Asyifa keluar dari taksi online bersama dengan temannya, Adelia. Keduanya bergegas masuk karena seorang dari perwakilan perusahaan itu menghubungi, kalau mereka sudah ditunggu bos.
“Wow, apa kita orang penting?” cetus Adelia yang merasa heran saat membaca pesan yang diterimanya. “Bagaimana mungkin bos menunggu kita? Padahal, baru saja akan interview.”
Asyifa juga merasa ada yang aneh dengan pesan itu tapi dia tidak mau berpikir yang tidak-tidak.
Mungkin saja, bosnya hendak pergi jadi mereka harus bergegas melakukan interview.
“Yang terpenting kita diterima kerja,” jawab Asyifa melangkah masuk membuka pintunya kaca di bagian depan. Tempat interview mereka saat ini adalah sebuah ruko yang memiliki tiga pantai.
Tempat interview-nya sendiri berada di lantai dua.
“Apa Mbak yang bernama Asyifa?” tanya seorang wanita dari arah kubikel yang ada di sudut kiri ruangan itu.
Asyifa dan Adelia menoleh padanya. “Eh, bukan saya, Mbak. Dia Asyifa.”
Adelia menunjuk temannya karena wanita yang tadi bertanya menyentuh tangannya.
Wanita itu beralih pada Asyifa. “Oh, syukurlah, Mbak Syifa bisa datang,” Dia terlihat lega setelah mengatakan itu.
Asyifa menyipitkan matanya curiga.
Apa dia baru menghela napas?
Asyifa belum benar-benar bisa membaca situasinya karena wanita di hadapannya sudah lebih dulu mempersilakan mereka untuk naik ke lantai dua.
“Silakan, bos sudah menunggu kalian.”
“Hehe... Mbak, saya berasa orang penting ditunggu bos,” celetuk Adelia yang langsung menutup mulut. “Eh, maaf, Mbak, saya hanya bercanda.”
Karyawan yang menyambut mereka berdua malah tersenyum. “Tidak apa-apa. Kalian memang penting, kan? Ah, maksud saya calon karyawan di sini.”
Asyifa hanya diam melihat interaksi temannya bersama dengan karyawan perusahaan ini. Ada yang mengganjal hatinya tapi entah apa itu.
Sampai akhirnya Asyifa masuk ke ruangan ‘bos' yang disebutkan sedang menunggu mereka.
“Bos, Nona Mbak Asyifa sama Mbak Adelia yang akan interview hari ini.”
Dia!
Asyifa tercengang dan akhirnya dapat bisa menarik benang merah dari semua kebingungan tadi.
“Hai, Sayang.”
"Sa-sayang?" Kalimat itu terucap dengan terbata. Adelia menoleh menatap Bastian dengan ekspresi terkejut. Apakah baru saja pria yang katanya bos ini memanggil sayang?
Pertanyaan yang berputar di kepalanya langsung mendapat jawaban, begitu Bastian kembali berbicara.
"Kamu terlambat, Sayang."
Adelia semakin terkejut dengan hal itu. "A-apakah Anda baru saja memanggil sayang?" tanyanya dengan ekspresi yang tidak berubah, terkejut.
Bastian tidak menjawab, dia malah tersenyum dengan menatap Asyifa yang terlihat masih syok dengan keberadaan si Pengganggu di sini.
Bagaimana mungkin?
"Haruskah kita meneruskan interview-nya atau ... kita harus berkencan?"
Adelia semakin bingung dengan situasinya, dia mendekatkan kepalanya ke telinga Asyifa, "Fa, apakah dia sudah gila karena cape jadi bos?"
"Apa kau sengaja melakukan ini?" tanya Asyifa setelah beberapa saat hanya diam, ia mengabaikan ucapan sahabatnya dan menatap Bastian dengan terkejut.
Bastian membenahi posisi duduknya dan melipat kedua tangannya di dada.
"Sengaja bagaimana? Bukankah kamu sendiri yang datang kemari? Ah, mungkin kita memang ditakdirkan berjodoh."
Bastian tersenyum penuh kemenangan, membuat Asyifa semakin tidak habis pikir.
Apakah Bastian bekerja sama dengan sahabatnya, Adelia? Tidak mungkin, wanita di sampingnya bahkan sekarang terlihat bingung.
"Kenapa kamu diam? Bukankah kita harus interview?" Bastian melihat jam di tangannya. "Kamu terlambat setengah jam," lanjutnya lagi.
Setelah mengetahui kalau bosnya adalah Bastian. Asyifa tidak mungkin melanjutkan interview meski dia sangat menginginkannya, setidaknya itu akan menjadi pengalaman pertamanya di dunia kerja.
"Maaf, kami tidak jadi melakukannya," ucap Asyifa pada Bastian lalu dia menoleh ke samping kirinya di mana Adelia berada. "Del, ayo, kita pergi."
Tanpa menunggu jawaban sahabatnya, Asyifa berbalik hendak melangkah pergi tapi langkahnya tertahan saat Adelia meraih tangannya.
"Fa, kamu mau ke mana? Bukannya kita mau wawancara kerja?
Asyifa terdiam, dia melirik ke arah Bastian yang masih saja tersenyum menatapnya.
"Lebih baik, kita cari lowongan yang lain. Ayo, kita pergi. Aku akan menceritakannya padamu."
Asyifa hendak menarik tangan Adelia untuk pergi tapi teman kuliahnya ini malah berkata, "Kenapa kita harus cari lowongan lain? Tidak mudah cari tempat untuk pekerja paruh waktu seperti kita. Ini kesempatan emas. Pamanku bahkan sudah mewanti-wanti supaya aku melakukan interview dengan baik supaya bisa bekerja di perusahaan ini."
"Del—"
"Aku tidak mau, aku takut pamanku marah karena lowongan ini diberitahukan olehnya."
Asyifa merasa bersalah setelah mendengar ucapan Adelia, tapi tidak mungkin dia bekerja dengan Bastian.
"Apa kalian sudah selesai berdiskusi?"
Kedua wanita itu serempak menoleh pada Bastian, senyum di wajah pria itu tidak memudar sedikit pun.
"Kalau kalian sudah selesai silakan tinggalkan ruangan ini, aku terlalu sibuk untuk menunggu."
Kalimat itu memang terdengar mengusir tapi senyum di wajah Bastian membuat Asyifa sedikit jengkel karena ia tahu kalau Bastian sedang mempermainkan mereka berdua.
"Tidak, tidak, Pak. Saya akan tetap melakukan interview."
Adelia melangkah hingga jaraknya dengan meja kerja Bastian hanya satu meter. “Pak, jangan batalkan wawancaranya. Saya jadi, kok. Mungkin, hanya teman saya yang batal.”
Mendengar ucapan Adelia, Bastian menarik pandangannya dan melirik gadis itu dan terlihat berpikir. “Dia membatalkan wawancara?”
Adelia mengangguk pasti.
“Emm ... maaf, sepertinya kamu juga tidak dapat melanjutkannya karena dari awal saya membutuhkan dua orang. Jadi, kalau dia membatalkan interview, maka kamu juga batal.”
“Tapi, Pak—“
Asyifa yang juga mendengar hal itu amat terkejut, dia melotot ke arah Bastian yang kini kembali melihat ke arahnya dengan menaikkan sebelah alisnya, seolah berkata, ‘Mau menyerah?’
Asyifa mengepalkan tangannya kuat, dia ingin memukul kepala Bastian karena sengaja membuatnya tidak memiliki pilihan.
Dia tidak mungkin membuat Adelia kecewa. Dari awal, dirinya yang memaksa untuk ikut interview supaya mereka mempunyai pengalaman dengan bekerja paruh waktu di perusahaan itu.
Kapan lagi mereka mendapatkan kesempatan itu bahkan sebelum wisuda. Selain itu, perusahaan juga menawarkan jenjang karir yang lumayan bagus jika mereka memiliki take record yang baik selama magang di sana.
“Saya mohon, Pak, beri saya kesempatan.” Adelia memohon pada Bastian untuk memberinya kesempatan. Ia sudah sesumbar pada orang tuanya akan bekerja di perusahaan bergengsi bahkan sebelum lulus. Kalau gagal, dirinya akan merasa malu.
Bastian memajukan tubuhnya dan menyilangkan kedua tangannya di atas meja dengan pandangan masih mengarah pada Asyifa. “Tergantung temanmu. Apakah dia mau melanjutkan interview atau membatalkannya.”
Bastian menantang, membuat Syifa melotot karenanya yang dibalas senyum puas dari pria itu.
Adelia segera berbalik dan menghampiri sahabatnya yang berdiri di belakangnya. “Fa, ayolah. Kamu kemarin yang memaksa untuk mengambil kesempatan ini. Aku setuju karena kamu juga ikut. Sekarang, kenapa kamu malah mundur? Jangan sampai pamanku marah gara-gara aku menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia susah payah mendapatkan informasi lowongannya.”
Asyifa terlihat bingung. Di satu sisi dia juga menginginkan pekerjaan itu tapi di sisi lain dia tidak mau terjebak dengan Bastian, si pengganggu yang tidak membiarkan dirinya hidup tenang setelah pertemuan mereka pertama kali di proyek itu.
“Fa, jangan diam saja. Ayo, kita lanjutkan.” Adelia terlihat memelas, selain pada orang tuanya dia juga sudah pamer pada adiknya kalau dia akan mendapatkan pekerjaan. Ia sampai mengguncang tubuh Asyifa supaya bersedia melanjutkannya.
Asyifa menghela napas berat. Kalau sudah begini, ia tidak punya pilihan selain setuju.
Brengs*k!
Asyifa mendelik pada Bastian yang pura-pura tidak melihatnya.
“Baiklah, sudah hentikan.”
“Kamu mau melanjutkannya, kan?”
Adelia bertanya untuk memastikan.
Asyifa mengangguk dengan berat, pandangan matanya tak sengaja melihat senyum penuh kemenangan Bastian.
“Yeayy!” Adelia terlihat bahagia dan segera menari sahabatnya itu menuju ke hadapan Bastian. “Pak, dia sudah setuju.”
Senyum Bastian semakin lebar. “Baiklah, silakan duduk. Saya ingin melihat portofolio kalian.”
Ingin sekali Asyifa memukul kepala Bastian saat ini. Apalagi saat melihatnya tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2024-11-20
0
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
cincin itu pasti dri bas. yg di titipkn ke kakak iparx🤣
2024-03-16
0
Abdullah Rafif
lanjut kak ❤️
2024-02-09
1