Digrebek?

Dua bulan berlalu.

Semua persiapan proyek itu ternyata memakan waktu cukup lama. Penyelesaian pembelian lahan yang ternyata cukup alot sangat menghambat.

Akan tetapi, Bastian tidak menunda pembangunan klinik yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Tenggat waktunya bersamaan dengan pembangunan taman bermain yang tidak jauh dari lokasi.

Mengenakan kemeja berwarna krem dan juga celana cino berwarna hitam. Bastian meninjau proyek pembangunan klinik yang baru saja dimulai dua hari yang lalu. Kaca mata hitam bertengger di wajah tampannya dengan gaya rambut baru undercut-nya, membuat pria itu semakin memesona.

“Aku hanya ingin kau terus mengawasi proses pembangunannya. Aku tidak mau ada keterlambatan dari jadwal,” ucap Bastian pada asistennya. Dia mengelilingkan pandangannya, terlihat para pekerja yang gesit mengerjakan semua prosesnya.

“Baik, Bos.”

Setelah berbicara pada Hoshi, Bastian segera menoleh pada Asyifa yang sejak tadi berdiri di belakangnya. “Oh, iya, video proyek desain yang kamu buat juga hasilnya cukup memuaskan. Hampir seluruh kolega menyukainya. Nantinya, video itu akan dipajang di perusahaan pusat, di Australia,” ucap Bastian, memuji kinerja dari Asyifa.

“Terima kasih,” balas Asyifa dengan sopan.

Meski Bastian sering kali mengerjainya tapi saat bekerja seperti ini, dia sama sekali tidak bisa untuk sekedar tersenyum pada pria itu karena auranya sangat berbeda. Bastian akan sangat serius jika sedang bekerja, membuat siapa saja yang menjadi rekannya akan segan.

Rendi bahkan sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, saat Bastian terang-terangan bersikap tidak sopan padanya dua bulan yang lalu saat ada investor yang datang untuk meninjau lokasi proyek tersebut.

Padahal, mukanya tetap menyebalkan!

Bastian membalas ucapan terima kasih Asyifa hanya dengan anggukan kecil, lalu mereka bertiga meneruskan langkahnya menuju ke bagian yang lainnya, memeriksa kalau semuanya tidak ada kendala.

Bastian ingin, pembangunan klinik itu selesai tepat waktu tanpa ada masalah yang serius terjadi. Itu sebabnya, ia secara langsung memerintahkan Hoshi, asistennya untuk mengawasi secara ketat.

“Bos, beberapa vendor yang sudah deal akan datang ke kantor untuk membicarakan kerja sama lanjutannya. Saya harus segera kembali,” ucap Hoshi pada atasannya.

Bastian menghentikan langkah, ia melihat jam di tangannya dan mengangguk. “Baiklah, kau bisa kembali ke kantor,” katanya lalu menoleh pada Asyifa. “Kamu ikut saya untuk meninjau lokasi yang akan dijadikan vila.”

“Baik.”

Hoshi segera meninggalkan bosnya dan juga Asyifa di area proyek itu karena dirinya ada pertemuan dengan beberapa vendor hari ini.

Asyifa sungguh tidak bisa untuk tidak mengagumi kinerja Bastian. Tidak heran kalau kakaknya, Abimanyu mengatakan kalau pria itu adalah seorang pria yang gila kerja. Bahkan terkadang sampai melupakan waktu istirahat.

“Kamu pernah membaca buku yang ditulis kakak iparmu?” tanya Bastian tiba-tiba, kini keduanya berjalan saling beriringan, terlihat seperti sepasang kekasih.

“Ya, tentu saja. Aku orang pertama yang mendapatkan bukunya sebelum rilis,” ucap Asyifa. “Bagaimana mungkin tidak membacanya? Itu adalah hasil karya kakak ipar.”

Bastian mengangguk. “Aku juga sudah membacanya. Awalnya, kupikir tidak akan terlalu suka karena genre-nya romance, aku membacanya sedikit terpaksa karena itu pemberian sahabatku. Tapi aku salah, ceritanya cukup menyenangkan. Jalan cerita dengan konflik ringan tapi membuat kita ikut hanyut ke dalam ceritanya.”

Bastian menghentikan langkah dan menatap lurus ke arah depan.

“Penggambaran karakternya yang kuat, membuatku bisa memahami apa yang dirasakan si tokoh utama.”

Asyifa mendengkus mendengar ucapan Bastian. “Playboy sepertimu tentunya mana suka cerita romance? Harusnya kamu baca cerita tragedi.”

Bastian tertawa sebagai tanggapan. “Boleh.” Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. “Sejujurnya, aku lebih suka cerita misteri. Menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, menunggu plot twist yang akan disajikan oleh si penulis. Itu menyenangkan. Kalau kamu? Apa kamu menyukai cerita seperti itu?”

“Tidak!” jawab Asyifa dengan cepat. “Aku tidak suka menebak-nebak, tidak suka menunggu sesuatu yang tidak pasti,” lanjutnya lagi sedikit ambigu. Dia melangkah meninggalkan Bastian, menuju ke bangunan sementara yang dijadikan kantor di area itu.

Bastian tertegun untuk beberapa saat lalu dia tersenyum kemudian dan mengikuti Asyifa yang sudah melangkah cukup jauh darinya.

“Apa kamu sedang menyindirku?” tanya Bastian saat ia berada di sebelah Asyifa.

“Menyindir? Kenapa aku harus melakukan itu?”

Kenapa, ya?

Asyifa melihat para pekerja yang sedang menurunkan material yang baru saja tiba dari truk. Bastian hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa dia jadi bingung sekarang.

Asyifa mengerutkan kening saat merasakan sesuatu yang menerpa wajahnya. “Hujan?”

Dia mengangkat tangannya untuk memastikan.

“Iya, sudah mulai gerimis, ayo kita kembali,” ajak Bastian, tapi baru saja mereka akan melangkah pergi hujannya perlahan membesar dan terus membesar.

“Ke sana!” seru Bastian menunjuk ke bangunan sementara yang digunakan sebagai kantor. Asyifa langsung berlari ke tempat yang ditunjuk oleh Bastian. Sedangkan para pekerja berlarian ke area pembangunan untuk berteduh di bawah terpal yang terpasang.

“Yah, basah,” ucap Asyifa, menepuk-nepuk pakaian yang terkena tetesan air hujan.

“Hujannya deras sekali,” gumam Bastian, melihat ke arah luar yang terlihat gelap karena hujan yang sangat deras. Dia melihat jam di tangannya, sudah pukul setengah empat sore. Ia melangkah ke arah kursi yang ada di sudut bangunan itu. “Kemarilah, kita akan menunggu di sini sampai hujannya reda,” pinta Bastian pada Asyifa.

Asyifa menoleh pada pria itu dan berkata, “Kalau tidak reda juga bagaimana?”

“Ya, terpaksa kita menginap di sini,” jawab Bastian enteng lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kayu yang didudukinya.

Asyifa mengerucutkan bibirnya karena jawaban Bastian yang sama sekali tidak memberikan solusi untuknya. “Itu tidak lucu.”

“Aku bukan warkop.”

Asyifa mendengkus, ia tidak menjawab lagi karena tahu tidak akan menang berdebat dengan pria itu. Dia memilih untuk melangkah dan duduk di samping pria itu. Dia melirik ke sekeliling bangunan yang terbuat dari kayu dan triplek.

Bastian memperhatikan Asyifa yang terlihat tidak tenang.

Apakah dia gugup?

Bastian menyeringai, dia tiba-tiba membuka  kancing baju bagian atasnya. “Kenapa gerah sekali, ya? padahal lagi hujan.”

“Ke-kenapa kau membuka kancing bajumu?”

“Di sini tidak ada AC. Aku merasa gerah.”

Asyifa langsung memalingkan wajahnya karena berpikir kalau Bastian akan membuka bajunya.

Ingin sekali tertawa ketika melihat kepanikan Asyifa tapi Bastian tetap menahan dirinya dan membiarkan kancing kemeja bagian atasnya terbuka.

Sampai dua jam berlalu, hujan tak kunjung reda. Angin semakin kencang dan juga petir saling bersahutan, membuat Asyifa memeluk tubuhnya sendiri dan tanpa sadar duduk semakin merapat ke arah Bastian karena merasa takut setiap kali petir menggelegar.

“Kenapa hujannya tidak reda juga,” ucap Asyifa dengan lirih, tubuh wanita itu terlihat menggigil.

“Kamu kedinginan?” tanya Bastian pelan.

Asyifa ingin berbohong dan mengatakan tidak tapi itu akan terlihat konyol saat tubuhnya jelas-jelas menggigil.

Bastian sigap melepaskan kemeja yang dikenakannya, hingga menyisakan kaos dalam saja. “Pakailah ini,” katanya seraya memakaikan kemeja itu di pundak Asyifa.

“Tapi, bagaimana denganmu?” tanyanya.

Bastian tersenyum hangat. “Jangan dipikirkan, aku baik-baik saja.”

Akhirnya, Asyifa hanya bisa mengeratkan kemeja Bastian di tubuhnya, berharap menjadi lebih hangat tapi sepertinya itu tidak terlalu berpengaruh karena ia masih merasakan dingin.

“Aku ingin pulang,” gumam Asyifa pada Bastian, dia merasa takut karena hari mulai beranjak petang.

“Tapi hujannya masih deras banget.”

“Tapi aku ingin pulang, ibu pasti sangat khawatir.”

Bastian menggeleng cepat. “Justru ibu akan sangat khawatir kalau kamu pulang dalam keadaan hujan sederas ini.”

Asyifa kembali ingin menimpali tapi Bastian lebih cepat berkata, “Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan berbuat macam-macam,” ucap Bastian, seperti bisa menebak kekhawatiran Asyifa. “Kemarilah, supaya kamu bisa lebih hangat.” Bastian menepuk ruang kosong di sebelahnya.

Asyifa terlihat ragu pada awalnya tapi akhirnya ia mengalah karena petir semakin keras bersahutan, membuatnya takut.

“Tenanglah, semua akan baik-baik saja.” Bastian merangkul gadis itu dan mengusap punggungnya, memberikan rasa aman pada wanita di sampingnya. Lama keduanya pada posisi itu, perlahan Asyifa merebahkan kepalanya di pundak Bastian, wanita itu tertidur.

Dia tidur?

Tangan kiri Bastian yang bebas segera meraih tas yang ada di sebelahnya dan meletakkannya di samping Asyifa. Dengan hati-hati ia merebahkan tubuh gadis itu di kursi. Setelah memastikan Asyifa berbaring dengan nyaman, Bastian menyelimuti gadis itu menggunakan kemeja miliknya.

Tangan Bastian terulur menyentuh kening Asyifa dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi keningnya. “Sebentar lagi, sebentar lagi semuanya akan kubuat pasti,” janji Bastian pada gadis di hadapannya yang kini terlelap.

Bastian melirik jam di tangannya, ternyata sudah pukul sembilan malam tapi hujan tak kunjung reda. Dia memilih duduk di samping Asyifa dan melipat kedua tangannya di dada dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.

Entah kapan pastinya, Bastian juga perlahan terlelap dan tubuhnya tanpa sadar merosot hingga ia ikut berbaring di samping Asyifa. Kursi kayu yang sengaja dibuat lebih lebar dan panjang oleh para pekerja di sana supaya bisa dijadikan tempat beristirahat.

Entah pukul berapa, tiba-tiba cahaya terlihat masuk di sela-sela kayu bangunan, derap langkah terdengar mendekat dan pintu tiba-tiba terbuka dari arah luar.

“Hei, kalian sedang apa? Apa kalian sedang berbuat mes*m?” seru seseorang yang baru saja masuk dan disusul beberapa lainnya. Semua orang terkejut melihat pria dan wanita yang tertidur saling memeluk di kursi kayu.

Apalagi, si pria hanya mengenakan kaos dalam.

“Hei, kemarilah! Di sini ada yang sedang berbuat mes*m!” seru seseorang yang entah siapa, pada mereka yang ada di luar bangunan.

Asyifa yang tengah terlelap perlahan membuka matanya karena mendengar suara ribut-ribut. Dia segera terkejut saat melihat banyak orang di sana!

“Hei, kalian sedang apa? Apa kalian mau diarak oleh warga!”

Hah?

Asyifa melongo mendengar hal itu, dia masih terlihat bingung dengan situasinya karena baru saja bangun.

Apa dia sedang digerebek warga?

Terpopuler

Comments

❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳

❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳

oalah ini ternyata yang menyebabkan mereka menikah cepat.. 🤭🤭🤭😯😯😯🤣🤣
Aduh kasihan dan bahagia sekali aku.. lagi kena apes nunggu hujan deras berhenti.. ehh tau² bagi kena gab gerebekan warga dan orang².. pastiii ini langsung disuruh nikah.. lalu bikin Abimanyu dan Gerald marah.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2024-06-25

0

Amidah Anhar

Amidah Anhar

Otw menikah

2024-02-21

2

Srie Wahyuni

Srie Wahyuni

next thor😁

2024-02-21

1

lihat semua
Episodes
1 Sang Don Juan
2 Tidak Tahu Terima Kasih
3 Jadilah Pacarku
4 Pertemuan Kembali
5 Playboy Gila!
6 Merasa Dijebak
7 Menjadi Selingkuhan
8 Dia Berbeda
9 Penerjemah Seenaknya
10 Seribu Akal
11 Bersembunyi
12 Apa Kamu Cemburu?
13 Karma Instan
14 Munculnya Saingan
15 Merasa Terancam
16 Informasi Mengejutkan
17 Calon Istri
18 Merasa Nyaman
19 Tidak Bisa Membiarkan
20 Digrebek?
21 Nikahkan Saja!
22 Keputusan Menikah
23 Sebuah Pukulan
24 Hari Pernikahan
25 Pagi Pertama
26 Gara-gara Baju
27 Tempat Tinggal Baru
28 Mendapat Ancaman
29 Dia Istriku!
30 Seperti Sampul Buku
31 Memohon
32 Bastian Punya Anak?
33 Cerita yang Sesungguhnya
34 Mengetahui Kebenaran Cincin
35 Pernyataan Cinta?
36 Bertemu Saingan
37 Meminta Aset
38 Memilih Rumah
39 Kenapa Ada Telur di Keningku?
40 Sentuhan Pertama
41 Pelukan Menenangkan
42 Mendaftarkan Pernikahan
43 Pacar Bastian
44 Bersikap Ambigu
45 Cemburu
46 Menghapus Jejak
47 Sebuah Pesan
48 Berhadapan Kembali
49 Rencana Jahat
50 Amukan Bastian
51 Tidak Bisa Membenci
52 Pria Sukses
53 Hanya Wanita Rapuh
54 Menantuku!
55 Memberikan Ganjaran
56 Tamparan Balasan
57 Merindukanmu
58 Perasaan Gundah
59 Tidak Bisa Membiarkan
60 Tuduhan Menyakitkan
61 Aku Juga Berharga
62 Tawaran Menggiurkan
63 Mengetahui
64 Jangan Menanggungnya Sendiri
65 Untuk Pertama Kalinya
66 Kegilaan di Atas Sofa
67 Noda di Leher
68 Ayo Kita Bahagia
69 Tidak Asing
70 Membutuhkan Asupan Energi
71 Cinta Segi Berapa?
72 Posesif
73 Anak Manja!
74 Balas Dendam
75 Pulang Terlambat
76 Membuang Semuanya
77 Pertengkaran
78 Pukulan yang Pantas
79 Menyadari Kesalahan
80 Panik
81 Asyifa Pingsan
82 Diusir
83 Membawa Pergi
84 Bantuan Kakak Ipar
85 Tingkah Tidak Masuk Akal
86 Menyita
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Sang Don Juan
2
Tidak Tahu Terima Kasih
3
Jadilah Pacarku
4
Pertemuan Kembali
5
Playboy Gila!
6
Merasa Dijebak
7
Menjadi Selingkuhan
8
Dia Berbeda
9
Penerjemah Seenaknya
10
Seribu Akal
11
Bersembunyi
12
Apa Kamu Cemburu?
13
Karma Instan
14
Munculnya Saingan
15
Merasa Terancam
16
Informasi Mengejutkan
17
Calon Istri
18
Merasa Nyaman
19
Tidak Bisa Membiarkan
20
Digrebek?
21
Nikahkan Saja!
22
Keputusan Menikah
23
Sebuah Pukulan
24
Hari Pernikahan
25
Pagi Pertama
26
Gara-gara Baju
27
Tempat Tinggal Baru
28
Mendapat Ancaman
29
Dia Istriku!
30
Seperti Sampul Buku
31
Memohon
32
Bastian Punya Anak?
33
Cerita yang Sesungguhnya
34
Mengetahui Kebenaran Cincin
35
Pernyataan Cinta?
36
Bertemu Saingan
37
Meminta Aset
38
Memilih Rumah
39
Kenapa Ada Telur di Keningku?
40
Sentuhan Pertama
41
Pelukan Menenangkan
42
Mendaftarkan Pernikahan
43
Pacar Bastian
44
Bersikap Ambigu
45
Cemburu
46
Menghapus Jejak
47
Sebuah Pesan
48
Berhadapan Kembali
49
Rencana Jahat
50
Amukan Bastian
51
Tidak Bisa Membenci
52
Pria Sukses
53
Hanya Wanita Rapuh
54
Menantuku!
55
Memberikan Ganjaran
56
Tamparan Balasan
57
Merindukanmu
58
Perasaan Gundah
59
Tidak Bisa Membiarkan
60
Tuduhan Menyakitkan
61
Aku Juga Berharga
62
Tawaran Menggiurkan
63
Mengetahui
64
Jangan Menanggungnya Sendiri
65
Untuk Pertama Kalinya
66
Kegilaan di Atas Sofa
67
Noda di Leher
68
Ayo Kita Bahagia
69
Tidak Asing
70
Membutuhkan Asupan Energi
71
Cinta Segi Berapa?
72
Posesif
73
Anak Manja!
74
Balas Dendam
75
Pulang Terlambat
76
Membuang Semuanya
77
Pertengkaran
78
Pukulan yang Pantas
79
Menyadari Kesalahan
80
Panik
81
Asyifa Pingsan
82
Diusir
83
Membawa Pergi
84
Bantuan Kakak Ipar
85
Tingkah Tidak Masuk Akal
86
Menyita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!