Sejak pembacaan surat wasiat Uncle Tom, Kala terlihat berbeda. Ia lebih banyak diam ketika makan malam bersama keluarga Amber, padahal sebelum-sebelumnya ia tampak nampak hangat.
Pukul 01.00 dini hari, tak sengaja Caroline melihat Kala tengah duduk termenung di pinggir kolam renang menatap bintang-bintang. Ia menghampiri Kala dan duduk di sebelahnya. "Aku yakin Daddy tidak bermaksud memaksamu menikah dengan Amber," ucapnya, ia mendongak menatap bintang-bintang seperti yang Kala lakukan. "Sebagai orang tua tentu Daddy menginginkan yang terbaik untuk putri kesayangannya, dan setelah mengenalmu lebih dekat beliau menilai kau adalah pria terbaik yang pantas bersanding dengan Amber, terlebih orang tua kita berteman baik."
"Sejujurnya aku tidak suka urusan pribadiku di campur adukkan dengan urusan bisnis." Kala menoleh ke arah Caroline.
"Aku mengerti, tapi aku sarankan sebaiknya kau mencoba melakukan penjajakan dulu dengan Amber. Dia anak yang sangat baik dan menyenangkan. Kau akan jatuh hati padanya bukan karena The Great Ocean, lagipula bukankah kau berhutang dengan Daddy, bahwa kau akan menjaga Amber? Menjaga Amber yang Daddy maksud adalah menyayanginya sepenuh hati. Jadi, jalani saja seperti air mengalir, kau kan juga jomblo."
Kala tersenyum getir. 'Jika aku tidak menikahi Amber maka aku harus meninggalkan The Great Ocean setelah kontrak kerja samaku selesai.' itulah kalimat selanjutnya yang di tulis dalam surat wasiat Uncle Tom.
The Great Ocean adalah imajinasinya sejak kecil, setiap sudutnya ia design dengan sepenuh hati. Tapi jika sekarang ia harus memilih antara dua bocah kembar yang ia yakini adalah anak kandungnya dengan The Great Ocean tentu ia akan memilih buah hatinya. Namun sayangnya tidak sesimple itu, bagaimana dengan hubungan kekerabatan antara keluarganya dengan keluarga Amber, jika dirinya menolak Amber? Bagaimana dengan janjinya pada Uncle Tom untuk menjaga Amber?
Kala beranjak dari tempat duduknya. "Aku permisi mau istirahat, besok aku dan Amber harus kembali ke Jakarta."
Caroline mengangguk. "Aku menaruh harapan besar padamu Kala, aku menitipkan adik kesayanganku padamu."
Kala tersenyum mengerti, ia kemudian pergi meninggalkan Caroline.
...****************...
Menempuh perjalanan selama 16 jam akhirnya Kala dan Amber tiba di Tanah Air, seolah tak mengenal lelah, keduanya langsung menuju proyek untuk menghadiri peletakan batu pertama pembangunan arena wisata akuarium bawah laut.
Sama dengan halnya The Great Ocean, proyek ini pun merupakan imajinasi masa kecil Kala, ia sudah mendesign arena wisata ini sejak ia kuliah, dan saat menjalin kerja sama dengan Uncle Tom, Kala menyempurnakan kembali design yang telah ia buat serta menyesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Jika tidak ada kendala yang berarti, proyek ini akan rampung satu setengah tahun yang akan datang.
Bersama dengan Gubernur DKI, Kala dan Amber meletakkan batu pertama untuk menandai apa yang akan menjadi premis untuk dunia bawah laut, yang meraka beri nama SEA LIFE.
"Akhirnya proyek ini bisa kita mulai, semoga semuanya lancar hingga peresmian nanti," ucap Amber ketika acara ceremony selesai, ia kembali melihat design buatan Kala yang terpajang di papan arena proyek, terlihat jelas jika gadis itu begitu mengaguminya.
"Aku juga berharap seperti itu," sahut Kala. "Aku mau balik ke kantor, kau mau pulang atau..?"
"Aku ikut denganmu," Amber terseyum kemudian menggandeng tangan Kala menuju mobil.
Sekilas Kala melihat tangan yang di genggam oleh Amber, sejak pembacaan surat wasiat Uncle Tom, Amber semakin terang-terangan menunjukan ketertarikannya seolah sudah ada hubungan resmi di antara mereka.
"Amber..." Kala menatap Amber dengan serius ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Iya Sayang.."
Kala tersentak, ia begitu terkejut dengan panggilan sayang dari Amber. "Sayang?"
"Memangnya tidak boleh ya?" wajah Amber seketika menjadi murung. "Aku pikir kau akan menepati janjimu pada Daddy... Tapi maaf jika aku terlalu banyak berharap dan membuatmu tidak nyaman."
"Bukan seperti itu, Amber. Hanya saja..." Kala tidak bisa bilang jika ia mencintai wanita lain, dan bahkan ia memiliki anak dari wanita tersebut, ia takut menyakiti hati Amber.
"Hanya saja apa?"
Kala menghembuskan napas berat. "Hanya saja masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan, aku takut hubungan kita justru menyulitkan kita untuk menyelesaikan pekerjaan ini."
Wajah Amber kembali berseri. "Tenang saja, aku sangat profesional. Aku tidak akan mencampur adukan hubungan kita dengan pekerjaan."
Kala tersenyum ragu, surat wasiat Uncle Tom saja sudah jelas jika mendiang Uncle Tom menggunakan The Great Ocean untuk memkasa dirinya menikah dengan Amber.
Tiba di kantor, Kala di kejutkan dengan kedatangan ayah kandungnya. "Papa..." ia menghampiri Jagat di sofa ruang kerjanya, Kala sedikit heran melihat papanya yang begitu lusuh.
"Apa kabar, Nak?" Jagat berdiri dan memeluk putranya.
"Aku baik, Pah. Papa sendiri kapan datang? Sudah lama menunggu? Kenapa tidak memberitahuku?"
"Papa baru saja tiba di Jakarta, dan langsung kemari. Kata stafmu siang ini kamu ke kantor, jadi Papa tunggu kamu di sini."
Kala mengangguk kemudian bergeser, ia mengenalkan Amber pada papanya. "Papa masih ingat anak bungsunya Uncle Tom?"
Jagat nampak berpikir keras mengingat anak-anak Tom. "Aku Amber, Om. Aku putri bungsu Daddy," gadis itu mengulurkan tangannya.
Jagat menerima jabatan tangan Amber. "Ohh ya..." ia baru ingat sesuatu. "Dulu kau masih berusia satu tahun bukan? Om hampir saja lupa..."
Amber tersenyum, ia memaklumi karena sudah lebih dari dua puluh tahun berlalu. "Kalau begitu saya permisi ke ruangan saya dulu ya, Om." Gadis itu memberikan privasi kepada Kala dan orang tuanya untuk mengobrol sebab ia tahu jika hubungan Kala dengan Jagat sedang tidak baik-baik saja.
Setelah Amber pergi meninggalkan ruang kerja Kala, Jagat melihat sekeliling. "Kau sungguh luar biasa Kala." tangannya menengadah ke sekeliling. "Kau punya karir yang begitu cermelang, kantor mewah, dan... Dan pacar yang sangat cantik."
Kala mengerutkan keningnya ketika Jagat mengatakan pacar. "Tadi Papa melihat kalian berpegangan tangan," lanjut Jagat. "Papa sungguh malu terhadapmu." Ia berjalan menuju jendela kaca menatap padatnya jalanan ibu kota.
"Real estate yang Papa bangun bersama Om Rudi gagal, penjualannya tidak mencapai target, karena pasar menilai bangunan yang kami buat terlalu monoton," ia berbalik menghadap Kala. "Pasar menginginkan perumahan yang memiliki taman terbuka hijau yang luas dan di lengkapi dengan banyak fasilitas permainan anak." Jagat mengakui kekeliruannya karena pernah menolak design yang pernah di ajukan oleh putranya.
" Papa mengalami kerugian miliaran," ucapnya jujur. "Papa sudah menjual beberapa aset Papa untuk menutup kerugian ini." ia berjalan menghampiri Kala, kemudian menepuk bahu Kala dengan lembut. "Papa ingin minta maaf padamu. Setelah kehilangan sebagian aset, Papa baru menyadari jika harta berharga yang Papa miliki adalah dirimu, dan Papa ingin hubungan kita bisa seperti dulu lagi."
Kala memeluk Jagat dengan hangat. "Sampai kapan pun Papa tetap Papaku," ucapnya. "Nanti aku akan bantu Papa mengatasi masalah Papa."
Jagat menggeleng. "Tidak... Papa kemari bukan ingin meminta bantuanmu."
"Sudahlah, Pah. Aku rindu bekerja sama dengan Papa, sayang kan jika perumahan itu mangkrak begitu saja? Aku punya ide bagus..." Kala menghubungi Sekretarisnya, menyuruhnya untuk membawakan minuman untuk dirinya dan juga Papanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
wahh kok jd gitu sih...
pekerjaan dicampur adukkan bisnis..
Pasti Kala jd dilema kann
2024-03-13
3
⏤͟͟͞Rᵇᵃˢᵉ αииα 🅑αbу ՇɧeeՐՏ🍻
hadeeh..dilema ya kala..antara menolak amber tapi sayang melepas great ocean
2024-03-07
2
Diaz
surat wasiat bikin galau
2024-02-19
2