Chapter 11

"Aku sudah menghubungi pengacara untuk mengurus kasus ini dan perceraian Mama, dia akan datang sebentar lagi," ucap Tari, matanya tertuju pada buket bunga yang berada di meja sebelah tempat tidur ibundanya, ia berjalan menuju meja itu dan mencabut sebuah kartu ucapan yang terselip di bunga mawar merah itu.

Jagat. Tari menoleh ke ibundanya yang masih memeluk kedua putra kembarnya. "Siapa lagi ini, Bu?" ia mengacungkan kartu ucapan tersebut.

Elok menoleh ke arah Tari, ia melihat wajah ketidak sukaan putrinya terhadap bunga itu, tapi lebih tepatnya si pemberi bunga. "Nak... Ibu bisa jelaskan..."

Tari menghela napas berat. "Bu, kasus yang ini saja belum selesai," ia tak habis pikir mengapa ibunya mudah sekali memiliki gebetan baru, padahal masalah KDRT dan perceraiannya saja belum selesai. "Aku pikir Ibu sudah bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini dan tidak lagi... Ah..." Ia tak sanggup berbicara dengan gamblang di depan anak-anaknya.

"Nak, percayalah itu hanya teman." Elok berusaha meyakinkan putrinya. "Sesuai dengan rencanamu, ibu akan ikut dengan kalian tinggal di Jakarta." Ia meminta Tari duduk di atas tempat tidurnya bersama kedua cucunya. "Ibu sudah banyak mendapatkan pelajaran dari kejadian ini dan sekarang Ibu ingin fokus bersama kalian." Elok mengelus lembut lengan Tari, kemudian ia beralih mencium kedua cucunya secara bergantian.

"Eyang sakit apa? Kok wajahnya biru-biru begitu sih Eyang?" tanya Lingga dengan polosnya.

Elok menoleh ke arah Tari. Tari langsung memahami jika ibundanya kesulitan untuk menjawab pertanyaan Lingga. "Ada panda jahat yang menyerang Eyang," jawab Tari.

"Wah... Apa pandanya seperti yang ada dalam film kungfu panda?" sahut Lintang.

"Sepertinya..." Tari mengangkat bahunya, ia sendiri tak begitu hapal dengan film kartun yang satu itu.

Lintang dan Lingga kembali berceloteh dengan penuh semangat. "Sekarang Eyang tidak perlu khawatir lagi, kita berdua akan melindungi Eyang dari serangan panda jahat," ucap Lingga.

"Iya betul Eyang, kita berdua akan melindungi Eyang dan Mommy," sahut Lintang.

Tari tersenyum melihat kedekatan ibu dan dua buah hatinya, kedekatan yang sudah lima tahun ia nantikan.

Di tengah suasana hangat yang terjalin di antara mereka, tiba-tiba saja Elok kedatangan teman baiknya, yang datang berkunjung. Sekar datang berbarengan dengan pengacara yang di tunjuk oleh Tari untuk mengurus proses pidana dan perceraian ibundanya.

"Ayo anak-anak kita main di ruang tunggu anak," ajak Sekar, ia langsung sigap membantu agar Elok dan Tari bisa lebih leluasa untuk membicarakan masalah ini dengan sang pengacara. "Di sana ada banyak permainan seru!"

"Aku mau Eyang, aku mau..." ucap keduanya dengan riang.

Tari mengantar Sekar dan kedua buah hatinya sampai depan pintu. "Terima kasih banyak ya Bude," ucapnya. "Maaf jika aku merepotkan, aku akan segera menyusul begitu ini selesai."

"Tidak perlu sungkan, Nak. Aku dan ibumu sudah lama berteman baik," Sekar tersenyum lembut pada Tari. "Kami pergi dulu ya," ia meminta Lintang dan Lingga untuk berpamitan kepada Tari, kemudian mereka bertiga pergi ke lantai dua, tempat ruang tunggu anak.

...****************...

Obrolan dengan sang pengacara berlangsung singkat, dengan tegas Tari meminta agar pria yang telah menyakiti ibundanya bisa mendekam lama di dalam penjara, dan untuk masalah perceraian Tari meminta ibundanya tak menuntut apa-apa cukup bisa segera lepas saja dari pria brengsek itu.

Elok menyetujui semua saran yang berikan putrinya, ia pun ingin segera lepas dari suaminya.

Selesai membicarakan proses hukum dan memberikan mandat kepada sang pengacara untuk mengurus kasus ibundanya. Tari menemui dokter yang menangani ibundanya, ia bernapas lega ketika mengetahui tidak ada luka fisik berat yang di alami ibundanya.

Dokter juga sudah membolehkan Elok untuk melakukan rawat jalan, sang dokter merekomendasikan agar Elok tidak hanya mendapatkan perawatan fisik, namun juga psikisnya, karena orang yang mengalami kasus perselingkuhan dan KDRT secara bersamaan biasanya membutuhkan terapi mental.

Tari mengerti, ia berencana akan membawa ibunya ke pskiater setelah mereka kembali ke Jakarta. "Terima kasih banyak Dok atas bantuannya," Tari menjabat tangan sang dokter, kemudian ia keluar dari ruangan.

Tari berniat langsung mengurus administrasi ibundanya, namun sayangnya ia lupa membawa dompet, terpaksa Tari kembali lagi ke ruang rawat inap. Alangkah terkejutnya Tari, ketika mendapati sang ibunda tengah bersama dengan seorang pria.

"Siapa Anda?" Tari menatap tajam ke arah pria paruh baya yang usianya kira-kira tidak jauh dengan ibundanya, ia menatap pria itu dari atas ke bawah. Pakaiannya begitu rapih seperti pengusaha kelas elit, tapi Tari sama sekali tidak peduli. "Mau apa Anda ke ruang rawat inap ibu saya?" tanya Tari kembali.

Pria itu tersenyum ramah kepada Tari. "Perkenalkan, saya Jagat. Saya teman baik ibumu," ucapnya seraya mengulurkan tangannya ke arah. "Saya kemari hanya ingin menjenguknya.."

"Pergi!" ucap Tari dengan lantang.

"Tari... " Elok mencoba menegur putrinya, hal itu membuat Tari melotot pada ibundanya. "Ibu bukankah kita sudah sepakat, bahwa ibu tidak akan pernah dekat lagi dengan pria mana pun?"

"Tapi Nak, Om Jagat ini hanya..."

"Tidak ada tapi-tapi, Bu. Pokoknya Tidak!" Baru kali ini rasanya Tari bisa setegas ini kepada ibundanya, ia sudah tidak takut lagi jika ibunya akan mengutuknya menjadi batu.

Tari kembali menoleh ke arah Jagat. "Silahkan Anda pergi dari sini sekarang juga sebelum saya panggil petugas keamanan!"

Pria itu menghela napas beratnya sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat inap Elok karena tak ingin membuat keributan di sana. Tari hanya bisa berdecak, ia sudah enggan untuk membahas soal Jagat. "Aku mau mengurus administrasi, setelah itu menjemput anak-anak di ruang tunggu." Ia meraih tasnya di meja, kemudian ia pergi.

Selesai mengurus administrasi, Tari di kejutkan dengan Jagat yang menghampirinya. "Mau apa lagi?" tanya Tari ketus.

"Aku ingin bicara denganmu," ucap Jagat ramah.

"Maaf aku tidak ada waktu, lagi pula kita tidak ada urusan jadi tidak ada yang perlu di bicarakan," ucap Tari tegas.

"Aku sudah mencintai ibumu sejak lama, aku berjanji tidak akan menyakitinya seperti pria-pria lainnya," ucap Jagat tanpa basa-basi sebelum Tari pergi.

Tari mengangkat alisnya, ia sudah bisa menebak apa yang akan di katakan pria ini. "Terima kasih, tapi ibuku tidak akan menjalin hubungan dengan pria mana pun, jadi tolong tinggalkan ibuku!" Tari merasa ucapannya sudah cukup jelas, sehingga ia tidak perlu lama-lama bicara dengan Jagat. "Masih banyak yang harus saya urus, permisi." Ia pun melangkah meninggalkan Jagat.

Terpopuler

Comments

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

kalau memang Jagat ini ayahnya Kala..
sama ibunya Kala aja sprti ituu...atau memang sblm ibunya Kala Jagat sdh mncintai Elok kah..

2024-03-07

3

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

Jagat suaminya Rembulan bukann..

2024-03-07

2

🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜

🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜

Ibunya Tari mudah sekali suka sama laki-laki, kejadian KDRT tidak hanya akan meninggalkan luka fisik tapi juga luka hati yang susah disembuhkan, namun buat ibunda Tari sepertinya itu tidak berlaku, cepat sekali move on.

2024-02-14

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!