Bastian mengantarkan Asyifa sampai ke rumahnya. Dia turun dengan membawa dua paper bag berisi pakaian yang dibelinya—lebih tepatnya, pakaian yang dipaksa Bastian untuk dibeli.
Asyifa sama sekali tidak menawarkan Bastian untuk mampir terlebih dahulu ke rumahnya. Bastian juga tidak memintanya untuk mampir.
"Dasar, kalau sudah punya pacar kenapa dia masih memaksaku untuk jadi pacarnya," gerutu Asyifa saat masuk ke dalam kamarnya, ia membanting pintu karena kesal. "Dasar playboy!"
Entah apa yang terjadi, dengan dirinya. Asyifa merasa kesal setelah mengetahui seorang wanita menghubungi Bastian. Selain itu, ia belum mendapatkan jawaban mengenai Risma, pemilik toko. Sebenarnya, siapa wanita itu?
***
Keesokan harinya, Asyifa tengah bersiap untuk pergi ke kantor Bastian, karena seorang staf menghubungi untuk mereka datang kembali ke kantor.
"De, mau ayah antar, ga?" Seorang pria paruh baya yang tak lain adalah ayahnya bertanya dari arah luar kamarnya.
Asyifa tidak langsung menjawab, ia melangkah menuju ke pintu keluar dan membukanya.
"Memang ayah ga ke rumah sakit? Arahnya, kan, beda."
"Tidak apa-apa, Sayang. Ayo, ayah antar. Ini, kan, pengalaman pertama kamu kerja, jangan sampai terlambat."
Asyifa tersenyum senang dan mengecup pipi kiri ayahnya. "Terima kasih, ya, Yah. Aku ambil tas dulu."
Ayah mengangguk dan melangkah meninggalkan kamar anaknya.
Tidak lama, Asyifa keluar dari kamarnya dengan membawa tas gendongnya. Ia buru-buru keluar dari rumah dan menghampiri mobil karena ayahnya sudah bersiap untuk pergi.
Perjalanan menuju ke kantor Bastian hanya memiliki waktu tempuh kurang lebih satu jam. Asyifa turun setelah mencium tangan ayahnya.
"Yah, doain lancar, ya, kerjaan aku."
"Tentu saja, Nak, ayah selalu doain."
Asyifa mengangguk dan melambaikan tangannya. "Ayah hati-hati, ya."
Setelah mobil ayahnya pergi, Asyifa masuk ke dalam kantor. Adelia memberi tahu kalau dirinya sudah berada di dalam. Begitu membuka pintu, Asyifa dikejutkan dengan keberadaan Bastian yang berdiri di samping pintu masuk.
“Selamat pagi, Sayang,” sapanya dengan senyum cerahnya yang mengalahkan sinar mentari pagi ini.
“Astaga!” seru Asyifa yang terkejut dan memegangi dadanya, ia terlihat kesal. “Apa kau tidak bisa bersikap normal?”
Bastian sama sekali tidak tersinggung dengan hal itu, ia semakin melebarkan senyumnya. “Aku tidak bisa, karena di dekatmu aku selalu kehilangan akal.”
“Terserah kau sajalah!” Asyifa melangkah pergi menuju ke tangga, ia melangkah menuju ke lantai dua, di mana ruangan kantornya berada.
Bastian menahan senyumnya dan mengikuti gadis itu menuju ke lantai dua. Ketika sampai di sana, Asyifa melihat Adelia yang duduk bersisian dengan seorang wanita muda yang mengenakan setelah kantor. Sepertinya adalah salah staf di sana.
Adelia yang melihat kedatangan Asyifa melambaikan tangan lalu dia menyadari kehadiran Bastian juga yang ada di belakangnya dan mengangguk. “Selamat pagi, Pak,” sapanya dengan ramah.
Bastian yang sejak tadi memasang ekspresi jahil di hadapan Asyifa langsung memasang wajah serius. “Selamat pagi juga.” Bastian berjalan menuju ke ruangannya tapi sebelum ia benar-benar masuk, pria itu berkata, “Yang kemarin wawancara bisa masuk ke ruangan saya,” ucap Bastian. Tanpa menunggu jawaban ia melanjutkan niatnya untuk masuk ke ruang kerjanya.
Wanita yang duduk di samping Adelia segera berdiri. “Kalian berdua, silakan masuk,” pintanya. “Kalian membawa apa yang saya minta tadi di telepon, kan?”
“Saya membawanya,” jawab Asyifa bersama dengan temannya, Adelia.
“Baik, silakan masuk.”
Asyifa dan temannya mengangguk, kedua masuk ke dalam ruangan Bastian.
Sejak kemarin, wanita-wanita di sekeliling si pengganggu itu cantik semua, gumam Asyifa di dalam hatinya.
Ia melihat Bastian yang duduk di belakang meja kerjanya dengan mengenakan kaca mata. Benar-benar terlihat berbeda dari sebelumnya saat dirinya datang. Pria itu masih sempat bertingkah konyol dan menggodanya.
“Silakan duduk,” ucap Bastian mempersilakan. Dia menutup dokumen yang sedang dibacanya lalu menatap dua wanita di hadapannya. “Seperti kemarin yang saya jelaskan mengenai pekerjaan kalian. Untuk proyek ini, kita melibatkan beberapa investor. Saya puas dengan portofolio kalian dan membutuhkan kalian berdua untuk menyiapkan bahan presentasi pada mereka. Apa kalian mau menerimanya? Gaji dan semuanya sudah dibahas kemarin, kan?”
Bastian menjelaskan, mengulang sedikit apa penjelasan kemarin. “Kita akan melakukan pertemuannya di Jakarta. Jadi, tentu saja kalian juga akan ikut ke Jakarta untuk beberapa minggu. Bagaimana? Apa kalian setuju?”
Asyifa hanya diam, sejak tadi ia tidak membalas tatapan Bastian dan hanya menatap ke arah meja kerja pria itu. Hanya Adelia yang benar-benar memperhatikan dan juga mempertimbangkan ucapan Bastian.
“Fa!” panggil Adelia dengan menyenggol kaki gadis itu, membuatnya langsung menoleh.
“Ada apa?” tanyanya bingung dengan yang dilakukan temannya.
“Bagaimana? Kamu mau menerimanya?”
“Menerima apa?”
“Astaga!” Adelia terkejut. “Kau sejak tadi tidak memperhatikan Pak Bastian?”
“Eh?” Asyifa melirik ke arah Bastian yang menatapnya dengan tersenyum lalu menaikkan sebelah alisnya untuk menggoda. “Maaf,” katanya dengan menundukkan kepala.
“Tidak apa-apa, saya akan menjelaskannya lagi.”
Bastian mengulang penjelasannya lagi pada Asyifa. Ia sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. “Bagaimana?”
Asyifa terkejut karena tiba-tiba mereka diberitahu harus bekerja di Jakarta untuk beberapa minggu ke depan.
“Ini terlalu mendadak, saya belum bisa memutuskan karena harus meminta izin orang tua,” ucap Asyifa. “Kau—bapak kemarin tidak mengatakan kalau kita akan langsung bekerja di luar kota.”
“Kemarin saya sudah mengatakan kalau sewaktu-waktu kita pasti akan melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Oleh sebab itu, jika kalian mau harus mempersiapkan diri.”
Asyifa mengunci rapat bibirnya karena yang dikatakan oleh Bastian benar. Dirinya saja yang sedikit tidak fokus dengan penjelasan pria itu yang terus saja mengganggunya.
“Pak, sama seperti Syifa, saya juga harus meminta izin orang tua. Bisakah meminta waktu satu hari untuk meminta persetujuan terlebih dahulu?”
“Tentu saja, silakan,” jawab Bastian lalu melirik ke arah Asyifa yang hanya diam saja sejak tadi. “Kamu sendiri bagaimana? Mau meminta izin dulu.”
“Ya, saya juga harus meminta izin,” jawab Asyifa.
“Baiklah kalau begitu. Kamu hubungi aku secepatnya jika setuju, ya,” kata Bastian, “biar asistenku yang memesankan tiket kalian untuk ke Jakarta.”
“Terima kasih, Pak,” ucap Adelia terlihat senang. Sejujurnya dia setuju saja dengan perjalanan dinas itu. Dia bisa jalan-jalan ke luar kota tapi tetap mendapatkan bayaran, sebuah pekerjaan yang ia impikan sejak lama.
Bastian mengangguk tapi tatapannya masih terarah pada gadis yang beberapa minggu belakangan selalu mengganggu pikirannya.
Setelah itu, Asyifa dan Adelia keluar dari ruangan Bastian. Keduanya duduk di meja kerja yang sudah disediakan untuk mereka.
Sebelum membaca berkas yang ada di atas meja, yang diberikan oleh staf wanita sebelumnya. Asyifa memutuskan untuk menghubungi seseorang terlebih dahulu. Menunggu beberapa saat, sampai panggilannya mendapat jawaban dari ujung sana.
“Halo, Dek?”
“Abang.”
“Ya, ada apa, Dek?”
“Abang tahu, ga, kalau aku sudah dapat pekerjaan?”
“Oh, ya?”
“Iya, aku mendapat pekerjaan di perusahaan real estate and property.”
“Wah, selamat, ya Dek. Abang bangga sama kamu.”
“Makasih, ya, Bang. Tapi—“
“Tapi apa?”
“Aku harus tinggal di Jakarta beberapa minggu ke depan karena harus ikut bersama bos untuk menyiapkan presentasi kepada investor. Aku dan temanku harus membuat ilustrasi.”
“Wah, itu lebih bagus, Dek, kamu bisa tinggal di rumah abang. Kebetulan juga Kak Fiera sendirian karena abang sibuk banget belakangan ini.”
Asyifa berdecak mendengar ucapan kakaknya. “Memang kapan Abang ga sibuk?”
“Haha ... ya, abang harus selalu sibuk. Bentar lagi, kan, keponakanmu akan lahir. Jadi, harus semakin giat bekerja.”
“Abang memang terbaik,” ucap Asyifa. “Aku ingin memberi tahu juga. Apa aku boleh ajak temanku juga nginap di rumah Abang?”
“Itu malah lebih bagus, Dek. Jadi rumah semakin ramai. Kasihan Kak Fiera tidak ada teman. Apalagi setelah kehamilannya semakin besar, ia jadi susah kemana-mana karena mudah lelah.”
“Ah, aku jadi tidak sabar,” ucap Asyifa. “Kalau begitu, sudah dulu, ya. Nanti aku kasih tahu kalau akan berangkat ke Jakarta. Abang ga mau kasih aku hadiah?”
“Kamu mau apa?”
“Aku mau tablet baru buat gambar.”
“Tidak, itu juga tablet kamu dari abang, kan?”
“Ya, ini kan sudah lama banget.”
“Tidak pokoknya. Kalau masih bisa dipakai, pakai saja yang ada.”
“Ah, abang pelit. Ya sudah, aku tutup dulu. Aku mau kerja.”
“Iya, iya, selamat bekerja, ya Dek.”
Setelahnya panggilan itu berakhir, Asyifa mulai membaca berkas yang ada di meja kerjanya. Berkas itu berisi panduan untuk mereka. Apa saja yang harus dilakukan dan disiapkan untuk pekerjaan pertama mereka.
Di ruang kerjanya, Bastian mengurungkan niatnya untuk keluar. Dia berdiri di sebelah meja kerjanya dan menghubungi asistennya.
“Hoshi, batalkan rumahnya. Sepertinya Asyifa menghubungi kakaknya dan akan tinggal di sana.”
“Baik, Bos.”
“Ah, siapkan juga tablet keluaran terbaru. Aku ingin barangnya besok sudah ada di kamar hotelku.”
“Tapi, Bos, aku sib—“
Bastian tidak mau mendengar protes asistennya, ia menutup teleponnya begitu saja. Beberapa saat yang lalu ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Asyifa yang ia tebak pasti dengan kakaknya karena wanita itu memanggil Abang pada orang yang diteleponnya.
Sedikit kesal karena Asyifa memilih tinggal bersama dengan kakaknya karena itu artinya ia tidak memiliki kesempatan untuk terus mengganggunya.
Akan tetapi, bukan Bastian jika ia menyerah begitu saja. Ada seribu cara baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰
2024-11-20
0
Bungamatahari
smoga aja Abimanyu Taulah kasihan syifa/Sob/bisa stress muda dia
2024-04-07
0