Chapter 4

Lima tahun kemudian.

"Apa yang kau lakukan terhadapku?"

Teriakan wanita itu begitu membekas di hati Kala meski semuanya sudah berlalu lima tahun yang lalu, pria itu mengingat semua detail kejadian itu. Termasuk ketika Kala menemukan bercak darah di jok mobilnya. 'Jadi aku lelaki pertama yang menidurinya?' Ada perasaan bersalah dan keinginan bertanggung jawab atau setidaknya memastikan jika gadis itu baik-baik saja pasca kejadian malam itu.

Tapi Kala tak mengetahui di mana gadis itu tinggal, ia menyesali obrolan panjangnya malam itu tak menyempatkan untuk menanyakan siapa namanya dan dimana dia tinggal.

Selama lima tahun ini, setiap kali Kala mengunjungi mamanya di Bali, ia menyempatkan diri untuk ke pantai itu lagi, berharap gadis itu di sana. Tapi sayangnya Kala tak pernah sekalipun melihat gadis itu lagi, ia juga mencari-cari wajah wanita itu di internet, siapa tahu saja dari banyaknya sosial media yang ia buka, ia menemukan gadis itu.

"Dia yang pergi meninggalkan aku, untuk apa aku yang repot-repot mencarinya," gerutu Kala kesal. Perasaan rasa bersalahnya, seketika hilang saat ia teringat gadis itu berhasil meloloskan diri amukan warga sehingga ia harus menghadapinya sendirian. "Wanita licik."

Kala kembali pada layar laptop yang berada di hadapannya. Ya, setiap kali ia teringat akan kejadian malam itu, Kala selalu mengalihkan pikirannya pada pekerjaannya.

Lima tahun merantau ke ibu kota, Kala berhasil mewujdkan mimpinya. Bersama Uncle Tom, kerabat baik ibundanya. Mereka berhasil mendirikan Edutainment Theme Park bernuansa konservasi alam yang memberikan pengalaman kepada pengunjung untuk mengenal lebih dekat dan menyayangi aneka satwa. Tempat rekreasi tersebut mereka beri nama The Great Ocean.

Di tengah keseriusan Kala memeriksa design wahana terbaru yang akan di buatnya dalam waktu dekat ini, ia mendapatkan laporan dari sekretarisnya bahwa tambahan fasilitas tempat duduk yang Kala pesan sudah di pasang sesuai dengan perintahnya.

"Tolong siapkan mobil! Aku mau ke sana untuk memeriksanya, sekalian aku ingin meninjau lokasi untuk wahana terbaru." Kala menutup teleponnya kemudian ia beranjak dari ruang kerjanya bergegas menuju lokasi.

...****************...

Sejak berdiri pada pertengahan tahun lalu, The Great Ocean tidak pernah sepi pengunjung. Ada setidaknya 2.000 pengunjung di weekdays dan 3.000 pengunjung saat weekend, karena alasan itu lah Kala selalu menambah fasilitas demi kenyamanan pengunjung.

Seperti saat ini, Kala menambah puluhan tempat duduk yang ia design sendiri. Kala tak hanya memikirkan fungsi tapi juga keindahan, sehingga setiap detailnya selalu ia pikirkan dengan matang supaya pengunjung bisa mengabadikan moment di setiap sudut tempat wisata yang ia buat.

Pria itu terlihat puas melihat tempat duduk yang sudah di pasang sesuai titik yang ia perintahkan, tempat duduk itu begitu serasi dengan wahana-wahana yang ada di dekatnya. "Bagaimana dengan UMKMnya? Kapan mereka bisa mengisi stand-stand ini?" tanya Kala pada manajer yang bertugas mengepalai tempat wisata tersebut.

Kala tak hanya memikirkan soal keuntungan dirinya saja, ia sengaja menggaet beberapa UMKM untuk berjualan di arena tempat wisatanya, sehingga ia pun menyediakan stand di dekat tempat duduk terbarunya.

"Dalam minggu ini, Pak Kala. Kami harus memastikan makanan yang akan mereka jual berkualitas."

Kala mengangguk, ia kembali berjalan menuju lokasi yang akan ia bangun untuk wahana terbarunya. Wahana tersebut rencananya akan bersebelahan dengan wahana pertunjukan lumba-lumba, sehingga Kala harus melewati kerumunan orang-orang yang tengah antri untuk melihat atraksi lumba-lumba.

Kala tersenyum ramah pada pengunjung, terutama anak-anak kecil yang datang dengan rombongan sekolah mereka. Kecintaannya terhadap anak-anak menurun dari ibundanya.

Langkah Kala terhenti saat melihat segerombolan anak-anak taman kanak-kanak keluar dari wahana lumba-lumba. Di antara segerombolan anak-anak tersebut, Kala mendapati dua anak laki-laki kembar yang wajahnya begitu mirip dengannya.

"Astaga..." ujar Kala, "Tidak mungkin." Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Kedua anak itu berjalan sembari mengobrol riang, dengan di bimbing oleh guru-guru yang mendampingi mereka. Kala yang begitu penasaran dengan kedua anak tersebut, bergegas menghampirinya. Namun langkahnya tertahan oleh sang manajer yang memegang lengannya. "Pak Kala, ada telepon dari sekretaris Anda."

Kala menoleh pada rombongan anak kembar yang mirip dengannya semakin menjauh darinya. "Katakan padanya aku sedang sibuk," ia kembali untuk melangkah namun lagi-lagi sang manajer menahannya.

"Katanya ini sangat penting." Ia mengulurkan handphonenya ke arah Kala.

Kala semakin panik, ia harus tahu mengapa wajah kedua anak itu mirip sekali dengannya. "Tutup saja teleponnya, suruh dia handle pekerjaanku sebentar..."

"Ibu Anda ada di kantor..."

Kala terdiam begitu mengetahui ibunya datang, ia meraih handphone dari tangan sang manajer dan menempelkannya di telinga. "Mah... Mama di Jakarta?" tanyanya memastikan.

"Iya. Apa kamu sesibuk itu sampai-sampai tidak mau menerima telepon dari Mama?"

"Bukan begitu, Mah. Aku pikir tadi sekretarisku..."

"Handphone Mama lowbatt, jadi dari bandara Mama langsung ke kantormu dan minta dia menghubungimu," sahut Dahlia. "Kala, kau ini benar-benar keterlaluan. Kau membuat Mama harus naik pesawat untuk menghampirimu karena kau lupa dengan ulang tahun Mamamu sendiri. Apa kau mau Mama kutuk jadi batu?"

"Hah? Benarkah?" ia mengangkat tangannya untuk melihat tanggal pada jam tangannya. "Ulang tahun mama masih tiga hari lagi, mama yang lupa dengan tanggal lahir sendiri."

"Mama tidak lupa, Mama memang sengaja memanjukan lebih awal sebab tiga hari lagi Mama harus mendampingi anak-anak study tour. Jadi dari pada melewatkan hadiah darimu, lebih baik mama majukan saja haha.." Dahlia tertawa riang. "Sudahlah, ayo cepat kembali ke kantor. Apa kau mau membiarkan Mamamu ini menunggu lehih lama?"

"Iya, aku akan segera ke kantor."

"Jangan lupa bawa hadiah untuk Mama ya," ucap Dahlia sebelum mematikan sambungan teleponnya.

Saat Kala mengembalikan handphone sang manajer, ia sudah tidak melihat rombongan anak kembar yang mirip dengannya. Kala sempat mencari mereka sebentar, namun Kala tak menemukannya, di satu sisi ia juga harus segera kembali ke kantor.

Terpopuler

Comments

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

hhmmm ada anak kembar mirip dengan Kala..siapa kah mereka‽ apa anak2 Kala hasil dari satu malam di Bali itu...

2024-03-02

1

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

waahhh pasti keren bgt, seru dan menarik buat anak2

2024-03-01

2

🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜

🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜

wahhhhh jangan² si kembar anaknya....

2024-02-14

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!