"If there’s nothing more to discuss, we can end here," ucap Kala mengakhiri sesi meetingnya siang ini. "Thank you for your participation in today’s meeting," ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang meeting dan bergegas menuju bandara untuk mengantar kepulangan ibundanya.
Sebetulnya Kala ingin sekali menemani ibundanya seharian ini, namun sayangnya ada meeting penting yang harus ia hadiri. Sehingga ia hanya bisa mengantar ibundanya ke bandara. "Dimana sih toko kuenya?" Kala celingukan mencari toko kue yang menjual chiffon cake yang di beli oleh asistennya kemarin.
Ia sendiri sudah meminta asistennya untuk membelikannya lagi, namun karena asistennya mendadak diare dan kebetulan tidak jauh dari kantornya, maka mau tak mau Kala sendiri yang membelinya. "Di zaman sudah semodern ini bisa-bisanya ada toko yang tidak mendaftar ke aplikasi pesan antar makanan, sungguh merepotkan sekali toko ini," gerutunya.
Kala terus mengemudikan kendaraannya secara perlahan hingga akhirnya ia melihat papan bertuliskan Be Bread! "Akhirnya ketemu juga," gumam Kala.
Sekilas toko tersebut nampak sederhana namun ramai, terbukti dari banyaknya kendaraan yang terparkir di depan toko tersebut telah terisi penuh. Kala sendiri memarkirkan kendaraanya beberapa meter dari toko.
Dan benar saja, begitu Kala memasuki toko ia melihat antrian panjang di meja kasir, nampan-nampan kue di etalase sudah banyak yang kosong. Harus Kala akui, kue yang tadi malam ia makan memang sangat enak, ia hampir tak pernah mencicipi kue seenak itu. "Sayang sekali manajemennya buruk," gerutu Kala.
Kala menghampiri salah seorang pegawai toko yang tengah menyusun roti di rak, ia memesan dua puluh lima chiffon cake berbagai rasa. Lima ia bungkus, dan sisanya di paketkan ke rumah ibundanya di Bali. Kala berencana memberikan kejutan kepada ibundanya dengan mengirimkan banyak chiffon cake.
"Baik Pak, pesanan yang di paketkan akan saya siapkan di belakang. Untuk yang di bungkus akan di kemas di kasir saat Bapak melakukan pembayaran," ucap sang pelayan dengan ramah sembari memberikan keranjang berisi lima buah chiffon cake.
"Mengantri?" Kala mengerutkan keningnya melihat begitu panjangnya antrian kasir. "Tidak bisakah aku menunggu di sini dan menitipkan pembayarannya di Mbak? Aku akan memberi tip untuk Mbak."
Sang pelayan itu menggeleng. "Tidak bisa Pak, ini sudah peraturan toko. Jika ada yang memotong antrian seperti ini, tidak menutup kemungkinan akan ada pelanggan yang seperti ini."
"Tapi Mbak, saya harus segera ke bandara sekarang juga. Ibu saya sudah menunggu..."
Pelayan itu kembali menggeleng. "Lebih baik bapak segera menganti sebelum tersalip orang lain."
Dengan sangat terpaksa Kala pun mematuhi peraturan toko, ia ikut mengantri seperti pembeli yang lainnya. Baru beberapa menit berdiri dalam antrian, ia menyadari kecekatan sang kasir dalam melayani pembeli. Peraturan yang kaku ternyata di imbangi dengan kecepatan pelayanan, sehingga kurang dari lima belas menit tiba juga giliran Kala.
Selagi pesananya di hitung, Kala menuliskan alamat kediaman ibundanya di Bali. Setelah itu ia menyerahkan alamat sekaligus kartu kreditnya. "Terima kasih, silahkan datang lagi kemari," ucap sang pelayan sembari menyerahkan kartu kredit dan kue yang Kala beli.
Tanpa membuang waktu, Kala bergegas keluar dari toko. Namun baru beberapa langkah ia terhenti, Kala lupa menuliskan pesan di kue yang akan di paketkan ke Bali. Pria itu membalik tubuhnya secara tiba-tiba dan tanpa sengata ia bertabrakan seorang wanita.
"Maaf..." Wanita yang mengenakan seragam toko itu membungkuk ke arah Kala. "Maaf, saya tidak sengaja."
Kala tertegun melihat wanita yang menabraknya, memori di otakanya memutar kembali kejadian malam pertemuannya dengan wanita asing yang selama ini menghantui pikirannya.
Ya wanita itu kini berada di hadapannya, wanita itu pun sama terkejutnya dengan Kala. Namun dengan cepat wanita itu bergegas pergi, menerobos para pembeli yang tengah berlalu lalang.
Kala pun langsung mengejar wanita itu. "Tunggu...!" panggilnya. "Hei... Kau, tunggu...!!"
Wanita itu terus berlari semakin cepat, sementara Kala masih terhalang pengunjung yang berlalu lalang. Ketika Kala sampai di pintu keluar, ia melihat wanita itu sudah masuk mobil dan pergi dari toko. "Sial... Cepat sekali wanita itu pergi," gerutu Kala. "Sepertinya dia jelmaan kancil sehingga mudah sekali lolos."
Meski hatinya sangat kesal karena wanita itu bisa meloloskan diri darinya, namun ia merasa sedikit lega karena setidaknya ia mengetahui di mana wanita itu bekerja dari seragam yang di kenakannya. Kala kembali masuk ke toko untuk menulis pesan pada kue yang akan di kirim ke Bali, baru kemudian ia menyusul ibunya ke bandara.
"Maaf ya, Mah aku agak terlambat," ucap Kala sembari memberikan chiffon cake untuk ibundanya. "Tadi ada jelmaan kancil yang menabrakku?"
Dahlia tergelak. "Kamu ini bisa saja, memangnya kamu habis dari hutan ada kancil segala?" ia menerima kue pemberian Kala dengan riang. "Kancilnya cantik apa tidak?" ledeknya.
"Apaan sih Mama ini," elak Kala, tanpa ia sadari wajahnya memerah seperti buah tomat.
"Kalau tidak cantik, tidak mungkin wajah anak Mama memerah." Dahlia semakin girang meledek putra bungsunya, sementara Kala justru terlihat kesal dan salah tingkah, sampai-sampai ia memalingkan wajahnya dari ibundanya.
"Ya sudah Mama masuk dulu ya, sebentar lagi pesawat Mama mau take off." Dahlia memeluk putranya dengan hangat.
"Hati-hati ya, Mah." Kala membalas pelukan hangat ibundanya. "Tadinya aku berharap Mama bisa tinggal dua atau tiga hari di Jakarta, aku ingin sekali mengajak Mama ke Great Ocean yang aku buat."
"Mama percaya Great Ocean buatanmu pasti luar biasa, kapan-kapan Mama akan kemari lagi untuk melihatnya. Sekarang Mama harus kembali ke Bali menemani anak-anak study tour di akhir semester ini, dan sekalian Mama mau merencanakan renovasi sekolah di liburan semester ini. Mama pakai designmu yang dulu pernah kamu beri."
"Wah benarkah?"
Dahlia mengangguk. "Renovasikan butuh dana yang lumayan, Mama tidak mau membebankan orang tua jadi baru bisa Mama laksanakan sekarang, doakan ya agar semuanya lancar."
"Pasti Mah, nanti aku akan ke sana untuk melihat progresnya."
"Ya sudah, Mama masuk ya," Dahlia menarik kopernya dan bersiap melangkah, namun sebelumnya ia mengatakan. "Kalau ketemu sama jelmaan kancil cantik itu lagi, jangan lupa kenalkan dengan Mama," ia buru-buru pergi sebelum Kala mengomel padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
wow langsung pesen bnyak dikirim ke Bali langsung
2024-03-02
2
🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜
waahhh langsung dapat lampu hijau dari mama...
2024-02-14
1
🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜
Jangan² toko roti itu milik Tari atau Tari salah satu pegawainya di sana... ( tebak² buah manggis🤭)
2024-02-14
1