Sejak peletakan batu pertama di SEA LIFE, kesibukan Kala kian bertambah. Di tambah dengan pembangunan wahana baru di Great Ocean dan villa ayahnya di Bali, membuatnya hampir tidak bisa beristirahat, bahkan untuk sekedar menghubungi Dahlia saja Kala hampir tak memiliki waktu, untuk itulah wanita tersebut memprotes putranya lewat sambungan telepon.
"Apa kau sesibuk itu sampai-sampai tidak ada waktu memberi kabar pada Mama?" tanyanya dengan nada sedih. "Kau bahkan tidak cerita mengenai surat wasiat Uncle Tom pada Mama."
Kala memang sengaja tidak cerita soal itu kepada ibunya agar Dahlia tidak kepikiran, tapi dari mana ibunya sampai tahu soal surat wasiat itu? "Apa Amber yang memberi tahu Mama?" tanya Kala. Kalau benar, maka Amber sudah kelewat batas karena tak meminta persetujuannya.
"Hmmm.." Dahlia terdengar ragu. "Beberapa hari yang lalu Mama bertemu Papa di supermarket, lalu kami minum kopi bersama dan ngobrol mengenai banyak hal termasuk kamu."
Sebetulnya Kala senang mendengar mamanya bisa dekat dengan papanya, tapi ia sedikit khawatir jika mamanya baper dan dikecewakan lagi oleh papanya. "Ooh... jadi kalian menggosipi ku?"
"Papamu bilang kau tidak bisa memenuhi isi surat wasiat itu karena kamu sudah terlanjur mencintai seseorang. Siapa? Kok Mama tidak tahu? Terakhir kita ngobrol, kamu malah minta di jodohkan."
"Waktu itu aku belum bertemu dengannya lagi setelah lama kita tidak bertemu, aku pikir kita tidak akan bertemu lagi, makanya aku minta Mama untuk mencarikan jodoh."
"Terus, sekarang kalian udah resmi pacaran? Kok kamu enggak ngenalin ke Mama?" tanya Dahlia tidak sabar dengan sosok wanita yang dicintai oleh putranya.
Kala menghela napas pelan. "Belum," jawabnya. "Kami belum jadian tapi aku yakin aku pasti bisa mendapatkannya! Tidak peduli dia jenis kancil macam apa, dia tidak akan pernah bisa lolos dariku!" ucapnya dengan penuh keyakinan.
"Lalu bagaimana dengan Amber?" Dahlia memiliki firasat jika gadis itu begitu mencintai putranya.
"Setelah agak senggang, aku akan bicara dari hati ke hati padanya," Kala sendiri merasa frustasi menghadapi Amber, setiap kali ia ingin menjaga jarak dengannya, gadis itu selalu membawa nama ayahnya sembari memasang wajah sedih, tentu hal itu membuat Kala dilema dan tak tega.
"Pesan Mama hanya satu, jangan pernah menyakiti hati wanita. Sebab kau lahir dari rahim seorang wanita, dan Mama tahu betul bagaimana rasanya di kecewakan oleh pria yang Mama cintai sepenuh hati."
Kala pun tak ingin menyakiti Amber, tapi ia tak bisa menerima gadis itu lantaran hatinya sudah terlajur mencintai Lestari, terlebih ia telah memiliki anak kembar dengan wanita itu.
Anak? Perasaan rindunya kian membuncah ketika mengingat kedua bocah kembar itu. Ia sama sekali tak bermaksud melupakan Lingga dan Lintang, namun karena Amber terus menempel padanya bahkan tak jarang gadis itu menginap di apartementnya, membuat Kala tidak bisa mengunjungi mereka.
Namun kali ini Kala tak bisa menahan rasa rindunya pada mereka berdua, setelah mengakhiri obrolannya bersama ibundanya, Kala menghubungi Bianca untuk meminta alamat sekolah si kembar.
Kala menyambar kunci mobilnya sesaat setelah Bianca mengirimkan alamat sekolah Lingga dan Lintang, ia bergegas menghampiri mereka di sekolahnya. Saat keluar dari ruang kerjanya, Kala hampir saja menabrak Amber yang juga ingin masuk ke ruang kerja Kala.
"Sudah siap?" tanya Amber menatap Kala lekat-lekat.
Kala menggeleng. "Maafkan aku Amber, ada hal penting yang harus aku urus..."
"Tapi besok adalah hari pembukaan wahana baru di The Great Ocean..." gadis itu seolah tak terima Kala memiliki urusan pribadi yang terlihat lebih penting ketimbang menemaninya mengurus persiapan pembukaan wahana baru di The Great Ocean.
"Besok pagi, sebelum acara di mulai aku akan datang lebih awal untuk mengecek persiapannya. Sekarang, aku percayakan kamu untuk mengurusnya, beri tahu aku jika ada apa-apa. Aku pergi dulu," Kala menepuk bahu Amber sebelum pria itu beranjak pergi.
"Ikhhh.." Amber begitu kesal melihat Kala berlalu begitu saja.
Ramai lalu lalang anak-anak bersama orang tua ataupun pengasuhnya, Kala langsung bisa menebak jika ini adalah waktu pulang sekolah. Pria itu berharap jika Lingga dan Lintang belum pulang, sehingga mereka bisa bertemu.
Senyum sumringah Kala mengembang ketika ia melihat sosok pengasuh kedua bocah kembar yang ia cari, dan benar saja saat Kala mendekat, ia melihat sang pengasuh menggandeng Lingga dan Lintang.
"Hai Boy, apa kabar?" sapa Kala dengan riang. "Kalian masih ingat dengan Uncle?" ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Lingga dan Lintang.
Keduanya mengangguk namun memasang ekspresi datar, hal ini membuat Kala sedikit sedih, tapi Kala tidak mau putus asa. "Uncle punya hadiah untuk kalian," ia menyodorkan paper bag besar berisi lego keluaran terbaru.
Lintang menggelengkan kepala. "Mommy melarang kita untuk menerima hadiah dan berbicara dengan orang asing," tolaknya dengan halus.
Kala setuju dengan ajaran yang di ajarkan oleh Lestari, itu pula yang ibunya pernah katakan waktu dirinya masih kecil agar terhindar dari penculik anak. "Tapi Uncle bukan orang asing, kita pernah bermain bersama. Uncle bukan seorang penculik dan Uncle juga tidak akan menyakiti kalian."
Lingga dan Lintang terlihat berpikir, kemudian senyum kecil mengembang di sudut bibir mereka. "Iya juga ya, kita kan pernah berkenalan, dan Uncle pernah mengantar kita pulang." Mereka kompak menatap sang pengasuh seolah meminta persetujuannya.
Sang pengasuh mengangkat bahu, ia sendiri merasa jika Kala memang pria baik, jadi ia membolehkan Lingga dan Lintang menerima hadiah dari Kala.
"Jangan coba-coba mempengaruhi anak-anakku!"
Seketika Kala menoleh ke Lestari yang sudah berada di belakangnya dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. "Suster tolong bawa anak-anak masuk mobil!" perintahnya dengan tegas.
"Baik, Bu Tari..." sang pengasuh langsung menggandeng keduanya menuju mobil Tari yang sudah terparkir di parkiran sekolah, tepatnya tak jauh dari Tari berdiri. Mereka pergi tanpa membawa hadiah dari Kala.
Kala berdiri menghadap Tari. "Aku hanya ingin..."
"Sudah ku katakan mereka tidak ada hubungannya denganmu! Jadi, jangan pernah mengganggu mereka," sela Tari, suaranya terdengar begitu tegas.
Kala melihat sekeliling banyak orang-orang yang memperhatikan mereka, ia tidak mau menjadi pusat perhatian terlebih tempat ini adalah area sekolah anak-anaknya ia tak ingin Lingga dan Lintang menjadi bahan gunjingan. "Baiklah, aku minta maaf," ia meraih paper bag kemudian ia berjalan mendekat ke arah Tari. "Jika kau berkenan berikan ini pada mereka."
Dengan ragu Tari menerimanya, setelah itu Kala pergi. Pria itu sempat menoleh kearah mobil Tari, ia tersenyum pada Lintang dan Lingga yang mengintip melalui kaca jendela. "Mungkin tidak hari ini, tapi besok aku akan datang lagi, lagi, lagi sampai kalian menjadi milikku," gumamnya sembari memikirkan cara yang lebih soft untuk mendekati Tari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
wahh udah nempel aja kayak perangko smpe nginap di apartemennya Kala
2024-03-14
2
⏤͟͟͞Rᵇᵃˢᵉ αииα 🅑αbу ՇɧeeՐՏ🍻
jangan putus asa kala..sekeras2nya batu pasti akan hancur juga apalagi hati..eaaa eaaa
2024-03-07
2
🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜
Akan sulit menghindar dari Amber apalagi kalau sudah ada rasa TIDAK TEGA... Kala akan terbelenggu oleh rasa itu.
2024-02-19
3