Chapter 20

Water Stuntman Show, kemungkinan besar akan menjadi wahana terakhir yang Kala buat di Great Ocean. Sebab sudah tidak ada lagi lahan di The Great Ocean, dan... Kala tidak dapat memprediksi apa reaksi Amber ketika nanti ia akan mengatakan jika dirinya tidak bisa menikahinya karena ia mencintai wanita lain. Apa pun nantinya yang akan terjadi, Kala harus siap jika harus meninggalkan The Great Ocean.

Pagi ini Kala menepati janjinya, datang ke Great Ocean lebih pagi sebelum wahana Water Stuntman Show di buka untuk umum, ia datang mengecek persiapan pembukaan wahana tersebut.

Selain mengecek detail tempat, Kala juga mengecek kondisi para pemain. Mereka semua harus prima, sebab dalam sehari mereka akan memainkan dua kali pertunjukan.

Saat Kala tengah mengobrol dengan para pemain, Amber baru saja tiba. Gadis itu langsung menghampiri dan menyapa Kala. "Tadi aku ke apartementmu, tapi kata Bibik kau sudah pergi pagi-pagi sekali," ucapnya dengan nada kecewa.

"Bukankah kemarin aku sudah bilang akan datang lebih awal?" Kala melihat jam di pergelangan tangannya. "Sebentar lagi kita ada acara potong tumpeng sebelum wahana ini di buka, ayo ke depan!" ajak Kala pada Amber dan yang lainnya, ia sengaja mengalihkan topik sebab ia sudah menduga jika Amber akan bertanya soal kemarin kemana ia pergi.

Amber menggandeng tangan Kala dengan erat ketika mereka berjalan menuju pintu depan wahana, hal itu membuat Kala tidak nyaman sehingga pria itu langsung melepaskan gandengan tangan Amber.

Acara ceremony pembukaan wahana baru berlangsung khidmat, para pengunjung langsung di persilahkan untuk masuk dan menikmati show perdana wahana tersebut, tak terkecuali dengan Kala dan Amber. Mereka berdua duduk di bangku penonton menyaksikan keseruan atraksi drama bajak laut layaknya film action.

Mereka melihat pertempuran water stuntman di laut untuk melawan sang bajak laut Scorpion. Pertunjukan ini lengkap dengan special effect seperti efek tembakan hingga ledakan yang memukau para penonton.

Kala membayangkan jika kedua putranya menyaksikan pertunjukan ini, mereka berdua pasti akan sangat senang dan bersemangat. Kala penasaran dengan reaksi mereka jika tahu bahwa The Great Ocean ini adalah buatan dirinya, ia ingin sekali anak-anaknya bangga memiliki ayah seperti dirinya.

Tapi di satu sisi Kala merasa sedih, ia merasa menjadi ayah yang gagal karena tidak hadir dalam masa awal kehadiran mereka, bahkan hingga kini mereka belum mengetahui bahwa dirinya adalah ayah kandung mereka, dan mereka juga belum bisa bersama sebab Tari masih menutup akses dirinya bertemu dengan mereka.

Ada perasaan takut yang menghantui diri Kala, ia takut menghadapi penolakan anak-anaknya. 'Tidak! Dengan cara apa pun aku akan berusaha agar mereka menerimaku,' batin Kala.

"Kala..." Amber menyentuh ringan lengan Kala, itu membuat Kala terkejut dan tersadar dari lamunannya. "Kamu kenapa? Kok dari tadi melamun? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"

Kala melihat sekeliling para pengunjung sudah pergi meninggalkan tempat duduk. "Aku... Aku hanya terpukau dengan pertunjukan tadi," dustanya.

"Kau memang genius Kala, kau menciptakan wahana yang sehebat ini. Aku bangga sekali padamu," Amber memeluk Kala dengan erat dari samping.

Kala yang risih langsung menjauhkan tubuhnya. "Amber, malu di lihat banyak orang. Ini Indonesia, kita tidak bisa berpelukan di tempat umum."

Wajah Amber terlihat kesal atas penolakan Kala. "Di apartementmu, kau juga selalu menghindar kalau aku memelukmu," protesnya. "Sepertinya kau tidak benar-benar mau menjalankan amanat Daddyku."

Kala mengusap wajahnya dengan kasar, ia begitu lelah dengan sikap Amber yang selalu membawa Uncle Tom setiap kali Kala berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan kemauan gadis itu. "Sudahlah Amber, aku tidak ingin berdebat denganmu. Bagaimana jika kita ke SEA LIFE saja, pekerjaan kita di sana masih banyak sekali." Kala beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan menuju SEA LIFE, di ikuti oleh Amber yang masih menyimpan rasa kesalnya.

Sejauh ini pembangunan SEA LIFE berjalan dengan lancar, tidak ada kendala yang berarti, Kala optimis project ini akan selesai tepat waktu. Kala berusaha seterbuka mungkin dan selalu melibatkan Amber hal sekecil apa pun dalam project ini, agar ketika nanti dirinya terpaksa pergi dari project ini.

Amber mampu melanjutkannya dengan baik, atau jika Amber bersikap dewasa, Kala sangat bersedia merampungkan project ini hingga benar-benar selesai dan di buka untuk umum.

Sibuknya pekerjaan ini, membuat Kala dan Amber tak menyadari jika waktu sudah menunjukan pukul 19.00 malam. Amber mengajak Kala untuk makan malam sekalian pulang bersama. "Maafkan aku Amber, aku... Aku harus datang ke acara komunitas mobilku," dustanya kembali. "Kau pulang sama Pak Budi saja ya, nanti aku pesankan makanan untukmu. Bagaimana?"

"Bolehkah aku ikut? Aku sama sekali tidak punya teman di sini, aku ingin punya teman seperti dirimu," ucapnya dengan wajah nanar dan penuh harap, hingga membuat Kala iba, namun Kala tidak bisa mengajak Amber karena sebetulnya ia ingin ke rumah Tari bukan nongkrong dengan teman-teman komunitasnya.

"Amber, komunitasku sedang ada masalah. Kami ingin rapat mengenai keanggotaan, jadi tidak boleh ada orang lain selain anggota," lagi-lagi Kala harus berdusta kepada Amber karena ia belum bisa mengatakan jika dirinya ingin menemui Tari.

"Baiklah kalau begitu, tapi malam ini aku menginap di apartementmu ya..." pinta Amber dengan manja.

Tentu saja Kala langsung menolaknya dengan halus. "Sayang sekali Amber, apartementku sedang dalam perbaikan, kau pasti tidak akan nyaman di sana karena bau cat yang masih basah. Sebaiknya kau pulang saja ke rumahmu."

Amber terlihat semakin kesal, tapi Kala tidak peduli. Pria itu langsung pamit dan meninggalkan Amber untuk menemui Tari dan berusaha mememangkan hatinya agar ia bisa berkumpul bersama kedua putranya.

Kala menekan bel kediaman Tari sembari mempersiapkan diri akan penolakan dari wanita itu, dan benar saja begitu Tari membuka pintu melihat kedatangan Kala, wanita itu langsung menutup pintu.

Namun dengan cepat Kala menahannya. "Tunggu dulu!"

Tari menghembuskan napas kesal. "Harus berapa kali aku katakan jangan pernah mengganggu kami lagi!"

"Aku tidak ingin mengganggu kalian, aku hanya ingin bertemu, bermain bersama kedua putraku dan juga... Dirimu," ucap Kala malu-malu.

Tari memutar bola matanya. "Jangan mimpi, mereka bukan anak-anakmu. Kau salah alamat!" ia kembali menutup pintu namun lagi-lagi Kala menahannya.

"Kalau betul mereka bukan anakku, mari kita test DNA. Jika hasilnya negatif, aku bersumpah tidak akan lagi mengganggu kalian. Tapi jika hasilnya positif, aku menginginkan mereka."

Wajah Tari memerah, amarah pada dirinya mengalir dalam pembuluh darahnya. "Beraninya kau menginginkan mereka! Sampai mati pun aku tidak akan menyerahkan mereka pada dirimu meski kau ayah kandungnya. Aku tidak...."

Kala menarik Tari dalam pelukannya, ia mendekap erat tubuh wanita itu hingga Tari tak bisa bergerak. "Jadi benar mereka adalah anakku?" bisiknya.

Terpopuler

Comments

⏤͟͟͞Rᵇᵃˢᵉ αииα 🅑αbу ՇɧeeՐՏ🍻

⏤͟͟͞Rᵇᵃˢᵉ αииα 🅑αbу ՇɧeeՐՏ🍻

hahaha..tari malah keceplosan kan😁😁😁

2024-03-07

2

🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜

🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜

Bikin kesel aja kelakuan Amber...

2024-02-20

1

🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜

🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜

Hhhmmm... pinter sekali Amber menggunakan surat wasiat ayahnya untuk mengikat Kala agar menyetujui permintaan daddy nya.

2024-02-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!