Chapter 16

Tari yang mendengar suara mobil dari luar kediamannya, bergegas membuka pintu untuk menyambut kepulangan kedua buah hatinya.

"Selamat dat..." Wanita itu terkejut bukan main hingga ia tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika melihat Kala menggendong tubuh Lingga, sementara sang pengasuh menggendong tubuh Lintang.

Berbeda halnya dengan Tari, Kala justru tersenyum manis pada Tari, ia menyapa Tari dengan lembut. "Hai, apa kabar Nusantara Alam Lestari?" sapanya sembari mengelus punggung Lingga yang berada dalam gendongannya.

Tari semakin membulatkan matanya karena keterkejutannya, namun ia segera bergeser saat pengasuh menerobos tubuh Tari untuk membawa masuk Lintang.

 Tari menghembuskan napasnya pelan, menghilangkan ras gugupnya. Ia kemudian mengulurkan tangannya hendak mengambil Lingga dari gendongan Kala, namun Lingga memegang erat leher Kala seolah tak ingin lepas. "Daddy..." gumam Lingga.

Hal itu justru membuat Tari terlihat panik, ia menarik paksa Lingga dari pelukan Kala. "Dia hanya mengigau," ucap Tari, ia akhirnya berhasil melepaskan pelukan Lingga dan menggendong putranya dengan erat. "Terima kasih Anda sudah mengantar anak-anak saya, permisi." wanita itu bersikap biasa seolah tak mengenal Kala, namun sayangnya gagal total.

Kecanggungan Tari justru membuat Kala semakin yakin bahwa ada sesuatu yang Tari tutupi. Saat Tari masuk dan hendak menutup pintu, Kala menahan pintu tersebut. "Apakah Lingga dan Lintang adalah anak-anakku?" tanya Kala tanpa basa basi.

Jantung Tari seolah berhenti berdetak, wajahnya pucat pasi mendengar pertanyaan itu. Untuk sesaat ia terdiam, namun kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak!" bantahnya dengan tegas, menutup rasa gugupnya. "Mereka tidak ada kaitannya denganmu," ia kembali menutup pintu, namun lagi-lagi Kala menahannya.

"Jangan berbohong!" Kala menatap tajam ke arah Tari, namun suaranya masih tetap lembut. "Aku tahu, mereka lahir di bulan september yang berarti 9 bulan setelah kejadian itu."

Tari terlihat semakin panik. "Sudah ku katakan mereka tidak ada hubungannya denganmu! Aku tidak hanya melakukannya denganmu saja!" dengan sekuat tenaganya ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam.

Meski kalimat yang di katakan oleh Tari begitu menyakitkan namun ia sama sekali tidak mempercayainya sebab ia masih ingat betul dengan noda darah di kursi mobilnya setelah mereka bercinta. Tapi mengapa dia tidak mau mengakui bahwa mereka adalah anak-anakku? Apa dia punya pria idaman lain?

Kala menggelengkan kepalanya. "Tidak... Tidak ada pria mana pun yang boleh jadi bapak Lintang dan Lingga selain aku!"

Saat Kala hendak mengetuk kembali pintu kediaman Tari, bahunya di tepuk oleh sang sopir kantor The Great Ocean. Kala langsung menoleh. "Maaf Pak Kala, saya baru mendapat informasi dari Ibu Bianca jika ayahanda Nona Amber meninggal dunia, dan sekarang Nona Amber sedang berada di jalan menuju bandara untuk terbang ke Eropa."

Tanpa pikir panjang, Kala langsung meminta sang sopir untuk mengantarnya ke bandara menyusul Amber. Di perjalanan menuju bandara, Kala menyalakan kembali handphonenya, ada puluhan panggilan tak terjawab dari Amber dan juga ibundanya yang mengabarkan berita duka itu.

Kala langsung menghubungi Amber, ia meminta maaf karena telah mematikan handphonenya dan ia juga mencoba menenangkan gadis itu sebisanya. "Aku akan mengantarmu ke sana," kalimat itu meluncur begitu saja karena ia pun tak tahu bagaimana cara menenangkan hati Amber.

Amber langsung terdiam dari tangisnya ketika Kala mengatakan dia akan menemaninya. "Aku mau menghubungi asisten rumah tanggaku untuk menyiapkan dan mengantarkan barang-barangku ke bandara, sampai bertemu di bandara," ucap Kala seraya mematikan sambungan teleponnya.

Ia membaca satu pesan dari ibundanya, rupanya ibundanya juga berharap jika Kala bersedia melayat ke sana untuk mewakilinya. Kala membalas singkat pesan ibundanya, ia menuliskan jika ia sedang bersiap menemani Amber. Kemudian Kala menghubungi sekretarisnya untuk menyiapkan tiket pesawat untuk dirinya dan Amber.

Tiba di bandara, Amber berhambur ke pelukan Kala. Ia menumpahkan segala kesedihannya pada pria itu, Kala mengerti kesedihan yang di rasakan oleh Amber sebab ia pun merasakan kesedihan yang sama atas kepergian Uncle Tom yang begitu baik dengannya.

Di saat ayah kandungnya sendiri tak pernah mempercayai kinerjanya, Uncle Tom justru menyerahkan project besar pembangunan The Great Ocean kepadanya, tak hanya itu bahkan Uncle Tom pun, kembali mempercayakan perluasan The Great Ocean kepadanya.

Uncle Tom bukan hanya rekan bisnis, Kala sudah menganggapnya seperti orang tuanya sendiri sebab Uncle Tom banyak mengajari Kala banyak hal, hingga bisa seperti sekarang ini.

Tak lama setelah kedatangannya, asisten rumah tangga Kala pun datang mengantar keperluan Kala. Mereka berdua pun bersiap terbang menuju London.

...****************...

Suasan haru menyelimuti upacara pemakaman Uncle Tom, Kala dan Amber tiba di lokasi sesaat sebelum Uncle Tom di kebumikan. Tangis Amber semakin pecah tatkala peti daddynya di masukan ke liang lahat, tak ada yang bisa Kala lakukan selain merangkul gadis itu dan mengelusnya dengan lembut untuk menenangkannya, meski hatinya sendiri pun bersedih, meski air mata kesedihannya pun ikut menetes.

Tak hanya Amber yang menangis sedih, kedua kakak Amber pun turut bersedih, terlebih ketika peti mulai di timbun oleh tanah, lagi dan lagi Kala hanya bisa menenangkan Amber.

Selesai upacara pemakaman, Amber dan keluarganya kembali ke rumah. Caroline meminta Kala untuk menginap di kediamannya menemani Amber dalam masa berkabungnya.

Kala setuju dengan permintaan kakak pertama Amber, ia juga merasa senang bisa kenal lebih dekat dengan keluarga Uncle Tom yang semuanya ramah padanya.

Di hari ke tiga pasca kepergian Uncle Tom, keluarga Amber kedatangan pengacara pribadi Uncle Tom. Sang pengacara bermaksud mengumumkan harta warisan Uncle Tom kepada keluarganya. Awalnya Kala memilih diam di kamar sembari berkemas untuk kepulangannya ke Jakarta, Kala sudah sangat rindu dengan kedua anak kembarnya.

Namun Caroline meminta Kala bergabung dengan mereka sebab menurut informasi dari sang pengacara bahwa ada nama Kala dalam surat warisan tersebut.

Kala sendiri heran, mengapa namanya ada pada surat wasiat Uncle Tom. Ia mengira bahwa Uncle Tom ingin meminta dirinya membantu Amber menjalankan The Great Ocean, Kala pun duduk dengan tenang di samping Amber mendengarkan sederet surat wasiat Uncle Tom.

Wajah Kala terlihat bosan ketika sudah hampir setengah jam mendengarkan sang pengacara membicarakan total keseluruhan harta Uncle Tom yang begitu banyak, hingga di saat terakhir sang pengacara menyebut namanya.

"Langit Di Kala Sore, The Great Ocean would be yours, if you married to my little daughter, Amber."

Kala hampir tersedak mendengarnya, tak ada alasan baginya untuk menikah dengan Amber, ia tak suka pernikahan karena bisnis dan harta, ia juga sudah menganggap Amber seperti adik kandungnya sendiri, terlebih sekarang ia menyakini bahwa dirinya memiliki anak kembar.

Terpopuler

Comments

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

sudah kuduga sihh Uncle Tom meminta Amber utk belajar dengan Kala pasti ada sebabnya jg agar mereka berdua bs dekat dan dijidohin pastinya...
lalu gmna Tari dan si kembar?
Akankah Kala.mnjadi dilema

2024-03-13

3

⏤͟͟͞Rᵇᵃˢᵉ αииα 🅑αbу ՇɧeeՐՏ🍻

⏤͟͟͞Rᵇᵃˢᵉ αииα 🅑αbу ՇɧeeՐՏ🍻

kan kan...aku dah menduga..kala pasti bakal dijodohin sama amber..kan kala dah punya anak kembar

2024-03-07

2

Dwisya12Aurizra

Dwisya12Aurizra

berat nih... gimana nasibnya si kembar kali gitu

2024-02-18

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!