Chapter 14

Satu Minggu Kemudian

Ini adalah hari yang di nanti oleh Kala, ia akan membuktikan siapa orang tua dari dua anak kembar yang mirip dengannya. Karena setelah ini ia akan menentukan langkah masa depannya, jika orang tua dari anak itu bukanlah dirinya. Kala berniat akan menjalin hubungan yang serius dengan Amber, sebab kelihatannya gadis itu menaruh hati pada Kala.

"Setelah ini aku tidak akan mencarimu lagi, jelmaan kancil," gumam Kala, ia meraih kunci mobilnya dan melangkah keluar dari ruang kerjanya.

Begitu ia membuka pintu, ia berpapasan dengan Amber yang kelihatannya dia ingin masuk ke ruang kerja Kala. "Sudah mau berangkat?" tanyanya dengan lembut.

Kala mengangguk, ia melihat jika Amber nampak tidak senang ditinggal olehnya. Sebetulnya Kala sudah mengajaknya, namun karena ada pekerjaan yang harus Amber selesaikan, gadis itu tidak bisa ikut dengan Kala. "Aku hanya memberikan sambutan sebentar, lalu kembali lagi setelah itu," ucap Kala menenangkan. "Kan sore ini kita mau nonton."

Senyum Amber kembali mengembang. "Sampai jumpa nanti sore," gadis itu berjinjit, hendak memberikan kecupan kecil di pipi Kala. Namun Kala dengan sigap menolaknya dengan halus. "Aku pergi dulu ya, takut kejebak macet," ia berlalu pergi.

Setibanya di The Great Ocean, ia mendapat laporan jika ada satu pasang anak kembar dari sekolah Cahaya Bunda tidak bisa datang ke acara tersebut. Jantung Kala berdegup kencang, hatinya bertanya-tanya apakah itu justru anak kembar yang justru ia harapkan untuk datang?

"Tidak apa-apa, lanjutkan saja acaranya," ucap Kala, ia memerintahkan stafnya untuk segera mengumpulkan anak-anak di dekat pintu masuk sebab ia akan sedikit memberikan sambutan sebelum mereka di persilahkan main sepuasnya di The Great Ocean.

Setelah semua berkumpul, Kala memperhatikan mereka satu persatu. Ada sekitar sepuluh pasang anak kembar berserta orang tuanya, namun sayangnya anak kembar yang Kala maksud tidak ada di antara mereka. "Kenapa justru mereka yang tidak ada?" gumam Kala dalam hati, ia mencoba untuk tersenyum dan memberikan sambutan singkatnya.

"Have a good time!"ucap Kala di akhir sambutannya, ia mempersilahkan mereka untuk bermain, sementara dirinya berbalik menuju ruang kantor untuk menemui Bianca, ia ingin meminta alamat sekolah Cahaya Bunda.

Saat Kala hendak melangkah, ia mendengar suara berisik perdebatan seseorang di pintu masuk. Pria itu pun menoleh, dan melihat dua bocah kembar yang dicarinya. Tanpa pikir panjang Kala langsung menghampiri mereka dan menyakan apa yang mereka ributkan.

Rupanya sang penjaga gerbang melarang mereka masuk sebab mereka telat dan tiket tersebut otomatis hangus. "Biarkan mereka masuk," ucap Kala kepada petugas penjaga gerbang.

Sang petugas langsung menuruti perintah Kala, dengan cekatan ia melingkarkan sebuah gelang tiket dan meberinya stempel di punggung telapak tangan dua anak kembar itu dan satu wanita yang mengantarnya.

Dari segaram yang di kenakan oleh wanita yang datang bersama dua anak kembar itu, Kala langsung bisa menebak jika wanita itu adalah pengasuh mereka. "Hi boy," sapa Kala dengan ramah.

Dua bocah kembar itu mendongak menatap Kala, keduanya terkejut dan menatap Kala lekat-lekat. Mereka menatap Kala, lalu menatap saudara kembarnya berulang kali seolah memastikan sesuatu. "Mengapa kita bertiga mirip?" tanya salah seorang dari mereka.

Kala tersenyum, ia berjongkok mensejajarkan diri dengan bocah itu. "Hai, nama Uncle Kala. Uncle adalah Direktur The Great Ocean," ia menunjukan identitas yang menempel di kemejanya. "Sudah siap berpetualang di The Great Ocean?" tanya Kala dengan semangat.

Kedua bocah itu pun ikut bersemangat seperti Kala.

"Aku Lingga."

"Aku Lintang."

"Kami siap berpetualang di The Great Ocean!" ucap mereka kompak dengan penuh semangat sembari melompat tinggi-tinggi dan mengangkat tangan mereka.

"Kalau begitu, mari Uncle temani," Kala berdiri dan menggandeng kedua bocah itu, sementara pengasuh mereka mengikuti dari belakang.

Sang pengasuh pun nampak heran mengapa anak majikannya, mirip sekali dengan direktur The Great Ocean. "Mengapa bisa semirip itu ya?" gumamnya sembari menggaruk-garuk kepalanya.

Wahana yang pertama yang mereka masuki, sekaligus wahana yang menjadi favorit dan kebanggaan Kala adalah wahana cinema 4D. Bagaimana tidak, sebab wahana tersebut memutar film yang penontonnya wajib mengenakan kacamata 3 Dimensi selama film berlangsung.

Penonton akan menonton sambil merasakan kursi bergerak, disertai dengan kemunculan special effect misalnya cipratan air, hembusan angin, dan lainnya. Dengan demikian, para penonton bisa merasakan sensasi ketika menonton film tersebut.

"Wah keren banget filmnya, aku sampe mengira jika bajuku basah terkena air," komentar Lingga ketika mereka keluar dari wahana tersebut.

"Aku juga sama," Lintang pun ikut berkomentar.

"Film di sini sangat banyak, jadi meskipun kalian berkunjung berkali-kali. Kemungkinan untuk menonton film yang sama akan sulit," Kala menerangkan konsep dari wahana tersebut dengan bahasa yang mudah di mengerti oleh mereka.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk bisa akrab satu sama lain, Kala seperti telah mengenal mereka bertahun-tahun, ada sebuah ikatan batin yang Kala tidak bisa jelaskan.

"Kalian mau makan sushi?" tanya Kala, ketika mereka melewati satu stand makanan Jepang kesukaan Kala.

Kedua bocah itu menoleh ke arah pengasuhnya, mereka menatap dengan penuh harap. "Sayang sekali, kalian tidak boleh jajan sembarangan. Mommy sudah membawakan bekal untuk kalian." Sang pengasuh menunjuk ke arah tas ransel yang di bawanya.

"Makanan di sini cukup higenis, suster tidak perlu khawatir," ucap Kala. "Aku pesankan makanan ringan saja, agar anak-anak tetap bisa makan makanan ibunya." Kala menyuruh Lingga dan Lintang duduk sementara dirinya memesan makanan.

Saat makan bersama, Kala di buat kagum dengan kemandirian Lingga dan Lintang. Meski usianya baru empat tahun, tapi kemandiriannya luar biasa. Mereka sudah bisa makan sendiri dengan rapih, dan bungkus makanan mereka buang ke tempat sampah tanpa di suruh.

"Uncle, terima kasih sudah mengundang kami main di sini," ucap Lintang, sembari meminum minuman dinginnya.

"Iya Uncle, terima kasih juga sudah membolehkan kami masuk padahal kami sudah terlambat dan sebelumnya Mommy juga sempat cancel undangan Uncle."

Kala mengangguk. "Kalau boleh Uncle tahu kenapa Mommy kalian mengcancel undangan Uncle?" tanyanya penasaran.

"Seharusnya kami masih liburan di Bali, tapi kemaren Mommy mendapat telepon dari Aunty Sonia, kalau ada oven kue yang meledak dan melukai Aunty Siska. Jadi kita buru-buru langsung pulang untuk melihat kondisi Aunty Siska dan toko kue Mommy," terang Lingga.

"Toko kue? Apa Mommy kalian punya toko kue?"

Keduanya kompak mengangguk. "Namanya Be Bread! Toko kue paling enak SeJakarta..."

Be Bread! Bukankah itu milik Lestari?

Terpopuler

Comments

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

jeng..jeng...
muka mirip.gt harusnya felling ding Kala..🤭

2024-03-13

3

Diaz

Diaz

sudah mulai terbuka hilalnya 🤭

2024-02-17

2

Siti Sa'diah

Siti Sa'diah

untung ovennya meledug 😆😆cepat sembuh ya aunti soniaa dan yg laennya

2024-02-16

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!