Chapter 12

Semerbak aroma kue yang di bakar tengah di bakar di oven, memenuhi kediaman Elok. "Hmm... Wangi sekali," ucap Elok sembari menghampiri putrinya di dapur. "Kau sedang bikin kue?"

Tari mengangguk. "Aku bikin kue special untuk Ibu dan seseorang yang menolongku di pantai lima tahun yang lalu," ia menceritakan jika setelah resign dari kantor, Tari mencoba peruntungan di bidang bakery, dan usaha tersebut kini berkembang dengan baik sehingga ia bisa menghidupi kedua buah hatinya.

Wajah Elok terlihat murung mendengar cerita putrinya. "Maafkan Mama, Sayang," ucapnya penuh penyesalan. "Harusnya di saat-saat tersulitmu, Mama ada untukmu dan membantumu. Tapi Mama justru menghakimimu seolah Mama ini makhluk suci tanpa dosa," air mata kembali menggenangi mata Elok setiap kali ia mengingat kesalahannya.

Tari mendekat, ia meraih tangan ibundanya dan menggengamnya erat. "Jangan di bahas lagi ya Bu, kita tutup rapat-rapat lembaran yang telah lalu, dan melangkah ke depan dengan lebih baik lagi," ucap Tari. "Lagipula, Tari bisa seperti ini karena Ibu juga. Ibu yang memberikan resep dan mengajarkan Tari cara membuat kue seenak ini."

Tari melepaskan tangannya, ia kembali ke oven untuk mengangkat kue yang sudah matang. "Ibu cobain ya," pinta Tari, ia memotong satu slice chiffon panas dan memberikannya kepada Elok.

"Enak tidak?" tanya Tari ketika ibundanya memasukan ke mulutnya.

Elok mengangguk sembari tersenyum. "Ini lebih enak dari yang ibu buat," ia menatap putrinya dengan penuh rasa bangga. "Kapan mau mengantar kue ini pada orang yang sudah menolongmu? Anak-anak sama ibu saja ya!"

"Pagi ini," jawab Tari, ia berpikir sejenak. Sebetulnya ia juga ada janji bertemu dengan pengacara yang mengurus masalah ibundanya, tapi ia tidak tega meninggalkan anak-anak hanya dengan ibunya saja. Seandainya pengasuh anak-anak tidak sedang sakit, tentu Tari akan mengajaknya ke Bali. "Apa tidak merepotkan?"

"Tentu saja tidak. Mereka berdua anak-anak yang penurut dan menyenangkan, justru ibu akan merasa kesepian jika kamu membawanya."

"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa ibu kabarin aku ya."

Elok mengangguk senang karena bisa bermain bersama kedua cucunya.

Selesai bersiap, Tari berpamitan kepada ibu dan kedua putranya barulah ia pergi menuju TK Bunga Matahari. Tari tahu bahwa ini sudah mulai memasuki libur semester, tapi informasi yang ia miliki tentang Bu Dahlia hanya itu, ia berharap bertemu dengan penjaga sekolah agar ia bisa menanyakan alamat rumah Bu Dahlia.

Benar dugaan Tari, TK itu nampak sepi. Tidak ada anak-anak dan aktivitas belajar, namun ia melihat ada beberapa petukang yang bolak-balik mengambil semen. 'Kemungkinan di dalam sedang ada renovasi,' pikir Tari, tanpa ragu Tari melangkah menemui salah pegawai.

"Anda mencari saya?"

Seketika Tari menoleh pada sosok yang bertanya padanya dengan suara yang begitu lembut dan bersahaja. Tari tersenyum senang bisa kembali bertemu dengan Dahlia. "Ya, saya mencari Anda, Nyonya. Apa Anda masih ingat dengan saya? Wanita yang Anda tolong di pinggir pantai lima tahun yang lalu."

Dahlia terdiam, ia tampak berpikir keras mengingat wajah Tari. Namun sesaat kemudian ia pun tersenyum. "Ooh iya, aku ingat!" serunya. "Aku hanya sedikit pangling karena kau semakin cantik."

Tentu saja Dahlia pangling melihat Tari, sebab Tari yang lima tahun lalu terlihat acak-acakan karena habis mabuk dan bercinta di mobil. Sementara hari ini adalah Tari yang sebenarnya.

"Mari ke ruanganku," ajak Dahlia. "Kita ngobrol di sana agar lebih nyaman."

Tari mengikuti Dahlia menuju ruang kerjanya, sesapainya di sana ia menyerahkan kue buatannya. Dahlia nampak terkejut dan senang menerimanya. "Kita makan sama-sama sambil minum teh," Dahlia membawa kue itu ke dapur kecil yang ada di belakang ruang kerjanya dan kembali lagi membawa teh berserta kue buatan Tari.

"Maafkan aku baru bisa menemui Anda sekarang," Tari membuka obrolan mereka. "Setelah Anda menolongku, aku kembali lagi ke Bali hanya satu kali tapi saat itu tidak dalam kondisi baik sehingga aku tidak bisa menemui Anda," ucapnya dengan jujur, namun ia tidak bisa cerita jika dirinya di usir oleh ibu kandungnya sendiri karena hamil di luar nikah.

"Tapi aku tidak pernah melupakan jasa Anda," sambungnya.

Dahlia tersenyum. "Kau tidak berhutang apa pun padaku, Nak." Ia mengambil piring kecil berisi kue buatan Tari. "Tapi aku sangat senang kau datang dan membuatkan aku kue," ia menyendok pinggiran kue tersebut dan memasukan ke mulut.

Dahlia terkejut dengan rasa kue yang begitu mirip dengan yang Kala berikan padanya. "Wah, enak sekali kuenya. Anakku pernah membelikan kue yang rasa dan teksturnya mirip sekali dengan ini waktu aku mengunjunginya ke Jakarta."

"Benarkah? Tapi kebetulan aku membuka toko kue di Jakarta."

"Jangan-jangan, putraku salah satu pelangganmu," sambung Elok. "Apa kamu punya rencana membuka cabang di Bali? Ini kuenya enak sekali loh, aku yakin di sini akan laris."

Tari sama sekali membayangkan akan membuka cabang toko, apalagi hingga diluar pulau. Bisa cukup memenuhi kebutuhan anak-anak dan para pegawainya saja, ia sudah merasa senang.

"Aku ingin sekali berinvestasi di tokomu, bagaimana?" tanya Dahlia.

"Sejujurnya, aku sama sekali tidak kepikiran sejauh itu. Tapi baiklah akan aku buat konsepnya."

"Aku yakin dengan rasa yang seenak ini, kue buatanmu akan banyak di cari orang," Dahlia juga memberikan banyak saran mengenani strategi bisnis kepada Tari, ia senang bisa bertukar pikiran dan berdiskusi dengannya, hingga tanpa terasa sudah lebih dari satu jam Tari berada di sana.

"Maafkan aku, Nyonya. Aku tidak bisa lama-lama meninggalkan anak-anakku, mereka pasti mencariku," Tari pamit kepada Dahlia, namun sebelumnya mereka bertukar no handphone agar bisa melanjutkan obrolan bisnis mereka via sambungan telepon.

Dahlia mengantar Tari hingga gerbang TK, ia melambaikan tangannya saat taxi yang membawa Tari pergi menjauh dari TK. "Sayang sekali sudah berkeluarga, padahal aku senang sekali padanya dan ingin mengenalkannya pada Kala," gumamnya sedih.

Rasa sedihnya hanya berlangsung singkat karena tak lama berselang, Dahlia mendapat kejutan kedatangan putranya. "Selamat ulang tahun, Mama." Kala memeluk dan mencium pipi ibundanya. "Mama kok di luar? Katanya capek habis study tour kemarin?"

"Tadi barusan ada tamu," jawab Dahlia sembari membalas pelukan putranya, ia melongok ke arah gadis yang berada di belakang Kala.

Kala langsung menarik tubuhnya, ia bergeser agar ibunya bisa melihat Amber dengan jelas. "Ini Amber, Mah. Putri bungsunya Uncle Tom," ucap Kala memperkenalkan Amber pada ibunya. "Mama masih ingatkan?"

"Ohh.. Astaga Amber," Dahlia mengulurkan tangannya dan memeluk gadis itu, kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Amber dari atas ke bawah. "Sudah besar sekarang, padahal dulu waktu ketemu. Kamu masih Aunty gendong, makin cantik saja kamu." Dahlia kembali memeluk Amber dengan erat.

Dahlia melepaskan pelukannya dan mengajak keduanya masuk ke ruang kerjanya. "Ayo masuk! Mama punya kue yang enak buat kalian."

Terpopuler

Comments

Diaz

Diaz

kue bikinan ibu anak² Kala pasti enak

2024-02-17

2

🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜

🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜

Kalau jodoh tak kan kemana bu Dahlia, takdir akan mengantarkan dia pada pemilik hatinya🤭

2024-02-14

2

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

tenang Bu Dahlia walaupun sudah berkeluarga tapi belum punya suami diaa🤭

2024-02-14

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!