-10
1
Bungamatahari
aaa pastian Cemen harusnya berani mengatakannya sama Abimanyu meski harus babak belur nantinya
2024-04-07
0
BCuan
Ada Cepu bilang Ibu Peri boom update, auto melipir ke sini. Padahal udah buka laptop wkwkwkwk
2024-02-13
2