Merasa Nyaman

Ekspresi wajah Asyifa lebih suram dibandingkan saat sebelum bertemu dengan Bastian. Pikirannya kembali melayang pada meeting hari itu,  Bastian berkata kalau ia pernah kehilangan seorang anak.

Itu artinya, kan, Bastian pernah menikah?

Kalaupun belum, itu malah lebih buruk lagi.

Sekarang, kakak iparnya mengatakan kalau Bastian sudah memiliki calon istri, lebih keterlaluannya, dia terus-menerus mengganggu Asyifa dengan mengklaim dirinya sebagai kekasih pria itu.

Menyebalkan.

Malam ini, harusnya jadi malam membahagiakan, karena salah satu teman abangnya yang sudah Asyifa anggap seperti kakak sendiri akhirnya menikah dengan wanita yang dicintainya.

Namun, suasananya tiba-tiba menjadi tegang saat kakak iparnya mengalami kontraksi. Semua keluarga panik dan segera membawa istri Abimanyu menuju ke rumah sakit.

Asyifa ingin menemani di rumah sakit tapi ia malah terjebak dengan Bastian karena harus pulang dan mengambil semua perlengkapan kelahiran milik kakak iparnya.

Setelah semua ketegangan yang terjadi semalam, Asyifa sudah tidak bisa menunda kepulangannya ke Palembang karena tiket pesawat sudah dipesan, pekerjaannya juga sudah mendesak.

"Dek, kamu diantar oleh sopir abang aja, ya, ke bandara? Mungkin ibu akan menemani," ucap Abimanyu saat pagi hari. Semalam istrinya baru saja melahirkan, dirinya tidak mungkin meninggalkan rumah sakit.

"Tidak apa-apa, Bang, aku pulang sekarang, ya."  Asyifa segera berpamitan pada seluruh keluarganya yang akan menetap di Jakarta untuk beberapa waktu.

"Ibu tidak perlu mengantar, lebih baik temani Kak Fiera aja. Aku bisa naik taksi online dari sini," ucap Asyifa seraya mencium tangan ibunya.

"Tapi, Nak, ibu tetap khawatir kalau kamu pulang sendiri." Ratna, ibu kandung Asyifa terlihat bimbang.

Di satu sisi ia tidak tega meninggalkan menantunya yang baru saja melahirkan, meski kedua orang tuanya sudah sampai di Jakarta. Tapi di sisi lain, ia juga tidak tega membiarkan anak bungsunya pulang sendiri ke Palembang. Sebesar apa pun usia Asyifa, baginya tetap anak kecil yang akan kesulitan jika jauh dengan orang tua. 

Belum sempat Asyifa menyahuti ibunya untuk menenangkan, suara seorang pria datang menimpali dari arah belakang.

"Ibu, biar Syifa pulang sama Bas aja."

Semua orang yang sedang berdiri di depan ruang perawatan itu menoleh, melihat Bastian yang berjalan menghampiri. "Kebetulan, Bas hari ini juga akan ke Palembang untuk urusan pekerjaan."

"Benarkah, Nak?"

Bastian mengangguk dengan senyum hangat di bibirnya.

"Benar, Bu. Bas sengaja ke sini buat jemput karena tahu kalau Asyifa juga harus pulang. Semalam, Abimanyu ngasih tahu. Jadi, kenapa tidak sama-sama aja? Sepertinya, penerbangan kita juga sama."

Bastian berkata, seolah-olah itu adalah hal yang tidak disengaja. Padahal, semuanya sudah diatur oleh Hoshi, karena tiket pesawatnya pun dipesan oleh asistennya itu.

Ratna terlihat menghela napas lega mendengarnya.

"Hah ... syukurlah, akhirnya ada orang yang bisa dipercaya untuk menitipkan Syifa. Ibu khawatir banget kalau dia harus pulang sendiri."

Bastian tersenyum semakin lebar mendengarnya. "Tentu saja, Bas akan jaga Syifa dengan baik," ucapnya sedikit ambigu.

Asyifa yang sejak tadi hanya diam dan mendengarkan perkataan Bastian hanya bisa mendengkus. Pintar sekali aktingnya, pikirnya.

Padahal, yang harus dikhawatirkan itu dia. Ibu malah menitipkanku padanya.

Asyifa hanya mengalihkan pandangannya, enggan menatap Bastian secara langsung.

"Thank you, ya, Bas. Gue juga bisa tenang kalau Syifa pulang sama lo."

Kalau nikah gimana?

Alih-alih mengatakannya langsung, Bastian justru berkata, "Jangan khawatir, Bi, dia adik lo. Jadi gue juga punya tanggung jawab buat jaga."

Lagi-lagi ucapannya memiliki dua arti yang hanya dirinya yang tahu.

"Baiklah, kalian hati-hati, ya. Kabari ibu kalau sudah sampai di Palembang."

"Iya, Bu." Asyifa mengecup pipi ibunya dan juga mencium tangan abangnya.

"Hati-hati, Dek."

Asyifa mengangguk, lalu melangkah pergi tanpa mengatakan apa pun pada Bastian. Pria itu juga langsung mengikuti setelah berpamitan pada sahabatnya dan juga calon ibu mertuanya. (Cieelah, Bas!)

"Silakan, Tuan Putri." Bastian membukakan pintu mobil untuk Asyifa saat keduanya sampai di parkiran.

Asyifa langsung masuk, tidak berniat sedikit pun mengatakan terima kasih pada Bastian. Dia duduk dengan tenang di kursi belakang dan Bastian duduk di sebelahnya.

"Pak, kita ke alamat ini dulu, ya, untuk mengambil barangnya," ucap Bastian pada supir yang duduk di balik kemudi. Dia menunjukkan lokasi yang dituju melalui ponselnya.

"Baik, Pak."

Segera, mobil melaju meninggalkan rumah sakit tanpa ada obrolan dari dua penumpang yang duduk di kursi belakang. Bastian sibuk dengan ponselnya, sedangkan Asyifa hanya menatap keluar jendela, melihat padatnya lalu lalang kendaraan di jalanan ibu kota.

Begitu sampai di rumah abangnya, Asyifa turun dari mobil, masih belum ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Dia berganti pakaian terlebih dahulu lalu keluar dengan membawa kopernya dan juga tas gendong berukuran sedang.

Bastian yang menunggu di samping mobil segera mengambil alih dua tas itu dan memasukkannya ke bagian belakang mobil.

"Sudah semuanya?" tanya Bastian pada Asyifa, yang hanya dibalas anggukan.

"Oke!"

Bastian segera melangkah dan membukakan pintu mobil, lalu ia berjalan memutari bagian depan mobil untuk menuju pintu samping kiri.

"Kita langsung ke bandara, Pak?" tanya sopir pada Bastian untuk memastikan tidak ada tempat lain lagi yang akan dituju oleh bosnya.

"Tidak, Pak, kita ke KUA."

"Eh, hah?"

Supir tersebut terkejut, dia bahkan langsung menoleh ke belakang untuk memastikan kalau pendengarannya tidak salah mendengar.

"Ke KUA? Buat apa?" Ekspresi supir itu terlihat bingung. Padahal, semalam Hoshi memberi tahu hanya untuk mengantar Bastian ke bandara.

Asyifa yang sejak tadi hanya diam, mengabaikan Bastian pun akhirnya menoleh pada pria itu dengan ekspresi heran.

Bastian mengangkat sebelah alisnya. "Buat apa lagi ke KUA, kalau bukan buat nikah?"

"Nikah? Anda mau menikah?"

"Tentu saja? Bukannya kami sudah terlihat seperti pengantin?"

Bastian menunjuk Asyifa dengan lirikan matanya.  Supir itu tertegun lalu tertawa karena sadar Bastian sedang bercanda. Sedangkan Asyifa akhirnya mendengkus.

"Dasar, playboy cap kerbau!"

Bastian tertawa mendengarnya, bukan karena panggilan Asyifa tapi karena dia akhirnya berhasil membuat wanita itu mau bicara padanya.

"Tidak, apa-apa, Sayang. Setelah menikah aku akan menjadi pria yang paling setia."

Asyifa berdecih, dia melirik pada sopir.

"Pak, kita langsung ke bandara aja. Jangan dengarkan dia. Kepalanya baru saja terbentur tiang pelaminan."

Sopir tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Asyifa, begitu juga dengan Bastian yang duduk di sebelahnya.

"Baik, Mbak."

Ketika mobil melaju, meninggal rumah Abimanyu. Bastian meregangkan tubuhnya. Tiba-tiba dia merebahkan kepalanya di pundak Asyifa.

"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Asyifa dengan berseru. "Minggir, kepalamu berat."

"Itu berlebihan, Sayang," ucap Bastian sama sekali tidak memindahkan posisi kepalanya dari pundak gadis itu. "Biarkan aku tidur sebentar. Aku mengantuk," lanjutnya lagi. "Ah, ini sangat nyaman," ucap Bastian, perlahan ia memejamkan matanya.

Asyifa ingin sekali mendorong Bastian untuk menyingkirkan kepala dari pundaknya, tapi entah kenapa yang dirinya lakukan malah diam, memandang mata yang terpejam itu.

Jika diperhatikan dengan seksama, Bastian seperti kelelahan. Rahangnya terlihat lebih tirus seperti orang yang jarang makan. Belum lagi lingkaran hitam di matanya yang tak bisa ditutupi, lalau ia kurang beristirahat.

"Kali ini aku akan membiarkanmu. Tapi kau harus membayarnya," ucap Asyifa akhirnya. Dia juga merebahkan punggungnya di Sandara kursi.

Bastian tidak menjawab, dia hanya sedikit membenahi posisi duduknya supaya lebih nyaman dan tersenyum dengan mata yang terpejam.

"Terima kasih," ucapnya lirih dengan suara serak seperti orang yang sudah  hampir terlelap.

Episodes
1 Sang Don Juan
2 Tidak Tahu Terima Kasih
3 Jadilah Pacarku
4 Pertemuan Kembali
5 Playboy Gila!
6 Merasa Dijebak
7 Menjadi Selingkuhan
8 Dia Berbeda
9 Penerjemah Seenaknya
10 Seribu Akal
11 Bersembunyi
12 Apa Kamu Cemburu?
13 Karma Instan
14 Munculnya Saingan
15 Merasa Terancam
16 Informasi Mengejutkan
17 Calon Istri
18 Merasa Nyaman
19 Tidak Bisa Membiarkan
20 Digrebek?
21 Nikahkan Saja!
22 Keputusan Menikah
23 Sebuah Pukulan
24 Hari Pernikahan
25 Pagi Pertama
26 Gara-gara Baju
27 Tempat Tinggal Baru
28 Mendapat Ancaman
29 Dia Istriku!
30 Seperti Sampul Buku
31 Memohon
32 Bastian Punya Anak?
33 Cerita yang Sesungguhnya
34 Mengetahui Kebenaran Cincin
35 Pernyataan Cinta?
36 Bertemu Saingan
37 Meminta Aset
38 Memilih Rumah
39 Kenapa Ada Telur di Keningku?
40 Sentuhan Pertama
41 Pelukan Menenangkan
42 Mendaftarkan Pernikahan
43 Pacar Bastian
44 Bersikap Ambigu
45 Cemburu
46 Menghapus Jejak
47 Sebuah Pesan
48 Berhadapan Kembali
49 Rencana Jahat
50 Amukan Bastian
51 Tidak Bisa Membenci
52 Pria Sukses
53 Hanya Wanita Rapuh
54 Menantuku!
55 Memberikan Ganjaran
56 Tamparan Balasan
57 Merindukanmu
58 Perasaan Gundah
59 Tidak Bisa Membiarkan
60 Tuduhan Menyakitkan
61 Aku Juga Berharga
62 Tawaran Menggiurkan
63 Mengetahui
64 Jangan Menanggungnya Sendiri
65 Untuk Pertama Kalinya
66 Kegilaan di Atas Sofa
67 Noda di Leher
68 Ayo Kita Bahagia
69 Tidak Asing
70 Membutuhkan Asupan Energi
71 Cinta Segi Berapa?
72 Posesif
73 Anak Manja!
74 Balas Dendam
75 Pulang Terlambat
76 Membuang Semuanya
77 Pertengkaran
78 Pukulan yang Pantas
79 Menyadari Kesalahan
80 Panik
81 Asyifa Pingsan
82 Diusir
83 Membawa Pergi
84 Bantuan Kakak Ipar
85 Tingkah Tidak Masuk Akal
86 Menyita
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Sang Don Juan
2
Tidak Tahu Terima Kasih
3
Jadilah Pacarku
4
Pertemuan Kembali
5
Playboy Gila!
6
Merasa Dijebak
7
Menjadi Selingkuhan
8
Dia Berbeda
9
Penerjemah Seenaknya
10
Seribu Akal
11
Bersembunyi
12
Apa Kamu Cemburu?
13
Karma Instan
14
Munculnya Saingan
15
Merasa Terancam
16
Informasi Mengejutkan
17
Calon Istri
18
Merasa Nyaman
19
Tidak Bisa Membiarkan
20
Digrebek?
21
Nikahkan Saja!
22
Keputusan Menikah
23
Sebuah Pukulan
24
Hari Pernikahan
25
Pagi Pertama
26
Gara-gara Baju
27
Tempat Tinggal Baru
28
Mendapat Ancaman
29
Dia Istriku!
30
Seperti Sampul Buku
31
Memohon
32
Bastian Punya Anak?
33
Cerita yang Sesungguhnya
34
Mengetahui Kebenaran Cincin
35
Pernyataan Cinta?
36
Bertemu Saingan
37
Meminta Aset
38
Memilih Rumah
39
Kenapa Ada Telur di Keningku?
40
Sentuhan Pertama
41
Pelukan Menenangkan
42
Mendaftarkan Pernikahan
43
Pacar Bastian
44
Bersikap Ambigu
45
Cemburu
46
Menghapus Jejak
47
Sebuah Pesan
48
Berhadapan Kembali
49
Rencana Jahat
50
Amukan Bastian
51
Tidak Bisa Membenci
52
Pria Sukses
53
Hanya Wanita Rapuh
54
Menantuku!
55
Memberikan Ganjaran
56
Tamparan Balasan
57
Merindukanmu
58
Perasaan Gundah
59
Tidak Bisa Membiarkan
60
Tuduhan Menyakitkan
61
Aku Juga Berharga
62
Tawaran Menggiurkan
63
Mengetahui
64
Jangan Menanggungnya Sendiri
65
Untuk Pertama Kalinya
66
Kegilaan di Atas Sofa
67
Noda di Leher
68
Ayo Kita Bahagia
69
Tidak Asing
70
Membutuhkan Asupan Energi
71
Cinta Segi Berapa?
72
Posesif
73
Anak Manja!
74
Balas Dendam
75
Pulang Terlambat
76
Membuang Semuanya
77
Pertengkaran
78
Pukulan yang Pantas
79
Menyadari Kesalahan
80
Panik
81
Asyifa Pingsan
82
Diusir
83
Membawa Pergi
84
Bantuan Kakak Ipar
85
Tingkah Tidak Masuk Akal
86
Menyita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!