Keduanya kompak mengangguk. "Namanya Be Bread! Toko kue paling enak SeJakarta..."
Be Bread! Bukankah itu milik Lestari?
"Ooh.. Ya!" seru Kala. "Jadi Be Bread toko kue milik Mommy kalian? Uncle sering loh beli roti dan chiffon cake di sana, dan Uncle setuju jika Be Bread!adalah toko kue paling enak seJakarta," ucapnya jujur, bukan karena Lestari pemiliknya tapi memang Kala menyukai semua produk Be Bread! termasuk ibundanya.
"Mommy adalah mommy paling hebat di dunia," ucap Lingga penuh semangat, ia terlihat begitu bangga pada ibundanya, dan Kala bisa merasakannya sebab ia pun dulu seperti itu, ia sangat bangga dengan Ibundanya yang seorang guru, pekerjaan yang selalu di pandang rendah oleh ayahnya.
"Lalu apa pekerjaan ayah kalian?" tanya Kala penasaran, walau sebagian dirinya tak sanggup untuk mendengar jawaban mereka dan reaksi bangganya seperti mereka begitu membanggakan Lestari.
Tapi tiba-tiba saja wajah kedua bocah itu berubah menjadi muram, dan lesu. "Kami tidak punya Daddy," jawab Lintang.
"Mommy pernah bilang kalau saat Mommy hamil, Daddy pergi berlayar ke kutub utara, dan tenggelam di Samudra Arktik. Dia di makan oleh ikan hiu dan ikan stargazer," sambung Lingga.
Ikan stargazer? tentu cerita itu sangat tidak masuk akal bagi Kala, ia yakin jika Lestari hanya mengarang saja soal kematian ayah Lintang dan Lingga. Kala mengelus bahu Lingga dengan lembut. "Kalian jangan sedih, dan berkecil hati. Nanti Uncle akan berikan hadiah special, berupa tiket masuk gratis, dan makan apa saja sepuasnya di The Great Ocean sebagai hadiah ulang tahun kalian. Kapan kalian ulang tahun?"
"30 September," jawab si kembar kompak.
Deg... jantung Kala seolah berhenti. September? Kala ingat betul jika kejadian di pinggir pantai itu terjadi pada awal Januari. "Usia kalian sekarang berapa tahun?"
"Empat," jawab Lintang dengan mulut yang penuh dengan stroberi, sebagai pencuci mulut.
'Tanggal lahir yang pas dengan hitungan bulan kejadian itu, kemiripan wajah, dan jelmaan kancil itu...? Aku yakin ini bukan suatu kebetulan... Aku yakin mereka adalah anak-anakku,' batin Kala, ia juga merasakan dekatan emosional terhadap Lintang dan Lingga sejak pagi tadi mereka bertemu.
Banyak kesamaan sikap antara dirinya dan kedua bocah kembar itu. Kala mengulurkan tangannya, ia mengelus kepala Lingga yang berada di sebelahnya dengan lembut. 'Beraninya jelmaan kancil itu mengatakan aku di makan ikan stargazer,'gerutu Kala dalam hati. 'Awas saja kau...'
Selesai makan Kala mengajak si kembar kembali berpetualang di The Great Ocean, kali ini Lingga meminta menonton pertunjukan singa laut, dan kebetulan 15 menit lagi pertunjukan tersebut akan di mulai. Mereka pun bergegas menuju wahana pertunjukan, Kala menggandeng dengan erat si kembar di kedua tangannya.
Sementara itu di tempat berbeda, Amber nampak gelisah menunggu kedatangan Kala. Ia bolak balik di ruang kerja Kala, sembari melihat jam di pergelangan tangannya. "Kok enggak dateng-dateng sih?" gerutunya.
Dua jam yang lalu Amber mendapat laporan dari staf The Great Ocean, jika Kala tengah bermain dengan anak yang mendapatkan reward tike gratis dari Kala. Amber cukup kecewa dengan hal itu, pasalnya sebelum berangkat Kala mengatan bahwa dia hanya akan memberikan sambutan,lalu kembali ke kantor. Tapi kenyataannya pria itu malah asik bermain. "Harusnya tadi ikut saja dengannya."
Beberapa kali Amber menghubungi Kala tapi handphone pria itu selalu di luar jangkauan, sepertinya Kala memang sengaja mematikannya agar ia tidak di ganggu oleh siapa pun.
Pukul 5 sore mereka terpaksa berhenti bermain sebab Kala sudah melihat kedua bocah kembar itu nampak kelelahan dan sang pengasuh pun sudah memberitahu Kala bahwa Lingga dan Lintang sudah di suruh pulang oleh ibunya.
"Aku akan mengantar mereka," ucap Kala seraya menyalakan handphonenya. begitu handphonenya menyala ia melihat puluhan pesan dan panggilan terjawab dari Amber, pria itu langsung teringat akan janjinya pada Amber. Ia bergegas membalas pesan dari Amber.
Kala:
Maaf, ada hal penting yang harus kerjaan seharian ini. Kita bertemu saja di bioskop, satu jam lagi aku sampai.
Kemudian ia menghubungi Bianca untuk menyiapkan seorang sopir, Kala tak ingin melewatkan moment kebersamaannya dengan Lingga dan Lintang sehingga ia memilih untuk di antar oleh sopir ketimbang menghabiskan waktu untuk menyetir.
"Ayoo kita pulang!" seru Kala dengan riang, ia kembali mematikan handphonenya.
Kala dan si kembar duduk di bangku belakang, sementara sang pengasuh duduk di bangku depan bersama sang sopir. Suasana mobil Kala tidak pernah seramai ini sebelumnya, celotehan-celotehan yang keluar dari mulut si kembar Kala tanggapi dengan hati senang. Hanya sesekali saja ia memendan kekesalan terhadap Tari, ketika Kala membahas tentang ikan stargazer. "Kalian tahu seperti apa ikan stargazer?"
Keduanya kompak menggeleng dengan wajah yang penuh tanda tanya.
" Ikan tersebut berwajah seram, sehingga dijuluki “stargazer” karena bentuk mata yang melotot di kepalanya," terang Kala sembari membuka matanya lebar-lebar dengan jemarinya memperlihatkan mata melotnya pada keduanya.
"Ih.. takut..." ucap Lingga, bocah itu langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kala memeluk Lingga dan mengatakan bahwa bocah itu tidak perlu khawatir sebab ia akan melindunginya dari serangan ikan stargazer, lama mereka berceloteh tanpa mereka sadari mereka tertidur di pangkuan Kala.
Kala memperhatikan kedua bocah itu lekat-lekat, sembari mengelus wajah keduanya dengan lembut. Ia seperti sedang bercermin melihat keduanya, nampak kemiripan yang nyata antara wajah dirinya dengan wajah kedua bocah itu.
"Jika mereka benar anak-anakku, mengapa Lestari menghindariku saat di Be Bread!?"
Kala semakin tidak sabar untuk segera tiba di kediaman Tari, ia ingin bertemu dengan wanita itu dan meminta penjelasan mengapa Tari tidak mencarinya untuk meminta pertanggung jawabannya? Kala merasa tidak begitu sulit rasanya mencari dirinya sebab ia pernah masuk berita nasional saat proses pembangunan project The Great Ocean dan ia pun pernah sekali membintangi iklan minuman kemasan milik temannya, kemudian wajahnya terpasang di baliho pinggir jalan.
Atau setidaknya Tari mencarinya di pinggir pantai tempat mereka bercinta, sebab Kala sudah menitipkan kartu namanya pada para pedagang warung kecil di dekat pantai tersebut.
Dan mengapa Teri seolah menghindarinya ketika mereka bertemu kembali di Be Bread!? Kala butuh penjelasan itu, sebab jika ia tahu bahwa ia memiliki anak tentu saja ia akan bersedia untuk bertanggung jawab.
Selama lima tahun belakangan, ia cukup tersiksa dengan bayangan wajah Tari yang selalu muncul dalam benaknya, ia pun kerap di datangi oleh dua bayi kembar dalam mimpinya. 'Apakah jawaban mimpi-mimpinya selama ini adalah Lingga dan Lintang?'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
ikan stargazer tuh ikan apa yaa...baru denger aku
2024-03-13
4
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
astagaaa...ngakak 🤣🤣🤣🤣🤣
jadi Kala ximakan ikan hiu nih...🤣🤣🤦♀️
2024-03-13
3
⏤͟͟͞Rᵇᵃˢᵉ αииα 🅑αbу ՇɧeeՐՏ🍻
hahaha..pinter banget ya dua anak kembar ini..
2024-03-06
1