Pagi harinya Tari dan pria asing itu di kejutkan dengan suara ketukan kencang di kaca jendela mobil oleh beberapa orang nelayan setempat.
"Oh, astaga...!" Tari terperanjat dari dada bidang pria yang semalam minum dengannya, mereka berdua terkejut dan panik karena mendapati tubuh mereka hanya mengenakan pakaian dalam saja.
Mereka langsung berebut menarik pakaian masing-masing dan mengenakannya dengan terburu-buru. "Apa yang kau lakukan terhadapku?" teriak Tari sembari menatap tajam.
"Hei, semalam kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Jangan menatap seolah aku memperkosamu!" bentak pria itu tak mau kalah. "Kalau kau tidak meraba selan*kanganku hal itu tidak mungkin terjadi."
Tari teringat pada ciuman memabukan yang berikan pria itu semalam, di tambah dengan pengaruh alkohol membuatnya hilang kendali. "Oh, astaga!" ia menghela napas berat, tidak ada waktu untuk menyesali kejadian semalam, desakan dari warga agar mereka segera keluar semakin besar. "Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanyanya panik.
Pria itu tampak lebih tenang di bandingkan dengan Tari. "Kita harus segera pergi dari sini," ia menyalakan mesin mobilnya dan bersiap untuk kabur, namun sayangnya setelah mesin mobil menyala sensor pada layar monitor kendaraannya menyala. "Sial, mereka mengkempeskan ban mobilku."
"Jadi bagaimana ini?" Tari menutup wajahnya dengan kedua tangannya, belum pernah ia merasa semalu ini seumur hidupnya, ia tak bisa membayangkan jika dirinya di arak dan menjadi bahan tontonan warga. "Ini semua gara-gara kau, harusnya semalam aku kembali hotel." Tari menyalahkan pria itu sembari memukul-mukul lengannya.
"Diam kau!" pria itu meraih tangan Tari dan menahannya agar Tari tak memukulnya lagi. "Sudah kukatakan kita melakukannya atas dasar suka sama suka, jadi kita tidak punya pilihan lain selain bertanggung jawab." Pria itu menghempaskan tangan Tari, kemudian mematikan mesin mobil. Ia menghela napas berat, barulah membuka kunci mobil dan bersiap turun.
Baru saja pintu mobil sedikit terbuka, warga sudah mengerubunginya dan mendesaknya untuk turun. Pria itu memang terlihat sangat bertanggung jawab, hal ini terbukti dengan perlahan dia turun dari mobilnya.
Sementara Tari mencoba mencari peluang untuk keluar tanpa mendapatkan amukan masa, ia melihat bagian pintu belakang mobil terlihat sepi karena warga mengerumuni pria itu. Tanpa pikir panjang Tari melompat ke kursi belakang dan keluar dari mobil.
"Hei, mau kemana kau?" teriak pria itu, ia langsung menyadari Tari keluar dari pintu belakang dan berlari pergi. "Dasar kau wanita sialan..." pria itu tak bisa melanjutkan kalimatnya sebab ia harus menghadapi amukan warga.
Tari berlari sekencang-kencangnya menjauh dari mobil, ia berlari menuju jalanan besar. Ia tak mungkin kembali menyisiri pantai sebab bisa saja ia bertemu dengan nelayan lainnya, lalu kemudian menangkapnya.
Sembari berlari Tari menoleh ke belakang, ia melihat ada dua orang mengejarnya, ia pun berlari semakin kencang, ia tidak peduli kaki telanjangnya terkena batu karang dan kerikil yang terinjak olehnya.
Begitu sampai di jalan raya, ia mengakat tangannya tinggi-tinggi meminta bantuan supaya ada kendaraan yang berhenti dan memberinya tumpangan. Satu kendaranan berlalu begitu saja, Tari semakin panik karena warga yang mengejarnya semakin dekat. "Aduh bagaimana ini?"
Tari kembali mencoba menyetop sebuah mobil yang melintas, beruntung kali ini mobil tersebut berhenti. Tari menggedor-gedor kaca mobil, ketika kaca mobil itu terbuka Tari melihat seorang wanita paruh baya yang nampak anggun dan bersahaja mengendari mobil tersebut dengan di temani oleh beberapa anak-anak TK di bangku belakang mobil.
"Boleh aku menumpang sampai depan?" tanyanya dengan penuh harap.
Wanita itu tersenyum ramah. "Silahkan Nona," jawabnya sembari membuka kunci pintu mobil.
Tanpa membuang waktu, Tari masuk ke mobil dan duduk di sebelah wanita itu. "Terima kasih," ucapnya dengan penuh kelegaan.
Wanita itu kembali mengendarai kendaraannya, ia mengecilkan volume musik kendaraan saat salah seorang anak yang berada di belakangnya bertanya pada Tari. "Aunty sepertinya sedang terburu-buru?"
"Iya, aku harus kembali ke Jakarta. Tapi aku mau ke hotel dulu karena barang-barang Aunty masih ada di hotel?"
"Di mana hotelmu?"
Tari menoleh ke wanita paruh baya yang memberikan tumpangan padanya. "Hotel Harmony. Apakah satu arah dengan Anda? Jika tidak, turunkan saja aku di persimpangan depan, nanti aku akan jalan."
Wanita itu tersenyum. "Tidak apa-apa, aku dan anak-anak sedang tidak buru-buru. Bel sekolah jam setengah delapan, jadi masih ada waktu untuk mengantarmu sampai hotel."
Tari menengok ke belakang. "Apa anak-anak ini, cucu-cucu Anda?"
Wanita itu menggeleng. "Bukan. Mereka semua muridku, kebetulan kami masih satu komplek. Jadi, sekalian saja kita berangkat bersama. Lagi pula mobilku kosong, akan sangat menyenangkan jika berangkat bersama."
Dari raut wajahnya Tari bisa melihat jika wanita itu begitu menyukai anak-anak, namun jika di lihat-lihat kembali seharusnya wanita itu sudah memiliki cucu, tapi mengapa malah mengantar sekolah anak orang lain, apa beliau tidak memiliki anak? Tari menghalau pikiran itu, karena itu sama sekali bukan urusannya.
Saat mobil menepi di depan hotel Tari membuka sabuk pengamannya, kemudian menoleh ke samping. "Namaku Tari," ia mengulurkan tangannya. "Aku sangat berterima kasih karena telah mengantarku sampai depan hotel. Bolehkah aku tahu nama dan alamat rumah Anda? Aku ingin membalas kebaikan Anda jika nanti aku datang ke Bali lagi."
"Namaku Dahlia," jawabnya sembari tersenyum. "Kau tidak berhutang apa pun jadi tidak perlu ada yang di balas, tapi jika kau datang lagi ke Bali. Kau bisa menemuiku di taman kanak-kanak Bunga Matahari."
"Sekali lagi terima kasih banyak, Bu Dahlia." Tari pamit dengan wanita itu dan juga dengan murid-muridnya.
Sekembalinya Tari ke hotel, gadis itu langsung mendapat amukan dari ibundanya. "Dari mana saja kau Tari? Semalaman kau tidak kembali ke hotel, kau mengacaukan malam pertama ibu dan Om Damar saja, karena harus mencarimu." Bentak Elok memarahi putri tunggalnya. "Ibu baru saja mau menghubungi polisi untuk mencarimu."
Elok mengendus bau alkohol dari tubuh putrinya. "Kau habis mabuk ya? Kau mabuk di mana? Sama siapa?" bak tengah memarahi anak kecil, Elok menjewer Tari dan menariknya masuk ke kamar hotel.
Tari hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Ibu, malu... Aku bisa jelasin semuanya."
"Kau ini, apa kau seperti ini juga saat di Jakarta?" Elok terus mengomeli anaknya tanpa henti dan tak peduli jika saat ini ia tengah menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
wkwkwkwk malah tari yg malam pertama ini ibunya malah ke ganggu gara2 nyari Tari 😂😂😂😂
2024-02-29
3
☠ᵏᵋᶜᶟ🔵🍾⃝ͩ⏤͟͟͞RᴇᷞᴛͧɴᷠᴏͣW⃠🦈
mungkin beliau emang belum menikah deeeh
2024-02-13
1
☠ᵏᵋᶜᶟ🔵🍾⃝ͩ⏤͟͟͞RᴇᷞᴛͧɴᷠᴏͣW⃠🦈
untung aja Tari masih ingat nama hotel tempat Ibunya melangsungkan pernikahan deeeh
2024-02-13
1