Chapter 3

Plakk...

Satu tamparan keras mendarat di wajah tampan Langit Di Kala Sore. "Kala, kau ini bikin malu Papa saja." Bentak Jagat yang tak lain merupakan ayah kandung Kala. "Seharusnya tadi Papa suruh pengacara Papa untuk menjebloskan kamu ke penjara, agar kamu kapok berbuat tidak senonoh di depan umum, benar-benar memalukan." Pria itu menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh putra bungsunya.

Tanpa menatap papanya, Kala berkata. "Kenapa tidak Papa lakukan saja?" ucapnya dengan santainya seolah menantang.

"Kau ini benar-benar anak yang tidak tahu di untung," Jagat kembali menaikan nada bicaranya. "Tingkahmu sama seperti Mamamu..."

"Jangan pernah bawa-bawa Mamaku!" Kala langsung mendongak menatap tajam ke arah Jagat. "Apa yang aku perbuat tadi malam tidak ada kaitannya dengan Mama, beliau adalah wanita terhormat yang selalu menjaga martabatnya. Jangan hanya karena Mama masih terus mempertahankan yayasan pendidikannya, lantas Papa mencapnya sebagai istri pembangkang. Padahal yang sebenarnya terjadi, Papa sendiri yang masih menyimpan hati kepada wanita lain, sehingga Papa mencari-cari kesalahan Mama untuk menutupi kesalahan Papa..."

Plakk...

Satu tamparan kembali mengenai pipi Kala. "Tutup mulutmu, Kala! Yayasan itu tidak menghasilkan apa pun, jadi untuk apa tetap di pertahankan. Mamamu memang wanita yang keras kepala."

Tamparan itu sama sekali tak membuat Kala gentar ataupun takut, ia justru semakin berapi-apa mendengar papanya menyebut jika mamanya seorang pembangkang. "Tidak semuanya Papa bisa ukur dengan materi."

"Tapi kau bisa sekolah dan hidup layak dengan materi yang Papa berikan," sahut Jagat. "Sampai dengan detik ini saja kau belum mampu berdiri dengan kakimu sendiri, kau masih menikmati fasilitas yang Papa berikan untukmu."

Kala beranjak dari tempat duduknya, ia mengeluarkan kunci mobil berserta dompet dari sakunya kemudian menaruh keduanya di atas meja. "Terima kasih atas semua yang telah Papa berikan, aku akan buktikan jika aku bisa sukses tanpa fasilitas dan nama besar Papa." Ia melangkah pergi meninggalkan ruang kerja papanya.

Kala mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan kediaman papanya. Jagat melihat kepergian putra bungsunya dari atas jendela ruang kerjanya. "Bisa apa anak itu? Seminggu lagi dia pasti akan pulang," gumamnya.

...****************...

"Hati-hati di jalan ya, Nak..." Dahlia tersenyum sembari melambaikan tangannya kepada murid-muridnya ketika mereka sudah di jemput oleh orang tua mereka masing-masing.

Tiba-tiba pandangannya beralih pada Kala, saat menyadari kehadiran putra bungsunya. Kala berjalan menghampiri ibundanya, kemudian mencium tangannya. "Anak-anak sudah pulang, Mah?"

"Sudah," ujar Dahlia. "Jam pelajaran mereka kan memang lebih singkat dari anak sekolah dasar. Yuk masuk!" Ajaknya, ia penasaran melihat putranya membawa tas ransel berukuran besar, namun Dahlia menahan diri untuk bertanya sebelum mereka masuk ke ruang kerjanya.

Kala bersimpuh di hadapan Dahlia, begitu mereka memasuki ruang kerja. "Aku yakin Mama sudah mendengar kabar itu," ucap Kala lirih. "Maafkan aku sudah mengecewakan Mama."

Dahlia mengelus kepala putranya dengan lebut, wanita itu bukan hanya mengetahui soal penggrebegan putranya di pantai, tapi juga soal pertengkaran Kala dengan mantan suaminya.

Berita itu ia dapatkan dari asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman Jagat yang masih setia menyampaikan informasi mengenai kejadian yang menimpa Kala di rumah. "Mama mengerti sakitnya di khianati dengan orang yang kita sayangi dengan sepenuh hati, tapi jangan sampai kita mencari pelampiasan atas sakit hati tersebut."

Kala mendongak menatap ibundanya. "Wanita itu bukan pelampiasan rasa sakit hatiku karena putus dengan Celin," ia bercerita jika dirinya baru saja bertemu dengan wanita itu, ia bahkan tak mengenal dan tak tahu nama wanita itu. Kala mengatakan bahwa hubungan intimnya bersama wanita itu terjadi begitu saja, karena alkohol yang menguasai diri mereka.

"Mama percaya padamu, Nak. Mama juga percaya kau tidak akan melakukannya lagi bukan?" Dahlia merangkum wajah putranya, mau sebesar apa pun Kala, pria itu tetap bayi kecil yang sangat ia sayangi.

Kala mengangguk. "Ya, aku janji tidak akan membuat Mama malu lagi."

"Kalau begitu, mari kita pulang. Kau sekarang tinggal bersama Mama kan?" ajaknya dengan riang.

Kala beranjak dari pangkuan Dahlia, ia duduk di samping ibunya dan menatap dengan serius. "Tidak Mah," ia menggeleng. "Kala bukan mau tinggal sama Mama, tapi Kala mau pergi ke Jakarta."

"Jakarta?" Dahlia terkejut sekaligus sedih mendengar ucapan Kala.

"Mama masih ingat dengan design arena bermain yang aku buat? Uncle Tom tertarik bekerja sama denganku untuk membuat arena bermain edukasi itu," terang Kala.

"Loh bukannya kamu bilang project itu tidak jadi? Dan kau memilih membantu mengembangkan bisnis resort Papa yang di Ubud?"

Kala menggeleng kembali. "Papa lebih memilih design yang di buat Pak Dirga, ketimbang designku. Papa bilang punyaku kurang matang dan sama sekali tidak menarik," ia berusaha menutupi kesedihannya dengan senyuman.

"Ya, karena Papa tidak membutuhkan aku, lebih baik aku mencari peluang lain. Lagi pula Mama juga pasti tahu kan, soal pertengkaranku tadi pagi dengan Papa? Aku rasa sekarang sudah waktunya aku berdiri dengan kakiku sendiri."

Dahlia menatap bangga pada Kala. "Tapi jangan lupa buat kabarin Mama ya, dan jangan lupa untuk pulang. Karena kalau kau tidak mengunjungi Mama, Mama yang akan menghampirimu ke sana!" Ancamnya.

"Memangnya Mama berani naik pesawat?" ledek Kala sembari tertawa.

Dahlian mencubit pinggang putranya hingga Kala meringis kesakitan. "Haduh... Mama sakit..."

"Ngeledekin Mamanya terus sih kamu," Dahlia melepaskan tangannya dari pinggang Kala, kemudian ia berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil sebuah kartu ATM dari dalam tas. "Kamu pegang ini ya," ia memberikannya kepada Kala karena mengetahui Kala memberikan dompetnya kepada mantan suaminya.

Tentu saja Kala menolaknya. "Mama tidak usah khawatir, aku masih punya tabungan kok."

"Mama tidak akan izinin kamu ke Jakarta kalau kamu tidak menerimanya." Dahlia tidak menerima penolakan.

Kala yang tak ingin berdebat dengan ibunya, terpaksa menerima ATM tersebut. "Terima kasih ya, Mah. Aku pergi dulu." ia mengecup tangan dan pipi ibunya, kemudian ia pergi meninggalkan ibunya menuju Jakarta.

Terpopuler

Comments

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

wahh ternyata Kala anaknya Mama Dahlia

2024-03-01

2

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

nama Papanya Jagat, kupikir masih ada hubungan dgn novel sebelumnya..

2024-03-01

1

☠ᵏᵋᶜᶟ🔵🍾⃝ͩ⏤͟͟͞RᴇᷞᴛͧɴᷠᴏͣW⃠🦈

☠ᵏᵋᶜᶟ🔵🍾⃝ͩ⏤͟͟͞RᴇᷞᴛͧɴᷠᴏͣW⃠🦈

Alhamdulillah doa restu dari Ibunya telah Kala dapatkan

2024-02-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!